
Matanya terpaku menatap laki-laki rambut potongan curtain fringe berwarna ash brown tertawa bersama temannya. Ia hanya bisa memandangnya dari kejauhan tanpa dan keberanian untuk mendekat. Tak jauh darinya ada seorang gadis berambut pendek ash brown juga melakukan hal yang sama sepertinya. Yang berbeda, cara memandangnya terlihat bosan.
Ia tersenyum menghampiri gadis itu, berdiri di sampingnya, melanjutkan kegiatannya yang tertunda. "Keren kan mereka."
Gadis di sampingnya sedikit terkejut. Ia mengulurkan tangan padanya, mengajak berkenalan. "Namaku Mia Anggraiani. Kamu tahu, aku suka sekali pada Kio."
Gadis itu menerima uluran tangannya. Bibirnya tersenyum tertahan. "Aku Maisa. Ternyata kamu fans Kio."
Mia menelisik gadis di depannya itu. Hei, apanya yang lucu. Gadis di depannya ini terlihat menahan tawanya. Bukan menertawakan dirinya tapi orang lain. Wajahnya mengingatkan pada laki-laki itu, hampir mirip. Ia memiliki firasat jika berteman dengannya bisa membawa lebih dekat dengan Kio.
Mai menjajari langkah kaki Maisa seusai kuliah. Tangannya memeluk beberapa buku. "Habis ini ada rencana kemana?"
"Mau ke klub seni sebentar," Balas Maisa.
Langkahnya berhenti di persimpangan koridor. Maisa juga turut berhenti. "Wah, padahal tadi mau ngajakin kamu jalan."
Maisa tertawa kecil, "Ups... Sorry. Lain kali ya. Soalnya aku sudah aja janji sama Kak Maya. Ah.... Semoga kamu bisa dekat dengan Kak Kio."
Mia melambaikan tangannya pada gadis itu. Senyumannya memudar. "Hmm... Sekarang aku gabung dulu dengan yang lain."
Ia berbelok ke arah kafetaria. Tanpa sengaja Ia menubruk seseorang. Jantungnya nyaris saja berhenti melihat siapa di depannya, menahan napasnya.
Kio terlihat kesal, cola yang barusan diminum tumpah ke bajunya saat menubruk seseorang. Gadis di depannya membatu. Kio menggerakkan telapak tangannya ke wajahnya.
Mia mengerjap, matanya tertuju pada tumpahan cola di baju Kio. Tangannya kerogoh tasnya, mengambil beberapa lembar tissu.
"Maaf, Kak. Tadi tidak sengaja."
Kio mengangkat kedua tangannya membiarkan gadis itu membersihkannya. Ia memperhatikan gadis itu sesaat. Wajahnya cantik tipenya sekali. Ada tahi lalat di bawah mata kirinya. Rambut kemerahan sepungggung sedikit bergelombang diikat tak rapi.
Jantung Mia berdegup kencang. Jaraknya dengan Kio begitu dekat. Hampir bisa merasakan hembusan napas Kio dari puncak kepalanya. Tangannya mengelap belas cola.
"Oke. Sudah cukup."
Kio menjauhkan badannya dari Mia. Ia merasa tak nyaman ada seseorang mengusap-usap dadanya. Gadis di depannya mengerutkan wajahnya terlihat khawatir.
"Tapi nodanya..."
"Tidak apa-apa."
"Boleh aku mentraktir makan sebagai permintaan maaf."
__ADS_1
Kio menarik sebelah alisnya ke atas. "Tidak perlu."
Kio yang berlalu dari hadapannya. Tangannya meremas kaleng cola, melemparkan ke tong sampah, dan masuk. Mia menepuk pipinya, menyadarkan kembali ke alam nyata.
"Huh! Aku benar-benar menyukainya," Gumannya. Jemarinya menekan dadanya. Merasakan detak jantung miliknya.
...****...
Mia bergegas menuju ke kafe. Ia merutuki kebodohannya, terlalu asik bersenda gurau lupa akan janjinya dengan Maisa. Sudah telat hampir seperempat jam. Semoga saja gadis itu masih ada di sana.
Mia mengatus napasnya yang tersengal-sengal sehabis lari. Bibirnya tersenyum simpul melihat Maisa masih asik membaca buku. Iseng-iseng memeluk leher gadis itu dari belakang.
Tak terduga Maisa menjerit membuat seisi Kafe menoleh ke arah mereka. Reflesk Mia menjauhkan tangannya. Menempatkan punggungnya pada kursi di hadapan Maisa.
"Tak perlu teriak sebegitunya, Sa. Seperti lihat maling saja."
"Aku tidak suka dipeluk mendadak."
Mia beroh ria. Ia menceritakan tak terduga pertemuannya dengan Kio kemarin. Matanya menyipit melihat temannya bermuka masam saat menyebut nama Kio. Perasaan gelisah menyusup ke dalam hatinya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Maisa hingga gadis itu mundur ke belakang. Tatapan matanya menyelidik.
"Jangan-jangan kamu naksir Kio, Sa?"
Maisa menyemburkan minumannya. Mia memasang wajah rikuh, mengambil tisu, mengelap mukanya yang terkena cipratan air.
Melihat perubahan sikap Maisa, Mia bisa menaksir kalau itu ada hubungannya dengan Kio. Gadis itu selalu memasang wajah tak nyaman saat ia berbicara tentang Kio. Tapi Maisa tak pernah mencela, justru menyemangatinya. Apa yang disembunyikan Maisa?
Mia melihat tiga orang laki-laki masuk ke Kafe. Matanya berbinar ada yang ditaksirnya. Ia menepuk-nepuk tangan Maisa.
"Eh ada Kio. Gabung, yuk!"
Ia menoleh ke arah Maisa. Gadis itu sudah tidak ada lagi di depannya, mengendap-endap seperti pencuri keluar dari Kafe.
"Mau kemana, Sa?" Serunya seraya melambaikan tangannya.
Maisa melarikan diri keluar Kafe diikuti Ken. Mia memiringkan kepalanya. Ada apa dengan gadis itu. Matanya bertemu pandang dengan Kio. Sekejap Kio memalingkan wajahnya. Mia tersenyum, mendekati kedua laki-laki itu.
"Boleh gabung, Kak."
Kio mengangguk mengiyakan, seolah tak peduli. Bibirnye menggeuru tak jelas. Terlihat wajahnya kesal pada seseorang.
"Kak Kio ingat aku, kan?" Mia memberanikan diri memulai pembicaraan.
__ADS_1
Kio menatapnya tajam. Mengamati dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Oh... Yang waktu itu." Nadanya terlihat dingin.
Dadanya terasa nyeri, Kio tak begitu menyukainya. Mungkin wajar saja, karena Mia tak pernah mencoba mendekatinya selama ini. Hanya menatapnya dari kejauhan.
"Ho.... Jadi kalian saling kenal, nih?" Erik mencairkan suasana yang tak enak.
"Bukan urusanmu," sergah Kio dengan nada pedas.
"Tch!" Erik berdecak. Ia terlihat kesal dengan sahabatnya yang menghilang seenaknya gara-gara seorang gadis. Dan sekarang Kio seperti bocah lagi tantrum.
"Awas ya, Ken. Bakal ku piting kepalamu nanti." Serunya.
Mia tertawa sedikit terpaksa. Tangannya sibuk mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. "Memangnya kenapa dengan Kak Ken?"
"Huh! Kamu tidak tahu kalau Ken naksir sama temanmu."
Mia mengerjapkan matanya, alisnya berkerut. Senyum mengembang di wajahnya. Tanpa sadar ia menggenggam tangan Erik.
"Yang benar, Kak?"
Kio melotot ke arahnya. Erik yang sadar melepaskan genggaman tangan gadis itu.
"Wow... Wow... Tunggu dulu. Cintaku hanya buat Alice seorang."
Mia tergelak mendengarnya. Laki-laki ini lucu juga. Jarang-jarang ada yang terus terang menyukai seseorang.
"Tenang saja, Kak. Aku juga sudah punya orang yang kusuka."
"Oho... Benarkah? Tapi ngomong-ngomong Maisa itu mirip dengan Kio kalau dilihat sekilas, ya. Bahkan warna rambut kalian sama. Apa cuma perasaanku saja."
Ternyata tidak hanya Mia yang merasa seperti itu. Keduanya memandangi Kio lekat-lekat. Bulir keringat menetes di pelipis Kio. Jantungnya berdebar kencang. Sepertinya bakal ketahuan.
"Benar dia adalah ....."
"Mantan pacarmu, kan?" Erik memotong pembicaraan seenaknya sendiri.
"Hah! Apa?" Ia dan Mia berteriak berbarengan.
Kio tertegun, otaknya serasa berhenti sejenak. Bingung dengan isi otak sahabatnya yang seenak jidatnya menyimpulkan sesuatu. Ia melirik ke arah Mia. Gadis itu terlihat terluka.
__ADS_1
Mia menyedot minumannya hingga tandas. Perkataan Erik seperti merobek hatinya. Kalau diingat-ingat, Maisa juga selalu mengelak jika ditanya soal Kio. Dan Kio tak berkomentar apapun, memilih diam. Sepertinya ia bakal patah hati.