
Maisa mengeringkan rambut dengan handuk. Handuk mandi masih terbalut di tubuhnya. Bunyi ketukan pintu menghentikan semua aktivitasnya. Mungkin Ken yang mengetuk pintu. Ia buru-buru mengenakan pakaian yang diberikan laki-laki itu tadi malam. Sebuah dres berlengan pendek selutut berwarna dusty pink. Berjalan ke arah pintu sembari menyisir rambutnya dengan tangan.
Ada seorang laki-laki dan perempuan paruh baya berdiri di sana. Keduanya tersenyum hangat padanya. Maisa memandang keduanya penuh tanya.
Ken merangsek keluar dari kamar di sebelahnya. Ada kecemasan terpancar dari raut wajahnya. Tiga pasang mata menatapnya heran. Seketika raut wajahnya langsung berubah kaget. Ia tersenyum kecut.
"Ka Ken! Apa terjadi sesuatu?" Maisa membuka suara di tengah keheningan.
Ken menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Terlihat canggung, tak seperti biasanya. Perempuan paruh baya itu menghampiri, menarik telinganya.
"Beraninya kau, ya! Bukannya menyambut kami, malah kabur membawa anak orang!"
Ken mengerang kesakitan, berusaha melepaskan jeweran dari telinganya. Sebuah cubitan tambahan melayang di tangannya.
"Aduh, Ma! Maaf, Ma! Telingaku bisa putus," seru Ken.
Perempuan paruh baya yang tak lain ibu Ken malah menambah porsi jeweran. Ken memohon ampun pada ibunya, meminta di lepaskan.
Terkejut dan kaget bercampur aduk tersirat di sorot mata Maisa. Ia tak menyangka orang tua Ken yang mengetuk pintu. Kalau begitu laki-laki paruh baya yang masih berdiri di hadapannya ini adalah ayahnya Ken.
"Maafkan kami kalau sudah membuat keributan sepagi ini ya, Nak," ujar Pak Brian, ayah Ken dengan nada berat dan berwibawa.
"Oh! Tidak apa-apa, Pak."
Maisa tersenyum tipis, menganggukkan kepala memberi hormat. Ada sedikit canggung berdiri di tengah keluarga Ken.
Sebuah restoran dengan konsep outdor. Ada kolam renang di tenah restoran. Tanaman perdu menjalar sepanjang atap balkon bangunan berlantai tiga. Jejeran pohon palem di pinggir kolam. Di seberang ada taman dipenuhi rumput hijau dengan pohon pinus mendominasi.
Di sini lah Maisa sekarang. Duduk dalam reuni keluarga yang bisa dibilang tidak ada haru birunya. Rasanya Maisa ingin menjitak kepala Ken saat ini juga. Seenaknya menyeretnya ke reuni keluarga. Ia masih belum siap mental.
Hampir satu jam Bu Artika mengomel panjang lebar pada Ken. Laki-laki itu hanya nyengir, memasang wajah tak bersalah.
"Oh... Sa. Perkenalkan ini Papa dan Mamaku. Mereka baru saja sampai dari Amsterdam langsung ke sini. Pa, Ma, ini pacarku Maisa."
__ADS_1
Maisa memasang senyum manisnya. "Halo, Pak, Bu. Saya Maisa. Maaf sudah merepotkan."
"Sudah! Jangan kaku begitu. Kamu bisa memanggil kami seperti Ken," ujar Pak Brian dengan nada tegas.
Maisa mengulum senyum simpul, menoleh ke arah Ken. Laki-laki itu membalas senyumnya. Tangannya menggenggam jemari gadis itu di balik meja. Pak Brian dan Bu Artika tersenyum ramah ke arahnya. Ia membalas dengan senyuman canggung.
Maisa mencoba menarik tangannya. Ken malah mengeratkan genggaman tangannya. Gadis itu mengedipkan matanya ke arah tangan, alisnya ikut naik turun, memberi isyarat pada Ken untuk melepaskan genggaman tangannya.
Ken pura-pura tak melihatnya. Maisa merasa sedikit kesal bercampur gemas. Merasa tak enak berpegangan tangan di hadapan orang tua Ken, meski sembunyi-sembunyi.
Pak Brian dan Bu Artika memperhatikan interaksi keduanya. Raut wajah Maisa yang berubah-ubah, terlihat panik lalu tenang, berubah lagi menjadi kesal. Ken yang bersikap tenang, sesekali melirik gadis di sampingnya.
"Jadi kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian di depan publik," ujar Bu Artika terlihat senang dengan kemajuan putranya.
Uhuk! Maisa tersedak minumannya. Tangannya menyambar tisu di depannya. Ken menepuk-nepuk punggungnya.
"Kalau bisa bertunangan secepatnya. Sebelum Ken kita berubah pikiran. Benarkan sayang," Bu Artika kembali menambahkan. Ia memeluk lengan suaminya mesra.
Pak Brian mengangguk mengiyakan perkataan istrinya. Maisa hanya menganga antara percaya dan juga tidak. Ia tak salah dengar. Telinganya masih berfungsi normal.
Bu Artika mengacuhkan Ken. Ia menggenggam sebelah tangan Maisa. "Kalau Ken membuatmu menangis, bilang langsung padaku ya! Biar anak itu kuberi pelajaran."
"Kau bisa mengadu juga padaku, Nak!" Pak Brian turut menambahkan.
Maisa mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajahnya. Ken melotot ke arah ayah dan ibunya tak terima. Di sisi lain ia juga senang mereka menyukai Maisa.
Maisa merasa tidak memiliki tenaga setelah berpisah dengan orang tua Ken. Sebelumnya ia berjanji akan makan bersama lagi dengan mereka. Ia duduk bersandar di kursi pantai dekat kolam renang.
Ken duduk di sebelahnya. Tangannya membelai rambut gadis itu dengan lembut. "Maaf, ya! Aku tidak menyangka Papa dan Mama menemukan kita di sini."
Maisa mendongakkan kepala memandang Ken lekat-lekat. "Jangan bilang kita jauh-jauh kesini cuma biar bisa menghindar dari Papa dan Mamamu."
Ken mengalihkan pandangannya. Maisa gemas dengan sikapnya. Ia membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Padahal aku tak masalah bertemu dengan mereka, asal kau memberitahuku lebih dulu. Biarkan aku bersiap dulu."
"Tapi kamu cantik, kok."
Maisa memicingkan matanya, masih setia menatap nanar Ken, meminta penjelasan. Bibirnya memberengut. Ken tidak tahan dipandangi seperti itu.
"Baiklah! Aku menyerah! Mereka selalu ingin tahu siapa perempuan yang dekat denganku. Jadi aku merasa tidak nyaman dan akhirnya aku tidak pernah dekat dengan siapapun, kecuali kamu."
"Dan Alice."
"Ah... Iya, Alice!"
Hah! Sedetik kemudian Ken menyadari ucapannya barusan. Ia menatap manik-manik mata gadis itu. Maisa membuang muka.
"Kok jadi Alice. Papa dan Mamaku tahu aku tidak menyukainya, jadi mereka tidak tertarik."
Maisa diam saja. Ken menyentuh bahunya.
"Kamu marah, Sa?"
Suara telepon berdering dari saku celana Ken. Nama Kio terpampang di sana. Ken menggeram kesal. Mau apa lagi anak itu.
Woi, Ken. Balikin anak orang. Enak saja kau bawa kemana-mana seenak jidatmu! Antar dia pulang sekarang! Tidak, antar ke kampus saja," Kio berteria keras dari ujung telepon.
Ken menjauhkan ponsel dari telinga. Bibirnya berkomat-kamit mengumpat, menumpahkan kejengkelannya.
"Iya! Iya! Jangan khawatir. Aku tidak melakukan apapun padanya. Dasar sister complex." Ken menutup teleponnya dengan kesal.
"Apa itu dari Ka Kio?"
Ken mendesah kecewa. Ia ingin berlama-lama dengan Maisa. Tapi ia takut membuat Maisa dalam masalah nantinya.
"Yuk, kita kembali. Kakimu masih sakit, kan? Ku gendong lagi, ya."
__ADS_1
Maisa tertawa kecil, pipinya meroba merah. Awalnya ia ingin marah, namun luntur melihat Ken begitu perhatian padanya. "Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri."
Meski Maisa bilang begitu, Ken tetap memapahnya hingga ke parkiran mobil. Sepanjang perjalanan, Maisa tertidur pulas di sampingnya. Ken melajukan mobilnya menemnus arus lalu lintas dengan kecepatan normal. Ia tak ingin menakuti gadis itu seperti kemarin. Meski tak tahu alasannya, suatu hari nanti ia berharap gadis itu mau terbuka dengannya.