Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.65 Impian


__ADS_3

Ting tong! Suara bel dari arah pintu depan. Maisa tengah asik melukis di ruang tamu. Ia meletakkan kuas dan palet ke atas meja. Ia mengelap cat yang menempel di tangannya ke kain lap.


Gadis itu bergegas membuka pintu. Seorang perempuan menerjang masuk dan memeluknya. Nyaris saja gadis itu terjungkal ke belakang.


"Surprise! Apa aku mengejutkanmu, Ken?"


Perempuan itu melepaskan pelukannya. Ternyata Alice. Gantian gadis itu terkejut melihat keberadaan Maisa di rumahnya.


"Kenapa kau ada di rumah Ken?" tanya Alice dengan nada tinggi.


Maisa mengangkat sebelah alisnya. Perempuan di depannya ini masih tebal muka setelah kasus skandal kemarin.


"Loh, memangnya kenapa, Mbak? Kak Ken tidak melarang, kok!" sahutnya dengan nada santai.


Alice seketika meradang. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya menjambak gadis di depannya ini. Matanya menemukan setitik noda cat di gaunnya selutut. Bola matanya melotot.


"Apa yang kau lakukan? Gaunku jadi kotor terkena cat. Harus ganti rugi?"


Maisa mengangkat sebelah bibirnya. Menahan kekesalannya. Sabar. Yang benar saja. Ia mengangkat kedua tangannya.


"Tunggu dulu, Mbak. Yang tiba-tiba memeluk tadi siapa? Mbak Alice, kan? Jadi bukan salahku dong kalau gaunnya kotor. Siapa yang suruh peluk orang sembarangan?" Suaranya dibuat semanis mungkin. Dalam hati Maisa sudah mengeluarkan sumpah serapah.


"Kau!" Alice kehabisan kata-kata. Jari telunjuknya terarah ke wajah Maisa.


Deru motor memasuki pekarangan rumah. Ken melepaskan helem dan langsung menghampiri kedua gadis itu. Keningnya berkerut melihat Alice di sana.


Alice tiba-tiba menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai. Ia mengerutkan alisnya, memasang raut wajah dianiaya. Ken menghampiri Alice dan membantu gadis itu berdiri. Ia memeluk Ken. Sudut bibirnya turun seperti ingin menangis.


"Ken, aku sudah membuatnya marah. Jadi dia mendorongku," ujarnya dengan nada memelas.


Mulut Maisa menganga. Drama macam apa ini? Gadis itu meremas rambutnya. Menghela napas. Ia berdecak pelan, malas menanggapi kelakuan Alice si ratu drama.


"Lakukan saja sesukamu!" Maisa memilih masuk ke dalam rumah.


Ken mendorong Alice menjauh. Sorot matanya berubah dingin. Rencana ingin membuat kejutan untuk Maisa gagal total karena gadis di hadapannya ini.


"Aku tidak percaya Maisa melakukan itu," ujar Ken dengan nada datar. Ia muak dengan drama yang dimainkan gadis itu.


"Hah! Apa kau lupa, dia itu monster yang bisa menyerang orang lain membabi buta," sergah Alice dengan nada semakin meninggi.

__ADS_1


Ken mencengkeram lengannya dengan keras. Gadis itu mengernyit kesakitan. "Heh! Memangnya apa yang kau tahu tentangnya. Sepertinya kau lupa apa yang sudah kau lakukan. Soal video itu, harusnya kau bersyukur saja aku tidak menuntutmu bertanggung jawab."


Alice melepaskan cengkeraman tangan Ken. Lengannya terasa ngilu. Laki-laki di hadapannya terlihat sangat marah sekarang. Kenapa Ken tidak pernah sekalipun meliriknya. Padahal mereka berteman sejak kecil.


Gadis itu pergi meninggalkan Ken dengan wajah ingin menangis. Rasanya sakit menahan cinta tak berbalas selama sepuluh tahun. Ia berharap Ken mau melihatnya walau hanya sekali. Tapi semua itu tak pernah terwujud, ditambah kehadiran Maisa yang muncul entah dari mana. Ken semakin membencinya saat mengusik gadis itu.


Ken masuk ke dalam rumah setelah memastikan Alice pergi. Maisa duduk di sudut ruangan melanjutkan aktivitas melukisnya. Dalam hati bertanya-tanya, apa gadis itu tidak cemburu padanya saat Alice memeluknya.


Ia menghampiri Maisa, memeluk leher gadis itu dari belakang, mengecup puncak kepalanya. Gadis itu tertawa kecil. Ia mendongakkan kepalanya memandang kekasihnya.


"Aku masih melukis, Kak," katanya pelan.


Ken memperhatikan lukisan di depannya. Sosok yang tak asing di matanya. Seorang laki-laki terlihat seperti mengambang di udara, melakukan dunk ke ring basket. Ia menunduk ke dirinya sendiri.


"Itu aku, kan?"


Maisa mengangguk pelan. "Ini saat aku pertama kali melihat Kak Ken melakukan dunk." Suara gadis itu terdengar malu-malu.


"Jangan bilang kamu tertarik karena itu." Ken dengan pedenya mencoba menebak pikiran gadis itu.


Maisa menggelengkan kepala. "No. It's secret. Lukisan ini sebenarnya untuk kejutan tapi tak jadi karena Kak Ken pulang lebih awal."


"Kamu itu kejutan tersendiri buatku."


Maisa memutar bangku yang diduduki menghadap Ken. Tatapan matanya terlihat serius. "Kak, aku mendapatkan tawaran beasiswa ke Prancis untuk jurusan seni. Taoi aku belum memutuskannya."


Ken membatu mendengarnya. Maisa memperhatikan laki-laki itu. Ia terlihat membisu. Apa Ken tak menyukainya?


"Berapa lama?"


"Sekitar empat tahun."


Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Sanggupkan dirinya dan Ken berpisah, menjalin hubungan jarak jauh. Mengingatnya saja, hatinya langsung goyah. Belum lagi ada rivalnya yang selalu mencoba mencari celah menggoda Ken.


Ken menggenggam tangan gadis itu. Senyum berkembang di bibirnya. Ia tahu semua ini bakal berat untuk keduanya. Tapi ia harus mendukung mimpi gadis itu.


"Ambil saja, Sa. Kamu punya bakat untuk itu. Kejarlah mimpimu. Aku akan menunggumu di sini. Ah... mungkin sesekali aku akan mengunjungimu ke Prancis."


Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Ken menariknya ke dalam pelukannya. Maisa membalas pelukannya.

__ADS_1


"Aku akan bicara juga dengan Kak Kio dan Papa," ujar gadis itu pelan.


"Kebetulan aku juga ingin mengatakan padamu kalau aku akan berhenti menjadi model dan fokus untuk mengurus perusahaan."


Ken mengantarkan Maisa kembali ke rumah mungilnya. Di teras sudah ada Kio menunggu. Wajahnya terlihat masam begitu keduanya muncul.


"Menginap dimana kau, Sa?" tanyanya pada gadis itu.


Maisa memiringkan kepalanya heran. Tumben kakaknya perhatian. Ken menghempaskan dirinya ke bangku di samping Kio.


"Jangan bilang kau menginap di rumah Ken?" Tatapan Kio masih menyelidik.


Ken menahan tawanya. Sejak awal ia tahu, Kio secara tak sadar sudah overprotektif pada adiknya. Yah, kadang cara yang digunakan salah.


Maisa nyengir, menggaruk rambut pendeknya. Kio melotot ke arahnya. "Kau gila, ya! Dia itu laki-laki, loh!"


"Tentu saja aku laki-laki," sahut Ken menutupi separuh wajahnya dengan punggung tangan, menahan tawa.


"Kau diam saja!" hardik Kio pada sahabatnya.


"Jika ingin menginap ada Mia atau pulang ke rumah. Aku tidak suka kau menginap di rumah laki-laki, meski dia sahabatku."


Maisa mengangguk dari pada harus mendengarkan omelannya panjang lebar. Ken tertawa keras. Kio melotot ke arahnya. Ia langsung mengusir laki-laki itu pulang.


Ken mencium dahi gadis itu di depan Kio dengan sengaja. Kio melayangkan tinju, namun Ken berkelit lebih dahulu. Ia menjulurkan lidahnya mengejek Kio.


Ken memacu motornya. Maisa mematung dengan tangan memegang dahinya. Wajahnya merona merah. Kio bertambah kesal dibuatnya.


"Dasar Ken sialan! Kau apakan adikku!" umpatnya kesal.


"Kak, aku ingin kuliah ke Prancis," ujar Maisa saat keduanya duduk di dalam.


Kio membisu mendengar berita itu. Ia tak menyangka Maisa akan melangkah sejauh itu. Prancis bukan jarak yang dekat. Bagaimana nanti ia hidup di sana? Pasti banyak pria brengsek yang akan menggodanya. Memikirkannya saja membuatnya kesal.


"Berapa lama?" Pertanyaan Kio serupa dengan Ken.


Maisa tersenyum mengatakan akan kuliah di sana selama empat tahun. Kio menatap tajam gadis itu. Ada tekat bulat terpancar dari bola matanya. Jika begitu, bagaimana bisa ia menghalangi impian adiknya.


"Yah, kuharap kamu bahagia dengan jalan yang kau pilih," ujarnya pelan.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak." Maisa memberikan pelukan hangat untuk Kio. Ia sudah membulatkan tekatnya untuk mengejar impiannya menjadi pelukis.


__ADS_2