
Aku akan berhenti menyukaimu, Kak.
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Kio. Pandangannya tak lepas gadis yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Mia tertawa lebar bersenda gurau dengan adiknya, Maisa.
Erik menggerakkan tangannya di depan wajahnya. Kio mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia beringsut mundur, menjauh dari Erik yang melihatnya begitu dekat.
Ken menjatuhkan handuk di kepalanya, berjalan mendekati kekasihnya. Bibirnya menggumankan sesuatu. "Kalau suka kenapa tidak ditembak saja."
Erik menyeringai ke arahnya. Sejak kemarin dua sohibnya ini seperti tengah mengejeknya. Oke, ia mengakui dirinya begitu pengecut. Ia tak ingin gadis itu menjauh setelah menyakiti gadis itu.
Kio menyeka keringat di lehernya dengan handuk yang diberikan Ken tadi. Matanya melotot. Beberapa mahasiswa menyapa Mia. Gadis itu menyambutnya dengan senyuman ramah.
"Kak Kio dari tadi melihatmu, tuh," ujar Maisa mengintip dari balik tubuh Mia. Laki-laki itu membuang muka saat bertemu pandang dengannya.
"Sstt... Hentikan. Aku jadi takut menoleh kau tahu." Mia mengguncang-guncang lengan gadis itu. Maisa hanya tertawa mendengarnya.
Seorang laki-laki berkacamata, berkaos hitam, bercelana jeans bebel, dan ransel di pundaknya berdiri di hadapan keduanya. Ia tersenyum memperlihatkan lesung pipit di pipi kirinya, menambah pesonanya tersendiri.
"Halo, Kak Mia. Kita bertemu lagi?" ujar laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Mia berkedip beberapa kali. Ia menoleh ke arah Maisa, lalu ke arah laki-laki itu. Ia tertawa tertahan, berjabat tangan.
"Ah... Dimas kan ya? Kuliah di sini juga? Jurusan apa?"
"Oh... Aku masuk jurusa teknik industri. Kapan-kapan kita nakan bareng ya? Biar aku yang traktir."
Mia mengangguk setuju. Sebuah tawaran yang tidak buruk. "Oke!"
"Siapa?" Maisa memicingkan matanya, menelisik laki-laki bernama Dinas yang berjalan menjauh.
"Mantanku," balas Mia singkat.
"Apa?" Maisa tersentak kaget hingga membuatnya hampir berteriak.
Mia mendekap mulut. Matanya bertemu pandang dengan Kio. Jantungnya berdetak kencang saat bersirobok dengan matanya.
"Sa, yuk jalan." Ken mendekati Maisa dan menarik gadis itu sebelum memberikan jawaban.
Gadis itu menoleh ke arahnya. Bibirnya berderak mengucapkan maaf tanpa bersuara. Mia hanya melambaikan tangan.
Setelah membereskan perlengkapan milik tim basket, Mia mengambil ransel kecilnya. Ia berjalan ke jalan besar, mencari angkutan pulang. Biasanya ia naik motor sendiri, tapi naas. Motor hitam kesayangannya harus masuk rumah sakit.
Jarinya asik membuka gambar dan video di Instagram. Tersenyum sendiri melihat video lucu. Saking asiknya tak sadar kakinya berjalan hampir ke tengah jalan. Sebuah motor melaju memasuki kampus hampir menyerempetnya.
__ADS_1
Seseorang menariknya ke pinggir jalan. Mia mengangkat wajahnya. Ternyata laki-laki itu Kio. Sesaat ia terlihat khawatir, lalu ekspresinya mengeras. Tanpa sadar mengeratkan cengkeramannya. Mia mengaduh, meringis kesakitan.
"Apa kau mau mati, hah? Kalau jalan lihat-lihat dong!" seru Kio dengan suara bernada tinggi.
Mia menggosok-gosok lengannya yang nyeri. Kio mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Tolong jangan melakukan sesuatu yang berbahaya. Jika ada apa-apa, tidak ada yang dapat menggantikanmu."
Mia mematung memdengar ucapan laki-laki dihadapannya ini. Bingung mau berekspresi seperti apa. Dalam hati ia berjingkrak kegirangan. Tapi jika mengingat perlakuan laki-laki itu selama itu masih belum cukup.
"Terima kasih, Kak. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Mia melengos pergi, meninggalkan Kio yang mematung di sana. Sebersit rasa tak tega, tapi ia harus melakukannya agar laki-laki itu tak semena-mena padanya.
...****...
"Kak Kio suka dengan Mia, ya?"
Kio menyemburkan minumannya. Ucapan tak disangka-sangka keluar dari mulut adiknya. Ia memberikan tatapan tajam pada gadis itu untuk tidak mencampuri urusannya.
"Bukan urusanmu," sahutnya dingin.
Maisa terkikik geli. Kakanya terlihat konyol akhir-akhir ini menjadi hiburan tersendiri untuknya. Ia senang menggodanya hingga membuat kakaknya meradang.
Maisa melirik ke arah Kio yang terperanjat. Sedetik kemudian laki-laki itu memasang topeng kalemnya. Namun sorot matanya tak dapat dipungkiri ada kegelisahan di sana.
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu!"
Kio meninggalkan Maisa di ruang tengah sendiri. Masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras membuat gadis itu tersentak kaget.
"Aku cuma bilang yang sebenarnya, loh. Tanggung sendiri kalau Mia pindah haluan." Gadis itu menggerutu, bibirnya mengerucut.
Kio mondar mandir di kamarnya. Sebentar duduk di tempat tidur, lalu pergi ke balkon. Tak lama kembali duduk di kursi. Sesekali mengacak-acak rambutnya sendiri. Perasaannya tak menentu.
Sebuah benda jatuh dari arah kamar. Mia berlari menyusuri tangga ke lantai bawah. Tangannya menjinjing totebag berisi buku. Di bahunya tersemat ransel mungil. Ia menghampiri ibunya yang masih mengenakan celemek.
"Ma, aku berangkat ya."
Setelah mencium tangan, Mia bergegas keluar. Ia mengeluarkan motor matic hitam kesayangannya. Kio sudah menghadangnya di parkiran kampus.
"Mi, ada yang mau kubicarakan. Nanti siang bisakah kita bertemu di Kafe Enca. Aku akan menjemputmu setelah kelas selesai."
Mia membatu. Matanya mengerjap beberapa kali. Kio menemuinya lebih dulu. Apa ia tengah bermimpi? Kedua tangannya menepuk pipinya pelan.
__ADS_1
"Mi? Apa ada yang salah?"
"Oh, oke. Aku tidak apa-apa, kok."
Keduanya membisu berjalan beriringan. Mia langsung ke kelas setelah mengucapkan perpisahan pada Kio.
"Mi! Mi! Halo!"
Maisa menggoyangkan tangannya. Gadis itu bengong memperhatikan kerumunan di bangku depan. Maisa memukul bahunya pelan.
"Oh, Sa! Baru datang?" ujar Mia tersadar dari lamunan.
Maisa berdecak, menggelengkan kepala, mengangkat kedua tangannya. Menarik napas dan membuang lewat bibirnya.
"Memang ya kalau sudah jatuh cinta, dunia rasanya berbeda." Ia terkekeh pelan.
Mia menaikkan sebelah alisnya, pipinya merona kemerahan. "Bukannya kamu juga begitu?"
Maisa melirik ke arah jendela. "Aku sepertinya tidak begitu, tuh!"
"Bohong! Tuh, kamu tersipu-sipu sekarang."
"Kamu juga."
Keduanya tertawa kecil, arah pembicaraan terasa lucu. Berdebat cuma masalah sepele.
Mia bertopang dagu menghadap ke arah jendela kafe. Kio menjemputnya seusai jam mata kuliah. Maisa tersenyum, membisikkan kata-kata semangat di telinganya. Jangan ditanya bagaimana kondisinya sekarang. Canggung. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dapat dirasakan pipinya mulai memerah.
Kio menghampiri membawa nampan berisi segelas matcha latte, ice americano dan dua porsi crispy chicken toast. Mia menyedot matcha latte di hadapannya. Menunggu apa yang akan disampaikan oleh laki-laki itu.
"Mi. Sebelumnya aku mau minta maaf sudah mengatakan hal kejam padamu. Saat itu aku masih belum menyadari perasaanku. Melihatmu tertawa bersama laki-laki lain, aku merasa kesal."
Kio berhenti sejenak dan melanjutkan ucapannya. Ia mengeluarkan setangkai mawar merah. "Mi, aku menyukaimu. Jadilah pacarku. Aku tidak akan mengatakan padamu untuk jangan berhenti mencintaiku. Tapi aku akan membuatmu jatuh hati lagi padaku."
Mia menerima mawar itu dengan senyuman berkembang. Matanya berkaca-kaca. Kio mengusap setitik air mata yang jatuh di pipi gadis itu. Jarak keduanya tersisa beberapa senti.
"Sepertinya aku sudah membuatmu menangis. Maafkan aku," gumannya pelan.
Mia mengerutkan alisnya, mengeratkan kepalan tangannya. "Maaf, Kak!"
Oh! Mendengar kata maaf dari bibir gadis itu membuat dadanya terasa nyeri. Mungkin ini karma untuknya sudah menyakiti gadis itu.
Sebuah ciuman melayang di pipi Kio. Mata laki-laki itu terbelalak lebar. Kio dapat merasakan jantungnya menggila. Mia tersenyum cerah.Rona merah terlihat jelas di pipinya.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Sayangnya hatiku masih untukmu."