
"Maisa, tolong kain batiknya," seru mas Ardi dari atas tangga.
"Oke. Sebentar, Ka."
Tangannya sibuk menempelkan kertas dinding untuk wallpaper. Beberapa teman se klubnya memasang banner di depan stand. Maisa buru-buru mengambil kain yang dimaksud dan menyerahkannya.
Hari ini terbilang sangat sibuk untuk persiapan festival budaya lima hari kedepan. Festival kali ini ada pameran kain khas nusantara di lantai dua gedung A. Tidak lupa ada bazar makanan, kain batik, aksesoris, dan masih banyak lagi bertempat di lantai dasar Gedung A.
Ada juga workshop membatik untuk pengunjung yang berminat belajar membatik. Pengunjung dikenakan biaya dua puluh lima ribu untuk sekedar mengganti kain yang digunakan nantinya. Untuk lomba ada dua kategori yaitu lomba busana tradisional dan lomba melukis. Sebagai pemanis di akhir acara nanti ada konser mini yang dimeriahkan band kampus.
Klub melukis berencana memamerkan hasil lukisan dan bakal ada demo melukis. Karena masih kekurangan anggota klub, kali ini mereka harus bekerja keras. Maisa memasang beberapa hiasan di stand. Ia mengelap keringat yang menetes di lehernya. Penat mendera di setiap ujung tulangnya. Selesai sudah mendekor stand. Tidak terasa hari sudah sore.
Mia berlari kecil menghampiri Maisa. Tangannya menenteng sekantong plastik minuman dingin. Ia membagikan satu persatu pada anggota klub melukis. Mia memang bukan anggota klub melukis, tapi ia sering datang karena Maisa ada di sana. Maisa menenggak minumannya hingga tinggal setengah. Mia terlihat senang tersirat dari senyum lebar di wajahnya.
"Dari mana aja, Mi?" tanyanya singkat.
Mia langsung sumringah begitu Maisa bertanya, wajahnya terlihat cerah. Mia menceritakan dirinya bertemu Kio di lantai tiga. Maisa menghela napas lega, Mia tidak menanyakan kejadian beberapa waktu lalu. Mungkin sudah lupa karena Kio.
"Kio mau ikut lomba busana, pasti keren deh. Ken dan Erik ikut juga. Tadi sempat mengobrol sama Kio, dia baik sekali. Tidak sabar ingin segera melihatnya. Nanti temani aku, ya."
Maisa tertawa kecil. Mia sesuka itu sama Kio. Sebenarnya ia ingin menemaninya. Tapi Kio tak suka kalau ada dirinya. Kakak yang merepotkan dengan segala keribetannya. Ia juga ingin menghindari Ken sebisa mungkin, takut persahabatan mereka rusak karenanya. Maisa tak habis pikir, kenapa Ken mendekatinya dari sekian banyak gadis di kampus ini.
Maisa mencoba mencari alasan untuk tidak ikut. Maisa melirik ke arah mbak Maya mencari bantuan. Mbak Maya mendekati dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Demonya bentar, kok. Kalau mau, ikut saja. Mereka ganteng-ganteng, loh! Sayang kalau dilewatkan."
Maisa tersenyum kecut. Mbak Maya nggak bisa dikompromi nih. Mia memegang kedua tangannya, memandangnya penuh harap. Maisa mengangguk lemah mengiyakan. Mia memeluknya senang. Maisa tertawa kecil melihat temannya seperti anak kecil. Berharap saja Kio tidak marah besar nanti.
Festival budaya cukup sukses. Banyak yang datang berkunjung, terutama di area bazar. Cukup banyak yang datang ke stand lukis. Maisa bergantian dengan temannya melakukan demo lukis untuk menarik pengunjung.
__ADS_1
Ken memandang bosan kerumunan orang yang lalu lalang. Kio dan Erik sibuk berdiskusi untuk kostum yang dipakai besok. Ken mengambil topi dalam tasnya, ia melesat pergi meninggalkan keduanya. Menyusuri stand yang banyak pengunjung. Langkahnya terhenti di stand kesenian. Matanya terpaku pada gadis berambut pendek yang tersenyum pada seorang anak kecil.
"Lagi sibuk, ya?"
Ken menyapanya. Maisa menoleh, wajahnya sedikit terkejut. Hampir saja Maisa tidak mengenalinya karena memakai topi hampir menutupi sebagian wajahnya. Ken sudah duduk di samping kirinya dengan senyum di wajahnya.
Maisa merasa tidak enak pada anggota klubnya. Dia meminta persetujuan, belum sempat mengatakannya keempat teman se klubnya langsung mengacungkan jempol. Ken turut mengacungkan jempolnya. Ada apa dengan teman se klubnya.
Maisa menorehkan kuas lukisnya menggambar anak laki-laki itu duduk di depannya. Matanya menatap lekat ke kanvas. Sedang Ken matanya sesekali memandangi wajah Maisa, mulai dari bulu mata lentik, hidung yang mancung, lesung pipit menambah manis senyumnya.
Maisa tidak berani menoleh sedikitpun ke arah Ken. Matanya masih menatap nanar ke arahnya membuat jantungnya berdetak kencang seperti habis berolahraga. Rasanya kikuk diperhatikan. Maisa melakukan glazing untuk mengakhirinya kuasannya. Sudut bibirnya tersenyum melihat hasilnya. Dia memotret untuk share di Instagramnya.
"Wah, keren. Terima kasih, Kak."
Anak kecil itu terlihat senang. Ibunya mengucapkan terima kasih pada Maisa. Ken menunjuk tangannya ke dirinya sendiri. Maisa mengangkat sebelah alisnya, mencoba mengartikan isyarat itu. Apa ia juga ingin dilukis?
"Maisa tidak ikut memotretku? Masa cuma lukisan saja yang difoto." Ia memberi seringai miring.
"Anu... Kak," panggil Maisa.
Maisa menatap wajah Ken. Ia merasa posisinya sangat absurd. Laki-laki ini memeluk pinggangnya. Ken menoleh ke arahnya. Keduanya bertatapan sesaat. Maisa berusaha menjauhkan tangan Ken.
Cekrek! Mbak Maya terkekeh geli, bangga dengan hasil jepretan kameranya. Maisa terkejut, mencoba merebutnya. Mbak Maya malah memberikan ponselnya ke Ken. Itu ponselnya loh.
"Sa, sudah tidak apa-apa. Santai sajalah." Mbak Maya mengatakannya sambil tertawa.
Anehnya semua yang ada di situ tidak keberatan. Maisa jadi mempertanyakan tingkat kewarasan mereka. Ia mencoba merebut ponsel miliknya. Ken mengangkatnya tinggi-tinggi. Maisa kalah tinggi, mencoba berjinjit dan menggapainya masih tidak sampai. Ia meloncat mencoba mengambilnya. Ken malah menurunkan tangannya, memberikan ponsel. Maisa mengambil ponselnya. Foto yang barusan diambil sudah terkirim lewat whatsapp. Maisa mengedipkan mata percaya. Nama kontak yang tertera Ken Keren.
Ada seseorang berdiri di belakang Ken. Maisa mendongak, terkesiap. Jantungnya nyaris copot melihat Kio sudah berdiri di samping Ken dengan wajah masam. Matanya dingin menyiratkan ancaman. Maisa bergidik ngeri. Erik datang paling belakang terkejut melihat Maisa mematung.
__ADS_1
"Ah... Halo. Yang waktu itu, kan?" ujarnya.
"Halo juga, Kak." Maisa membalasnya dengan senyum tipis.
Kio masih melototi Maisa. Gadis itu memegang erat ponselnya gelisah. Ken memperhatikan perubahan sikap Kio dan Maisa bergantian. Ada rasa gusar menyergap hatinya. Ia berdiri di hadapan Maisa, menghalau pandangan Kio pada gadis itu. Erik heran dengan kedua sohibnya yang bertingkah aneh.
"Kami jalan duluan, ya," ucap Erik kepada semua yang ada di situ.
Ia mendorong keduanya menjauh, mencari tempat yang agak sepi di pojok belakang gedung A. Kio dan Ken masih sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing.
“Jadi katakan padaku, apa hubungan kalian sama cewek itu?” Erik memecah kesunyian meminta penjelasan.
"Kio, apa kau mengenalnya?" Ken memotong perkataan Erik.
“Jangan dekati dia, Ken. Dia bukan cewek baik-baik." Kio turut mengabaikan pertanyaan Erik.
“Seperti apa dia?” pungkas Ken dingin.
"Apa?" Kio balik bertanya.
"Sampai berbicara begitu, berarti kau kenal dengannya, kan?" Ken bertanya lagi.
Kio semakin terlihat berang. Tangannya memukul tembok yang tidak bersalah. Rasa sakit mendera buku-buku tangannya. Ken masih menatapnya dingin.
"Cih!" Kio menjauh meninggalkan keduanya dan menghilang di sela kerumunan.
Erik menghela nafas panjang, tangan kanannya memegang pundak Ken. "Serius kamu suka sama dia."
"Apa aku kelihatan main-main?"
__ADS_1
Erik mengangkat bahu tak peduli. Hanya saja ia tak suka suasana mereka sekarang.