Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Pesta


__ADS_3

Happy reading....


Malam ini Mayra tengah bersiap karena dia dan juga Arga akan pergi ke sebuah acara kantor, yang di mana rekan bisnis Arga mengundangnya. Karena mereka sudah menikah, maka Arga pun membawa Mayra dan memperkenalkannya kepada rekan bisnisnya.


"Apa kamu sudah siap, sayang?" tanya Arga sambil memeluk tubuh Mayra dari belakang.


"Iya, aku udah siap," jawab Mayra. Kemudian mereka pun berangkat menggunakan mobil. Namun, baru saja mobil akan meninggalkan pekarangan rumah, tiba-tiba ada telepon dari sang mama.


Arga pun mengangkatnya.


"Halo assalamualaikum mah, iya kenapa?" tanya Arga saat telepon tersambung.


"Waalaikumsalam, kamu udah berangkat sama Mayra, Nak?"


"Ini baru mau jalan, udah di mobil sih. Emangnya kenapa, Ma?" tanya Arga kembali.


"Tidak papa, mama hanya memastikan saja. Ya sudah, kalau gitu kamu pergi saja bersama dengan Mayra!"


Arga merasa heran dengan ucapan mamanya. "Apa Mama yakin tidak ada apa-apa?"


"Tidak ada. Mama hanya ingin menelponmu saja. Mama kira kamu belum berangkat? Ya sudah, kalau gitu mama tutup dulu ya teleponnya, assalamualaikum."


Tanpa menunggu jawaban dari putranya, tante Monica langsung memutuskan telepon secara sepihak, membuat Arga terheran-heran.


"Ada apa, Mas?" tanya Mayra saat melihat wajah suaminya yang kebingungan.


"Ini sayang, mama tiba-tiba aja telepon nggak jelas gitu. Pas Mas tanya, katanya cuma ingin telepon aja? Nggak biasanya soalnya Mama begitu," jawab Arga.


"Ya mungkin, mama kangen aja sama kamu. Ya sudah, nanti sepulang dari pesta kita nginep di rumahnya mama dan papa ya," ujar Mayra menenangkan perasaan suaminya


Arga mengangguk, kemudian dia mulai menyalakan mesin mobil lalu meninggalkan kediaman rumahnya.


Jalanan yang sedikit macet membuat Arga memutar musik pop kesukaannya, tapi tiba-tiba saja Mayra menggantinya dengan lagu Justin Bubur. Membuat Arga menatap ke arah istrinya, karena dia tidak pernah menyukai lagu dari penyanyi solo tersebut.


"Sayang, kok penyanyi itu sih yang kamu putar lagunya? Yang lain dong! Kayak Maroon 10 atau black white?" protes Arga dengan nada tak suka.


"Laki-laki itu harus mengalah sama istrinya. Lagi pula, aku sangat suka dengan lagu-lagu Justin Bubur. Udah ah kamu dengerin aja!"


Tanpa menghiraukan tatapan tak suka dari suaminya, Mayra pun ikut bernyanyi dengan riang. Dia memutar lagu one time. Bahkan tubuhnya berlenggok kanan dan kiri, membuat Arga seketika menatap ke arahnya dari sudut ekor mata.


Bibirnya tertarik ke atas, membuat sebuah senyuman yang begitu menawan. Melihat tingkah istrinya yang sangat kocak dan itu membuat Arga benar-benar gemas. Jika tidak di dalam mobil, mungkin saja dia sudah melahap habis istrinya.


.

__ADS_1


.


"Mah! Udah belum!" teriak seorang pria yang tak lain adalah Pak Gunawan.


Tante Renata keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Dia memakai gaun selutut berwarna merah marun dengan rambut di sanggul.


"Lama banget sih Mah! Kita keburu telat ini ke acaranya," ujar Pak Gunawan pada istrinya.


"Iya Pah, namanya juga wanita, udah pasti lama. Ya udah yuk! Kalau Papa protes terus bisa-bisa kita telat beneran," tutur tante Renata, kemudian dia menarik suaminya untuk menuruni tangga menuju lantai bawah.


.


.


Sesampainya Mayra dan juga Arga di tempat acara, mereka pun langsung menuju di mana rekan bisnis Arga berada. Kemudian dia berbincang lalu memperkenalkan Mayra ke beberapa rekan bisnisnya.


Setelah itu mereka pun duduk mencari meja yang kosong. Karena tamu juga sangat banyak, jadi agak susah menemukan meja yang kosong.


"Kita duduk di sana yuk!" ajak Arga saat melihat ada 4 kursi kosong di salah satu meja.


Mayra mengangguk, kemudian mereka pun berjalan menuju kursi tersebut. Tak lama pelayan datang membawakan minuman.


Terlihat acara begitu mewah dan megah, semua pembisnis muda berada di sana. Mayra merasa minder karena dia belum pernah datang ke acara seperti itu seumur hidupnya.


"Kamu mau cake nggak, Mas?" tanya Mayra saat melihat ada jejeran cake di pojokan.


"Boleh sayang, rasa strawberry ya!" pinta Arga.


Mayra mengangguk, kemudian dia beranjak dari duduknya untuk mengambil cake tersebut. Namun, baru saja dia berbalik badan, tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang.


"Maaf Nyonya, saya tidak ..." Ucapan Mayra terhenti saat melihat orang yang ditabraknya.


"Loh, tante Renata!" kaget Mayra saat melihat wanita tersebut.


Wanita itu tak kalah kaget nya dengan Mayra. "Looh, kamu di sini juga?" tanya Tante Renata menatap kagum ke arah wanita yang berada di hadapannya.


"Iya Tante, saya ke sini sama suami saya," jawab Mayra kemudian dia melirik ke arah Arga, dan pria itu langsung berdiri.


"Kamu kenal Nyonya ini, sayang?" tanya Arga kepada sang istri.


Sedangkan Tante Renata dan Pak Gunawan cukup kaget saat mendengar jika Mayra sudah menikah.


"Iya Mas. Dia ini Tante Renata, orang yang pernah kutabrak waktu di bandara itu. Oh iya, Tante kenalin, ini Mas Arga, suami saya. Dan Mas kenalin, ini Tante Renata."

__ADS_1


"Arga, Tante," ucap Arga memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan wanita itu.


Tante Renata terdiam begitupun dengan pria yang berada di sampingnya. Dia masih terpaku saat menatap wajah Mayra.


'Benar apa kata Mama. Apakah dia wanita yang selama ini disebutkan oleh Mama? Wajahnya memang sangat mirip dengan mama waktu muda.' batin pak Gunawan.


"Oh iya Pah, ini Mayra yang Mama ceritakan. Dan Mayra kenalin, ini suami Tante," ucap tante Renata memperkenalkan suaminya kepada Mayra.


Wanita itu pun menjabat tangan Pak Gunawan, sedangkan pria itu benar-benar masih terpaku, karena memang apa yang dikatakan sang istri ada benarnya jika wajah Mayra sangatlah mirip dengannya waktu muda.


"Kalau gitu gabung aja Tante sama kita! Kebetulan masih ada dua kursi kosong," ujar Mayra, "Saya mau mengambil cake dulu. Tante mau tidak?" tanya Mayra, kemudian tante Renata menganggukan kepalanya.


Wanita itu pun pergi mengambil cake, sementara tante Renata, Om Gunawan dan juga Arga duduk dalam satu meja.


"Apa kalian sudah lama menikah?" tanya Tante Renata membuka pembicaraan.


"Belum Tante, hampir 2 bulan. Masih baru," jawab Arga.


Tante Renata menatap ke arah suaminya, begitupun dengan Pak Gunawan. Mereka seperti sedang berbicara dan mengobrol lewat batin.


"Oh iya, Pak Arga dari perusahaan mana?" tanya Pak Gunawan.


"Saya dari perusahaan A ccompany. Kalau Bapak sendiri, dari perusahaan mana?"


"Kalau saya dari perusahaan G Production. Kebetulan saya dari bidang makanan, jadi memiliki beberapa pabrik mengolah makanan yang biasa diantarkan ke supermarket dan juga lain-lain," jawab Pak Gunawan.


Arga menganggukan kepalanya, tak lama Mayra datang membawakan beberapa cake dan menaruhnya di meja.


"Om, Tante, ini cake-nya, silakan dimakan," ujar Mayra.


"Terima kasih ya, Nak," jawab Tante Renata.


Kemudian Pak Gunawan dan juga Arga pun berbicara soal bisnis, hingga mereka tertarik satu sama lain dan berencana untuk bekerja sama menanamkan beberapa saham di perusahaannya Pak Gunawan.


Hingga tiba-tiba saja pertanyaan tante Renata membuat Mayra terdiam, dan melirik ke arah suaminya.


"Oh ya Nak, apa boleh Tante bertanya sesuatu?" tanya Tante Renata sambil menatap ke arah Mayra.


"Apa itu, Tante?"


"Apa kamu masih punya orang tua?" tanya Tante Renata dengan tatapan penuh tanya ke arah Mayra.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2