Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.47 Shopping


__ADS_3

Maisa dan Ken memasuki toko pakaian pria bernuansa hitam dan putih. Pencahayaan yang redup terkesan santai dan elegan. Beberapa standing hanger berisi kemeja dan jas berada di tengah ruangan. Untuk celana dan beberapa pakaian pria lainnya di pajang pada rak sepanjang dinding yang dipisahkan oleh cermin.


Maisa berjalan menyusuri rak. Ken menjajari di sampingnya. Ia meraih label harga kemeja berwarna mint. Matanya melotot melihat harga yang tertera.


Buset! Harganya dua juta. Dapat baju berapa tuh di Tanah Abang.


Maisa tertawa tertahan, menoleh ke arah Ken. Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa? Mau lihat toko yang lain?"


"Oh, tidak usah."


Maisa berjalan maju menyusuri rak pakaian. Matanya tertuju pada aksesoris pria di rak bagian belakang. Ada dompet dan ikat pinggang branded terpajang.


Setelah melihat beberapa saat, ia memilih dompet lipat berwarna hitam bermotif garis-garis dan ikat pinggang berwarna serupa.


"Mbak, ini dimasukkan dalam gift box warna hitam juga ya," ujar Maisa pada pramuniaga yang menjaga.


"Baik, Ka. Oh iya, untuk dompetnya dapat free parfum. Apa mau dimasukkan juga."


"Boleh."


Maisa berpaling pada Ken. Dilihatnya ia tak membawa apapun di tangannya. Gadis itu memiringkan kepalanya.


"Loh, Kak Ken tidak ikut beli?"


"Aku sudah beli. Nanti bakal beli lagi."


Maisa beroh ria dengan mengangguk-anggukkan kepala. Tak lama pramuniaga kembali dengan membawakan paper bag berisi gift box.


Ken berniat membayar, namun ditolak oleh Maisa. Ia berdalih kalau kado harus dibeli dengan uangnya sendiri. Ken akhirnya mengalah.


Keduanya keluar dari butik dan melanjutkan perjalanan. Ken menghentikan mobilnya di sebuah butik pakaian perempuan. Maisa memandangnya penuh tanya.


"Sudah masuk saja, yuk."


Ken menarik gadis itu masuk ke dalam butik. Desain interiornya warna pink dipadukan dengan warna krem. Konsep yang minimalis menghadirkan gaya simpel, namun tetap terlihat mewah. Koleksi busana yang berjajar di rak pada sisi kiri, kanan, hingga tengah ruangan butik.

__ADS_1


Ken menunjuk beberapa pakaian pada pramuniaga cantik yang berjaga. Maisa menyutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Ia tak bisa berkata apa-apa saat Ken menunjuk begitu banyak pakaian.


"Memangnya untuk siapa sebanyak itu," ujar Maisa dengan nada berbisik. Ia menggoyangkan lengan Ken.


Ken tersenyum ke arahnya. Ia menarik gadis itu ke lantai dua, ke area fitting. Maisa berniat memprotes namun diurungkan.


Ruangan itu didominasi dengan warna dusty. Ada sofa dengan warna serupa. Di depannya ada pintu dan cermin besar di sampinnya.


"Jadi coba semua yang kupilih tadi," ucap Ken.


Mata Maisa melebar. Kedua alisnya naik ke atas. Mulutnya sedikit menganga. Ia melihat pramuniaga naik membawa troli berisi setumpuk pakaian.


"Apa?" Suaranya nyaris memekik.


Ken duduk di sofa, menyilangkan kakinya. Menunggu gadis itu keluar dari ruang ganti di depannya. Maisa membuka pintu dengan dress berwarna navy selutut dipadukan brukat warna serupa tersampir di bahunya.


Ken menggelengkan kelapa, menyuruhnya berganti lagi. Tak lama berselang Maisa keluar dengan dress selutut berwarna hitam dipadukan warna krem. Ikat pinggang berwarna hitam tersemat di pinggangnya yang ramping.


Maisa melengos kesal. Sudah hampir lima kali berganti pakaian, tak ada yang sesuai dengan selera Ken.


Maisa keluar lagi dengan gaun koktail pendek selutut model V-neck berwarna putih tanpa lemgan dan brukat motif bunga edelweiss berwarna abu-abu. Untuk lengannya ditutup dengan rumbai brukat berwarna serupa. Ia mengenakan highheels berwarna putih.


Ken menjentikkan jarinya. Penampilan Maisa menjadi lebih menarik. Gadis itu menghembuskan napas lega. Tak sia-sia ia mengobrak-abrik semua gaun yang dipilih Ken. Ia tak ingin membayangkan berapa kali harus mencoba semua pakaian barusan.


"Kali ini sudah selesai kan, Kak?" tanya Maisa dengan tawa tertahan.


"Masih belum. Ada tempat satu lagi yang perlu dikujungi."


"What's?"


Dan di sinilah ia sekarang, sebuah salon ternama di Jakarta.


“Untuk apa kita ke salon? Kamu mau dandan dulu?” tanya Maisa lagi dengan wajah keheranan.


Ken tidak menjawabnya. Ia menarik Maisa ke dalam salon itu. Maisa memperhatikan tangannya yang digenggam oleh Ken. Ini ketiga kalinya laki-laki itu mengenggam tangannya hari ini. Tangannya terasa hangat. Maisa merasa dirinya berubah aneh.


Maisa ingin memprotes ketika seorang MUA ingin mendadaninya menariknya ke ruang make up. Ken malah melambaikan tangan dengan senyum di wajahnya, tidak menggubrisnya.

__ADS_1


Maisa uring-uringan. Hampir satu jam ia berkutat di ruang make up. Matanya melirik jam tangan, sudah menunjukkan pukul enam. Acara ulang tahun Kio dimulai pukul tujuh.


Tak lama kemudian Maisa selesai didandani. Rambut pendeknya ditambahkan hair extention di cepol ke atas, ditambah strap rambut daun. Wajahnya diberi make up natural, menggunakan anting dan kalung dengan motif bunga.


Ken terpana melihatnya. Maisa memegangi gaunnya dan juga wajahnya. Ia merasa aneh karena tidak terbiasa memakai gaun dan make up. Biasanya ia hanya sekedar menggunakan pelembab, bedak, lipstik, selesai.


“Kak Ken, aku merasa aneh nih,” kata Maisa menyadarkan Ken yang mematung.


“She is beautiful," kata pemilik salon kepada Ken.


Ken tersenyum sambil melihat Maisa yang tengah memperhatikan dirinya sendiri. Ia tak menyangka Maisa akan secantik itu.


"Of course I know. Anyway, thanks sudah mau meluangkan waktu mendandaninya."


Sepanjanh perjalanan, Maisa tidak henti-hentinya mengoceh soal penampilannya yang dianggap janggal. Ken memperhatikan tingkah Maisa yang polos, menganggapinya dengan tersenyum.


...****...


Banyak orang yang berdatangan ke ulang tahun Kio. Ia sibuk menyambut tamu yang memberi selamat padanya. Pak Chandra turut mendampingi berdiri di sampingnya.


Mia datang mengenakan gaun di bawah lutut berwarna dusty pink tanpa lengan model serut di pingang. Tidak terlalu ketat namum sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya yang panjang diikat sedikit dibelakang dan ditambah strap akses bunga.


Gadis itu terlihat menawan berjalan ke arahnya. Kio sedikit terpana. Beberapa pasang mata menatapnya kagum. Ada Erik berjalan disampingnya. Mia memeluk lengannya.


Entah kenapa ia merasa kesal melihat kedekatan keduanya. Padahal ia sendiri yang menolak pernyataan cinta gadis itu.


"Selamat ulang tahun, Kak," kata Mia memeluk Kio sesaat. Ia tersenyum manis ke arahnya. Jantung Kio tiba-tiba berdetak tak karuan.


"Selamat ulang tahun, Bro." Suara Erik membuyarkan lamunannya. Keduanya terkekeh pelan, beradu kepalan tangan.


"Mana Ken?" tanya Erik lagi.


Kio mengangkat bahu. Sejak tadi Ken belum kelihatan batang hidungnya bersama Maisa. Ada sedikit kehebohan terjadi. Ekor matanya melihat sosok perempuan cantik memasuki tempat acara.


Erik dan Mia ikut menoleh. Antara kaget dan tidak percaya membayangi wajah ketiganya.


"Oh, my god. Dia datang juga." Mia menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya melirik ke arah Kio dan Erik yang membatu.

__ADS_1


__ADS_2