Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.28 Masih Ada Kesempatan


__ADS_3

Aku tidak boleh cemburu.


Mia menahan peradaannya saat melihat Maisa merangkul lengan Kio erat-erat. Keduanya berpandangan sesaat, lalu tersenyum. Ia sendiri yang mengajaknya berfoto bersama Kio setelah catwalk peragaan busana daerah, tapi dengan sendirinya perasaannya tersakiti. Mia memotret sambil menangis dalam hati. Melihat hasil jepretannya, Kio dan Maisa benar-benar mirip seperti berjodoh.


Sepertinya benar kata Kak Erik. Mereka pernah berpacaran. Dan terlihat masih saling sayang. Sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan.


Mia sepertinya semakin salah paham. Ia menyerahkan ponsel kepada Maisa. Gadis itu berjingkrak senang, sedang Kio melotot ke arahnya.


"Aku dan Maisa lebih dekat dari yang kamu pikirkan, Ken."


Mia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat mencari Maisa, hendak mengajaknya jalan-jalan ke stand makanan di festival budaya. Ia menutup mulutnya, bersembunyi di sudut gedung.


Kio datang merangkul pinggang Maisa, tersenyum ke arah gadis itu. Tangannya merapikan poni pendek yang berantakan lalu membelai pipinya.


Mia tak sanggup mendengar percakapan selanjutnya. Ia memilih menjauh, duduk di bangku dekat pohon mangga. Tak jauh berdiri stand pameran. Kepalanya mendongak ke belakang, memejamkan matanya. Mencoba menjernihkan pikirannya yang melayang entah kemana.


Jangan salah paham pada Maisa. Dia tidak bermaksud buruk. Hubungan mereka tidak seperti khayalanmu.


Ada sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Ia membuka matanya, melihat wajah Kio begitu dekat dengan miliknya. Sekaleng cola dingin menempel di pipinya. Ia menahan napasnya dan bergegas bangun. Kepalanya membentur dahi laki-laki itu. Keduanya meringis kesakitan memegang kepala. Kejadian barusan tak baik buat jantungnya.


"Maaf, Kak."


Mia menyentuh dahi Kio yang memerah, khawatir akan terluka. Wajah sangat penting bagi seorang model. Semua ekspresi yang ditunjukkan gadis itu membuat Kio merasa terganggu.


"Nih!"


Kio menyodorkan sekaleng cola tepat di depan mukanya. Mia mengambilnya, pipinya merona merah. Senang tapi juga heran, tak tahu jalan pikiran laki-laki itu.


"Ini buatku? Terima kasih, Kak."


Kio berlalu sambil melambaikan tangannya. Mia menempelkan kaleng cola ke pipinya. Menikmati sensasi dingin merambati kulitnya.


Kio memperhatikan gadis itu kembali tersenyum dari kejauhan. Tangannya mengacak-acak rambutnya. Tak mengerti apa yang merasuki hatinya. Saat melihat gadis itu terlihat sedih, ia tergerak ingin menghiburnya.


"Ah... Sudahlah! Apa sih yang kulakukan?"


...****...


Tangan Mia bergetar saat menonton video yang didapatnya dari temannya satu jurusan. Ini sudah keberapa kali ia menonton video itu. Perasaannya bercampur antara takut dan ngeri. Saat ditelepon jawaban Maisa membuatnya kesal. Padahal ia sungguh-sungguh mengkhawatirkannya.


"Mia, kan? Aku bisa minta tolong?" Ken berlari kecil mendekatinya yang tengah mendribel bola basket.


"Minta tolong apa, Kak?" Mia memeluk bola basket ke pinggang rampingnya.


Ken terlihat ragu, "Aku boleh minta nomor telepon Maisa. Aku bingung harus menghubungi kemana karena tidak punya nomornya.


Tawa Mia meledak. Bagaimana bisa ada laki-laki yang mau mendekati cewek yang disukai malah lupa minta nomor teleponnya. Wajah Ken terlihat memerah. Baru kali ini ia melihat sisi Ken berbeda dari biasanya. Selalu dingin, jarang tersenyum.

__ADS_1


"Oke, Kak. Ini nomornya." Mia tak tega menggoda Ken lagi. Ia memberikan nomor telepon sahabatnya kepadanya.


"Terima kasih, ya. Nanti aku traktir, deh." Ujar Ken sambil berlalu.


"Tidak perlu, Kak. Comblangin saja aku sama Kak Kio." Seru Mia blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.


Langkah Ken terhenti. "Kamu menyukai Kio?"


Mia mengangguk malu-malu. Ken lagi mendekati Maisa, bukankah ini kesempatan balik buatnya.


"Baiklah. Aku akan bantu sebisaku." Ken tersenyum, meninggalkannya sendiri.


Mia terduduk di lapangan. Bola yang dipegangnya menggelinding ke sudut lapangan. Kakinya seperti tidak ada tenaga. Ia benar-benar mengatakannya langsung pada Ken, teman dekat Kio. Sepertinya ia sudah gila.


"Apa yang kamu lakukan di sini." Suara yang tak asing menghampiri telinganya.


Mia mendongak ke sumber suara. Tampak Kio berdiri di depannya memakai seragam basket. Di belakangnya ada Erik dan beberapa anggota tim basket lainnya. Ia terlihat sangat tampan di matanya dengan pakaian itu. Lengannya terlihat kokoh, tubuhnya terlihat lebih gagah. Mia menelan ludah, mengenyahkan pikiran kotornya.


Gadis itu masih terdiam menatapnya. Kio berjongkok, menyentil dahinya untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Entah apa yang ada dalam kepala kecilnya ini.


Akh! Tolong beri jeda untuk bernapas. Bisa-bisa aku kena serangan jantung.


"Anu... Tadi lagi main basket sebentar." Mia mengusap dahinya yang nyut-nyutan, bergegas berdiri. Ibu jarinya menunjuk bola basket di sudut lapangan.


" Tadi aku lihat Ken ke arah sini. Dimana dia?" Erik memungut bola basket itu, memutarnya di ujung jari.


Erik mengangkat keduanya. "Ah... Video itu ya. Yah, itu hal tergila yang pernah kulihat. Mana ada cewek normal bertingkah seperti itu."


"Rik!" Seru Kio, kepalanya bergerak arah Mia yang memasang wajah marah.


Erik mengatupkan mulutnya, menjauh dari gadis itu sebelum ia menumpahkan amarahnya.


"Berhenti memasang wajah seperti itu." Kio membuang mukanya.


Apa? Memangnya aku memasang raut muka seperti apa?


"Maaf, Kak. Tapi aku kepikiran Maisa. Pasti dia menangis sekarang."


Sepertinya ia terlalu lama berdiri di tengah lapangan. Mia segera menyingkir, memberi ruang yang lain untuk bermain basket. Mia memperhatikan perubahan air muka Kio dari kejauhan. Entah kenapa ia terlihat seperti merasa bersalah.


Apa hunganmu dengan Maisa, Kak?


...****...


Mia membuka sheet mask dari bungkusnya, memasangkan ke wajahnya. Seorang anak laki-laki berumur dua belas tahun menerobos masuk kamarnya.


"Kak, ayok jalan ke Ancol."

__ADS_1


Mia bangun dari tidurnya, maskernya jatuh ke pangkuannya. Matanya melotot ke arah bocah yang mengganggu waktu liburnya. Ia melempar bantal ke arah adiknya.


"Woi bocah! Ganggu saja."


Tapi mau tak mau Mia berangkat juga. Bocah itu merengek, mengikutinya kemanapun ia pergi. Saat di seaworld ia sekelebat melihat sosok yang dikenalnya. Tangannya menyeret bocah itu untuk mengikutinya. Ia menutup mulutnya, terkejut mengenali sosok itu.


Pagi harinya, Mia berlari kecil menghampiri Maisa yang duduk membaca buku di koridor.


"Sa!" Serunya.


“Maisa,” seru seseorang memanggil namanya.


Maisa yang sedang membaca buku di koridor menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Mia.


“Tumben nongol di sini.” kata Maisa lembut.


Mia menoleh ke kiri ke kanan. Dia menarik tangan Maisa, mencari tempat sepi, memasuki tangga. Gadis cantik itu langsung duduk di anak tangga. Maisa menatap temannya yang duduk di sampingnya dengan wajah heran.


Wajah Mia terlihat sangat senang. Tersenyum-senyum sendiri. Maisa menyadari pasti ada hubungannya dengan Kio. Sepertinya hubungan keduanya berjalan lancar.


"Maisa, kamu pacaran sama Ken ya?"


"Eh!" Sebuah pertanyaan yang jauh dari prediksinya.


"Kemarin aku tidak sengaja libat kalian di Ancol pas ngantar adikku main. Jadi...."


Mia meminta penjelasan. Maisa merasa canggung. Matanya bergerak kesana kemari. Dia berharap tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.


"Kita cuma jalan bareng, kok." ujarnya pelan.


"Oh... Kalau gitu Maisa suka juga sama Ken dong. Sepertinya dia suka banget sama kamu. Kemarin aku sempat mengikuti kalian lho." Wajahnya tersenyum puas layaknya detektif berhasil memecahkan masalah.


Maisa menatap langit-langit. Pandangannya menerawang sesaat. Hubungannya dengan Ken sebatas teman. Setiap kali melihatnya, jantungnya berdetak tak karuan, sikapnya kadang jadi kikuk. Kadang tak berani menatap matanya. Apa itu termasuk perasaan suka. Hatinya senang mendengar kalau Ken menyukainya. Tapi apa dirinya cukup baik untuknya.


Maisa menoleh ke arah Mia dan tersenyum. "Mungkin. Saat ini aku masih berteman dengan Kak Ken, kok."


Mia bernapas lega. “Syukurlah. Kalo gitu masih ada kesempatan."


"Kesempatan apa?"


"Ada deh!"


"Jangan bercanda. Ada apa nih?"


Mia tak menjawab pertanyaannya. Maisa menggeliti pinggang gadis itu. Mia tertawa menghindar.


"Pokoknya ada. Rahasia," Ujarnya disela-sela tawa.

__ADS_1


__ADS_2