
Suara kicauan burung bertengger di dahan pohon mangga. Bulir embun di pucuk daun menetes jatuh ke tanah. Maisa masih asik tengkurap, bergelut dengan mimpinya. Selimut menutupi sebelah kakinya. Sebelah tangannya memeluk guling.
Dering telepon menusuk gendang telinganya. Ia membuka matanya. Tangannya menggapai ponsel di meja kecil samping tempat tidurnya. Sikapnya enggan mengangkat telepon.
Jam segini masih tidur, Nduk? Ayo bangun! Apa tidak malu sama mbah mu ini sudah bangun pagi-pagi.
Omelan yang tak asing di telinganya dari seorang nenek di seberang telepon. Maisa langsung terbangun dari tidurnya. Ia tertawa tertahan. Jemarinya merapikan rambutnya yang berantakan.
Kapan mau berangkat ke Paris, Nduk?
Ekor mata gadis itu melirik kalender di atas meja. Ada lingkaran merah yang dibuatnya beberapa hari yang lalu. "Minggu depan, Nek."
Kalau begitu, jalan ke Jogja dulu sebelum berangkat. Mbah-mu kangen pengen ketemu.
Maisa tak bisa menahan senyumnya. Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan kakek dan nenenknya. "Kalau begitu aku akan ke Jogja lusa, Nek."
Jangan buru-buru, ya. Oh iya, mana bapakmu. Tadi tak telepon kok tidak diangkat.
"Sebentar, Nek. Maisa carikan dulu."
Maisa bergegas keluar kamar, menuruni tangga dan langsung ke kamar ayahnya. Tak ada balasan setelah mengetuk pintu beberapa kali. Ia membuka pintu, kosong tak ada orang.
Maisa berjalan cepat ke taman belakang. Mungkin ayahnya ada di sana. Dan benar saja, pak Chandra asik menyeruput kopinya di gazebo. Matanya melirik sekilas ke arah Maisa yang datang menghampirinya.
"Pa, ada telepon dari Nenek." Maisa langsung menyerahkan ponselnya pada pak Chandra. Ia bergegas menjauh, tak ingin menguping pembicaraan orang dewasa.
Bagaimana hubunganmu dengan Maisa? Apa sudah ada kemajuan? Kalau aku bertanya padanya pasti akan dijawab baik-baik saja.
Pak Chandra hanya diam tak membalas perkataan ibunya. Terdengar helaan napas dari seberang.
Apa lagi yang kau tunggu. Cepatlah berbaikan dengannya, Chandra. Sebelum nanti kau menyesal. Dia itu anakmu juga.
"Baiklah, Bu. Akan kuusahakan."
Maisa berkutat di dapur mengiris tiga batang daun bawang. Di sampingnya ada empat butir telur, sebonggol jamur enoki, dan bahan lainnya. Ia ingin membuat chawan mushi simpel dengan bahan yang ada di kulkas.
Pak Chandra masuk ke dapur, meletakkan ponseknya di atas meja makan. Maisa meletakkan pisaunya dan membalikkan badan.
"Pa, besok lusa aku ingin ke Jogja. Apa Papa juga mau ikut?"
__ADS_1
"Tidak! Kau pergi duluan saja. Aku akan menyusul."
"Kenapa? Bukannya lebih bagus kalau pergi sama-sama."
Tak ada balasan dari pak Chandra. Ayahnya hanya memberikannya tatapan tajam.
"Apa kau mengatakan sesuatu pada nenek mu?" Alih-alih membalas pertanyaan, pak Chandra malah balik bertanya padanya.
Maisa mengerutkan kening. "Tidak. Apa terjadi sesuatu pada nenek?"
Pak Chandra masih menatapnya tajam. Maisa hanya bisa bertanya dalam hati dimana letak kesalahannya. Berapa kali memikirkannya tak menemukan jawabannya.
Kio datang dengan basah keringat sehabis jogging keheranan. Dua orang ini saling bertatap muka tapi tak mengatakan apa-apa. Ia berlalu di hadapan Maisa, mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas.
Pak Chandra berlalu dengan menghela napas. "Apa sih yang kuharapkan dari anak pembawa sial," gumannya pelan.
Kio melirik ke arah adiknya. Maisa menanggapi dengan senyuman kecut. Sepertinya sampai kapanpun ayahnya masih tak mau menerimanya. Ia tak mau membuang waktunya untuk bersedih. Gadis itu kembali melanjutkan memasak.
Kio meremas botol air mineral yang kosong di tangannya dan melemparkannya ke keranjang sampah. Ia berjalan menyusul ayahnya, mendapati pak Chandra duduk di sofa menonton televisi. Beberapa kali ayahnya memindah channel.
"Bukankah Papa tadi sudah keterlaluan pada Maisa?" Kio menghempaskan punggungnya ke sofa.
"Soal apa?" Pak Chandra sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Tangannya masih sibuk mencari siaran yang menarik perhatiannya.
Pak Chandra hanya diam saja. Memangnya apa yang ia tunggu. Perasaannya kembali berkecamuk. Hatinya masih berat merelakan kepergian istrinya.
Di sisi lain ia ingin memaafkan anak itu. Tapi saat melihat wajahnya, hatinya sakit mengingatkan pada istrinya lagi. Yang keluar dari bibirnya hanya kata-kata kasar. Saat anak itu menatapnya dengan raut sedih dan terluka, dadanya terasa nyeri.
Kio mengacak-acak rambutnya, tak habis pikir untuk apa ayahnya menyiksa diri. Tak ada salahnya menurunkan sedikit ego. Ia merasa tak nyaman melihat Maisa terluka.
"Kuharap Papa mau berbaikan dengan Maisa sebelum terlambat."
Kio berdiri dan berlalu dari ruang tengah, kembali ke dapur. Ia memperhatikan Maisa tengah duduk menghadap ke kompor. Gadis itu meletakkan kepalanya pada sandaran kursi, menunggu chawan mushi yang dikukus matang.
Kio menarik kursi dan duduk di sampingnya. Maisa menoleh ke arahnya. Tangannya masih setia memeluk sandaran kursi. Keduanya terdiam.
"Ada apa, Kak? Mau curhat soal Mia?" ujar Maisa memecah kesunyian.
"Aku dan Mia baik-baik saja, kok."
__ADS_1
Maisa beroh ria dengan kepala mangut-mangut. "Lusa aku akan ke Jogja. Apa mau sekalian bareng?"
Kio mencoba berpikir sesaat. "Pass! Aku masih ada kerjaan. Kalau agak longgar nanti menyusul."
"Oh, oke." Maisa tersenyum tipis mendengarnya. Ia cukup senang ayahnya dan Kio mau menyusulnya ke Jogja.
...****...
Jadi kau akan kembali ke Jogja? Waktu untuk kita berdua jadi terpotong, dong.
Suara Ken terdengar lunglai, tak bersemangat di ujung telepon. Maisa tak bisa menahan senyum. Ken terdengar merajuk seperti anak kecil. Matanya memandang cincin di jari manisnya.
"Aku di sana hanya tiga hari saja, kok," balas Maisa menenangkan.
Haruskah aku ikut?
Suara tawa kecil pecah dari bibir gadis itu. "Tak perlu, Kak. Bukannya kamu sibuk belakangan ini."
Hmm.... Baiklah kalau begitu.
Maisa menutup teleponnya setelah berbincang-bincang dengan Ken cukup lama. Melepas kangen yang mengganjal hatinya. Di bawah Kio sepertinya pergi keluar dengan motornya.
Gadis itu menutup matanya sejenak, menikmati semilir angin dari beranda balkon kamarnya. Samar-samar ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Matanya terasa berat. Alam mimpi menariknya untuk berkunjung.
Maisa melihat ayahnya menangis di kamarnya, memegang foto dirinya tertawa bersama Ken. Tangannya menepuk bahu pak Chandra tapi tak bisa. Ia memperhatikan tangannya yang transparan.
Apa ini? Kenapa ayah menangis? Ia tak pernah melihat ayahnya seperti itu, kecuali saat ibunya meninggal.
Kio membuka pintu kamarnya. Wajahnya sembab seperti habis menangis. Apa Kio habis bertengkar dengan ayahnya. Itu tak seperti dirinya. Maisa mencoba memeluk Kio, lagi-lagi ia hanya menembus tubuhnya.
"Itu yang Papa harapkan selama ini, kan? ...."
Suara Kio tiba-tiba menghilang. Apa? Apa yang dikatakan Kio selanjutnya.
"Sa...! Maisa....!"
Sayup-sayup Maisa mendengar seseorang memanggilnya. Ia membuka matanya, mengerjapkan kelopal matanya beberapa kali. Netranya menangkap sosok pak Chandra berdiri di sampingnya.
Maisa bangun memegangi kepalanya. Sakit kepala menyergapnya. Mungkin karena tertidur cukup lama di luar.
__ADS_1
"Turunlah! Ada yang ingin kubicarakan," kata pak Chandra langsung berlalu dari hadapannya.
Maisa mengerutkan keningnya. Apa dirinya berbuat masalah lagi?