Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.69 Album Usang


__ADS_3

Bu Artika membukakan pintu, menyambut kedatangan Ken dan Maisa. Ia memeluk gadis itu, cipika cipiki. Kedua tangannya mendorong sepasang kekasih itu ke meja makan.


"Mana Bang Miki? Apa belum datang?" Ken melongok ke dalam.


"Oh, Abangmu dan Helen makan malam berdua di luar," balas bu Artika.


"Hais! Dasar penghianat!"


"Hmm... Jadi kamu tidak mau makan malam bersama kami?" Bu Artika memasang senyum menyeramkan. Ken berdehem, berjalan mendahului ibunya, pura-pura tak mendengar.


Pak Brian nampak menunggu di sana. Ia tersenyum ke arah Maisa. "Bagaimana kabarmu, Sa?"


Maisa membalas senyumnya. "Baik, Om."


"Kudengar kau sekarang tinggal sendiri. Ternyata kau anak yang mandiri, ya," ujar pak Brian lagi.


Gadis itu hanya tertawa kecil. Ia menoleh ke arah Ken yang duduk di sampingnya. Menggerakkan bola matanya ke arah pak Brian.


"Aku akan menjelaskannya nanti," bisik Ken ke telinganya.


Maisa memandang sepiring steak di hadapannya. Kedua tangannya mengambil garpu dan pisau makan. Piring di hadapannya di ambil alih Ken dan menggantinya dengan piring steak yang sudah di potong-potong.


Gadis itu tersenyum kecil, menyuapkan sepotong daging ke mulutnya. Bu Artika tersenyum sendiri dengan kedekatan mereka berdua. Ken yang dulu tak peduli bahkan cenderung menjauhi perempuan, kini mau membuka hatinya.


Bu Artika mengambilkan sepiring kecil salad sayur dan memberikan padanya. Maisa mengangguk, tersenyum mengucapkan terima kasih. Tak lama berselang, pak Brian menyodorkan sepiring kecil potongan buah. Gadis itu menerimanya sambil tersenyum.


"Makanlah yang banyak. Tak usah sungkan. Anggap saja rumah sendiri," tukas pak Brian.


Maisa masih memasang senyumnya. Ken memiliki keluarga yang hangat. Ia ingat saat keluarganya masih lengkap, ayah, ibu dan Kio suka seperti itu. Tapi suasana itu tak pernah dirasakan lagi dalam keluarganya.


"Apa kau mau melihat foto masa kecil Ken?" ujar bu Artika.


Mereka berempat duduk di ruang keluarga. Ken terperanjat mendengarnya. Ken menggelengkan kepala dan menggerakkan tangannya untuk tidak memperlihatkan foto itu. Ia tak mau membuka aib masa lalu.


Bu Artika mengabaikan isyarat Ken. Ia bersenandung, mencari album foto yang disimpan di kamarnya.


"Kudengar kamu mendapat tawaran melanjutkan kuliah ke Paris. Itu luar biasa. Jangan sampai kesempatan itu lewat begitu saja," ujar pak Brian dengan santai. Ia duduk di sofa berteman dengan beberapa buku di hadapannya.

__ADS_1


"Aku masih memikirkannya, Om. Aku juga sudah mengatakan pada ayahku dan sudah mendapat ijin darinya." Maisa tersenyum tipis membalas ucapan ayah Ken.


Pak Brian persis seperti ayahnya. Hobi membaca buku. Kira-kira apa yang dilakukan ayahnya sekarang? Apa masih berkutat dengan bukunya.


"Dan Ken, jangan membuang-buang waktumu. Apa kau tidak malu dengan Maisa? Jangan sampai tertinggal darinya."


Ken hanya nyengir, menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sebelah tangannya menggenggam tangan Maisa. Tak peduli meski ada orang tuanya di sana.


Bu Artika datang membawa album foto usang dimakan usia. Ia duduk di samping Maisa. Ada foto anak kecil mengenakan gaun tutu selutut berwarna pink dan jepit rambut dengan warna serupa. Wajahnya yang imut terlihat cemberut.


Maisa mengamati foto itu sekali lagi. Kenapa foto itu mirip dengan laki-laki yang duduk di sampingnya. Ken membuang muka saat ia menoleh ke arahnya.


"Jangan bilang ini Ken," kata Maisa pelan.


"Fu...fu...fu... Tebakanmu benar sekali. Dulu aku sangat ingin anak perempuan. Bukankah dia sangat imut." Bu Artika tersenyum lebar, mengatupkan kedua tangannya.


Tawa menyembur dari gadis itu. Ia memegangi perutnya. Air mata keluar dari sudut matanya. Ken terlihat kesal. Ia menarik tangan gadis itu.


"Aku akan mengantarkannya pulang sekarang." Ken menyeret gadis itu pergi sebelum mendapat jawaban dari ayah dan ibunya.


Keduanya duduk di dekat jendela. Ken memesan secangkir americano dan segelas es cappucino latte untuk Maisa.


"Kak Ken belum menjelaskan yang tadi."


"Oh itu. Papa punya jaringan informasi sendiri. Tapi kalau soal proyek yang dikerjakan ayahmu, aku memiliki andil di dalamnya. Maafkan aku tak memberi tahu mu."


"Proyek?" Maisa mengerutkan keningnya. Sepertinya ini proyek yang dibicarakan ayahnya beberapa waktu lalu. Ia menatap tajam Ken. Tersirat rasa bersalah tampak dari wajahnya.


Haruskah ia marah padanya. Laki-laki itu turut andil dalam pertengkaran hebat dengan ayahnya. Tapi Ken hanya ingin membantunya. Sedikit rasa bimbang singgah di harinya. Maisa menyesap es cappucinonya.


"Yang berlalu biarlah berlalu, Kak. Kurasa hubunganku dengan Papa tidak akan bisa berjalan baik. Meski Kak Ken tidak ikut campur, kejadian waktu itu bisa saja terjadi di masa depan."


"Maaf, Sa!"


Lagi-lagi ia membuat Ken mencemaskannya. Maisa menggenggam tangan laki-laki itu. Mengatakan dirinya tak apa-apa.


...****...

__ADS_1


Maisa melangkahkan kakinya ke dalam resto yang diberitahukan ayahnya. Ia mencoba menata hatinya karena tak tahu nanti apa yang bakal terjadi. Pak Chandra sudah datang lebih dulu.


Maisa menarik kursi di depannya. Pak Chandra memberikan buku menu padanya. Ia memilih nasi goreng seafood dan cah kangkung.


"Jadi ada apa Papa memintaku datang kemari?"


Pak Chandra terlihat berpikir sejenak. "Sebaiknya kau pulang ke rumah."


Maisa memiringkan kepalanya. Apa ia tak salah dengar. Tapi untuk apa? Bukannya ayahnya tak suka jika ia ada di sana.


"Aku tak suka terlihat seperti orang tua yang mengabaikan anaknya," paparnya singkat.


Maisa tertawa ironis. "Apa ini karena pak Brian lagi? Kenapa Papa melakukan ini padaku? Aku bukan barang yang bisa seenaknya dibuang jika sudah tidak suka lagi."


Pak Chandra terdiam. Itu membuat Maisa semakin terluka. Jika ia kembali akankah ayahnya berubah. Maisa menggigit bibirnya hingga berdarah.


Pak Chandra tersentak melihat darah. Ia mengambil tisu dan menyerahkannya pada gadis itu. Maisa menerimanya dalam diam.


"Baiklah. Aku akan kembali. Tapi aku tetap akan pergi saat semester ini berakhir."


Mau tak mau Maisa mencoba selangkah lebih maju. Entah apa nanti yang akan terjadi kedepannya. Setidaknya ia akan mencobanya untuk terakhir kalinya.


Pak Chandra mengangguk setuju. Ia memperhatikan gadis itu. Anak itu sudah berubah. Tidak cengeng seperti dulu lagi. Ia juga tak meminta untuk memaafkannya lagi. Ia bahkan tak meminta apa-apa darinya, malah mengembalikan semua yang ia berikan.


Sorot mata Maisa terlihat dingin, tak hangat seperti dulu. Apa karena dirinya sudah melangkah terlalu jauh menyakiti anak itu.


Pak Chandra mengantarkan Maisa pulang ke rumah kontrakan. Ia memperhatikan rumah kecil itu. Terlintas dalam pikirannya, apa anak itu hidup baik-baik saja?


Maisa merasa pak Chandra terlalu lama berdiri di depan rumah. "Apa Papa mau masuk dulu?"


"Tidak usah. Besok Aron akan membantumu memindahkan barang-barang ke rumah."


"Tidak perlu, Pa. Aku akan membawa barangmu secukupnya saja. Jadi tidak perlu repot-repot memanggil Aron."


"Baiklah!"


Mobil pak Chandra menghilang di balik tikungan jalan. Maisa menarik napas dalam-dalam. Berharap keputusannya tepat kali ini.

__ADS_1


__ADS_2