Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.21 Dia Milikku!


__ADS_3

Di hari kedua pertandingan Ken dan rekan setimnya berhasil masuk ke perempat final dan akhirnya lolos ke final. Tim Jain pun tak mau kalah, mereka juga turut lolos ke final.


“Akhirnya kita lolos ke final juga. Besok kita akan berhadapan dengan tim Universitas Y. Kelihatannya lumayan tangguh.” Kata Erik usai pertandingan basket.


Kio merangkulkan tangannya ke pundak Erik. “Santai, Bro. Kita pasti bisa mengalahkan mereka.” Ujarnya percaya diri sambil melihat ke arah lawan.


Maisa tengah berbincang-bincang dengan Jain dan yang lainnya. Sesekali dia tertawa, bercanda dengan mereka. Kio langsung teringat jika Maisa mahasiswa pindahan dari sana. Jadi wajar jika mereka saling mengenal.


Lain halnya dengan Ken, wajahnya masam seperti asamnya jeruk limau. Lagi! Maisa menunjukkan wajah santai di hadapan mereka. Saat bersamanya gadis itu tidak menunjukkan raut muka seperti itu. Mia menyadari arti tatapan Ken. Terbersit sebuah ide di kepalanya.


“Yuk... Kita menghampiri mereka. Ya sekalian ramah tamah. Kan mereka lawan kita besok!” ujar Mia seraya mendorong Kio ke arah mereka.


Wajah Kio ikutan masam. Mau tak mau mendatangi tim Jain. Ken turut datang menghampiri. Jain dan yang lainnya menoleh melihat kedatangan mereka. Begitu juga Maisa. Ken menatap Maisa tajam tapi Maisa hanya tersenyum tipis.


“Selamat kalian telah masuk final.” Kata Kio pada mereka berbasa-basi.


“Kami juga mengucapkan selamat pada kalian. Pertandingan kalian hebat sekali.” Kata Evan sambil tersenyum.


Jain menatap lekat Ken, begitu pula sebaliknya. Seperti ada percikan arus listrik mengalir di mata mereka. Maisa menyenggol Jain dengan bahunya. Pikiran usil Jain tiba-tiba kambuh. Ia mendekatkan dirinya ke arah Maisa, hingga bahu keduanya menempel dan membisikkan sesuatu.


"Pacarmu cemburu, tuh. Asem melulu mukanya."


"Kami tidak pacaran, kok."


"Oh my god. Berarti nanti pacaran dong. Little sister ku ini memang top!"


Jain mengacungkan jempol. Maisa menginjak kakinya kesal. Jain menggeram pelan menahan rasa sakit di buku-buku kakinya. Melihat adegan itu, semuanya memandang Ken. Ken mengepalkan tangannya hingga jarinya memutih, mencoba menahan amarah yang menguar.


"Maisa, kamu kenal juga sama mereka?"


Mia berbisik ke telinga Maisa. Maisa hanya tersenyum dan mengangguk. Memperkenalkan ketiga sahabatnya kepada Mia.


“Kau tau, dear sweetheart ku ini sekarang bertambah dewasa, ya. Jadi tak rela. Ku harap cintamu padaku tak kan pudar oleh waktu”


Jain berkata gombal dengan santai. Tangannya memegang kedua pundak Maisa, mendorongnya maju ke hadapan Ken. Semuanya memandang Maisa sambil beroh ria, kecuali Ken.


Jain berpura-pura memasang wajah tak rela. Ken membatu, seperti tersambar petir di siang bolong. Mulut Maisa menganga. Drama macam apa lagi ini.


Ken menarik tangan Maisa. Gadis itu mundur ke belakang, membentur dada Ken. Maisa mendongakkan kepalanya menatap Ken. Ken memeluknya dari belakang. Menatap Jain seolah mengatakan jangan ganggu milikku. Jain tertawa terpingkal-pingkal melihat pasangan konyol yang tengah menahan kesal di hadapannya.

__ADS_1


Kio dan Erik terkejut melihat sikap posesif Ken dan kejahilan Jain. Dari sekian perempuan cantik seperti Alice, Ken menjatuhkan hatinya pada gadis yang biasa-biasa saja. Ralat, tepatnya gadis bar-bar. Alvin dan Evan menahan tawanya.


"Brengsek! Ayo kita baku hantam."


Maisa berniat menerjang Jain, sadar Jain menjahilinya. Ken mengeratkan pelukannya. Jain masih tertawa meninggalkan Maisa yang uring-uringan.


Maisa, nanti tolong jelaskan semuanya padaku.


Ken berbisik ke telinganya, membuat Maisa merinding. Gadis itu gugup, meneguk ludahnya. Ken terlihat menyeramkan. Maisa hanya bisa menangis dalam hati.


Awas aja besok. Bakal kupiting kepalamu, Kak Jain.


...****...


“Papa dengar di kampusmu ada pertandingan basket, ya?” Tanya Pak Chandra ketika makan malam bersama.


“Ya begitulah, Pa! besok pertandingan finalnya.”


“Kelihatannya besok Papa tidak sibuk. Papa ingin melihat pertandingan mu besok.”


Kio berhenti makan. “Benarkah?”


“Aku harus tidur lebih awal untuk menonton pertandingan besok.” Kata Maisa sambil beranjak ke kamarnya.


Pertandingan final basket sangat ramai dipadati pengunjung. Banyak mahasiswa membawa spanduk berisi kata-kata semangat untuk mendukung tim mereka agar menang. Di sebelah samping ada tim Ken yang diberi pengarahan oleh pelatih dan managernya. Disampingnya lagi ada tim Jain yang juga sedang diberi pengarahan oleh pelatih mereka. Bedanya tidak ada manajer yang mendampingi.


“Dengar... hari ini kita harus menang.” Kata Kio.


Jain juga melakukan hal yang serupa. Peluit berbunyi melengking. Pertandingan pun segera dimulai.


Di bangku depan penonton tampak Pak Chandra ikut menonton didampingi tangan kanannya. Tak jauh darinya, tampak Maisa duduk dengan tenang memperhatikan jalannya pertandingan.


Pertandingan basket sangat seru. Quarter pertama tim Kio unggul dengan nilai 44-40 atas tim Jain. Kio tampak senang melihatnya. Pak Chandra ikut tersenyum. Tim Jain santai saja menghadapinya membuat Kio bertambah gerah. Pertandingan quarter kedua dimenangkan oleh tim Jain dengan poin 48-41 atas tim Kio.


Pertandingan makin panas di quarter ketiga. Pertandingannya seimbang. Kedua tim berusaha memperoleh poin dari lawannya. Peluit ditiup tanda berakhirnya permainan. Pertandingan dimenangkan oleh tim Jain dengan poin 50-49.


Kio kecewa berat melihat hasil pertandingan. Malu pada ayahnya yang datang untuk menonton kekalahannya. Padahal ia ingin membuat ayahnya bangga padanya. Pak Chandra menghampirinya.


“Pertandingan tadi bagus. Kedua tim sportif. Papa bangga padamu.”

__ADS_1


Kio tersenyum tipis. Meski pak Chandra memujinya, sedikitpun tidak ada kepuasan dihatinya. Jain dan yang lainnya datang menghampiri.


“Selamat! Pertandingannya tadi bagus sekali. Kalian adalah lawan yang tangguh bagi kami.”


“Kami juga mengucapkan selamat pada kalian. Kalian benar-benar hebat.” Kata Ken mewakili tim.


Keduanya menyeringai, berjabat tangan. Menggenggam tangan erat-erat. Keduanya meringis kesakitan, mengibaskan tangan yang memerah.


"Heh! Seberapa dekat kau dengannya. Jika Maisa disuruh memilih, dia pasti akan memilihku." Jain memegang pundak Ken dan berucap pelan padanya.


"Apa maksudmu. Dia milikku." Ken membalas dengan nada dingin.


Jain terkekeh pelan, menatap Maisa yang masih duduk di bangku penonton. Ia melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu balas melambaikan tangan ke arah Jain dan temannya, memberikan isyarat finger heart. Mereka membalas memberikan isyarat cinta menggunakan kedua tangannya.


"See!" Jain menyeringai ke arah Ken.


Kio menganga melihat kenorakan mereka. Meski begitu Jain terlihat sangat menyayangi Maisa, terpancar dari sorot mata dan senyum tulusnya. Ken buru- buru menghampiri Maisa, menyeretnya keluar lapangan. Jain menggerakkan tangannya memberi isyarat menyuruh pergi dengan Ken.


Ken mendesaknya ke dinding, mengurung Maisa dengan kedua tangannya. Jantung Maisa bergemuruh. Ken menatapnya lekat-lekat. Ada pancaran bermacam emosi di sana.


"Jadi.... Katakan padaku. Apa sebenarnya hubunganmu dengan Jain?"


"Bukannya sudah kubilang kemarin. Hubunganku dengan Kak Jain sebatas teman masa kecil."


"Hah! Kupikir aku percaya?"


Maisa memandangnya penuh tanya. Tidak ada kebohongan dari yang dia ucapkan. Hubungannya dengan Jain benar-benar sebatas kakak adik. Jain sendiri sudah memiliki tambatan hati yang sangat ia cintai. Dan Ken masih tidak mempercayainya.


"Kak Ken tidak mempercayaiku? Kak Jain sudah seperti kakakku sendiri." Maisa memasang wahah sedih.


Ken melepaskan kedua tangannya. "Maaf, aku tidak bermaksud memaksamu. Aku hanya kesal kamu lebih akrab dengannya. Saat bersamaku kau tidak pernah seperti itu. Padahal aku sangat menyukaimu."


Maisa mencerna setiap kata yang keluar dari bibir laki-laki itu. Matanya terbelalak lebar. Sesuatu menyenangkan singgah di hatinya, terasa hangat, membuatnya berdebar. Maisa menyentuh lengannya, menatap lekat-lekat mata Ken. Mencari kesungguhan di sana. Ken tersenyum tulus.


"Aku juga menyukaimu, Kak." Ujar Maisa lirih dengan wajah menunduk, memerah seperti tomat matang.


"Kalau begitu, maukah kau jadi pacarku?"


Maisa mengangguk. Ken menghembuskan napas lega. Ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Semua keresahannya sirna dalam sekejap. Hatinya diliputi kebahagiaan. Ia mengeratkan pelukannya. Menikmati setiap debaran jantungnya dan juga debaran milik Maisa.

__ADS_1


__ADS_2