Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.74 Persiapan


__ADS_3

Banyak mahasiswa yang berfokus pada ujian akhir semester. Maisa juga sibuk belajar. Disela-sela belajar, ia menyempatkan diri melukis di kamar. Kadang-kadang memasak untuk makan malam meski bi Tari melarangnya. Bukan Maisa namanya kalau semudah itu menyerah.


Maisa terlihat santai dalam menghadapi ujian. Berbeda dengan Mia selalu ribut. Ia hanya tersenyum melihat polah temannya.


“Akhirnya selesai juga ujiannya. Bisa gila aku sampe menahan napas,” komentar Kio


“Biasa saja, tuh!" tukas Ken santai.


Kio menggerutu. "Enak ya yang otaknya encer."


Ken mengangkat bahu. Ia meninggalkan temannya itu dan mencari Maisa. Ia berjanji menemani gadis itu menjenguk temannya di rumah sakit.


Maisa tengah berbicara dengan Evan. Ia tertawa menanggapi candaan laki-laki itu. Gigi Ken gemeletuk. Ia mempercepat langkahnya, menarik gadis itu mendekat.


Evan sedikit terkejut melihat kedatangan Ken. Ia dapat melihat api permusuhan dari sinar matanya. Laki-laki itu menahan tawanya. Benar kata Jain. Ken laki-laki posesif.


"Kalau begitu aku pergi dulu," ujarnya pada Maisa.


Gadis itu tersenyum. "Oke, Van. Take care!"


Maisa memutar badannya menghadap pacarnya. Wajah laki-laki itu seperti ditekuk. Ia tersenyum kecil menyadari Ken cemburu. Jemari tangannya menyusup di sela jari laki-laki itu dan menggenggamnya.


"Yuk, kita ke rumah sakit."


"Apa yang kau bicarakan dengan Evan?" Ken mengabaikan ajakan gadis itu.


Mulut gadis itu menganga, kemudian tertawa kecil. Ken melotot ke arahnya. "Bukan apa-apa, kok. Serius! Hanya obrolan antar teman."


Maisa ditemani Ken ke rumah sakit tempat Lucy dirawat. Kali ini gadis itu dipindahkan ke ruang rawat inap. Keduanya berhenti di kamar nomor 350. Maisa memantapkan hatinya. Ken mengusap lembut kepala gadis itu.


Maisa membuka pelan pintu kamar. Haira menghampiri gadis itu dan memeluknya. Maisa memperkenalkan Ken padanya. Haira tersenyum menjabat tangan laki-laki itu.


“Lucy masih belum mau berbicara. Ada kemungkinan dia kehilangan semua atau separuh ingatannya,” kata Haira pelan. Suaranya terdengar sedih, menyayat hati. Wajahnya terlihat ingin menangis.


Maisa memandangi wajah temannya yang masih tertidur. Ia tersenyum lembut pada Haira.


“Aku senang Lucy sudah sadar, Tante. Semoga saja dia bisa sembuh kembali seperti semula.”


Perempuan paruh baya itu mengangguk lemah. Ia mengusap kepala Lucy dengan lembut.


“Aku akan keluar sebentar. Bisakah kau menjaganya.”

__ADS_1


Maisa mengangguk. Ia duduk di samping Lucy bersama Ken. Kelopak mata gadis itu bergerak. Perlahan ia membuka matanya. Ada dua sosok asing duduk di sebelahnya. Seperti pertemuannya dengan laki-laki kemarin, ia tak asing dengan sosok gadis itu.


Maisa tersenyum menggenggam tangannya. “Lucy, kamu sudah bangun. Mungkin kamu tidak mengingatku. Aku Maisa, temanmu sewaktu SMA, dan ini Ken, pacarku. Ah… kau juga sudah punya pacar, malah lebih dulu dariku. Sepertinya kamu sudah melihatnya kemarin.”


Laki-laki itu pacarnya? Sekelebat bayangan wajah muncul dalam ingatannya. Dirinya tertawa bersama laki-laki itu. Ia memegang kepalanya yang mendadak terasa nyeri. Tangannya menarik rambutnya sendiri. Air matanya menggenang di pelupuk mata.


Maisa melepaskan genggaman tangan gadis itu. Kedua alisnya bertaut. Hatinya terasa sakit saat melihat temannya kesakitan. “Tenanglah, Lucy. Jangan memaksakan diri!.”


Maisa mendesah pelan saat berada di luar rumah sakit. “Apa ini semua salahku? Kalau saja waktu itu aku datang lebih cepat."


Ken langsung memotong ucapannya. "Sa, itu bukan salahmu. Hanya saja takdir tak berpihak padanya. Jadi tolong berhenti menyalahkan dirimu."


...****...


Maisa mulai mengemas barang-barangnya, bersiap-siap untuk berangkat ke Paris. Tinggal menunggu keluarnya hasil ujian. Berkas pindah kuliahnya juga sudah diurus.


Pak Chandra tak berkomentar apapun padanya. Ia tak lagi berharap banyak pada ayahnya akan memperhatikannya.


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Pengumuman hasil ujian semester ini. Banyak mahasiswa yang bersorak karena nilai mereka banyak kemajuan. Tapi ada juga yang kecewa karena nilai mereka menurun. Maisa melihat nilainya. Tak buruk juga.


“Akhirnya aku bisa lega. Nilai semester ini banyak peningkatan." Mia memeluknya senang.


“Lumayan ada peningkatan. Ternyata bagus juga meski sedikit bandel,” ujar Maisa sedikit berkelakar. Perkataannya ada benarnya. Ia sudah cukup banyak membuat ulah hingga diskorsing oleh kajur.


Mia menyeret Maisa menuju kantin. Ia memaksa gadis itu untuk mentraktirnya. Maisa tertawa kecil, menggelengkan kepala heram. Akhirnya menyetujui juga.


"Mia, sepertinya aku harus memberitahumu sekarang. Aku akan pindah setelah semester ini."


Mia yang menyendok makanannya terhenti. Ia menatap tajam gadis itu, mencari kesungguhan di sana.


"Kenapa baru bilang sekarang? Apa Kak Kio dan Ken sudah tahu?"


Maisa mengangguk pelan. "Maaf! Aku tak bermaksud merahasiakannya darimu. Saat itu aku belum yakin."


"Jadi kau mau kuliah di mana? Kalau sekitar Jakarta aku bisa menemuimu kapan saja."


"Aku akan kuliah di Paris."


Bruh! Mia menyemburkan minumannya. Tangannya menggebrak meja. "Apa!"


Sontak semua orang di kantin memperhatikan mereka berdua. Maisa mengambil tisu dan mengelap wajahnya. Ia menceritakan semuanya pada gadis itu.

__ADS_1


"Oke! Oke! Tapi Paris itu terlalu jauh."


Maisa tersenyum simpul. "Tak apa. Aku hanya ingin mengembangkan bakatku."


Di tempat lain, Ken tersenyum puas dengan nilainya. Namun ada kesedihan dalam hatinya. Tak lama lagi ia harus berpisah dengan gadis itu.


Dari kejauhan ia melihat gadis itu berjalan bersama sahabatnya. Ken menghampiri gadis itu, meninggalkan Kio yang menggerutu di sebelahnya.


Maisa tersenyum, melambaikan tangan padanya. Ia langsung memeluk gadis itu. Tubuh gadis itu kaku karena terkejut. Maisa mencoba melepaskan diri, tapi kali ini tenaganya dikalahkan dengan mudah oleh Ken.


"Kak Ken, ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?"


"Aku merindukanmu!"


Pipi Maisa merona mendengar ucapan Ken yang blak-blakan. "Tapi kita baru saja bertemu tadi pagi."


"Kau akan pergi jauh. Sekarang aku jadi sering merindukanmu."


Ah... Benar. Jika dirinya pergi ke Paris, ia tak bisa melihat wajah Ken setiap hari. Pasti dirinya bakal merindukannya juga.


"Jika Kak Ken bilang seperti itu, aku jadi merindukanmu." Maisa balas memeluk laki-laki itu.


Kio memisahkan keduanya dengan paksa. "Stop! Apa kalian berdua tidak merinding mengatakan itu. Bagiku terdengar menggelikan."


"Dasar Kak Kio mengganggu tontonanku! Padahal ini momen romantis mereka berdua. Sweet tahu!" Giliran Mia melayangkan protes padanya. Kesenangannya melihat adegan romantis terganggu oleh pacarnya sendiri. Mengesalkan memang.


Kio melotot ke arahnya. Bukannya membelanya, gadis itu malah menyalahkannya. Pasti mereka berdua meracuni pikiran gadis itu.


"Kenapa kau jadi marah padaku sih, Mi?"


"Hais! Kak Kio itu ya. Tidak punya sense romantis!"


Kata-kata Mia langsung menusuk ke jantungnya. Mulutnya terbuka kemudian menutup, berniat membalas ucapan gadis itu. Mia memasang wajah cemberut. Ia membuang muka.


"Aku bisa kok bersikap romantis."


"Kalau begitu tunjukkan!"


"Tapi itu terdengar menggelikan!"


Mia menghentakkan kakinya meninggalkan Kio. "Bilang saja kalau tidak mau. Kak Kio jahat, tidak berperasaan!"

__ADS_1


"Hei!" Kio mengejar gadis itu.


Ken dan Maisa saling berpandangan. Keduanya lalu tertawa. Lucu mendengar keduanya berdebat.


__ADS_2