Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Jangan Berbohong, Mas!


__ADS_3

Happy reading...


Setelah pertemuannya dengan Reno dan juga Naina. Arga pun memutuskan untuk pulang, karena sejak tadi Mayra meng-chat dirinya agar pria tersebut pulang lebih cepat.


Sesampainya di rumah, Arga langsung masuk dan dia melihat Naina sedang duduk bersama dengan tante Evelyn.


"Sayang, ada apa? Tumben kamu nyuruh aku pulang lebih awal?" tanya Arga sambil mencium kening Mayra.


"Kamu habis dari mana, Mas ? Aku tadi ke kantor kamu, tapi kamu tidak ada," jawab Mayra sambil menatap ke arah Arga dengan curiga.


Mendengar itu Arga menjadi gelagapan, dia tidak menyangka jika istrinya tadi ke kantor. "Maaf Sayang, tadi aku keluar bertemu dengan klien," bohong Arga.


Namun Mayra tidak percaya, "Bohong! Tadi aku tanya sekretaris kamu Silvia, dan tidak ada tuh jadwal untuk bertemu dengan klien."


Arga yang mendengar itu pun sedikit terkejut, kemudian dia menggenggam tangan Mayra, namun segera dihempaskan oleh wanita itu.


"Kamu mau sampai kapan sih bohongin aku terus? Selalu saja kamu menyimpan sesuatu dariku, tidak pernah terbuka. Kalau seperti ini terus aku juga akan sama menyimpan sebuah kebohongan, dan tidak akan pernah ku berbicara jujur kepada kamu, paham!" marah Mayra, kemudian dia beranjak masuk ke dalam kamar.


Arga yang melihat kemarahan sang istri pun menjadi bimbang, dia hendak menyusul Mayra, namun ditahan oleh tante Evelyn.


"Aku harus menyusulnya Ma," ujar Arga, namun tante Evelyn menggelengkan kepalanya.


"Jangan. Dia butuh waktu. Sini! Mama mau bicara sama kamu!" pinta tante Evelyn sambil menepuk sofa di sampingnya.


Mau tidak mau, Arga pun duduk di samping mamanya. "Ada apa, Mah?" tanya Arga yang merasa frustasi dengan keadaan yang menimpa keluarga kecilnya.


"Mama tidak tahu kenapa kamu membohongi Mayra. Tapi Nak, dalam pernikahan itu harus ada kejujuran. Bukankah sedari awal kalian sudah berkomitmen, jika akan saling jujur satu sama lain? Tidak akan menyembunyikan apapun, apalagi sekarang Mayra sedang hamil dan perasaannya sangat sensitif. Ibu hamil itu tidak boleh stress, tidak boleh banyak pikiran. Jadi kamu sebagai suami, harus senantiasa menjaga perasaan sang istri, terlebih di dalam Islam pun sudah dijelaskan, jika suami harus membahagiakan istri secara lahir dan batin," jelas tante Evelyn menasehati Sang putra.

__ADS_1


Arga terdiam, dia menyerap semua ucapan mamanya. Karena apa yang diucapkan oleh sang Mama benar. tallTapi jika Arga mengungkap kebenarannya kepada Mayra, tentu saja akan membuat wanita itu semakin terpuruk dan mungkin akan berdampak pada kandungannya.


Tante Evelyn dapat melihat kebimbangan di kedua Netra Arga, kemudian dia mengusap pundak pria itu.


"Apapun itu yang kamu sembunyikan dari Mayra, cepat katakan! Cari waktu yang tepat, karena apapun itu pasti akan ketahuan pada akhirnya, serapat apapun kamu menyembunyikannya. Terlebih Mayra sepertinya sangat kesal, karena tadi dia melihat kamu sedang makan siang bersama dengan Naina dan juga keluarga dari Tante Renata."


Mendengar hal itu Arga sangat syok. Dia menatap ke arah mamanya dengan tatapan membulat. "Apa! Mayra melihatku di restoran?" kaget Arga, dan tante Evelyn hanya menganggukan kepalanya.


Memang tadi siang Mayra pamit ke kantor untuk mengantarkan makan siang suaminya, namun saat sampai di sana dia tidak menemukan Arga. zdan ternyata Arga sedang berada di luar, wanita itu pun memutuskan untuk singgah di salah satu restoran untuk membeli makanan yang ia suka, karena hanya ada di sana. Namun saat Mayra membayar pesanannya di kasir, dari kejauhan dia melihat Arga sedang makan siang bersama dengan tante Renata dan juga Naina.


Itu kenapa, saat Arga tadi berbohong membuat Mayra merasa telah dibohongi oleh pria tersebut, dan dia merasa kesal karena Arga tidak terbuka.


"Kalau gitu aku harus bertemu dengan Mayr, Mah. Dia pasti salah paham," ucap Arga. Kemudian dia bangkit dari duduknya berjalan menaiki tangga dengan cepat menuju kamar.


Saat pintu dibuka, dia melihat Mayra tengah berdiri di balkon. Air mata wanita itu menetes, karena dia merasa sakit sebab suaminya sudah berbohong kepada dirinya.


"Aku tidak suka ya, Mas, dibohongi. Kamu yang membuat komitmen, tapi kamu juga yang melanggarnya," jelas Mayra


"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Aku---"


"Jangan pernah menjelaskan, jika kamu tidak siap Mas! Karena sekalinya berbohong, akan terus berbohong. Lenjelasan jika tidak dibarengi dengan ketidaksiapan, pada akhirnya hanya akan menutup lubang dengan kebohongan lagi. Kamu ngeles seperti bajaj pun, tetap saja pada akhirnya aku akan mengetahui semuanya," jelas Mayra sambil menatap Arga dengan linangan air mata.


Dia meninggalkan pria itu, namun saat berada di pintu kaca Mayra menghentikan langkahnya tanpa melihat ke arah Arga. Wanita itu pun berkata, "Entah apa yang kalian bicarakan di restoran. Tapi aku yakin, ada sesuatu hal yang membuat kalian tidak ingin aku tahu."


Arga memejamkan matanya, saat melihat kekesalan sang istri. zdia tidak pernah melihat Mayra semarah itu.


Memang benar yang dikatakan oleh Maya, jika ia belum siap untuk mengungkapkan semuanya, maka percuma saja, hanya akan ada kebohongan untuk menutupi sebuah kebohongan yang lain.

__ADS_1


'Maafkan aku sayang! Aku masih mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Aku tahu kamu kecewa, tapi aku berjanji apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu!' batin Arga sambil melihat punggung Mayra yang hilang di balik pintu kamar mandi.


.


.


slSetelah kejadian tadi siang, Mayra mendiamkan Arga. Dia tidak mengajak pria itu berbicara. Biasanya Mayra akan bergelayut manja meminta ini dan itu, tapi kali ini tidak.


Setelah makan malam, Mayra berjalan ke arah kamar kemudian dia mengotak-atik ponselnya dan memesan makanan yang dia suka.


Biasanya jika Mayra menginginkan sesuatu, dia akan langsung merengek dan meminta Arga untuk membelinya. Tapi karena dia masih kesal kepada pria itu, Mayra pun memesan lewat online.


"Sayang, kamu mau makan sesuatu nggak?" tanya Arga yang sudah hafal, jika selepas makan malam biasanya Mayra akan menginginkan sesuatu.


"Tidak!" jawab Mayra dengan ketus kemudian dia memasang earphone di telinganya mendengarkan musik sambil membaca buku.


Arga yang melihat sikap dingin istrinya pun merasa sedih, kemudian dia duduk di samping Mayra, mencoba untuk berbicara dengan wanita itu.


"Sayang, jangan marah dong! Aku pasti akan jelaskan semuanya sama kamu, tapi waktunya belum tepat," ucap Arga.


Akan tetapi, Mayra tidak mendengar ucapan dari pria itu. Sebab telinganya disumpel oleh earphone. Kemudian Arga hendak mencabut earphone tersebut. Namun Mayra langsung menatapnya dengan tajam.


"Don't touch me!" kesal Mayra, kemudian dia menutup buku yang berada di tangannya berjalan keluar kamar meninggalkan Arga yang masih terpaku dengan sikap dingin sang istri.


"Ternyata kalau istri hamil itu lebih mengerikan dari hantu ya, bisa-bisa aku tidak dikasih jatah," gumam Arga sambil mengacak rambutnya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2