Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.8 Cemburu Part 1


__ADS_3

Maisa masih terbayang-bayang kejadian kemarin. Ken dan Kio bersitegang gara-gara dirinya. Ia merasa bersalah pada Ken. Saat itu tak ada yang bisa dilakukan. Menjelaskan semuanya juga tidak menyelesaikan masalah, malah menambah masalah baru tentu saja dengan Kio.


Wajah Ken terlihat marah pada Kio. Maisa menghela napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. Meletakkan kuas yang sedari tadi di pegang. Lukisan setengah jadi seekor kelinci di padang bunga dengan pewarnaan belum selesai.


Maisa merebahkan badannya di lantai gazebo beralas karpet berbulu. Diraihnya ponsel di atas meja pendek di sebelahnya. Matanya tertuju pada nama kontak Ken Keren. Jarinya mengklik foto yang terkirim ke nomor Ken. Dalan foto itu ia dan Ken berpandangan. Ken terlihat tersenyum, dan dirinya memasang wajah kesal. Maisa tertawa kecil.


Suara keras pintu belakang dibanting. Langkah kaki yang dihentakkan dengan keras. Maisa yakin itu langkah kaki Kio. Ia menutup ponselnya dan meletakkan di bawah meja. Sepertinya Kio sangat meradang. Dan sampailah laki-laki itu di gazebo tempat Maisa bersantai. Tangannya mengepal erat. Napasnya memburu. Maisa bangun dari tiduran santainya.


Kio mengambil ponselnya dari sakunya dan memperlihatkan sebuah video. Maisa terperangah, matanya terbelalak. Tangannya gemetar, bukan karena takut namun menahan geram. Video itu kenangan masa lalunya yang menyedihkan. Maisa menatap kakaknya dengan tersirat penuh kesedihan dan juga amarah.


"Sudah kesekian kalinya, aku tak suka kau mendekati temanku. Tanggung akibatnya kalau video ini sampai tersebar lagi," ujar Kio penuh ancaman.


"Apa? Kalau cuma biar aku tidak dekat-dekat dengan temanmu, oke aku akan menuruti kemauanmu. Tapi tidak usah mengancam pakai video itu. Dasar pengecut."


"Kalau tidak begitu, kau tidak akan mendengarkanku. Tolong camkan dalam kepala kosongmu. Jauhi temanku!"


Kio mendorong dahi Maisa dengan jari telunjuknya. Mulutnya masih mengomel. Maisa menghela napas panjang. Percuma berdebat dengan kakaknya yang berkepala batu.


Menenangkan emosinya beberapa saat. Maisa kembali memasang senyumannya. Kedua tangannya memeluk Kio dan mendongakkan kepalanya, memasang wajah cerahnya. Kio tertegun, mulutnya berhenti bersungut-sungut.


"Oke, kakakku sayang. Berhenti marahnya, ya. Kalau begitu jangan bertengkar dengan Kak Ken lagi."


Kio kehabisan kata-kata. Ia terkejut mendapatkan pelukan yang tak terduga. Ia mendorong gadis itu menjauh, berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Maisa menyeringai, cara ini cukup ampuh berhasil mengatasi sikap tantrum Kio. Meski itu juga ungkapan hati kesal setengah mati.


Maisa mengacungkan jari tengahnya. Ia mendengar suara berdehem dari lantai dua. Pak Chandra tengah memperhatikannya. Maisa melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Pak Chandra langsung menutup jendela.


"Apa orang-orang di rumah ini tsundere semua?"


...****...

__ADS_1


"Itu Alice! Dia cantik sekali!"


Alice melenggang ke halaman kampus gedung A. Dress berwarna hitam tanpa lengan sampai sepaha, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping. Rambutnya ditata agak bergelombang. Dengan make up peach, menambah kesan cantik dan seksi. Manajernya mengikuti dengan susah payah di belakangnya. Kehadirannya mengundang perhatian pengunjung.


Ken, Kio, Erik, dan peserta lainnya masih bersiap-siap. Ken terlihat tampan mengenakan pakaian adat bali, begitu dengan yang lainnya. Kio mengenakan pakaian adat betawi, dan Erik dari Minang. Keduanya sepertinya sudah berbaikan, saat bertemu langsung ngobrol seperti biasanya.


Alice langsung masuk ke ruang ganti kostum. Ketiganya tercengang melihat Alice tiba-tiba muncul. Alice langsung mendekati Ken dan meraih lengannya, mendekatkan tubuhnya mencoba menarik perhatiannya. Ken menepisnya tak suka ada yang mendekatinya. Alice memasang wajah cemberut. Ken selalu memasang wajah dingin, membuat Alice terpesona. Ia akan melakukan apapun agar Ken berpaling padanya.


"Alice kok datang kesini. Apa hari ini tidak ada jadwal syuting?" tanya Erik mendekatinya.


"Ken, nanti temani aku keliling ya." Sekali lagi Alice bergelayut di lengan Ken mengabaikan Erik di sebelahnya.


Erik memasang wajah sedikit gondok. Matanya memancarkan rasa cemburu. Sudah lama Erik naksir gadis itu. Tapi Alice tak pernah menanggapinya. Matanya selalu tertuju pada Ken. Kio hanya menggelengkan kepala tak ingin ikut campur.


Acara lomba busana berlangsung ramai. Mia menyeret Maisa untuk turut menonton. Mia kegirangan melihat Kio berjalan di catwalk. Maisa nyaris menutup telinganya. Bahunya terguncang-guncang digoyang-goyangkan cukup keras. Ia tertawa kecil melihat temannya bereuforia. Cukup Chris Hemsworth di hatinya.


Hm... sepertinya posisi Chris mulai goyah saat Ken berjalan di catwalk. Maisa menahan napas saking groginya. Ken tersenyum ke arahnya membuatnya salah tingkah.


Ia menepuk kedua pipinya, menyadarkan dirinya. Alice tak pernah melihat sekalipun Ken tersenyum ke arahnya. Hatinya terasa kesal tatkala senyumannya di arahkan ke gadis berambut pendek di samping panggung. Gadis itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Cantik, modis, dan terkenal tak membuat Ken melihatnya. Sorot matanya penuh kebencian.


"Ken temani aku keliling, yuk."


Alice menyeret paksa Ken untuk menemaninya berkeliling. Tangannya memeluk lengan Ken dengan erat. Ia tersenyum penuh kemenangan ke arah gadis itu. Ken dengan berat hati menemaninya. Ekor matanya melirik Maisa yang memasang wajah datar. Gosip pun mulai tersebar, hubungan Ken dan Alice lebih dari sekedar teman. Ada yang mengatakan keduanya sudah berpacaran backstreet.


"Ken ini coba, deh!" Alice menawari boba brown sugar.


"Hmm..."


"Ken! Kau itu lagi jalan denganku. Bisa tidak senyum sedikit?"

__ADS_1


Alice berkacak pinggang di hadapan Ken. Menyipitkan matanya kesal. Ken masih memasang wajah dingin.


"Ken!" serunya lagi


"...."


"Salahku apa, Ken? Kurangku apa? Aku lebih cantik dibandingkan cewek itu. Dia cuma cewek cupu." Alice menggoyangkan lengan Ken.


"Pergilah! Sebelum aku benar-benar marah."


Ken menepisnya dengan kasar. Wajahnya terlihat murka. Ia merasa terganggu dengan keberadaan gadis itu.


Alice terkesiap, lidahnya kelu. Bulir bening jatuh di sudut matanya. Begitu tak berarti kah di matanya. Alice berjalan menjauh berurai air mata. Beberapa pengunjung berbisik di sebelah Ken, bergosip ada orang ketiga diantara mereka.


Jantungnya terasa nyeri melihat Ken dan Alice berjalan mesra. Matanya mengikuti keduanya sampai hilang ditelan kerumunan. Maisa menghela napas, mencoba menahan semua perasaannya. Mencoba mengenyahkan pikirannya. Sadarlah, ia dan Ken tidak ada hubungan istimewa, hanya sekedar saling sapa. Ia merasa iri memandang kerumunan yang ada di depannya yang terlihat tertawa bahagia.


Mia tak memperhatikan perubahan air muka sahabatnya. Matanya berbinar melihat Kio tak jauh darinya. Sekali lagi Maisa diseret menemui Kio. Mia menjabat tangan Kio memberikan selamat setelah sukses ikut fashion show baju daerah. Kio membalasnya dengan senyuman. Gadis di depannya ini tidak lebih dari salah satu penggemar baginya. Tidak ada yang istimewa.


"Kak Kio! Kenalin temanku, Maisa." Mia menarik tangan Maisa mendekat.


Kio dan Maisa berpandangan. Keduanya berwajah masam sesaat. Maisa langsung memasang senyum bisnisnya. Senyum ala pepsodent sparkling.


"Halo, Kak! Salam kenal. Kakak tadi tampilnya memukau sekali. Aku sampai terpesona."


Kio langsung merinding dibuatnya. Ia menatap horor adiknya. Ingin rasanya menjitak kepalanya. Kio memberikan kode lewat matanya untuk menghentikan aktingnya. Maisa malah merangkul tangannya erat-erat.


"Mia, aku juga mau difoto bareng Kak Kio, dong!"


"Oke!" Mia langsung mengambil ponsel.

__ADS_1


Apanya yang oke? Kok ia jadi kesal pada gadis itu. Kio mencoba melepaskan tangannya. Genggaman Maisa makin erat, senyumnya tambah lebar. Mau tak mau Kio berpose dengan senyum terpaksa. Ia akan membalas keisengan Maisa nanti.


__ADS_2