Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.67 Mimpi Buruk


__ADS_3

Napasnya terasa memburu. Ia memeluk tubuh gadis itu. Tak peduli lagi pakaiannya berlumuran darah.


"Tidak! Maisa!"


Kio terbangun dari tidurnya. Keringat deras mengucur di pelipisnya. Apa ini? Mimpi itu terasa begitu nyata baginya. Bau besi berkarat, tumpahan minyak, dan asap kendaraan seolah masih terasa segar di indera penciumannya.


Buru-buru Kio menelepon Maisa dengan tangan gemetaran. Jantungnya bertalu-talu. Tidak diangkat. Sampai ketiga kali terdengar suara gemeresek dari seberang telepon.


Ada apa, Kak? Ini masih jam berapa?


Suara gadis itu terdengar serak baru bangun tidur. Kio mengusap wajahnya. Lega mendengar adiknya baik-baik saja. Ini hanya bunga tidur.


Kak?


Suara dari seberang telepon menyadarkannya kembali. "Oh maaf. Tadi aku bermimpi buruk."


Kio mematikan teleponnya. Layar ponselnya masih menunjukkan pukul tiga. Ia merebahkan dirinya kembali ke kasur. Menutup matanya dengan tangannya. Giginya gemeretak. Sungguh mimpi yang buruk.


Keesokan harinya, Kio turun ke ruang makan. Pak Chandra sudah duduk di sana. Tangannya memegang tablet. Keningnya terlihat berkerut. Kio melongok penasaran.


Di layar tablet tertera kredit rekening sejumlah 1,8 milyar. Ia merebut tablet dari tangan ayahnya. Maisa Auralina, nama pemilik rekening itu.


"Apa ini, Pa?" tanya Kio pada ayahnya.


Pak Chandra menyeruput teh hangat. "Oh, itu uang bulanan Maisa selama lima belas tahun. Kemarin anak itu mengembalikannya padaku."


"Terus Papa menerimanya begitu saja?" tandas Kio lagi.


"Dia ingin pergi ke Prancis," balas pak Chandra termangu. Terbayang gadis itu tersenyum senang. Dadanya terasa berdenyut nyeri kala gadis itu mengadakan tidak memerlukan bantuannya lagi untuk kuliah di sana.


Bukannya ia membenci anak itu. Tapi sepertinya ia lebih tidak suka saat anak itu tak membutuhkannya lagi. Pak Chandra memegangi dada kirinya.


Kio memperhatikan tingkah ayahnya menghela napas. "Haruskah aku membujuknya pulang ke rumah?"


"Tidak perlu!"


...****...


Mia berlari kecil menghampiri Maisa yang berdiri di lorong kampus. Ia langsung memeluk lengannya. Gadis itu terlihat keheranan.


"Sepertinya kau lagi senang, ya." Maisa menekan pipi gadis itu dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Mia hanya tertawa kecil, tak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia menarik tangannya. Mau tak mau Maisa menjajari langkahnya. Gadis itu menariknya ke lapangan basket indoor.


Suara denyit bola tak asing di telinganya. Matanya melebar melihat begitu banyak orang di atas bangku penonton. Terlihat wajah asing yang menjadi lawan tanding.


"Apa ini?" tanyanya. Suaranya hampir tertutup sorak sorai penonton.


"Universitas G meminta latih tanding dadakan. Makanya aku membawamu kesini. Aku ingin memperlihatkan betapa kerennya Ken dan juga Kio."


Maisa tertawa kecil. Dasar. Sempat-sempatnya temannya ini memikirkan hal itu. Yah, seperti katanya, sayang untuk dilewatkan.


Ken dan Kio dijaga ketat oleh tim lawan. Seorang pemain bernomor punggung lima mendekati Ken, dengan membawa bola. Penjagaan di area Kio melemah. Ia melakukan assist dengan mengoper bola secara backpass kepada Kio.


Kio melompat sambil melempar bola ke arah keranjang. Jari seorang pemain lawan menyentuh bola, merubah arah tembakan. Sang kapten tim sudah bersiap di bawah. Ia melompat menangkap bola dan melemparkannya ke arah Ken. Semua orang fokus melakukan rebounding melupakan keberadaannya.


"Sial! Block dia!" seru salah seorang pemain lawan berlari mendekat.


Kio melakukan screen untuk menutupi pergerakan lawan sehingga temannya leluasa untuk bergerak. Ken melompat melemparkan bola melengkung masuk mulus ke dalam keranjang. Riuh sorak sorai dari arah penonton. Ken mengacungkan kepalan tangannya ke atas.


Maisa menahan napasnya melihat pertandingan yang cukup sengit. Skor berakhir di 63-61, kampusnya selisih dua point lebih unggul.


Ken melihat gadis itu melambaikan tangannya dari bangku penonton. Ia berlari mendekatinya. Penonton memberikannya jalan. Dapat dilihat, gadis itu terkejut.


Mia memandangnya iri. Ia berdiri di pinggir pagar pembatas memihat Kio menenggak air mineralnya. Tanpa sengaja seseorang mendorongnya hingga jatuh. Mia menutup matanya rapat-rapat, menyiapkan hatinya dengan kemungkinan terburuk.


Kio melihat gadis itu terjatuh dari balik pagar pembatas. Ia melempar botol minumnya, menangkap gadis itu. Keduanya jatuh tergeletak di lantai.


Tidak sakit. Mia membuka matanya. Ia menindih tubuh Kio. Laki-laki itu tampak meringis menahan sakit. Ia berniat bangun, namun Kio menahan bahunya.


"Tolong jangan tekan itu," kata Kio dengan suara pelan nyaris berbisik.


Mata gadis itu menyusuri ke bawah. Sebelah kakinya menindih sesuatu. Seketika wajahnya merona. Ia segera bangkit. Kio bangun menahan rasa sakitnya.


"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanyanya pada gadis itu.


Mia menggelengkan kelapa. "Harusnya aku yang bertanya. Apa Kak Kio terluka?"


"Tidak!" Kio memalingkan wajahnya. Tak mungkin ia mengatakan sakit di situ kan? Terlalu memalukan.


Ken terlihat menahan tawanya. Rasanya ingin melemparkan bola ke wajahnya. Maisa berdiri di belakang punggung laki-laki itu menatapnya khawatir. Entah kenapa dirinya merasa kesal. Hey, ia tidak selemah itu.


Mia menarik tangan kekasihnya ke ruang klub. Memaksanya duduk di bangku. Ia mengobok-obok kotak P3K mencari salep luka dan perban.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa!" seru Kio menggerakkan tangan dan kakinya.


Mia menarik satu bangku lagi. Ia mencolek salep luka dan mengoleskan ke dekat bibir Kio yang sedikit membiru. Sepertinya terantuk kepalanya saat jatuh.


Kio memperhatikan jari gadis itu mendekat menyentuh bibirnya. Ia menyusuri wajah gadis itu. Bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir yang ranum.


Mia menatap wajah Kio. Mata keduanya bersiborok cukup lama. Sangat dekat. Secepat kilat Mia menempelkan plaster luka ke sudut bibir laki-laki itu dan menjauh. Ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Gadis itu berlari keluar ruangan. Kio tertawa kecil menanggapi tinggahnya yang terkesan lucu.


Lagi. Kio melihat Maisa bersimbah darah di hadapannya. Tubuhnya terasa dingin terkulai lemah. Berteriak beberapa kalipun gadis itu tidak membuka matanya.


Ia membuka matanya, menarik napas dalam-dalam. Kenapa bisa dirinya memimpikan hal yang sama dua kali. Mendadak ia merasakan firasatnya tak enak. Haruskah ia melarang adiknya terbang ke Prancis.


Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Kio membukakan pintu. Pak Chandra berdiri di depan kamarnya memakai piyama.


"Ada yang kau lakukan di dalam? Kau berteriak malam-malam."


Kio mengucek matanya. Mulutnya menguap lebar tapi matanya sama sekali tak mengantuk. "Pa, bagaimana kalau meminta Maisa untuk tidak jadi pergi ke Paris."


"Omong kosong apa ini? Cepat tidur sana!"


"Tapi...."


"Kita bicarakan lagi besok pagi," sentak pak Chandra lagi. Ia meninggalkan Kio yang mematung di depan pintu.


Keesokan paginya pak Chandra melihat Kio turun dengan mulut menguap. Di bawah matanya sedikit gelap. Bisa dilihat anak itu kurang tidur.


"Kenapa kau memintaku melarang anak itu ke Paris?"


Kio berdehem pelan. Menenggak beberapa kali air putih. "Aku bermimpi buruk. Maisa mati di hadapanku."


Deg! Tubuh pak Chandra sedikit tersentak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia masih menyangkal kekhawatiran yang dirasakannya.


"Itu hanya bunga tidur!"


"Tapi ini sudah dua kali. Mimpi itu seperti nyata di mataku." Kio menghentikan ucapannya sejenak. "Apa Papa tidak berniat berbaikan dengannya?"


"Kio! Itu bukan urusanmu!"


Kio mengepalkan kedua tangannya. Sepertinya percuma membujuk ayahnya. Menyedihkan, keluarganya berakhir seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2