Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.29 Jangan Terluka


__ADS_3

Maisa merasa canggung satu ruangan dengan Pak Chandra. Keduanya duduk membisu berseberangan. Hanya suara televisi yang terdengar. Ia mendekap setoples keripik kentang. Pipinya bergerak mengunyak keripik. Matanya sesekali melirik ke arah ayahnya. Sinetron yang ditayangkan tak ada yang menarik minatnya.


Ugh.... Kak Kio kenapa tidak pulang-pulang, sih.


Pak Chandra sibuk dengan buku tebal dan beberapa kertas di meja. Di batang hidungnya terpasang kacamata baca. Sesekali tangannya membalik halaman buku.


Maisa bertopang dagu dengan tangan kiri. Memperhatikan raut wajah ayahnya lekat-lekat. Rambutnya terlihat satu dua ada yang memutih. Ada sedikit kerutan diwajahnya namun tidak mengurangi ketampanannya.


"Apa yang kau mau kali ini?" Ujar Pak Chandra.


Dagunya tergelincir dari telapak tangannya. Matanya berbinar senang. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Kalau begitu bagaimana kalau besok dinner bertiga di resto?"


"Besok sibuk."


"Lusa?"


"Lusa juga sibuk."


Maisa mengerucutkan bibirnya, menurunkan tangannya, lesu. Padahal barusan ia merasa senang dengan tawaran ayahnya. Ternyata hanya sekedar basa basi. Mau tak mau menelan pil kekecewaan.


Terdengar bunyi langkah kaki memasungi ruang keluarga. Maisa menoleh ke asal sumber suara. Kio baru saja datang dari pemotretan. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol air minum dan menenggaknya.


Kio mendekati Pak Chandra, duduk di sampingnya. Merentangkan tangannya ke sofa. Melirik ayahnya yang masih sibuk dengan lembaran kertas di hadapannya.


"Pa. Bagaimana kalau besok kita makan malam di luar. Sudah lama tidak dinner bareng."


"Boleh. Mau makan di mana?"


"Bagaimana kalau ke Resto Bang Jack. Ada menu baru di sana."


"Hm... Oke. Besok jam tujuh malam."


Maisa mendengar semua percakapan itu. Hatinya terasa nyeri. Ia mencengkeram lengan kirinya erat-erat hingga terasa sakit. Menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak menangis.


Maisa bergegas berdiri. Tangannya tak sengaja menyenggol toples keripik hingga jatuh berdebam di lantai. Tangannya meraih toples, menaruhnya di atas meja sedikit kasar, menimbulkan bunyi hentakan pelan. Menarik perhatian kedua orang di ruangan itu.


"Pa! Kak! Aku duluan ke atas."


Tanpa menunggu jawaban keduanya, ia buru-buru naik ke atas. Kedua laki-laki itu saling berpandangan.


"Kenapa anak itu?" Kio berguman.


"Biarkan saja." Sahut Pak Chandra tak peduli.


Maisa pelan-pelan menutup pintu kamarnya, membelakanginya. Menyandarkan punggungnya, beringsut duduk. Ia menghirup udara dalam-dalam. Memejamkan matanya. Setitik air jatuh di sudut matanya. Ia menggigir bibirnya, menahan semua gejolak perasaannya.


Gadis itu mengusap air mata yang membentuk anakan sungai dipipinya. Ia melangkahkan kakinya ke balkon, duduk menyandar punggungnya di kursi rotan. Membiarkan semilir angin malam menerbangkan kesedihannya.


Suara ponsel berdering dari balik sakunya. Nama Ken muncul di sana. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur suara agar tidak terdengar parau.

__ADS_1


"Halo, Kak."


"Sa, coba lihat ke bawah."


Maisa mendengar balasan dari seberang. Ia melongok ke bawah. Ken melambaikan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menempelkan ponsel ke telinganya. Mulutnya melengkung membentuk senyuman.


"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat. Ayo keluar bersamaku. Aku rindu padamu."


Suara bariton bernada rendah membuatnya merasa tenang. Sepertinya Ken tahu kalau ia bersedih. Ia kembali keluar kamar, turun ke lantai bawah.


Pak Chandra menyambut Ken dengan ekspresi wajah mengeras. Matanya berkilat, rahangnya terkatup. Wajah Kio terlihat masam. Ken merasakan ketidak sukaan mereka berdua.


"Untuk apa kamu kesini malam begini?" Kata Pak Chandra. Suaranya dingin menusuk.


Ken melihat jam tangannya. Baru pukul tujuh. Ia tersenyum pada keduanya. "Aku ingin mengajak Maisa dinner di luar."


"Apa?" Kio menyahut dengan nada tinggi, melotot ke arahnya.


Ken tertawa sarkastik. Entah kenapa sikap kedua orang ini begitu memuakkan. Ia menahan diri untuk menjaga perasaan Maisa.


"Ayolah. Memangnya tidak boleh mengajak pacarku sendiri keluar? Kau juga boleh kalau mau ikut."


Kio tak bisa berkomentar apa-apa. Tentu saja ia tak mau menjadi obat nyamuk orang berkencan. Memikirkannya saja membuatnya geli sendiri.


"Antarkan kembali dia sebelum jam sepuluh." Pak Chandra masuk ke dalam. Ia berpapasan dengan Maisa, hanya membisu.


"Pa, aku keluar sebentar ya." Maisa berkata dengan nada pelan.


Pak Chandra tak membalas. Ia berlalu begitu saja. Kio berdecih meninggalkan keduanya. Ken meraih tangan gadis itu, menuntunnya ke mobil yang di parkir di depan pagar.


"Sudah tenang saja. Yuk masuk!"


Ken membukakan pintu depan, menggerakkan kepalanya ke arah kursi, menyuruhnya masuk. Maisa masuk ke dalam mobil. Ia menutup pintu, bergegas masuk ke kursi kemudi.


Tangan Maisa berniat meraih sabuk pengaman, namun kalah cepat dengan Ken. Laki-laki di sampingnya ini meraih sabuk pengaman dan memasangnya di pengait. Ia menahan napasnya.


Ken merangkum pipinya, menempelkan dahinya pada dahi gadis itu. Hidung keduanya bertemu. Ibu jarinya membelai pipinya dengan lembut.


"Sa. Jangan terluka sendiri. Ada aku di sini, di sisimu. Aku memang tak tahu apa masalah di keluargamu. Aku harap kamu bisa berbagi luka denganku." Ken mengatakannya dengan penuh kasih. Nada suaranya tulus terasa hangat di telinga.


Maisa mengangguk pelan, menjawab iya dengan nyaris tak terdengar. Ia sangat ingin mendengar kata-kata itu dari keluarganya, namun justru keluar dari bibir Ken. Alirnya berkerut. Gadis itu tersenyum pahit.


Ken mengajaknya nonton film bioskop. Lagi-lagi film horor yang diputar. Maisa menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa takutnya. Tangannya mencengkeram ujung kursi. Ken meraih tangannya, menyusupkan jarinya sela jari gadis itu, menggenggamnya erat.


Maisa melirik Ken. Laki-laki itu menoleh ke arahnya bertopang dagu, melengkungkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Maisa mengalihkan tatapannya pada film di depan.


Seorang hantu memiliki wajah penuh luka berbalut kain putih lusuh kekuningan. Kepala miring sembilan puluh derajat. Rambut kusut awut-awutan. Bola mata menghitam. Jari-jari tangan yang runcing merangkak menyusuri dinding mendekati seorang perempuan yang mengintip koridor hotel tak berpenghuni. Perempuan itu menoleh merasa ada yang mengawasi, namun tak ada siapapun di sana. Saat menoleh ke koridor, wajah hantu itu muncul tepat di depannya.


Maisa menjerit ketakutan, mengencangkan genggamannya. Keluar dari bioskop, ia mengerutkan bibirnya. Ken terkekeh pelan melihat kekaskhnya cemberut. Sepertinya ia sudah lupa kejadian sebelumnya.


Ken menggandeng tangannya, mengajaknya makan di Resto masakan sunda. Ia memesan seporsi soto bandung, sedang Maisa memilih karedok.

__ADS_1


"Kak Ken. Jangan nonton film horor lagi. Bisa-bisa aku tidak bisa tidur nanti."


"Mau kunyanyikan sebuah lagu nanti."


"Tidak mau. Aku bukan anak kecil."


"Iya! Iya!" Ken tertawa, mencubit hidung gadis itu.


Tidak ada percakapan lagi selama makan malam. Seusai makan malam, Ken mengantarkan Maisa pulang. Ia menghentikan mobilnya di depan pagar.


“Terima kasih ya, Kak Ken. Sudah mau ngajak nonton bioskop dan makan malam.”


“Lain kali aku cari film selain horor. Padahal aku suka horor loh. Benar kamu tidak suka horor.”


“Tidak juga, sih. Aku suka film apapun. Tapi kalo adegan tertentu saja aku terkejut.”


“Bagaimana kalo yang ini!”


Ken menarik pinggang Maisa dan mengecup bibirnya lembut. Gadis itu terdiam membatu, matanya melebar. Sesaat tersadar dari bengongnya. Matanya mengerjap beberapa kali. Otaknya membeku, mencoba mencerna yang barusan terjadi.


Ken hanya tersenyum melihatnya. "Sampai jumpa besok."


Ken melajukan mobilnya. Maisa menutup mulutnya. Menyadari apa yang barusan terjadi. Gadis itu berlari ke kamarnya dan menutup pintu. Menyandarkan tubuhnya membelakangi pintu. Ia menggelengkan kepala.


Ini tidak mungkin. Ini Cuma mimpi.


Maisa menampar pipinya pelan. Jarinya menyentuh bibirnya. Masih teringat di benaknya, saat bibir Ken menyentuh bibirnya.


Jam hampir menunjukkan tengah malam. Maisa berbaring gelisah tak bisa tidur. Tangannya memeluk guling. Pikirannya terbang melayang. Ia berguling kesana kemari.


Di kampus ia berjalan seraya mendengarkan musik. Tak ada yang mengganggunya. Ia mendapat julukan baru, perempuan gila, gara-gara melibas orang-orang yang ingin menindasnya.


Ken berdiri menghadang jalannya. Maisa melepaskan earphone di telinganya. Ia mendongakkan kepala memandang wajah Ken yang tersenyum hangat. Senyumannya membuat siapapun mabuk kepayang. Ia merasa itu tak baik buat kesehatan jantungnya.


“Apa tidurmu nyenyak semalam?”


“Tentu saja. Memangnya kenapa?”


Maisa menjawabnya sedikit berbohong. Ia membalas senyumannya. Matanya melirik ke sekelilingnya.


Ken mengerutkan alisnya. Pupil matanya membesar. “Tidak ada. Aku hanya berharap kamu ingat kejadian tadi malam.”


Maisa membekap mulut Ken sebelum ia mengoceh panjang lebar. Membawanya ke atap gedung. Beberapa mahasiswa berbisik-bisik ke arah mereka. Maisa melotot tajam, memberi peringatan untuk tak mengganggunya.


“Jangan lakukan itu lagi, Kak.” Maisa berkata dengan nada pelan.


“Kenapa? Bukankah orang pacaran wajar melakukan itu?"


“Tapi aku tak nyaman kalau kakak berbicara blak-blakan di depan banyak orang."


"Hmm.... Jadi kalau hanya berdua, boleh?" Ken tersenyum menggoda gadis di hadapannya.

__ADS_1


"Bukan begitu juga, Kak." Maisa mengacak-acak rambut pendeknya. Pipinya berubah merah muda, antara tersipu dan malu.


Ken menepuk kepalanya lembut. "Iya! Iya! Aku cuma bercanda."


__ADS_2