
Ken termenung mendengar masa lalu Maisa. Seberapa besar rasa bersalah yang ditanggung gadis itu. Ia membawa beban itu selama lima belas tahun. Meski itu tidak semua murni kesalahannya. Belum lagi menanggung kebencian ayah dan kakaknya. Tak ada yang bisa menjadi tempatnya bersandar di dalam keluarganya.
Ken membelai rambut Maisa yang tertidur di pundaknya. Kelopak matanya sembab mendengar perkataan kejam dari ayahnya. Ken mengusap sisa cairan bening di sudut matanya.
"Jangan menangis, Sa."
Ken mencium puncak kepala gadis itu dengan lembut penuh perasaan. Selama menceritakan masa lalunya, Maisa menahan rasa sakitnya untuk tidak menangis di depannya.
"Apa kau akan membenciku, Kak?" Suaranya parau. Maisa memandangnya dengan kening berkerut. Tangannya bergerak gelisah.
Ken menarik gadis itu dalam pelukannya. Menepuk punggung gadis itu pelan. "Aku tidak membencimu, Sa. Kamu gadis yang kuat. Terima kasih sudah bertahan selama ini."
Air matanya mengalir di pipinya begitu mendengar ucapan Ken. Hatinya sedikit menghangat. Padahal itu hanya kalimat biasa, tapi entah kenapa bisa membuat bebannya sedikit ringan. Ia menumpahkan semua kesedihannya dalam rengkuhan laki-laki itu.
Terdengar bunyi menggeresek dari pintu. Pak Miki memergoki Ken mencium dahi Maisa. Ia berdehem pelan. Ken meletakkan jari telunjuk ke bibir menyuruhnya diam.
Pak Miki terkekeh pelan melihat adik satu-satunya salah tingkah. "Kau tidak mengabariku kalau adik ipar akan menginap di sini. Aku kan bisa mengabari Helen untuk ke sini."
"Tak perlu merepotkan kakak ipar. Aku bisa mengurusnya sendiri."
Ken mengangkat Maisa dengan hati-hati. Ia membawa gadis itu ke kamar tamu. Gadis itu sedikit menggeliat di kasur. Dahinya berkerut. Mimpi apa yang dihadapi gadis itu. Ken menutupinya dengan selimut.
Pak Miki masih duduk bersilang dada di ruang tamu. Ia memperhatikan Ken keluar dari kamar tamu.
"Kudengar kau ikut campur dalam kerja sama dengan perusahaan Beurata," ujarnya menahan tawa.
"Memang apa salahnya. Aery Corp tidak perlu bekerja sama dengan perusahaan yang bahkan tidak bisa bersikap adil dengan keluarganya."
"Tapi imbasnya bisa menyakiti Maisa. Seperti sekarang ini. Dan ini urusan keluarga mereka. Kau tidak berhak ikut campur."
"Aku tahu. Tapi aku ingin melihat seberapa tulus pak Chandra pada Maisa. Tapi yang kudengar hanya ucapan kejam keluar dari mulutnya."
Pak Miki mengangkat kedua tangannya, tak ingin berdebat lagi. "Oke! Tapi kau harus pikirkan juga. Saat menikahinya nanti, kau perlu mendapat restu dari ayahnya."
__ADS_1
Ken membeku. Ia lupa memikirkannya. Sepertinya jalannya bakal masih panjang untuk mendapat restu dari pak Chandra.
...****...
Pak Chandra berulang kali menghela napasnya. Buku yang di tangannya dibiarkan terbuka tanpa dibaca. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian di rumah makan.
Terbayang di matanya Maisa menangis dan tertawa. Tatapannya hampa. Gadis itu nyaris bunuh diri di hadapannya jika saja Ken tidak menghalanginya.
Ia meletakkan buku ke atas meja, mengusap wajahnya beberapa kali. Kedua tangannya memegang kepalanya.
Apa aku harus mati baru bisa menerima maafmu, Pa?
Kata itu selalu terngiang di telinganya. Kali ini harus diakui dirinya memang sudah melangkah terlalu jauh. Ia sudah menghancurkan anak itu.
"Aron. Tolong berikan semua data tentang Maisa. Termasuk kesehariannya," ujarnya pada ajudan pribadinya melalui telepon.
"Apa Papa sudah melakukan sesuatu pada Maisa? Dia tidak mengangkat teleponku." Kio berdiri di depan pintu ruang tengah.
Pak Chandra terdiam. Kio duduk di hadapan ayahnya. Memperhatikan setiap perubahan sikap ayahnya. Tak biasanya ia segelisah itu.
"Tidak! Bukan begitu," balas pak Chandra dengan jawaban yang ambigu.
Kio naik ke kamarnya membiarkan ayahnya sendiri. Sejak sore Kio berusaha menghubungi Maisa tapi tidak ada jawaban. Saat menghubungi Ken, ia mendapat jawaban ketus darinya dan langsung mematikan telepon.
Tanyakan saja langsung pada ayahmu.
Kio akhirnya menghubungi Aron meminta penjelasan darinya. Laki-laki itu menjelaskan semua kejadian di sana. Ia memijit kepalanya frustasi. Kenapa bisa ayahnya mengatakan hal sekejam itu pada Maisa. Ia tak bisa membayangkan jika gadis itu benar-benar bunuh diri.
Pantas saja Ken sangat marah. Ia menghela napas panjang. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Dirinya hanya ingin keluarganya kembali seperti dulu. Dengan temperamen ayahnya sekarang, akan sulit membuat keduanya berbaikan.
Keesokan harinya Aron memberikan semua berkas tentang Maisa. Pak Chandra membaca satu persatu. Tangannya bergetar saat membaca selembar kertas berisi riwayat kesehatannya. Tertulis depresi psikotik akibat riwayat trauma psikologis yang berat di masa kecil.
Pak Chandra meletakkan kertas itu di atas meja. Menyenderkan punggungnya ke kursi kerjanya. Tangan kanannya menutupi kedua matanya. Ia mendesah pelan.
__ADS_1
Selama ini gadis itu terlihat baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda mengidap penyakit apapun. Apa yang sudah dilakukannya selama ini?
Di lain tempat. Maisa membuka matanya. Merasa tak asing dengan kamar ini. Ia langsung bangkit dari tidurnya. Ingatannya kembali pada hari sebelumnya.
Argh! Maisa menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Merasa malu mengingat kejadian kemarin. Ia menangis di pelukan Ken. Rasanya ingin menceburkan dirinya ke dalam kolam.
Dirinya harus memasang ekspresi seperti apa nanti pada Ken. Maisa berjingkat pelan keluar dari kamar. Suasana rumah begitu sunyi seperti tidak ada orang.
Aroma harum masakan tercium dari dapur. Maisa memberanikan diri mengintip. Ken tengah membuat telur gulung. Gadis itu terpana dengan pemandangan di depannya. Tak menyangka Ken pandai memasak.
"Duduk saja, Sa. Dari pada berdiri di situ terus," ujar Ken tertawa kecil menyadari gadis itu mencuri pandang ke arahnya.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya gadis itu sembari tersenyum canggung.
"Ini hampis selesai, kok. Duduk saja dulu," balas Ken. Ia meletakkan telur gulung di piring dan memotongnya kecil-kecil.
Maisa memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Matanya membulat. "Enak!"
Ken memiringkan kepalanya tersenyum. "Benarkah. Kalau begitu, aku bakal sering-sering masak buatmu."
Maisa menggerakkan kedua tanyannya. "Tidak perlu, Kak. Nanti malah merepotkan."
"Tidak merepotkan, Sa. Apa sih yang tidak buat kamu."
Mulut Maisa menganga. Apa Ken salah makan. Tiba-tiba mengatakan sesuatu yang agak sedikit berlebihan.
Tiba-tiba tangan Ken menjulur ke wajahnya. Maisa menelan ludahnya. Laki-laki itu mengambil sebutir nasi di sudut bibirnya.
Wajah Maisa merona merah. Ken tersenyum melihatnya. Dalam hati ia bersyukur, gadis itu tidak bersedih lagi.
"Sa, bagaimana nanti kita membolos. Ayo jalan-jalan. Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Tak apa kan?"
"Kemana?"
__ADS_1
"It's secret. Nanti kamu bakal tahu."
Maisa mengangguk setuju. Ia sadar Ken berusaha menghiburnya. Hatinya senang, Ken tidak menjauh darinya. Jika suatu saat nanti harus berpisah, sepertinya dirinya bakal tidak akan baik-baik saja. Keberadaan Ken sudah merasuk jauh ke dalam lubuk hatinya.