Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Keadaan Bu Linda


__ADS_3

Happy reading.....


"Halo, assalamualaikum Bu," ucap Naina saat telepon telah tersambung.


Sejenak Naina terdiam saat mendengar ucapan dari seberang telepon. Dia menatap ke arah suaminya dengan tatapan membulat kaget.


Cairan bening seketika mengenang di kedua pelupuk mata wanita itu, sehingga membuat Reno menjadi penasaran.


"Sayang, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Reno dengan Tatapan yang begitu cemas.


Tanpa menjawab, Naina segera memeluk tubuh Reno dan menangis tersedu-sedu dalam dekapan pria itu, membuat Reno merasa heran dengan sikap istrinya.


"Sayang, ada apa? Apakah sesuatu telah terjadi pada ibu? Kenapa kamu menangis?" tanya Reno yang belum mendapatkan jawaban dari sang istri.


Naina melepaskan pelukannya, kemudian dia menatap Reno dengan linangan air mata. Dadanya terasa sesak, suaranya tercekat di tenggorokan, seakan Naina tidak bisa berbicara dan mengatakan satu kata patah pun.


"Ibu, Mas. Tadi Bu Nining menelponku dan mengabarkan keadaan Ibu," jawab Naina dengan suara yang purau.


Dia merasa pasokan udara di paru-parunya begitu sempit, sehingga Naina sedikit merasa sesak nafas t. Tidak pernah dia merasakan sakit yang amat dalam.


"Ada apa, sayang? Ibu kenapa? Ibu baik-baik aja kan?" tanya Reno yang mulai cemas dengan keadaan Mama mertuanya.


"Tadi Bu Nining ke rumah mengantarkan makanan, tapi dia melihat ibu jatuh di kamar mandi Mas. Kita harus ke rumah sakit sekarang! Tadi Bu Nining menelpon juga, dia sudah membawa ibu ke rumah sakit," jelas Naina sambil terus mengusap air matanya.


"Apa!" kaget Reno dengan wajah yang begitu terkejut. "Ya sudah, kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang!" Kemudian mereka beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mengambil jaket dan juga tas, kemudian menuju mobil.


Sepanjang perjalanan tidak hentinya Naina memanjatkan doa untuk keselamatan sang Ibu, karena jujur dia amat sangat khawatir tentang keadaan ibunya.

__ADS_1


Naina juga merutuki kesalahannya sendiri yang tidak bisa bersama sang ibu. Kemudian dengan tangan yang bergetar dia mengambil ponselnya di dalam tas lalu menekan nomor sang kakak.


"Kamu mau nelpon Kak Karina dan mengabarkan tentang keadaan ibu?" Reno menahan tangan Naina saat wanita itu akan menelpon kakaknya.


"Kak Karina harus mengetahui keadaan ibu, Mas," jawab Naina.


Mendengar itu Reno segera menggeleng. "Tidak sayang! Jangan kamu memberitahunya! Kak Karina kan sedang hamil muda. Apa kamu mau membuatnya stress dan banyak pikiran? Lalu, nanti terjadi apa-apa kembali dengan kandungannya? Bukankah dulu kamu pernah bilang, kalau kak Karina pernah keguguran, karena dia mendengar kabar batalnya pernikahan kamu dengan Ivan? Lalu, jika kita memberitahu keadaan ibu sekarang, bagaimana dia tidak akan terkejut? Sudah pasti Kak Karina akan kepikiran. Jadi ada baiknya kita tidak usah memberitahunya demi kebaikan Kak Karina!" ujar Reno panjang lebar.


Naina terdiam, apa yang dikatakan suaminya memang benar. Jika dia memberitahukan kepada Karina tentang keadaan Ibunya, sudah pasti wanita hamil itu akan kepikiran dan akan berpengaruh kepada kandungannya.


Wanita tersebut pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, dia tidak jadi menelpon sang kakak.


Hingga mobil tiba di pelataran rumah sakit, kemudian Reno dan juga Naina turun. Setelah memarkirkan mobil lalu masuk menuju resepsionis dan menanyakan di mana ibunya dirawat.


Ternyata Bu Linda masih berada di UGD, dan Naina segera menuju ke sana, di mana ada Bu Nining dan juga suaminya yang sedang menunggu.


Melihat kepanikan dari putrinya Bu Linda, Bu Nining pun segera mengusap bahu Naina dengan lembut. Dia juga meneteskan air mata, karena walau bagaimanapun Bu Linda dan juga Bu Nining sangat dekat, sebab mereka tinggal bersebelahan.


"Dokter belum keluar dan mengabarkan tentang keadaan Bu Linda. Kita berdoa saja ya Nak! Semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibumu. Ibu juga tidak tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba ibu masuk, melihatnya sudah tergeletak di kamar mandi," jawab bu Jining dengan tatapan Slsendu.


Lutut Naina terasa begitu lemas, tubuhnya hampir saja oleng. Untung ada Reno yang sigap menahan pinggangnya. Pria itu menuntun Naina untuk duduk di kursi tunggu.


Mengusap bahu dan mencoba menenangkan sang istri. "Kita berdoa saja sayang! Semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibu," ucap Reno sambil terus menggenggam tangan sang istri.


Dia tahu apa yang dirasakan Naina saat ini pasti sangatlah berat, karena Reno juga pernah ada di posisi Naina, saat Ibunya sakit dan ditemukan jatuh pingsan oleh Karina beberapa minggu yang lalu.


'Ya Allah, apa yang terjadi kepada Ibuku, kenapa harus terjadi kepada ibu mertuaku? Kenapa kau terus menguji kesabaran kami ya Allah?" batin Reno

__ADS_1


Tak lama dokter keluar dan mengabarkan tentang keadaan Bu Linda. Pria yang memakai jas berwarna putih tersebut mengatakan, jika benturan yang ada di kepala Bu Linda cukup keras, sehingga mengakibatkan wanita itu belum tersadar. Namun tidak ada luka dalam.


Dipastikan Bu Linda hanya kelelahan saja, darahnya juga rendah, itu mungkin menyebabkan beliau sampai jatuh pingsan di kamar mandi.


Mendengar hal tersebut, Naina semakin terpukul. Dia semakin merasa bersalah karena telah meninggalkan sang ibu dan tidak tinggal bersamanya.


'Andai saja aku tinggal bersama dengan ibu, pasti hal ini tidak akan terjadi.' batin Naina.


Tak lama Ibu Linda dipindahkan ke rawat ruang inap, dan Naina menemani dia akan menginap di sana. Tidak perduli walaupun Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam.


"Naina, sebaiknya kamu jangan begadang! Lagi pula, Ibumu juga istirahat. Kamu juga harus beristirahat," ujar Bu Nining, "Kalau begitu Ibu dan juga suami Ibu pulang dulu ya. Nak Reno, titip Naina dan juga Bu Linda," ucap Bu Nining menitipkan kedua wanita itu kepada Reno.


Naina hanya mengangguk saja sambil menggenggam tangan sang Ibu, air matanya sejak tadi terus menetes karena melihat keadaan ibunya.


"Baik Bu, saya akan menjaga istri dan juga mertua saya. Ibu tenang saja, Ibu juga dan Bapak hati-hati di jalan ya. Terima kasih sudah membawa ibu mertua saya ke rumah sakit. Maaf jika kami merepotkan," jawab Reno sambil mencium tangan Bu Nining dan juga suaminya.


Setelah itu mereka pun pamit lalu pulang ke rumah.


Reno menatap ke arah Naina, dia melihat sang istri begitu terpukul. Kemudian Reno mendekat lalu mengambil kursi dan duduk di sebelahnya.


"Sayang, kalau ibu melihat kamu terus-menerus menangis seperti ini, apa kamu pikir Ibu tidak akan bersedih? Dokter kan mengatakan, tidak ada luka dalam. Jadi kamu tidak usah khawatir! Kita berdoa saja, semoga Allah memberikan kesembuhan kepada ibu. Kamu tidurlah! Biar aku yang menjaga Ibu," ujar Reno dengan nada yang begitu lembut.


Naina segera menggeleng, "Tidak Mas! Aku tidak mau tidur. Bagaimana mungkin bisa aku terlelap, sedangkan keadaan Ibu seperti ini?" tolak Naina dengan keras.


Reno mengerti perasaan sang istri, kemudian dia pun berkata, "Kesehatanmu juga penting. Kalau kamu sakit, aku akan bersedihm Apa kamu mau melihatku bersedih? Istri itu harus menurut kepada suaminya! Jadi sebagai suami, aku memerintahkanmu untuk istirahat! Tenang saja, aku akan menjaga Ibu. Tidak akan terjadi apa-apa." Reno mengecup kening Naina.


Mendengar itu Naina pun akhirnya menurut, kemudian dia berjalan ke arah sofa dan mulai memejamkan matanya. Awalnya wanita itu tidak benar-benar tertidur, namun pada akhirnya dia terlelap juga.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2