
Maisa berjalan tergesa-gesa. Sekilas matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Kakinya berlari kecil melewati mahasiswa yang duduk bergerombol sepanjang koridor.
Laki-laki itu berbelok ke arah gedung B, bagian administrasi. Maisa menggapai bahu laki-laki itu. Ia menoleh, sedikit terkejut bertemu dengan gadis itu.
Raut wajah Maisa terlihat senang, Iangsung memeluknya. Tak disangka sahabat masa kecilnya ada di hadapannya sekarang. "Ternyata Evan. Kok tidak kasih kabar mau ke sini."
Evan membalas pelukannya. Ia tersenyum tipis. Tergurat sedikit kesedihan terpancar. "Maaf, ya. Aku ingin memberimu kejutan. Tapi sepertinya gagal.
Ekor mata laki-laki itu melihat Ken dan Kio berjalan ke arahnya. Keduanya terlihat masam. Timbul ide jahil mengerjai teman kecilnya ini.
"Sa, bagaimana kalau pacarmu melihatmu. Dia pasti salah paham."
Ken mengerutkan keningnya. Matanya menatap tajam ke arah Evan. Ia tak suka gadisnya dipeluk laki-laki lain. Maisa masih tak tahu kalau ada Ken dan Kio berdiri di belakangnya.
"Ken tidak akan marah karena dia tahu kau temanku."
"Hm... Percara diri sekali kau, Sa. Atau jangan-jangan kau menganggapnya hanya teman juga?"
Maisa melepaskan pelukannya. "Kok bahas itu, sih. Sudah jelas lah aku menyukainya, tidak lebih ke cin.... cinta."
Suaranya berubah gagap. Wajahnya terasa tebakar saat mengatakan kata cinta. Argh! Ia berteriak dalam hati. Rasanya memalukan memgatakan itu pada orang lain.
Evan tertawa kecil melihat gadis itu salah tingkah. Ken yang di belakang menutupi separuh wajahnya yang memerah dengan punggung tangannya. Mendadak jantungnya berdetak cepat.
"Bagaimana dengan Kio?" Evan masih melanjutkan kejahilannya.
Maisa mengacak-acak rambut belakangnya. "Entahlah! Aku tidak dekat dengannya. Kadang sikapnya menyebalkan. Aku bingung dia itu kakak siapa, sih."
Tawa menyembur dari mulut Evan. Wajah Kio bertambah masam. Beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka. Mulut gadis itu sedikit menganga saat melihat Evan tertawa lepas. Ia membalikkan badan, berhadapan dengan dua laki-laki. Satu menatapnya kesal. Satunya lagi terlihat ingin menyeretnya pergi.
Sial! Maisa mengumpat dalam hati. Ia melotot ke arah Evan.
"Beraninya kau menjelekkan di belakangku!" sembur Kio.
Maisa mundur beberapa langkah ke belakang, bersembunyi di balik punggung Evan.
"Tapi itu fakta," ujar gadis itu pelan.
"Hei! Kesini kau!" seru Kio menghampirinya.
Maisa melarikan diri. Kio pun mengejarnya. Ken menghampiri Evan yang menggelengkan kepala dengan tingkah kekanak-kanakan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu? Apa yang membuatmu ke kampus ini?" sapa Ken padanya.
"Yah, aku akan kuliah di sini."
Ken menjajari langkahnya memasuki gedung B. Raut kesedihan terlihat jelas di wajah Evan.
"Apa Maisa tahu alasanmu pindah ke sini?"
Evan tertawa kecil. "Aku belum memberitahunya. Tapi kurasa dia bisa menebak alasanku kemari."
"Apakah itu karena temannya bersama Lucy?"
Evan menghentikan langkahnya. Ia mengangguk pelan. "Ternyata dia sudah menceritakannya padamu. Sepertinya dia sudah mempercayaimu. Perasaan Maisa tak main-main padamu. Sebagai temannya kurasa aku bisa tenang sekarang."
Ia berjalan meninggalkan Ken yang mematung. Tak lupa ia mengucapkan sampai bertemu lagi padanya. Senyum mengembang di wajah Ken. Ia mempercepat langkahnya mencari Maisa.
Maisa berlari sepanjang koridor. Nyaris beberapa kali ia menabrak orang. Kio masih mengejarnya dari belakang. Ia harus mencari Mia untuk menghentikan kakaknya.
Tepat tak jauh di depan, Mia bersama dua temannya berjalan menuju arahnya. Ia terlihat bercanda dengan mereka.
"Mia, tolong aku!" serunya dengan napas ngos-ngosan. Ia langsung bersembunyi di belakang gadis itu.
Kio berjalan ke arah kiri, Mia jua ke arah kanan. Kio berjalan ke kanan, Mia berjalan ke kiri. Keduanya saling berhadapan.
"Bisa menyingkir sebentar. Aku harus memberinya pelajaran," ujar Kio pada gadis itu.
Mia memiringkan kepalanya. "Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Itu....!" Kio tak melanjutkan kata-katanya. Matanya melotot ke arah Maisa. Gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek.
"Kau!" Tunjuknya pada Maisa.
Mia menghalangi pandangannya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman lebar. Ia memberinya sebuah sapu tangan. "Bagaimana kalau kita makan berdua?"
Kio tak bisa menolak gadis itu. Mia memberikan isyarat oke dengan jarinya. Maisa tersenyum melambaikan tangannya.
"Apa hubunganmu dengan Kio?" Dua perempuan tadi mencecarnya dengan pertanyaan.
Maisa memundurkan badannya ke belakang, membentur sesuatu yang keras. Sepasang tangan memeluk lehernya dari belakng. Gadis itu mendongak. Ternyata Ken. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya.
Kedua perempuan itu menganga melihat adegan ala drama korea di hadapan mereka. Ken memutar badan Maisa dan mengajaknya menjauh.
__ADS_1
"Oh... kupikir Kak Ken dengan Evan."
"Apa boleh buat. Tadi ada yang bilang mencintaiku."
Maisa langsung membuang muka, menyembunyikan rona merah. Ken mengenggam erat tangan gadis itu dan mencium jemarinya.
Maisa sudah tak tahu lagi seperti apa rona wajahnya. Beberapa orang yang lewat bersiul dengan kemesraan mereka. Ken menarik gadis itu ke sudut gedung sunyi.
Ia menarik leher gadis itu dan mengecup bibirnya dengan lembut. Maisa mengalungkan tangannya, membalas kecupannya.
Dahi keduanya terantuk. Ken mengenggam lembut kedua pipi gadis itu. Ibu jarinya mengusap lembut bibirnya.
"I love you, Sa," bisiknya pelan penuh kasih.
Tangan gadis itu terulur menyentuh pipinya. Ken menyentuh tangannya lembut. Mengecup permukaan telapak tangannya. Maisa tersenyum.
"I love you more."
...****...
Malam harinya Maisa mendatangi rumah sakit S. Ia mendapat info dari Ken, tempat Lucy dirawat. Kakinya melangkah pelan menyusuri koridor rumah sakit, ke ruangan ICU. Tangannya memegang secarik kertas nomor kamar itu.
Papan kamar nomor 230. Sesuai dengan dalam catatan yang dibawanya. Perlahan ia membuka ruangan itu. Maisa menarik napas panjang. Sudah lama ia tidak melihat Lucy.
Seorang gadis cantik berambut panjang masih terlelap dalam tidur panjangnya. Di tangannya ada selang infus. Katup selang oksigen menutupi hidungnya. Di dada dan jari tengahnya menempel alat monitor detak jantung. Terdengar suara beb dari alat penunjang kehidupan itu.
Air matanya perlahan jatuh di pipinya. Tubuh Lucy terlihat kurus. Ia menyeka air matanya. Tangannya gemetar hati-hati menyentuh Lucy. Seolah gadis itu akan hancur jika saja menyentuhnya lebih keras.
"Hei putri tidur. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kau tahu, Jain dan Kiki pergi lebih dulu darimu. Ayo bangun. Kau sudah tertidur lama. Aku tak ingin kau juga pergi." Maisa bermonolog sendiri.
Terdengar suara menggeresek dari arah pintu. Evan datang membawa seikat mawar merah. Matanya terkejut mendapati gadis itu di sana. Maisa tersenyum ke arahnya.
"Kudengar dari Kak Ken, kau pindah kemari," ujar Maisa berdiri di pagar pembatas atap rumah sakit. Ia melongok ke bawah. Memperhatikan kelap kelip lampu kendaraan yang masuk membawa pasien. Beberapa orang berlalu lalang di bawah dengan kesibukan masing-masing.
Evan tersenyum pahit. "Aku langsung ke sini begitu mendengar Lucy di bawa pulang dari Singapura. Mereka masih belum memaafkanku, tapi aku takkan menyerah begitu saja soal Lucy."
"Hmm.... Aku selalu mendukungmu, Van. Apapun yang terjadi," balas Maisa dengan senyumnya yang tulus.
Evan tertawa pelan. "Kau ini memang terlalu baik seperti biasanya."
Keduanya berdiri bersampingan. Terdiam dengan pikiran masing-masing. Desau angin malam dan kerlap kerlip lampu dari gedung le cakar langit menemani malam mereka.
__ADS_1