
Sepasang muda mudi duduk berhadapan makan di kantin kampus. Banyak pasang mata memperhatikan mereka, ada yang berbisik-bisik. Keduanya terlihat cuek.
Maisa memasukkan mie ayam ke mulutnya, mengunyah pelan. Ken memperhatikannya dengan seulas senyum tipis di wajahnya. Keributan di kantin tak mengganggunya sama sekali.
"Kok Ka Ken tidak makan?" Tanya gadis itu dengan kedua alisnya bertaut. Mie ayam di hadapan laki-laki itu belum disentuh sama sekali.
"Aku belum lapar. Tapi kalau disuapi aku mau." Ken terkekeh, menunjuk bibirnya sendiri.
Glek! Susah payah Maisa menelan mie dalam mulutnya. Matanya mengerjap beberapa kali. Selang beberapa saat, ia tertawa pelan. Menggoyangkan tangan kirinya.
"Ka Ken bercanda nih."
"Hmm...."
Maisa melirik orang-orang di sekitar mereka. Masa iya menyuapi Ken di depan mereka. Perasaan malu menyerangnya. Ken masih menunggu. Tangannya sedikit gemetar, menggulung mie dengan garpu. Mengangkat mie untuk disuapkan pada laki-laki itu.
Sebuah pesan masuk di ponsel Ken menghentikan momen tersebut. Gadis itu meletakkan lagi mie ke mangkuk. Ken membuka pesan itu.
Bagaimana? Sudah berbaikan dengan kucing liarmu?
Ken sedikit geram membalas pesan itu.
Jangan sebut dia kucing liar!
Ken meletakkan lagi ponselnya. "Sa, jalan yuk. Aku mau mengajakmu kesuatu tempat."
"Kemana?"
"Sudah ikut aja, yuk!"
Maisa berdiri di halaman sebuah rumah besar lantai dua dengan desain minimalis berwarna putih kombinasi batu marmer berwarna cokelat tua. Beberapa taman kecil ditanami bunga dan perdu yang di tata sedemikian rupa hingga nyaman di pandang.
“Jadi dimana kita? Rumah siapa ini?” tanya Maisa pada Ken yang berdiri di sampingnya.
“Rumahku,” jawab Ken singkat. Ia mengamit lengan gadis itu masuk.
Gadis itu tersentak pelan. Ia menyengkeram lengan baju Ken. Sorot matanya penuh tanya.
“Rumahmu? Kenapa kau mengajak ke rumahmu?"
“Ei... Biasanya kan aku yang ke rumahmu. Yuk, masuk!”
Tak pernah ada dalam bayangan Maisa masuk ke rumah Ken. Berbagai barang antik menghiasi rumah. Ia tak berani menaksir berapa harganya. Suasananya sepi.
“Kemana orang tuamu, Ka?”
“Mereka lagi di luar negeri. Aku tinggal di sini dengan abangku."
Ternyata Ken punya abang. Maisa tak tahu banyak soal laki-laki ini. Selama ini ia tidak pernah bertanya apalun pada padanya. Bagaimana keluarganya atau seperti apa dia.
__ADS_1
"Sepertinya aku kurang perhatian padamu, Ka," gumannya pelan.
Ken tersenyum mendengar gumanan gadis itu. Ia mengacak-acak rambutnya gemas. Maisa menyisir rambutnya yang berantakan dengan jarinya. Ken suka sekali membuat rambutnya berantakan.
“Ken! Kamu sudah pulang?” tanya seorang laki-laki muda turun dari lantai dua.
Mata Maisa melotot, mengenali siapa laki-laki itu. Ia tak asing dengannya karena sering bertemu di kampus. Maisa menyembunyikan diri di balik punggung Ken.
Ken menggeser tubuhnya ke samping. Laki-laki itu memperhatikannya. Maisa tertawa canggung.
“Oh… Ternyata kau Maisa," ujar laki-laki itu tersenyum ke arahnya.
"Sa, ini abangku, Bang Miki. Kamu pasti mengenalnya."
“Ten... Tentu saja. Cuma aku tidak menyangka kalau Pak Miki itu abangnya Kakak. Kenapa selama ini aku kok tidak menyadarinya, ya?”
Suara Maisa terbata-bata, ingat kejadian beberapa waktu lalu saat seenaknya menerobos ruang kerja Pak Miki. Ia malu setengah mati.
Pak Miki tertawa. “Bagaimana kau menyadarinya. Dari awal saja kau sudah memasang tampang jutekmu.”
Maisa tersipu malu. Masa sih ia memasang wajah jutek. Ken hanya tersenyum tipis, mengajaknya duduk di sofa. Pak Miki ikutan duduk di hadapan mereka.
“Tapi Ken baru kali ini membawa ceweknya ke rumah. Selama ini dia tidak pernah dekat dengan siapapun. Kukira dia homo," kata Pak Miki lagi.
Ken menimpuk wajah Pak Miki dengan bantal sofa. Seenaknya saja mengatainya homo. Tidak dekat dengan peremluan, bukan berati homo.
“Hei, jangan suka membuka rahasia," seru Ken marah.
Pak Miko tertawa lebar. Tak ada aura dosen killer sekarang. Ken menggerutu pelan.
"Pergi sana!" Usirnya.
"Bagaimana kalau aku tak mau?" Sepertinya Pak Miki senang sekali menggoda adiknya sendiri.
"Kalau begitu, kita ke taman samping saja Sa,” kata Ken lagi kepada Maisa.
Ken menarik tangan gadis itu. Mau tak mau Maisa bangkit, mengikuti. Pak Miki hanya berdehem. Ken mengacungkan tinju kearahnya.
Maisa hanya tersenyum melihat keakraban mereka berdua. Rasanya iri. Ia juga ingin akrab dengan Kio, tapi kakaknya selalu saja ketus padanya.
Taman samping cukup luas, tertata rapi dam enak dilihat. Ada kolam renang di sana. Angin sepoi-sepoi terasa menyejukkan, menggoyangkan dedaunan.
Ken mengajak duduk di teras samping. Ia menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Maisa merasa canggung dengan suasana sunyi ini.
“Ka Ken benar tidak pernah dekat dengan cewek lain?” tanya Maisa kemudian.
Ken menatap lekat-lekat Maisa. “Kenapa memangnya?"
"Ya, heran saja. Kakak kan ganteng, tinggi, terus terkenal. Pasti banyak yang naksir sama Kakak. Masa dari semua itu belum ada yang pernah singgah hati."
__ADS_1
"Ada, kok?"
"Siapa? Alice?"
"Kok jadi Alice sih. Mendengar namanya saja aku sudah muak."
Maisa bingung dengan sikap Ken. Kalau merasa muak, berarti dia memiliki hubungan, kan? Ia ingin menanyakannya tapi diurungkan.
"Oh...! Jadi siapa dia?"
Ken menegakkan duduknya. Kedua tangannya merangkum pipi gadis itu.
"Jadi menurutmu siapa? Gadis itu ada di hadapanku sekarang."
Maisa terkejut mendengarnya. Seorang model berhati dingin seperti Ken hanya menyukainya? Mustahil! Maisa menatap mata cowok itu. Ada kesungguhan terpancar di matanya. Wajah Maisa memanas saat Ken mendekatkan wajahnya. Maisa membuang muka.
Ken mencium bibir Maisa. Maisa terkejut dan mendorongnya. Wajahnya merah padam. Tangannya masih memegang lengan Ken.
"Ka, jangan! Bagaimana kalau ada yang lihat."
"Oh, jadi boleh nih kalau tidak ada yang melihat?"
"Ya, tidak begitu juga konsepnya Ka."
Ken tertawa pelan. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Maisa. Kedua matanya terpejam. Ken tertidur di pundaknya. Matanya juga terasa berat. Ia ikut tertidur dengan kepala saling menyender.
Pak Miki menghampiri keduanya. Ia duduk di bangku samping mereka. Tangannya jahil memotret keduanya. Ia mengirimkan foto itu pada seseorang.
"Sedang apa kau, bang?" Ken terbangun lebih dulu mendapati kakaknya tersenyum-senyum sendiri bersama ponselnya.
"Ada, deh. Jangan sia-siakan dia, Ken. Dia gadis yang baik.”
“Sok tau kau, bang?”
“Aku ini lebih berpengalaman dibandingkan denganmu. Lagi pula aku ini dosennya. Wajar kalo aku tahu seperti apa dia. Lucu juga waktu Maisa saat masuk ke ruang kerjaku. Makanya jangan terlalu mengejar seperti orang gila.”
"Cih!" Ken berdecih mendengarnya.
“Sudah lah. Aku mau kencan dulu."
Pak Miki beranjak dari duduknya. Memasukkan ponsel ke saku kemeja. Berjalan meninggalkan keduanya. Beberapa langkah ia berhenti.
"Oh... Aku lupa. Besok mereka datang. Sepertinya penasaran dengan gadis ini."
Pak Miki terkekeh melanjutkan langkahnya. Ken melotot. Sialan! Abangnya melakukan sesuatu tanpa sepengtahuannya. Sebuah pesan masuk dari Pak Miki. Ia mengirimi foto Ken dan Maisa yang tertidur.
Aku sudah mengirimkan foto ini pada mereka.
Ada tambahan emotikon tertawa diakhir pesan. Ken hanya mendengus kesal. Perlu menyiapkan mental untuk menghadapi mereka.
__ADS_1