Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.60 Masa Lalu Maisa Part 1


__ADS_3

Taman kanak-kanak tak jauh dari jalan raya begitu ramai. Wajah riang menghiasi setiap siswa. Ada yang bermain dengan temannya, ada yang bergelayut manja di lengan ibunya. Tawa merekah menghiasi setiap sudut sekolah.


Matahari terik tak melunturkan keceriaan mereka. Hari ini merupakan hari di mana siswa TK menerima buku penilaian dari gurunya. Banyak yang tidak sabar menanti rapor dibagikan. Satu persatu nama siswa dipanggil.


“Maisa,” panggil Ibu guru.


Seorang gadis kecil yang imut berumur lima tahun berjalan dengan langkah tidak sabar menghampiri Ibu guru. Ibu guru menyerahkan buku laporan kepadanya sambil tersenyum. Wajahnya berbinar senang.


"Mama lihat!"


Gadis kecil tersebut berlari ke arah ibunya dan menyerahkan buku laporannya. Ibunya membaca isinya sambil tersenyum. Gadis kecil itu menatap ibunya penuh harap. Ibunya lalu mencium pipi Maisa dengan penuh kasih sayang. Tangannya mengusap lembut kepalanya


“Bagus sekali Maisa! Mama bangga padamu.”


Pipi Maisa merona merah mendengar pujian itu. Gadis kecil itu memeluk ibunya erat-erat. Setelah acara selesai, ibunya menggandeng tangan Maisa. Di tangan kiri gadis kecil itu tengah membawa balon berwarna hijau. Ia melompat kecil, bibirnya bersenandung riang.


Jalanan kebetulan lengang, hanya satu dua kendaraan yang lewat. Terdengar dering telepon dari dalam tas. Ibunya melepaskan genggaman tangannya dan merogoh tas mengambil ponselnya. Tertera nama suami di layar ponsel.


“Sebentar ya, Maisa. Jangan kemana-mana! Papamu menelepon,” katanya sambil mengangkat telepon.


"Iya, Ma. Maisa akan jadi anak baik." Gadis itu tersenyum manis pada ibunya.


Ibunya tengah berbicara di telepon sepertinya akan memakan waktu cukup lama. Ia tersenyum pada orang di seberang telepon. Maisa berdiri di samping ibunya seraya memainkan balon yang dibawanya.


Tiba-tiba balon yang dipegangnya terlepas dan terbang ke jalan raya. Tanpa sepengetahuan ibunya, Maisa berlari kecil mengejar balon itu. Tangannya mencoba menggapai tali yang melambai-lambai ditiup angin.


Arini, sudah lama kita tidak makan di luar. Aku sudah membooking tempat. Sekalian merayakan ulang tahun Maisa.

__ADS_1


"Ah... iya. Pastikan membuat kejutan meriah buat Maisa. Dia sangat senang hari ini mendapat nilai bagus."


Arini menutup teleponnya. Ia menoleh ke arah Maisa. Wajahnya langsung memucat tatkala melihat gadis kecilnya tidak ada di sampingnya. Rasa panik menderu melihat Maisa mengejar balon di jalan. Dengan cepat ia berlari menghampirinya.


Dari arah lain, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Ia mendorong Maisa ke pinggir jalan hingga jatuh terjerembab. Dengan cepat mobil itu menyambar. Tubuh Arini terpental beberapa meter tak jauh darinya, terkapar tak berdaya. Ponsel yang dipegangnya terlembar, jatuh dan remuk. Darah menggenang, tubuhnya diam tak bergerak.


Rasa sakit luar biasa mendera sekujur tubuhnya. Matanya menatap ke arah gadis kecilnya. Ada seberkas rasa syukur melihatnya baik-baik saja. Kepalanya terasa berat, menggerakkan tangan sedikit saja tak bisa. Sepertinya sudah menjadi takdirnya, dia menutup matanya. Beberapa pejalan kaki dan pengendara yang lewat berbondong-bondong menghampirinya.


Maisa tertatih-tatih menghampiri ibunya. Suaranya yang lemah mencoba memanggil ibunya, diam tidak ada jawaban. Di tengah rasa putus asa, dia meraih tangan ibunya berharap ibunya segera membuka mata. Namun tidak ada apapun yang terjadi.


"Ma! Mama! Bangun, Ma!"


Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tangisnya pun pecah, tangan kecilnya memeluk ibunya. Tak peduli dengan bajunya yang turut bersimbah darah dan juga orang-orang sekitar yang berusaha menenangkannya.


Seselai membooking resto untuk makan malam, Pak Chandra meletakkan ponselnya. Bibirnya menyunggingkan senyum. Aron meletakkan beberapa dokumen di atas meja.


Pak Chandra terkekeh pelan. Matanya memandang foto keluarga. Seorang anak laki-laki dan anak perempuan duduk di depan dirinya dan istrinya.


"Bukankah dia gadis yang manis."


Foto keluarga jatuh ke lantai. Kacanya figura remuk berkeping-keping. Pak Chandra menghentikan aktivitas mengetikknya. Ia mengambil foto itu. Ada yang tidak beres. Ia merasakan firasat buruk.


Ponsel di sampingnya berdering. Nomor tak dikenal tertera di sana. Dahinya berkerut. Tubuhnya membeku saat mendengar penjelasan seseorang dari seberang telepon.


...****...


Insiden kecelakaan itu terjadi di jalan Jendral Sudirman. Seorang pengemudi mabuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan hendak menabrak seorang anak kecil yang berlari di jalan. Ibu tersebut tewas setelah mencoba menyelamatkan anak kecil tersebut.

__ADS_1


Kondisinya sangat mengenaskan. Kepalanya retak bersimbah darah dan beberapa tulangnya remuk. Sedang anak kecil itu hanya mengalami luka ringan. Nasib pengemudi itu juga kurang beruntung. Laki-laki itu tewas di tempat dengan kondisi remuk di kepalanya menghantam dasbor depan. Mobilnya hancur setelah menabrak pembatas jalan dan terguling beberapa meter.


Tak lama berselang, pihak kepolisian dan ambulan datang ke TKP. Jenazah ibunya dipindahkan untuk diotopsi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, tangan kecilnya menggenggam jemari ibunya yang dingin.


Ia tak ingin kehilangan ibunya. Air matanya tak hentinya mengalir. Dalam hati kecilnya, ia masih berharap ibunya segera membuka dan tersenyum padanya. Tak lama berselang tiba di rumah sakit, datang seorang laki-laki muda dan seorang anak laki-laki yang usianya delapan tahun, tiga tahun lebih tua dari anak perempuan itu. Maisa menyongsongnya dengan kaki tertatih-tatih. Laki-laki itu memandang anak perempuan itu dengan wajah dingin.


“Papa! Kak Kio!” panggil anak perempuan itu sambil menangis sesenggukkan memandang ayahnya.


Gadis kecil itu masih mengenakan baju yang terkena darah, lutut dan sikunya ditutupi kain kasa. Luka yang diderita tidak begitu parah


Pak Chandra membuang muka, tak mau memandangnya. Ada kebencian tersirat di wajahnya. Kebencian terhadap anak yang telah merenggut apa yang telah dikasihinya. Anak laki-laki yang bersamanya pun berbuat demikian, tidak memperdulikan keberadaannya.


Laki-laki itu segera ke ruang jenazah diikuti anak laki-lakinya dengan tergesa-gesa. Wajahnya sangat sedih, kerutan di wajahnya yang dimakan usia semakin terlihat. Meski mencoba bersikap tegar, air matanya tetap menetes membasahi pipi.


Disingkapnya kain penutup jenazah istrinya itu. Dilihatnya kondisi istrinya yang memilukan. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh wajah istrinya. Dingin. Hanya dingin yang terasa di ujung jarinya. Pak Chandra bersimpuh dihadapan istrinya dan menangis perlahan-lahan. Menggenggam erat tangannya. Sungguh tak disangka, orang yang mereka cintai pergi secepat itu.


“Maafkan aku Arini. Aku tidak bisa melindungimu. Aku sangat mencintaimu.”


Kio, anak laki-laki yang menemaninya turut menangis di sampingnya. Ibunya yang selalu menyayanginya kini tidak bisa lagi bersama mereka. Terbayang wajah ibunya yang selalu tersenyum cerah secerah mentari. Sikapnya yang penuh kehangatan. Maisa mengintip di balik pintu tak berani mendekati ayah dan kakaknya.


Mendengarkan percakapan hatinya terasa pilu, tapi ia tak mampu melakukan apapun untuk sekedar meringankan duka. Gadis kecil itu berlari keluar sambil menangis hampir menabrak orang yang dilewati dan akhirnya terjatuh di koridor yang sepi.


Gadis kecil itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia sangat menyesali apa yang terjadi. Hati kecilnya ikut menjerit melihat orang yang telah disayangi pergi meninggalkannya. Ia mulai membenci dan menyalahkan dirinya sendiri.


Langit yang semula cerah berubah menjadi mendung seolah-olah turut berduka. Rintik gerimis membasahi pemakaman yang sepi. Maisa masih setia duduk di hadapan makam ibunya. Matanya sembab terlalu banyak membuang air mata kesedihan. Tangan mungilnya memeluk kakinya. Tetes hujan tak dihiraukannya. Berharap hujan membawa pergi semua kesedihan hatinya.


“Mama... maafkan Maisa. Maisa telah buat papa dan kakak sedih. Papa, Kak Kio sama sekali tak mau memandangku. Maisa patut dibenci,” suaranya terdengar lirih tersapu suara hujan.

__ADS_1


__ADS_2