Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.57 Negosiasi


__ADS_3

Pak Chandra duduk di ruang kerjanya, mengecek setumpuk dokumen di atas meja. Kacamata tersemat di batang hidungnya. Seseorang mengetuk pintu.


"Masuk!" serunya tanpa mengalihkan perhatiannya.


Seorang perempuan cantik mengenakan rok hitam selutut dan kemeja putih berlengan pendek masuk membawa setumpuk dokumen. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja.


"Ini ada beberapa dokumen yang perlu diperiksa, Pak. Oh iya, ada informasi dari Aery Corp. Mereka menunda investasi untuk projek di Sunter."


Pak Chandra menghentikan aktivitas menulisnya. Sekretarisnya tak mungkin berbohong. Mendadak kepalanya berdenyut.


Aery Corp sudah bekerja sama dengan Beurata, perusahaan miliknya. Ia ingat perkataan Kio. Tidak mungkin seorang CEO Aery Corp begitu sentimental hanya masalah gadis itu.


"Panggilkan Aron sekarang. Minta dia membawakan berkas projek itu. Tolong bhat janji dengan Aery Corp. Aku akan menemui pak Brian."


"Baik, Pak." Sekretaris perempuan itu ke luar.


Tak lama kemudian, seorang laki-laki berumur tiga puluh tahunan masuk ke ruangan. Sebuah map cokelat di tangannya. "Anda memanggil saya, Pak?"


Pak Chandra menerima berkas itu dan membacanya. "Kita akan ke kantor Aery Corp."


"Baik, Pak."


Laki-laki bernama Aron membungkukkan badannya. Ia berjalan menjajari bosnya.


Mobil yang dikendarai pak Chandra berhenti di sebuah gedung pencakar langit. Aron membukakan pintu untuknya. Pak Chandra menuju resepsionis. Seorang perempuan cantik menyambutnya.


"Aku ingin bertemu dengan pak Brian."


Resepsionis menelepon seseorang. "Pak Brian ada di ruangannya lantai 12, Pak."


Sekretaris perempuan menyambutnya dan membukakan pintu. Pak Brian duduk di kursi kerjanya membolak-balik berkas. Ia lantas berdiri begitu melihat pak Chandra, mempersilahkan duduk di sofa.


"Aku tak menyangka pak Chandra langsung datang kemari."


"Ini terkait projek pembangunan pusat pertokoan di Sunter. Tidak ada masalah dalam pembangunannya. Aku ingin bertanya alasan pak Brian menunda investasinya. Padahal kita sudah lama bekerja sama."


"Hmm... Maaf, Pak. Sepertinya memang kali ini harus ditunda dulu. Karena ini permintaan anak bungsuku, mana mungkin aku menolaknya," kata pak Brian.


Sehari sebelumnya Ken menemui ayahnya di kantor. Pak Brian kaget dengan kedatangannya. Yang lebih mengagetkan lagi permintaan anak itu. Sama seperti Miki, kakaknya, Ken juga tidak tertarik menjadi bagian dari perusahaan. Satu-satunya alasan membuat anak itu berubah pikiran hanya gadis itu.


"Maisa pergi dari rumah. Bisakah aku meminta seseorang untuk melacak keberadaannya?"


"Kenapa gadis itu pergi dari rumah?"

__ADS_1


"Mungkin gara-gara aku memeluknya di depan ayahnya."


Pak Brian terkekeh mendengarnya. Ia teringat betapa posesif Ken pada gadis itu. Selama acara beberapa waktu lalu, Ken terus menempel padanya hingga acara selesai.


Tapi tak mungkin gadis itu pergi dari rumah hanya karena masalah seperti itu. Pasti ada sesuatu yang lebih besar, seperti hubungan keluarga yang tidak baik. Mengingat perlakuan pak Chandra begitu berbeda antara putranya dan gadis itu.


"Baiklah. Tapi dengan satu syarat. Kamu harus bergabung di perusahaan. Aku tak punya seseorang yang diandalkan selain dirimu. Miki tak mau bekerja di sini, malah memilih menjadi dosen."


"Oke."


Pak Chandra terkejut mendengar alasan itu. Ironis, ia tak mengira Maisa begitu memiliki pengaruh pada keluarga ini. Memangnya apa istimewanya anak itu di mata mereka.


Pak Brian masih tetap tidak berubah pikiran, membuatnya pulang dengan tangan kosong. Sepanjang perjalanan ia berpikir dimana kesalahan ini bermula. Semuanya berkumpul pada satu titik. Keberadaan Maisa.


...****...


"Apa? Kau pergi dari rumah?"


Mia berteriak kencang. Maisa menjauhkan ponselnya dari telinga. Gadis itu ingin meminta bantuannya menata rumah. Rumah ini masih kosong, hanya ada kitchen set saja. Ia tak mungkin meminta tolong Ken saja.


"Santai saja dong, Mi. Aku cuma kepingin hidup mandiri."


"Oke! Kapan? Kak Kio ikut juga tidak?"


Maisa cek out dari hotel, mengangkut kopernya ke rumah baru dibantu Ken. Mia sudah sampai lebih dulu di sana. Gadis itu nyengir melihat keduanya turun dari mobil. Ken begitu perhatian membantu kekasihnya.


Awalnya Mia kaget mendengar Maisa pergi dari rumah. Gadis itu tak menceritakan alasannya. Mia pun tak ingin menanyakan lebih lanjut untuk menjaga perasaaan sahabatnya.


Beberapa orang keluar masuk rumah mengantarkan perlengkapan meubellair dan peralatan rumah tangga. Maisa menata beberapa buku di rak kamarnya. Mia sibuk menata peralatan dapur. Ken mengawasi pekerjaan mendekor.


Hampir tengah hari baru selesai menata interior rumah dan furnitur di dalamnya. Ketiganya duduk bersandar di sofa kelelahan. Maisa mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan makanan online.


"Aku mau pesan makanan di catchfood. Kalian mau makan apa?"


"Oh aku mau chicken wing saus barbekyu, minumnya smootie alpukat," balas Mia.


"Kalau Kak Ken?"


"Salted egg chicken dan ice americano."


Maisa memesan makanan yang disebutkan. Gadis itu senyum-senyum sendiri mengetik pesanan. Ken yang duduk disampingnya menyandarkan dagu di bahu gadis itu. Melongok ingin tahu apa yang membuatnya senang.


"Woi, Kak. Tolong, ya. Aku masih ada di sini loh," seru Mia saat laki-laki itu ingin memeluk mesra Maisa.

__ADS_1


Ken berdecih, menggeser posisi duduknya sedikit menjauh. Maisa tertawa geli.


Untuk pertama kalinya Maisa berada sendirian di rumah itu. Hanya ada suara jangkrik di pekarangan. Sesekali terdengar bunyi kendaraan lewat. Sunyi yang dirasakan. Biasanya ia selalu ribut dengan Kio.


Ken tak henti-hentinya mengirimkan pesan. Kio juga mengirimkan pesan memintanya kembali ke rumah. Maisa tersenyum miris. Tak ada kabar apapun dari ayahnya. Meski hanya salam sudah membuatnya senang.


"Jangan bergadang, ya. Sampai ketemu besok. I'm head over heels for you.


Ken tersenyum mengirimkan pesan untuk Maisa. Tak lama masuk sebuah balasan dari gadis itu.


I love you more.


Ken menutupi wajahnya yang memerah. Tak henti-hentinya ia tersenyum. Bagaimana bisa gadis itu sangat manis.


Pak Chandra duduk di hadapannya hanya diam memperhatikannya. Ken membenarkan posisi duduknya. Memasang sikap tenangnya kembali.


Keduanya duduk di sebuah resto sederhana yang tak begitu ramai. Pak Chandra meneleponnya saat perjalanan pulang dengan dalih ada yang ingin dibicarakan.


"Jadi apa yang ingin Om bicarakan?"


"Aku dengar kau juga akan bergabung dengan perusahaan."


"Apa ini berkaitan dengan Maisa?"


Raut wajah pak Chandra berubah. Ia terlihat memikirkan sesuatu. "Apa dia baik-baik saja?"


Hah! Ken tak habis pikir dengan sikap pak Chandra. Berpura-pura khawatir. Memangnya apa yang diinginkan orang ini darinya.


"Kenapa Om malah bertanya padaku? Om bisa tanya langsung ke Maisa. Apa perlu aku teleponkan?"


"Tidak! Tidak usah."


"Kalau tidak ada yang dibicarakan, aku pulang, Om."


Pak Chandra menahan lengannya. Ken kembali ke kursinya.


"Aku hanya ingin minta tolong karena kami teman Kio agar invertasi di Sunter jangan ditunda. Perusahaan kami sedang kesulitan."


Ken tertawa dalam hati. Alasan klise. Karena teman katanya. Dasar hipokrit. Selama ini ia selalu menghormati pak Chandra dengan sikapnya yang tegas dan penuh wibawa. Tapi semua itu hilang tak berbekas tatkala melihat perlakuannya terhadap Maisa.


"Maaf, Om. Aku tidak bisa membantu. Om harus menyelesaikan masalah itu sendiri."


Kali ini Ken benar-benar meninggalkan pak Chandra sendirian. Tiba-tiba ia merasa rindu pada gadis itu. Sedang apa Maisa sekarang?

__ADS_1


__ADS_2