Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.14 Kenangan Buruk Part 3


__ADS_3

Preman itu mengalungkan tangannya ke leher Maisa. Sepertinya tidak mengenali gadis itu saat bertemu bersama Lucy beberapa waktu lalu. Maisa bersyukur dengan begitu mereka menurunkan kewaspadaannya.


"Bang, aku punya foto cewek sangat cantik. Mau tidak kukenalkan sama dia?" Ia menepis tangan preman yang memegang pinggangnya.


"Wah boleh, Neng."


Maisa merogoh ponsel di saku roknya. Membuka foto Lucy, menampakkan ke hadapan mereka. Keempat preman itu terperanjat melihat foto gadis cantik yang tersenyum ke arah kamera. Belum sempat pulih dari keterkejutannya. Maisa melayangkan tinju dan tendangan ke rahang mereka. Ia memiting salah satu preman.


Kretek! Suara bunyi tulang bergeser. Preman berambut gondrong itu berteriak memekak telinga. Badannya jatuh berdebam ke aspal. Kedua tangannya di tekan ke belakang oleh Maisa. Gadis itu membekuk kedua tangannya hingga sendinya bergeser.


"Bang, jangan sesekali mencoba lari. Tanggung sendiri akibatnya."


Maisa menyeringai. Tangannya selesai mengikat satu preman dengan dasinya. Tinggal tiga orang lagi. Ketiganya kembali menyerang Maisa membabi buta. Dengan lincah ia menghindar serangan. Sebuah tinju menghampiri wajahnya, Maisa melentingkan badannya. Seseorang memiting lehernya dari belakang. Preman itu tertawa penuh kemenangan, kedua preman mulai mendekat.


"Cewek sialan!"


Duak! Maisa membenturkan kepalanya ke wajah preman itu. Darah mengucur dari hidungnya. Laki-laki itu menutup hidungnya yang berdarah. Sekali lagi Maisa menghantamkan kepala preman itu ke tembok di sampingnya.


Perkelahian yang berat sebelah. Maisa sejak dulu memiliki tenaga menyamai laki-laki, ditambah dengan kemampuan silat dan karate yang dimiliki membuat kekuatannya dua kali lipat. Namun ia perlu bersusah payah merobohkan ketiganya. Gadis itu menginjak punggung salah satu preman, menarik tangannya ke belakang. Suara pekikan menyayat telinga.


Maisa berhasil membereskan ketiganya. Napasnya hampir habis. Ada percikan darah di wajahnya. Dahi dan Bibirnya lebam bekas hantam dan pukulan. Ia berdiri di hadapan keempat preman yang terkapar tak berdaya. Orang-orang yang mendengar keributan tidak berani melerai mereka. Gadis itu melotot ke arah mereka dengan tatapan mengancam.


"Jadi cepat kalian ceritakan bagaimana kalian mengenal dia. Jangan coba-coba membodohiku, Bang. Sebelum aku patahkan tulang kalian yang lain."


Maisa menunjukkan kembali foto Lucy. Wajahnya tersenyum manis tapi terlihat menyeramkan di mata mereka. Sorot matanya menyimpan kemarahan. Ingin rasanya menghancurkan mereka semua. Mata dibalas dengan mata, gigi dibalas dengan gigi. Keempatnya menelan ludah susah payah. Mereka dengan mudah membeberkan kejadian beberapa waktu lalu.


...****...


Lucy berlari ke beberapa toko yang menjual minuman isotonik dan sport drink. Entah ini kebetulan atau bukan, beberapa toko yang menjual kehabisan. Ia berlari menjauh dari gedung olahraga. Langkahnya terhenti di Beemart di ujung jalan. Untungnya masih ada persediaan minuman. Gadis itu memborong beberapa botol yang tersisa. Dua kantong plastik penuh minuman di tangannya.

__ADS_1


Lucy berjalan sambil bersenandung. Langkahnya terhalang oleh empat preman yang menghadangnya. Tatapan nyalang mereka membuatnya tak nyaman. Rasa takut menghampirinya. Tubuhnya mulai gemetaran. Lucy mundur ke belakang dan berlari ke jalan sempit. Keempat preman itu tertawa mengikuti Lucy.


"Mau kemana, Neng. Yuk sama abang." Salah satu dari preman itu tertawa pelan.


Lucy melempar satu persatu botol minuman yang dibelinya. Keempat preman itu malah tertawa. Lucy tetap berlari menyusuri jalan sempit. Tak ada orang yang lewat. Sekuat tenaga ia berteriak meminta tolong. Tangannya gemetar mencoba menelepon Evan. Salah satu preman berpotongan rambut pendek merebut ponselnya dan melemparkan ke selokan.


Tangan preman itu mulai menggerayangi pahanya. Yang lain mulai mengelus pipinya, meraba pinggangnya. Lucy menitikkan air matanya, memohon agar melepaskannya. Tangannya mencoba menepis tangan-tangan mereka. Saat salah satu dari mereka akan meremas dadanya, Lucy memegang tangannya dan menggigitnya. Laki-laki itu terpekik kesakitan. Gadis itu segera berlari saat mereka lengah. Preman dibelakangnya mengumpat kesal.


Lucy melihat gedung tua. Suasananya suram. Ia menengok ke belakang. Para preman itu tertinggal jauh. Bergegas ia masuk ke gedung itu. Preman-preman itu berhasil menyusul.


"Itu dia. Cewek itu masuk ke sana."


Mendengar itu Lucy bergegas naik ke lantai atas. Preman itu mulai mendekatinya. Sampai di lantai tiga, Lucy mulai terpojok. Keempat pria itu menyeringai penuh kemenangan. Lucy mundur ke balkon. Badannya gemetar menahan rasa takut. Air matanya tak berhenti mengalir. Mulutnya masih memohon untuk melepaskannya. Tapi preman itu tak peduli.


Punggungnya membentur pagar besi berkarat. Matanya melirik ke bawah. Lucy meneguk ludahnya. Keempat preman itu semakin mendekat. Tanpa sengaja kakinya menginjak retakan balkon. Satu kakinya terperosok, tangannya mencoba berpegangan pada pegangan besi berkarat, namun tak mampu menahan beban tubuhnya.


Lucy merasa tubuhnya melayang turun dengan cepat. Ia memejamkan matanya. Mungkin ini sudah akhir hidupnya. Namun ia tak ingin mati seperti itu. Badannya jatuh berdebam ke tanah. Rasa sakit luar biasa menjalar ke sekujur badannya. Tak bisa menggerakkan ujung jarinya. Napasnya tersengal-sengal. Detak jantungnya perlahan melemah. Matanya menatap ke arah preman itu. Lama kelamaan pandangannya menjadi gelap.


"Woi! Sial! Cewek itu jatuh. Ayo kita pergi sebelum ada yang melihat," ujar salah satu dari preman itu.


Keempat preman itu bergegas meninggalkan gedung itu, meninggalkan Lucy yang tergeletak bersimbah darah.


"Apa? Kalian meninggalkannya begitu saja. Dasar bajingan!"


Preman itu tertawa, tidak ada rasa menyesal. "Cewek itu yang lebih dulu berpakaian seksi. Bukan salah kita, Neng."


"Kalau bejat, ya bejat saja Bang. Tidak usah bawa-bawa pakaian."


Maisa meninju wajah salah satu preman itu. Rasanya ingin meremukkan wajah mereka. Tak peduli erangan laki-laki itu, ia terus memukul wajahnya. Air mata mengalir di pipinya. Hatinya terasa sakit. Buku-buku jarinya terasa sakit. Percikan darah menodai baju putihnya. Beberapa orang di belakangnya bergumam ngeri.

__ADS_1


Seseorang menahan tangannya. Maisa menoleh melihat Evan berdiri di belakangnya. Evan berjongkok di depannya. Menggenggam kedua tangannya. Wajahnya terlihat khawatir sekaligus lega. Ia memeluk gadis itu.


"Terima kasih, Sa. Terima kasih sudah memikirkan Lucy. Tapi ini sudah cukup."


Tangis Maisa pecah. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Evan. Evan mengelus punggungnya, menenangkan gadis itu. Jain mengikat keempat preman yang hampir sekarat.


Tak lama berselang, Polisi datang dan mengamankan keempat preman itu. Dengan rekaman yang disiapkan Maisa, sudah cukup menjadi barang bukti tambahan untuk menjebloskan mereka ke penjara. Gadis yang pintar, beberapa hari sebelum kejadian dia membeli recorder berukuran kecil untuk berjaga-jaga.


Lucy tidak pernah pulih, meskipun pelakunya sudah tertangkap. Ia masih tetap koma. Orang tuanya membawanya berobat keluar negeri. Tentu saja membuat Evan terpukul.


Videonya yang menghajar keempat preman dengan brutal tersebar. Hampir semua teman sekolahnya tidak ada yang berani mendekatinya. Semuanya langsung minggir begitu Maisa lewat. Ia bahkan mendapatkan julukan cewek gila. Pelatih mengeluarkannya dari klub silat. Hanya Jain dan Evan yang setia menemaninya.


"Maaf, Sa. Ini semua gara-gara aku tidak bisa melindungi Lucy." Evan memandang Maisa dengan raut wajah sedih.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku tetap akan melakukan hal yang sama jika terjadi sesuatu pada kalian juga."


Maisa tersenyum menenangkan Evan. Jain mengacak-acak rambut Maisa penuh kasih sayang. Dia gadis yang sangat baik. Amat baik.


Plak! Sebuah tamparan keras singgah di pipi Maisa. Pak Chandra menahan amarahnya melihat video itu. Mendengar berita kalau anak itu terlibat masalah, membuatnya langsung terbang ke Yogyakarta. Namun yang ditemukan membuatnya geram. Maisa mengusap pipinya yang perih. Ada rasa asin berkarat di mulutnya. Sepertinya ada yang terluka di mulutnya.


"Beraninya kau membuat masalah. Apa kurang cukup masalah yang kau buat sebelumnya."


"Maaf, Pa."


"Jangan pernah bermimpi kembali ke Jakarta. Dasar bocah sinting!"


"Tapi aku tidak pernah menyesal, karena ini semua untuk temanku."


"Lakukan saja sesukamu. Aku tak peduli."

__ADS_1


Meskipun bilang begitu, Pak Chandra tetap membantunya menyewa pengacara terbaik agar tidak terkena tindak pidana penganiayaan. Menarik semua video yang beredar. Tentu saja itu untuk menjaga reputasi keluarganya agar tidak tercoreng. Namun ada satu orang yang tetap menyimpan video itu. Kio tersenyum licik. Ia akan menggunakannya untuk mengancam Maisa nanti.


__ADS_2