
Happy reading.....
"Astaghfirullahaladzim! Mas Reno!" teriak Naina dengan wajah yang kaget
Wanita itu sangat kaget karena melihat perut Reno yang terluka, kemudian dia mengguncang tubuh suaminya. "Mas, kamu kenapa? Mas, kenapa perutnya berdarah?" tanya Naina, akan tetapi Reno tidak menjawab.
"Ibu ...! Ibu ...! tolong Naina, Bu!" teriak Naina di dalam kamar memanggil ibunya.
Bu Linda yang sedang menonton TV pun seketika terperanjat kaget saat mendengar teriakan Naina, dia langsung berlari ke arah kamar putrinya.
"Ada apa, Naina?" tanya ibu Linda dengan wajah yang panik.
"Bu, Ini perutnya Mas Reno kenapa terluka?" tanya Naina tak kalah paniknya, bahkan saat ini air mata sudah membasahi pipi.
Bu Linda menatap ke arah perut Reno yang mengeluarkan darah. "Astaghfirullahaladzim! Sebentar Ibu cari pertolongan dulu." Bu Linda pun meninggalkan kamar Naina, lalu berlari tergesa-gesa keluar dari rumahnya untuk meminta pertolongan.
Untung saja ada dua bapak-bapak yang tengah lewat pulang dari masjid, kemudian Bu Linda meminta tolong untuk membawa Reno ke rumah sakit.
Selama di dalam mobil, Naina terus aja menangis sambil memangku kepala Reno. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan suaminya, Naina takut jika terjadi apa-apa dengan Reno, apalagi saat ini detak jantung terdengar sangat lemah.
"Mas, kamu harus bertahan Mas! Jangan tinggalkan aku! Please ... aku mohon!" pinta Naina dengan suara sesegukan.
Setelah beberapa saat mobil pun sampai di rumah sakit. Reno langsung dilarikan dan dimasukkan ke dalam UGD, sementara itu Naina dan juga Ibu Linda menunggu di depan ruangan dengan perasaan harap-harap cemas.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Kita berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa dengan nak Reno," ucap Bu Linda mengusap rambut putrinya.
Wanita itu menganggukkan kepala walaupun sejujurnya hati Naina diliputi ketakutan, karena walau bagaimanapun dia tidak ingin kehilangan Reno.
"Aku harus bagaimana Bu? Kenapa Mas Reno terluka? Tadi apa pas dia pulang Ibu tidak melihatnya? Ibu tidak melihat perut Mas Reno sedang terluka?" tanya Naina sambil menatap ibunya dengan lekat
Bu Linda menggeleng. "Tidak Nak, mungkin karena tertutup jaket," jawab Bu Linda mengingat saat Reno pulang.
Memang saat Reno pulang, Bu Linda tidak melihat luka tersebut. Tapi memang dia melihat jika Reno berjalan sedikit sempoyongan. Tadinya Bu Linda pikir Reno seperti itu karena dia kecapean, tapi ternyata pria tersebut sedang terluka.
__ADS_1
Terlihat ponsel Naina berdering, dan itu ternyata telepon dari Mayra. Lalu wanita itu pun mengusap air matanya dengan kasar, walaupun lagi-lagi setetes demi setetes air mata itu jatuh.
"Iya halo, Mayra," ucap Naina dengan suara yang serak saat telepon tersambung.
Mayra merasa heran saat mendengar suara Naina yang purau. "Naina, apa kamu sedang menangis?" tanya Mayra di seberang telepon.
"May, suamiku May. Mas Reno ..." Naina tidak sanggup untuk mengucapkan jika suaminya sedang terluka.
"Suami kamu kenapa Nai? Jangan buat aku panik deh!"
"Mas Reno .... dia ... dia terluka, dan sekarang berada di UGD," jawab Naina dengan suara yang serak kemudian dia menangis tersedu-sedu.
"APA! Terluka? Bagaimana bisa?" tanya Mayra dengan panik.
"Aku juga tidak tahu, tadi pas aku pulang dari supermarket tiba-tiba saja dia sudah terluka di dalam kamar."
"Ya sudah, kalau begitu kamu kirimkan alamat rumah sakitnya! Aku akan ke sana," jawab Mayra, kemudian telepon pun terputus.
Setelah telepon terputus Naina pun mengirimkan alamat rumah sakitnya kepada Mayra. Setelah itu dia duduk di ruang tunggu menunggu dokter untuk keluar dari ruangan itu dan menyampaikan kabar baik kepadanya.
.
.
"Ada apa, sayang?" tanya Arga sambil memeluk tubuh Mayra dari belakang.
"Ini Mas, aku baru saja dapat telepon dari Naina. Katanya Reno terluka dan sekarang berada di rumah sakit," jawab Mayra dengan wajah yang khawatir.
"Apa! Terluka? Terluka kenapa?" Arga tak kalah kagetnya saat mendengar jika Reno terluka.
"Aku juga tidak tahu Mas, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang yuk! Naina pasti sedang sedih banget dan dia butuh dukungan aku," jawab Mayra.
Arga mengangguk, kemudian mereka pun bersiap-siap untuk ke rumah sakit setelah meminta izin kepada kedua orang tua Arga. Padahal harusnya malam ini mereka bersiap-siap karena besok sudah pindahan ke rumah baru.
__ADS_1
.
.
Saat dokter keluar dari ruangan UGD, Naina pun segera berdiri dan menanyakan keadaan suaminya. "Bagaimana keadaan suami saya? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada luka yang serius kan dok?" tanya Naina mencecar sang dokter.
"Apakah ibu adalah istrinya?"
"Iya dok, saya adalah istrinya," jawab Naina.
"Luka yang dialami pasien cukup parah, dan pasien kehilangan banyak darah. Untung saja masih ada stok satu kantong darah di rumah sakit ini, dan saat ini pasien masih belum melewati masa kritisnya. Kita berdoa saja, semoga pasien cepat melewati masa kritis dan sadar," jawab dokter tersebut.
Naina yang mendengar itu pun tentu saja sangat syok. Dia tidak menyangka jika luka yang dialami suaminya sangat parah, dia pun terduduk dengan lemas menangis tersedu-sedu.
Dadanya serasa diremas. Naina takut jika orang tua Reno juga mengetahui tentang suaminya. Namun Naina tidak ingin memberitahukan bu Sumarni, dia tidak mau membuat mertuanya itu merasa cemas.
"Bu, jangan sampai Ibu Sumarni tahu ya tentang hal ini. Aku nggak mau membuatnya sedih!" pinta Naina pada sang ibu.
"Iya sayang, ibu nggak akan cerita sama besan tentang hal ini," jawab Bu Linda sambil mengusap kepala Naina yang sedang bersender di bahunya.
Tak lama Mayra datang dengan Arga sambil berlari tergesa-gesa ke arah Naina, dan saat melihat itu Naina langsung memeluk tubuh Mayra.
"Sabar ya. Aku tahu mungkin saat ini kamu lagi sedih, kita berdoa saja semoga Reno cepat sadar dan tidak terjadi apa-apa. Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Mayra saat pelukan terlepas.
"Dokter bilang saat ini dia sedang kritis, dan belum melewati masa kritisnya. Dia juga kehilangan banyak darah," jawab Naina dengan nafas terengah-engah.
Mayra yang mendengar itu pun kembali memeluk tubuh sahabatnya, kemudian mereka duduk di kursi. "Bagaimana bisa suamimu terluka, Naina?" tanya Mayra.
Naina pun menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu kenapa Reno bisa terluka, sedangkan Arga hanya diam duduk memperhatikan dua wanita itu. Hatinya juga merasa iba saat melihat Naina menangis, karena walau bagaimanapun Naina pernah tersimpan di dalam hatinya yang paling spesial.
'Kasihan Naina, semoga saja Reno cepat sadar melewati masa kritisnya.' batin Arga.
Dia hanya bisa berdoa dan berharap untuk kebahagiaan Naina, walaupun sekarang di dalam hatinya sudah terukir nama Mayra. Karena wanita itu sudah menjadi istrinya, dan Arga harus mencintai Mayra sepenuh hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....