
"Berhenti pura-pura tidur. Menyebalkan kau tahu," Kio menggerutu dengan tangan bersilang di dadanya. Dahinya berkerut kesal.
Mia menurunkan selimut yang menutupi seluruh wajahnya, bangun dari tidurnya. Jari tangannya menyisir rambut yang sedikit berantakan. Pandangannya tak lepas dari Kio yang masih berdiri di pinggir pintu.
Mia mengalihkan pandangan pada Maisa yang masih terlelap di sampingnya. Ia tertawa kecil. Kio menoleh ke arahnya, menaikkan sebelah alisnya. Ekpresi wajahnya terlihat datar.
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya tak menyangka Kak Kio perhatian pada Maisa. Sepertinya kamu sangat menyayanginya, ya?"
Kio berdecak pelan. Ia tak ingin mendengar bualan gadis itu. "Itu bukan urusanmu!"
Mia kembali tertawa kecil. "Sikap Kak Kio yang cuek, jutek menjadi pesona tersendiri. Karena itu aku menyukaimu."
Mata Kio melebar. Ia menoleh ke arah gadis itu yang masih nyerocos panjang lebar. Seketika wajahnya berubah dingin.
"Apa yang kau bilang barusan?"
Mia menutup mulutnya, menyadari ucapan yang keluar barusan. Kio terlihat marah padanya. Mia merutuki kebodohannya.
Argh! Dasar mulut ember!
Mia teringat beberapa waktu yang lalu. Ia berjalan membawa buku dipelukannya. Bersenandung riang menuju perpustakaan. Kebetulan hanya ada satu dua orang di sana. Mia bergegas mengembalikan buku yang dipinjamnya ke rak. Saat hendak meletakkan buku terakhir, ia tak sengaja melihat sosok Kio dari balik rak bersama seorang gadis.
Saat hendak meletakkan buku terakhir, ia tak sengaja melihat sosok Kio dari balik rak bersama seorang gadis.
Pelan-pelan Mia meletakkan buku itu. Ia memicingkan matanya, mengintip dari celah buku. Mencuri dengar isi pembicaraan mereka.
"Kio aku menyukaimu sejak pandangan pertama. Maukah kau menjadi pacarku?" ujar seorang gadis cantik berambut pendek dengan pipi merona. Ia menatap Kio lekat-lekat penuh harap.
Kio yang memperhatikan kaca jendela perpustakaan menoleh kearahnya. Menarik tangannya dari saku celana, mengusap rambut belakang.
"Tapi aku membenci orang sepertimu."
Uwah! Kak Kio benar-benar dingin seperti yang diharapkan.
Mia berguman sendiri dalam hati. Matanya bertemu pandang dengan Kio. Sepertinya sudah ketahuan. Ia membalikkan badannya, segera pergi dari tempat itu.
Beberapa hari selanjutnya, Mia memergoki Kio bersama dengan seorang gadis lagi di sudut gedung. Ia menajamkan telinganya menguping pembicaraan mereka.
"Aku sangat menyukaimu, Kak. Kamu orang yang baik dan keren."
"Omong kosong. Apa peduliku?"
__ADS_1
Beberapa bulan berikutnya, saat Mia berniat melihat permainan basket ditemani Maisa. Ia melihat Kio tengah berbicara dengan seorang gadis berambut panjang sepunggung. Mia menarik Maisa untuk bersembunyi di balik dinding.
Bahu gadis di depannya bergetar. Ia terlihat menangis. Tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Aku tak mengerti kenapa kamu menolakku dengan kejam kemarin. Aku benar-benar menyukaimu," ujar gadis itu disela isak tangisnya.
Kio mendengus kesal. "Hah! Sudah kubilang aku tidak menyukaimu. Apa aku juga harus menyukaimu saat kau bilang menyukaiku. Sudahlah! Kau membuang waktuku."
Kio berlalu dari hadapan gadis itu. Mia melirik ke arah Maisa. Wajah gadis itu terlihat mengeras menahan amarah.
"Tak kusangka dia menjadi laki-laki brengsek seperti itu," guman Maisa kesal, menggeretakkan giginya.
Mia menyentuh lengannya. Wajah Maisa kembali seperti semula.
"Kamu tidak marah mendengarnya?" ujar Maisa lagi menunjuk ke arah Kio berdiri sebelumnya.
Mia menggelengkan kepala, tertawa terpaksa. "Aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Biar cukup jadi gebetan di hatiku saja. Lagi pula sepertinya Kak Kio punya orang yang disukainya."
"Oh... Siapa?"
Kamu!
Argh! Dasar bego! Kak Kio pasti mendengar ucapanku barusan.
Mia mencoba menenangkan diri dari serangan panik yang melanda. Mempertahankan semyumnya di hadapan Kio.
Kio melangkah mendekati dan berjongkok di hadapannya. Mia menahan napasnya. Jarak diantara keduanya sangat dekat. Kio menatap tajam ke arahnya.
"Jadi apa yang membuatmu menyukaiku?"
Mia tersentak kaget. Ia merasa ragu untuk menjawabnya. Takut hubungan yang dibangunnya hancur begitu saja seperti istana pasir yang menghilang diterjang ombak.
"Aku menyukaimu saat pertama kali aku melihatmu."
"Apa kau menyukai wajahku?"
Mia tak menjawab. Pertanyaan itu ada benarnya. Ia juga menyukai wajah tampannya. Kio mengernyitkan alisnya.
"Kau sama saja dengan yang lainnya. Semua mendekatiku dengan alasan suka saat pendangan pertama. Hanya untuk melihat wajah tampan, kekayaanku, juga untuk kepuasan kalian semata."
"Aku tidak begitu. Aku tulus menyukaimu, Kak!"
"Memangnya aku harus peduli. Kurasa itu bukan urusanku.
__ADS_1
Kio pergi ke luar kamar Maisa. Mia menundukkan wajahnya. Dadanya berdenyut nyeri. Semua ucapan Kio menohok hatinya. Rasanya sakit. Tanpa disadari air mata mengalir dipipi. Ia menagis dalam diam.
Maisa membuka matanya melihat Mia duduk memeluk lututnya. Matanya terlihat sembab. Ia Ia sempat mencuri dengar percakapan terakhir keduanya. Lebih baik bersikap pura-pura tak tahu untuk menjaga perasaan Mia. Di sisi lain, rasanya ingin memukul kepala Kio saat itu juga.
...****...
Mia lebih pendiam beberapa hari terakhir. Ia hanya berbicara sekedarnya saat latihan basket di kampus. Perasaannya masih terluka dengan perkataan Kio. Namun jantungnya masih berdetak saat matanya berpapasan dengan laki-laki itu. Ironis. Meski Kio jelas-jelas sudah menolaknya, ia masih memiliki perasaan padanya.
Tak ada yang menyadari perubahannya kecuali Maisa. Matanya tak luput mengawasi gerak-gerik Kio baik di rumah maupun di kampus. Pak Chandra hanya mengerutkan kening melihat sikapnya.
Kio mengelap keringatnya dengan handuk. Ia merasa terganggu oleh seseorang. Sejak beberapa hari yang lau, ia merasakan tatapan membunuh dari adiknya. Ia menghampiri Maisa yang duduk di sebelah Mia dengan wajah kesal.
"Ada apa denganmu, sih! Mau mengajak berantem, ya!" bentaknya kesal.
"Kalau iya kenapa? Dasar Kakak jelek!"
"Hah! Apa? Hei, siapa dulu yang bilang aku mirip Chris Hemsworth?"
"Kau halu ya, Kak? Kapan aku bilang begitu? Mimpi kali."
"Sialan kau!"
Keduanya saling melotot tak mau kalah. Semua yang ada di sana heran dengan kakak beradik yang bertengkar seperti bocah. Pertengakaran konyol itu masih berlanjut hingga beberapa hari. Ken yang berniat menengahi mendapat semprotan keduanya.
"Kau diam saja, Ken!"
"Kak Ken diam saja!"
Ken membatu. Mia menarik tangan Maisa, menjauhkannya dari Kio. Ia duduk di bangku dekat pohon mangga yang rimbun. Cahaya matahari masuk ke celah-celah dedaunan.
"Kamu kenapa sih, Sa? Dari kemarin bertengkar dengan Kio?" Mia membuka suara setelah beberapa saat keduanya membisu.
"Biasa saja, kok. Kita kadang begitu." balas Maisa menepuk bahu gadis itu pelan.
Mia memandangi kedua tangannya. Pikirannya melayang ke beberapa hari yang lalu.
"Sa, aku sudah menembak Kio. Tapi dia menolakku," ujar Mia dengan nada pelan. Suaranya hampir tidak terdengar, tertelan oleh berbagai macam suara di sekitar kampus.
"Haruskah aku memberinya pelajaran?" Maisa menekan jari tangannya, menimbulkan bunyi kretek. Matanya berubah menjadi tajam, siap bertarung.
Mia terkejut mendengarnya. Ia menggerakkan kedua tangannya. "Tidak perlu, Sa. Kio bilang dia tidak menyukaiku. Berarti dia tidak membenciku, dong. Masih ada kesempatan. Aku akan mencobanya lagi."
Maisa tersenyum mendengarnya. "Wah! Ternyata temanku ini optimis, ya. Tapi kalau Kak Kio membuatmu menangis, aku akan meninju wajahnya."
__ADS_1
Mia tertawa mendengarnya. Ia masih belum menyerah mendekati Kio. Perasaannya sedikit lega mendengar perkataan dari Maisa.
"Benarkah? Aku ingin melihatnya."