Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.22 Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Dahi Kio berkerut menahan kesal. Pak Chandra menatap tajam anak muda duduk santai di sofa. Mendapatkan sambutan tak ramah dari tuan rumah, Jain terkekeh pelan. Merasa tak habis pikir dengan dua orang manusia di depannya yang begitu sinis. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke rumah Maisa.


"Apa anak itu yang memberikan alamat rumah ini?" Ujar Kio seraya mendengus kesal, terang-terangan menunjukkan rasa tak sukanya pada Jain.


Anak itu? Ada kemarahan menjalar ke sanubarinya. Apa Maisa tak sebegitu berharganya di hadapan mereka. Jain menghembuskan napas panjang, meredakan amarahnya. Jika bukan karena ia kakak Maisa, Kio sudah sudah mendapatkan hantaman bogem mentah sejak tadi.


"Tidak juga. Aku punya sumber informasi sendiri."


Kio tersenyum mengejek. "Sayang sekali. Dia tak ada di rumah hari ini."


"Ah... Jangan khawatir. Aku tidak buru-buru, kok." Jain membalas ejekan nya, sudut sebelah bibirnya naik ke atas membentuk seringaian.


Kini giliran Kio yang tersulut emosi. Pak Chandra berdehem pelan. Kio tersentak pelan. Ketiganya terdiam beberapa saat. Suasana di sekeliling mereka terasa berat.


"Ada perlu apa mencari anak itu?" Suara berat laki-laki paruh baya itu memecah kesunyian.


"Hanya ingin mengajaknya jalan, Om."


Pak Chandra mendengus kesal. "Apa?"


Ya ampun. Nggak bapak, nggak anak, kelakuannya sama saja.


"Jalan-jalan, Om. Biasa anak muda, temu kangen lama nggak ketemu."


Pak Chandra melotot ke arahnya. Raut wajahnya terlihat tak senang. Jain diam-diam memperhatikan perubahan mimik wajah Pak Chandra. Ia tak menyangka, seorang ayah yang acuh dan tak pernah ada untuk Maisa bisa memasang wajah seperti itu. Lalu untuk apa sikapnya selama ini?


Hening. Suara sepasang langkah kaki mendekat. Jain menoleh berharap seseorang yang ditunggunya datang. Kecewa, melihat siapa yang datang. Ken berjalan santai menghampiri mereka. Ia memandang Jain heran. Kenapa laki-laki itu ada di rumah Kio.


Ken menyenderkan punggungnya ke sofa setelah sebelumnya menyapa Pak Chandra. Kini bertambah satu orang memandang Jain dengan tatapan mengintimidasi. Rasanya ia ingin tertawa lepas, merasa situasinya terlihat konyol. Terasa seperti sulitnya meminta restu menikah. Seketika Jain mengusir pikiran yang mulai menyimpang.


"Kok kamu ada di sini?" ujarnya pada Ken.


"Hah! Bukan urusanmu. Untuk apa juga kamu disini?"


"Hmm...." Jain manggut-manggut. Matanya menyipit, melirik ke arah Kio dan Pak Chandra yang diam saja. Ah... Sepertinya mereka tidak menceritakan hubungan Maisa padanya. Poor Ken. Padahal ia calon adik iparnya, kalau berjodoh.

__ADS_1


"Aku ingin mengajak kencan adik temanmu ini." Jain tertawa lebar.


Kio menyemburkan minumannya dan Pak Chandra yang tengah menyeruput kopinya terbatuk. Jain mengernyit jijik pada Kio.


Adik? Kio punya adik?


Ken mengerutkan keningnya, mulutnya sedikit terbuka, berniat menanyakan siapa yang dimaksud Jain.


"Ya ampun, serius kamu tidak tau adiknya. Padahalkan kalian berteman." Jain tertawa kecil dengan nada mengejek.


Ken memandang Kio penuh tanya. Siapa adik yang dikatakan Jain. Kio hanya membisu. Pak Chandra bahkan tidak mengatakan apapun.


"Loh, Kak Jain!"


Suara lembut seseorang yang amat dikenalnya. Jain melompat dari sofa, berlari kecil bergegas menghampiri Maisa. Kedua tangan gadis itu menenteng kantong belanjaan penuh dengan camilan dan minuman. Jain mengambil alih bawaannya. Maisa nampak terkejut melihat Jain dan Ken di sana bersamaan. Ken menoleh ke arah gadis itu, memandangnya penuh tanya.


"Hai dear. Hari ini jalan, yuk."


"Um...."


Maisa memandang Ken dan Jain bergantian. Wajahnya terlihat bingung. Jain mengumbar senyum rubahnya, sedang Ken seperti menuntut penjelasan.


"Kok Kak Jain ke sini tidak bilang-bilang."


"Surprise! Ini yang namanya kejutan." Jain terkekeh pelan merentangkan kedua tangannya.


"Sa, pacarmu masih belum tau kalau Kio kakakmu. Apa ini karena Kio?" Wajah Jain kembali serius.


Maisa menelan ludahnya. Dia mengangguk pelan. Jain tidak terlihat terkejut sama sekali. Ia berkacak pinggang, menggeleng-gelengkan kepala.


"Sa, kamu mau sampai kapan hidup dalam bayangan mereka. Aku tidak suka melihatmu terluka."


"Tapi ini semua karena salahku, Kak." Maisa membalasnya dengan tersenyum getir, raut wajah terlihat sendu.


"Ah! Sialan!" Jain mengacak-acak rambutnya menahan kekesalan.

__ADS_1


Dada Ken berdenyut nyeri melihat Maisa menggandeng tangan Jain menjauh. Bayangannya menghilang di balik pintu. Ia berbalik memandang Kio di hadapannya. Ingin menuntut semua penjelasan darinya.


"Maisa itu adikku."


Ken lega mendengarnya. Hatinya terasa ringan. Seharusnya ia cepat menyadari kalau hubungannya dengan Kio hanya sebatas kakak beradik. Dilihat dari manapun, jelas bukan hubungan sepasang kekasih.


"Kenapa tidak bilang kalau dia adikmu?"


"Untuk apa? Dia juga bukan gadis yang baik."


Sepertinya Kio dan Maisa tidak akur. Kio selalu memandangnya penuh kebencian. Sepertinya itu juga berlaku untuk Pak Chandra. Alasan Maisa selalu menghindar darinya, dan juga alasan gadis itu menolak saat ia ingin mengantarkan pulang semuanya karena Kio dan keluarganya. Tapi kenapa? Apa yang membuat dia mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Apa Maisa melakukan sesuatu yang sulit untuk dimaafkan? Semua orang bisa salah. Tidak ada yang sempurna, Bro. Lalu kamu mengabaikan dia? Memperlakukannya seperti orang asing?"


Kio tidak membalas ucapan Ken barusan. Memilih membisu. Yang dikatakannya memang benar. Kio selalu mengabaikan dan menganggap Maisa seperti orang asing.


Ken tak mengerti jalan pemikiran Kio. Ia ingin memeluk Maisa saat itu juga. Entah apa ini hanya simpati atau bagian dari rasa sukanya. Ia tak peduli. Ken keluar menyusul Maisa. Berjalan tergesa-gesa mengelilingi rumah. Ia melihat Maisa dan Jain berdiri bersebelahan di pinggir gazebo.


Ken menghampiri Maisa yang tertawa di samping Jain. Memeluk gadis itu dari belakang. Kedua tangannya mengurung gadis itu ke dalam pelukannya. Bibirnya mencium puncak kepala Maisa. Matanya menatap tajam pada Jain, menyuruhnya menjauh.


Jain mengangkat kedua tangannya. Mundur selangkah ke belakang. "Wo... Wo... Wo...Tenang, Bro. Aku tidak merebut pacarmu."


Maisa terperanjat mendapatkan back hug tidak terduga. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Jain terkekeh geli. Tangannya bermaksud membelai kepala Maisa, namun langsung ditepis oleh Ken.


Maisa melepaskan pelukan Ken, membalikkan badan menghadap Ken. Wajahnya agak mendongak mengingat selisih tinggi badan keduanya cukup kontras. Tinggi Maisa hanya sebahu Ken.


"Kak Ken tidak jadi jalan sama Kak Kio?" Pipi Maisa terlihat bersemu merah.


Ken menggelengkan kepalanya. Tangannya menggenggam tangan Maisa. "Aku mau jalan sama kamu saja."


"Tapi aku sudah janji sama Kak Jain jalan bareng sebelum balik ke Jogja."


Ken memasang wajah kecewa. Ia melepaskan genggaman tangannya. Maisa merasa tak enak pada Ken. Namun ia sudah berjanji jalan bareng dengan teman lamanya.


Jain memandang dengan senyum penuh kemenangan, membuat Ken menjadi gusar. Ia menarik tangan Maisa, menjauh dari gazebo. Bibir Maisa bergerak meminta maaf pada Jain. Jain mengikuti mereka.

__ADS_1


"Jangan coba-coba ikut." Sentak Ken dengan wajah dongkol.


Jain mengepalkan tangan kanannya, menutupi mulutnya yang menahan tawa. Menghadapi orang posesif memang tidak ada obatnya.


__ADS_2