
Happy reading.....
Wanita itu begitu sangat kaget saat melihat Arga yang berlutut di sampingnya, kemudian dia menatap Arga dengan tatapan membulat.
"Pak! Apa yang Bapak lakukan?" tanya Mayra.
"Mayra, kamu adalah wanita yang selama ini ada saat saya terluka. Kamu adalah wanita yang selama ini menguatkan saya, saat saya terjatuh. Dan kamu adalah wanita yang selama ini tulus berada di sisi saya. Mayra, apakah kamu mau menjadi istri saya? Menjadi Ibu dari anak-anak saya? Dan apakah kamu mau, menjadi pendamping hidup saya, sampai maut memisahkan?" kata Arga sambil membuka satu kotak dan isinya berupa cincin berlian.
Mayra menutup mulutnya dengan tangan, dia begitu sangat kaget. Matanya berkaca, sangat terharu diperlakukan romantis di hadapan semua orang. Tapi dia juga malu sehingga pipinya sudah bersemu merah bahkan bak kepiting rebus.
"Terima ... terima ... terima ...!" sorak semua orang yang berada di sana.
Termasuk Naina, dia juga bersorak dan berteriak agar Mayra menerima cinta Arga, sementara wanita itu merasa bingung.
"Yaelah, Mayra. Kenapa lu diem aja? Jawab, kasihan tuh pak Arga. Masa berlutut terus? Semua orang juga setuju. Ayo Mayra, terima!" seru temannya yang berada di samping Mayra.
"Kenapa Bapak memilih saya? Saya hanyalah wanita biasa yang tidak mempunyai apa-apa sedangkan Bapak adalah Bos saya di kantor." Mayra tidak langsung menjawab pertanyaan sekaligus permintaan dari Arga, dia ingin mengetahui kenapa pria itu memilih dirinya sebagai pendamping hidup.
Mayra tidak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan, dan dia harus tahu dulu kenapa Arga memilihnya ketimbang wanita lain? Padahal banyak wanita yang mengejar-ngejar Arga, dan mereka jauh di atas Mayra. Memiliki pendidikan yang tinggi, wajah yang cantik ditambah juga mereka dari kalangan sosialita.
"Apakah cinta perlu alasan untuk memilih ke mana dia akan berlabuh? Aku memilihmu karena kamu yang terbaik di dalam hidupku, tidak pernah aku menemukan wanita seperti dirimu, Mayra. Tidak perduli mau kamu dari kalangan biasa, mau kamu dari kalangan atas, itu hanyalah sebuah bonus. Tapi hati itu yang paling utama, dan kamu memiliki itu. Jadi bagaimana Mayra, apakah kamu mau mengarungi rumah tangga bersama denganku? Seperti Reno dan juga Naina?" tanya Arga kembali.
Mayra terdiam sejenak, membuat seketika suasana menjadi hening. Mereka semua tegang mendengar jawaban Mayra.
"Maaf Pak, saya tidak bisa," jawab Mayra sambil menggelengkan kepalanya dengan helaan nafas yang berat.
Terlihat wajah Arga begitu sangat kecewa mendengar jawaban dari Mayra. Tapi seketika dia memejamkan matanya, kemudian tersenyum lalu menatap kembali ke arah wanita cantik yang berada di hadapannya itu, yang beberapa detik dia lamar.
"Tidak apa-apa Mayra, aku paham. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan," jawab Arga, kemudian dia berdiri. "Tapi setidaknya terimalah bunga ini, mungkin saat ini kamu belum mencintaiku, tapi nanti mungkin perasaan itu akan tumbuh," jawab Arga sambil tersenyum tulus ke arah Mayra.
Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat kecewa dan patah hati, karena lagi-lagi wanita yang diinginkannya tidak pernah menerimanya.
__ADS_1
Terdengar juga riuh kekecewaan dari semua orang, karena Mayra menolak cinta dan juga lamaran dari Arga. Dan pria itu langsung berbalik untuk meninggalkan acara tersebut, karena dia juga sudah memberikan selamat kepada Naina dan juga Reno.
Tetapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan seseorang.
"Apakah Anda tidak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan saya, Pak? Saya hanya bilang saya tidak bisa, bukan tidak mau. Yang artinya, saya tidak bisa menolaknya Pak," sambung Mayra lagi.
Sontak seketika Arga berbalik badan dan menatap ke arah Mayra yang sedang tersenyum ke arahnya, kemudian pria itu langsung berlari dan memeluk tubuh Mayra. Sementara semua orang bersorak gembira saat mendengar jawaban Maira.
Naina juga seketika langsung memeluk lengan Reno. Dia benar-benar sangat bahagia melihat sahabatnya sebentar lagi akan menyusul.
Sementara itu Ibu Linda berjalan mendekat ke arah Mayra dan juga Arga yang berpelukan, kemudian dia melepaskan pelukan mereka.
"Jangan dulu berpelukan! Kalian ini belum menikah, belum muhrim," ujar Bu Linda dan langsung membuat Mayra serta Arga merasa malu dan menundukkan kepalanya.
"Arga, apa benar kamu mencintai Mayra? zdan kamu mau mempersuntingnya?"
Arga mengangguk saat mendengar pertanyaan dari Bu Linda.
Mayra dan Arga saling melirik satu sama lain.
"Tapi Bu---"
"Baik Bu, saya akan menghalalkan Mayra saat ini juga." Arga memotong ucapan Mayra, membuat wanita itu sontak menatap ke arahnya dengan tatapan membulat. Sedangkan dia hanya tersenyum penuh cinta ke arah gadis itu.
"Pak, apa Anda serius?" tanya Mayra dengan tatapan tak percaya dan tatapan memastikan ke arah pria tersebut.
"Apa kamu melihat wajah saya sedang bercanda, Mayra? Ayo, aku akan menghalalkanmu sekarang!" Arga menggenggam tangan Mayra lalu membawanya untuk duduk di hadapan penghulu.
"Pak, saya mau menghalalkan Mayra. Dan ini adalah mahar dari saya. Karena mendadak, jadi saya hanya membawa cincin, selebihnya untuk kebahagiaan Mayra saya akan memberikan semuanya."
Kemudian mereka pun mulai melakukan ijab qobul, setelah itu Arga diminta untuk mengurus surat-surat untuk pernikahannya bersama dengan Mayra, dan meminta beberapa data-data dari mereka berdua.
__ADS_1
"Bagaimana saksi, SAH?" tanya penghulu pada semua orang.
"SAH!" jawab semua orang serempak.
Mayra menangis, dia tidak menyangka jika dirinya akan menikah di hari di mana sahabatnya juga melangsungkan pernikahan. Sementara itu Naina langsung turun dari pelaminan dan memeluk tubuh sahabatnya.
Mereka berdua menangis haru karena di dalam kebahagiaan itu keduanya merasakan artinya bahagia.
"Selamat ya, gue nggak nyangka lo bakalan nyusul secepat gini," ucap Naina sambil mengusap air matanya dengan tisu.
"Apalagi gue, serasa mimpi tau nggak sih. Yang nikah elo, eh gue malah ikut-ikutan," jawab Mayra sambil terkekeh kecil, padahal saat ini dia tengah menangis.
"Padahal buket bunga belum gue lempar, tapi lo udah nikah duluan," ujar Naina.
Bu Linda kemudian memeluk tubuh kedua putrinya. Dia begitu sangat bahagia, karena di hari itu kedua Putrinya sudah menikah dalam waktu yang bersamaan.
"Ibu berharap, rumah tangga kalian langgeng. Dan Ibu berharap, kalian dapat menjaga satu sama lain, berbakti kepada suami dan selalu disayangi serta dikasihi," ucap Bu Linda sambil mencium kening Nayla dan juga Mayra bergantian.
"Ibu! Kenapa mereka berdua aja yang dicium? Karina enggak?" Rajuk Karina yang tiba-tiba saja memanyunkan bibirnya.
"Eh Iya, Ibu juga punya anak yang tua ya? Sini-sini," kekeh Bu Linda sambil meminta Karina mendekat dan mereka berempat pun berpelukan.
Sementara itu Arga dan juga Reno berdiri di samping mereka. "Selamat ya, akhirnya kita bisa double date malam pertama," bisik Reno dan langsung mendapatkan pukulan di lengannya dari Arga.
"Tapi jangan dulu di unboxing! Kan belum ngadain acara resepsi?" goda Reno.
"Unboxing itu tetap yang utama, resepsi bisa nanti yang penting unboxing dulu baru resepsi," jawab Arga sambil terkekeh kecil.
BERSAMBUNG.....
Mantap 2 manten sekaligusš¤£š¤£
__ADS_1