Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Khawatir


__ADS_3

Happy reading.....


Mayra begitu sangat terkejut saat mendengar jika kedua mertuanya masuk ke dalam rumah sakit, kemudian dia menatap ke arah keempat pelayan yang ada di hadapannya.


"Bibi sedang tidak bercanda kan? Papa masuk rumah sakit?!" kaget Mayra dengan tatapan yang memancarkan kekhawatiran yang begitu dalam.


"Benar Nona. Tadi saya mendengar jika Nyonya menelpon tuan muda, tadinya ingin meminta untuk diantarkan ke rumah sakit, tapi sepertinya tidak jadi," jawab pelayan tersebut dengan kepala menunduk.


Dia tidak berani menatap ke arah Nona mudanya, begitupun dengan ketiga temannya. Mendengar hal tersebut, Mayra segera meninggalkan dapur berlari menaiki tangga sampai kakinya tersandung, kemudian dia bangkit lagi tanpa menghiraukan rasa sakit yang berada di ibu jarinya.


Wanita itu masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa, hingga membuat Arga yang sedang berganti pakaian merasa kaget dan juga heran.


"Sayang, kamu kenapa masuk ke dalam kamar dengan buru-buru? Pelan-pelan dong, kayak dikejar-kejar setan aja?" tanya Arga sambil menggelengkan kepalanya


Mayra mengatur nafasnya, kemudian dia menunjuk ke arah luar. "Mamah Mas ... Papa ... anu ..." Mayra tidak bisa berkata-kata, karena dadanya terasa sakit sebab dia capek berlarian naik tangga.


"Kamu itu kenapa sih? Ini minum dulu!" Arga menyerahkan satu gelas air putih kepada Mayra, lalu wanita itu langsung menegaknya dengan habis.


"Katakan ada apa! Mama sama papa kenapa? Mereka udah tidur?" tanya Arga yang masih belum mengetahui tentang keadaan Papanya.


Mayra menggelengkan kepalanya, "Tidak Mas! Kita harus ke rumah sakit sekarang! Tadi pelayan bilang jantung Papa anfal, dan sekarang papa berada di rumah sakit sama mama," jelas Mayra dengan nada yang begitu panik.


Mendengar hal itu senyum yang tadinya terbit di bibir Arga seketika redup, tatapannya membulat dengan wajah yang begitu sangat kaget.


"APA! Papa masuk rumah sakit? Jantungnya anfal!" kaget Arga sedikit meninggikan suaranya.


Mayra menganggukkan kepala, "Iya Mas, kita harus ke rumah sakit sekarang! Aku khawatir dengan keadaan papah," ujar Mayra.


Arga menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera memakai kolor lalu memakai kaos oblong putih tanpa memperhatikan tampilannya. Arga berjalan keluar dari kamarnya namun ditahan oleh Mayra.


"Ada apa sih, sayang? Kita harus buru-buru ke rumah sakit. Bagaimana dengan keadaan papa? Aku benar-benar khawatir dengan keadaannya!" panik Arga, karena dia sangat khawatir dengan keadaan sang papa.

__ADS_1


"Aku tahu kamu khawatir dengan keadaan papa. Tapi lihatlah Mas! Kamu masih memakai ****** *****. Tidak malu? Pakai celana dulu gih! Setidaknya pakai celana pendek, biar burungnya tidak terbang!" titah Mayra.


Arga melihat ke arah pahanya dan dia pun mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian segera berjalan ke arah lemari dan mengambil celana pendek lalu memakainya.


Sementara Mayra merasa heran dengan kecerobohan sang suami. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana jika Arga ke rumah sakit hanya dengan memakai ****** ***** saja.


Mereka menuruni tangga ke lantai bawah untuk menuju mobil, setelah itu masuk dan melajukan mobil tersebut menuju rumah sakit.


"Mas, kamu memang tahu rumah sakitnya di mana?" tanya Mayra, karena mereka belum mengetahui rumah sakit di mana Papanya.


"Aku tahu. Tidak akan salah, sebab hanya rumah sakit itu yang terdekat dari sini," jawab Arga.


Mayra tidak bertanya lagi, dia diam. Tangannya meremas satu sama lain, karena Mayra begitu mengkhawatirkan keadaan Papa mertuanya.


Walau bagaimanapun, Mayra sudah menganggap kedua mertuanya sebagai orang tuanya sendiri. Sebab Mayra sudah tidak memiliki orang tua, dan kasih sayang yang diberikan kedua mertuanya membuat Mayra merasa nyaman dan merasa dihargai sebagai menantu.


Sesampainya mobil di rumah sakit, Mayra segera turun bersama dengan Arga. Mereka menuju meja resepsionis dan menanyakan tentang ruangan sang papa dirawat.


Wanita itu menoleh ke arah belakang, dan dia cukup kaget saat melihat kedatangan Arga dan juga Mayra.


"Mah, bagaimana keadaan papah? Papa baik-baik aja kan? Tidak terjadi apa-apa dengan papa kan, Mah?" tanya Arga yang sudah tidak bisa menyembunyikan kepanikannya dan raut wajahnya yang ketakutan.


Tentu saja dia takut. Sebagai anak bagaimana mungkin dia merasa tidak cemas saat melihat keadaan sang Papa yang sedang terbujur lemas di atas ranjang Rumah Sakit. Apalagi Arga juga mengetahui jika Papanya mengidap penyakit jantung.


"Papa belum melewati masa kritisnya," jawab tante Monica sambil terus menangis menatap ke arah suaminya.


"Mama kenapa sih tidak bicara sama aku tentang keadaan Papa! Kenapa Mama nggak nelpon aku?" tanya harga dengan tatapan heran ke arah sang mama.


"Mama sudah menelpon mu, tapi kamu tadi ada acara. Jadi mama--"


"Jadi tadi Mama menelponku untuk mengabarkan tentang Keadaan Papa. Seharusnya Mama mengatakan saja! Kenapa harus teleponnya ditutup? Sekarang kalau kayak gini Arga yang merasa bersalah Mah," ujar pria itu menangis saat mendengar penuturan sang mama.

__ADS_1


Dia merasa bersalah karena mendahulukan acara pertemuan itu ketimbang menolong sang papa. Arga merasa tidak becus sebagai seorang anak, di saat Papanya membutuhkan dia malah tidak ada.


"Jangan menyalahkan dirimu, Nak. Mama hanya tidak ingin mengganggu acaramu," ujar Tante Monica dengan tatapan yang sendu.


Mayra mengusap bahu mertuanya, kemudian dia memeluk tubuh wanita itu dari belakang. "Mama yang sabar ya! Kita berdoa untuk kesembuhan Papah. Mayra yakin kok, Papah adalah pria yang kuat. Dia pasti akan sehat kembali seperti sedia kala," ujar Mayra yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.


Melihat Papa mertuanya terbaring lemah tak berdaya, membuat Mayra merasakan sakit. Karena walau bagaimanapun, selama menjadi menantunya Papa Ruben selalu menyayangi Mayra dengan setulus hati.


Kasih sayangnya yang tidak terhingga dan tanpa membandingkan Mayra, membuat wanita itu begitu sangat menyayangi kedua mertuanya.


"Mama belum makan malam ya?" tanya Mayra.


"Bagaimana mungkin mama makan, sayang? Bahkan keadaan Papa yang seperti ini membuat selera makan Mama hilang seketika. Karena kekuatan Mama selama ini hanyalah Papa. Melihatnya seperti ini, bagaimana seorang istri akan selera dalam makannya?" jawab Tante Monica sambil menghapus air matanya yang lagi-lagi terus saja mengalir.


Mayra paham apa yang dirasakan oleh Mama mertuanya tersebut, kemudian dia izin kepada Arga untuk keluar sebentar. Wanita itu menuju kantin untuk membeli makanan demi tante Monica.


Mayra tidak mau jika nanti Tante Monica akan sakit karena dia tidak ingin hal itu terjadi.


Setelah membeli makanan untuk mertuanya, wanita itu pun berbalik, dan seketika Mayra menabrak tubuh seseorang.


"Maaf Nona, saya tidak sengaja," ucap pria yang berada di hadapannya.


"Ya Tuan. Maaf saya juga tidak sengaja," jawab Mayra.


Kemudian dia pergi meninggalkan kantin, namun pria itu masih saja terus menatap ke arah Mayra dengan lekat.


'Dia Mayra, kan?' batin pria tersebut.


"Mayra, tunggu!" teriak pria itu menghentikan langkah Mayra, sehingga membuat wanita itu berbalik dan menatapnya dengan heran, sebab Ia tidak mengenal pria tersebut.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2