
Happy reading....
"Are you okay, Mayra?" tanya Arga sambil menepuk-nepuk punggung Mayra dengan pelan, lalu memberikan air putih kepadanya.
"Yes, I'm fine," jawab Mayra setelah merasa dirinya lebih baik.
Kemudian tatapan Arga dan Mayra mengarah kepada pria yang saat ini berada di hadapan mereka.
"Mas Gunawan!" kaget Mayra.
"Kamu mengenalnya?" bisik Arga.
Mayra mengangguk, kemudian dia beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangan kepada pria yang ada di hadapannya.
"Apa kabar, Mas?" tanya Mayra.
"Alhamdulillah baik," jawab Gunawan, " Kamu sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah, seperti Mas Gunawan lihat, aku baik-baik saja. Oh ya, Mala mana Mas?" tanya Mayra sambil melihat ke arah belakang Gunawan.
"Mala tidak ikut, sebab aku dan dia sudah berpisah. Oh ya Maira, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu," ucap Gunawan sambil menatap ke arah Arga.
Sedangkan pria itu hanya santai saja sambil memakan makan siangnya, dia tidak memperdulikan kehadiran Gunawan. Karena bagi Arga, itu adalah urusan Mayra dan juga pria tersebut.
"Mayra?" Gunawan menggenggam tangan Mayra, membuat wanita itu sedikit terjingkat kaget. "Aku mau minta maaf sama kamu. Aku tahu mungkin kesalahanku sangat fatal, tapi sungguh Mayra, hati ini hanya untukmu."
Dengan cepat Mayra melepaskan tangannya dari genggaman Gunawan. "Maaf Mas, saya sudah memaafkanmu, tapi pa maksud dari ucapanmu itu? Apa kamu tidak sadar, apa yang kamu ucapkan? Kamu itu sudah mempunyai istri? Kamu sudah menikah dengan Mala, walaupun kamu sudah berpisah darinya, tapi tetap aku tidak bisa kembali kepadamu Mas!" Mayra menjawab dengan nada yang tenang sambil tersenyum ke arah Gunawan.
"Tapi aku masih sangat mencintaimu, Mayra. Aku tahu mungkin selama ini aku salah, kamu mungkin tidak bisa memaafkanku tapi---"
"Maaf Mas. Aku tidak bisa. Aku sudah sangat memaafkanmu, dan aku tidak pernah menaruh dendam kepadamu. Mungkin jika kita bertemu seperti ini, masih bisa bertukar sapa, tapi tidak lebih. Kalau gitu aku mau lanjutin makan dulu ya." Mayra mencoba duduk kembali di samping Arga.
Dan Gunawan yang melihat itu seketika menatap ke arah Arga. "Apakah dia pacarmu?"
__ADS_1
Mayra terdiam, kemudian tiba-tiba saja ide konyol muncul di benaknya, lalu dia mengapit lengan Arga, membuat pria itu menatap Mayra dengan kaget.
"Iya, dia adalah calon suamiku," jawab Mayra sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar Arga. "Jadi aku mohon, jangan pernah menggangguku ya Mas!" pintanya.
Melihat itu semua, Gunawan menjadi lesu. "Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu, semoga kalian bahagia," ujar Gunawan lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Gunawan, Mayra langsung melepaskan tangannya di lengan kekar bosnya tersebut, kemudian dia menatap ke arah Arga dengan tatapan tidak enak. Sedangkan yang ditatap hanya melihat ke arah Mayra dengan tatapan intens.
"Hehehe ... maaf ya Pak kalau saya lancang, sudah mengakui Bapak sebagai calon suami saya. Kepepet soalnya," jelas Mayra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arga mengangkat kedua bahunya, kemudian dia memakan makanannya kembali. "No problem! Saya mengerti kok posisi kamu. Apakah dia mantan kekasihmu?" tanya Arga.
Mayra menggangguk. "Ya, dia mantan kekasih saya," jawab Mayra dengan singkat.
"Apakah dia selingkuh?"
Mendengar pertanyaan dari Arga, Mayra mengangguk, dan Arga paham. Namun dia juga heran kenapa Mayra dengan mudahnya memaafkan pria seperti itu?
"Kenapa kamu mudah sekali memaafkannya? Padahal dia sudah menyakitimu? Kalau aku jadi kamu sih, nggak akan mudah ya untuk memaafkan pria seperti itu," jelas Arga sambil meminum jusnya.
"Imbalan yang sangat berharga? Apa itu?" tanya Arga dengan penasaran.
"Nanti akan saya jelaskan saat berada di dalam mobil, Pak, karena sebentar lagi kan jam istirahat juga sudah habis, tidak enak kalau lama-lama keluar. Nanti saya disangkanya makan gaji buta lagi?" kekeh Mayra.
Arga mengangguk, kemudian tidak ada pembicaraan lagi sampai makanan mereka pun habis. Setelah itu Arga membayar makanan tersebut, lalu mereka pergi untuk menuju kantor.
Saat berada di dalam mobil, Arga menanyakan kepada Mayra tentang ucapan dan imbalan yang dimaksud oleh wanita itu.
"Jadi Bapak pengen tahu, imbalannya?" tanya Mayra dan langsung dibalas anggukan oleh Arga.
"Imbalannya adalah ... jika seseorang mampu memaafkan kesalahan orang lain, mengikhlaskan dan berlapang dada atas segala yang orang lain lakukan kepada dirinya, maka imbalannya adalah surga Seluas Langit Saya ingin mendapatkan itu, Pak. Karena saya sadar, saya ini hanyalah manusia yang penuh dengan dosa, bahkan mungkin dosa saya tidak terhingga. Dan ada beberapa pintu surga yang mampu dibuka, salah satunya dengan memaafkan kesalahan orang lain, dan juga orang yang bersabar. Tapi saya juga tidak termasuk orang sabar. Jadi mungkin dengan memaafkan segala kesalahan orang lain yang pernah menyakiti saya, atau yang pernah menyakiti hati saya, Allah akan membukakan pintu surga Seluas Langit untuk saya," jelas Mayra.
Arga benar-benar dibuat kagum oleh wanita yang berada di sampingnya saat ini. Dia tidak menyangka, jika Mayra memiliki pemikiran yang sangat luas bahkan sangat bijak.
__ADS_1
Padahal selama ini Arga mengenal Mayra tidak seperti itu. Namun, ternyata benar apa yang dikatakan pepatah baik di luar belum tentu baik di dalam baik. Baik di dalam belum tentu baik di luar. Apa yang kita lihat di luar dalamnya belum tentu seperti itu. Begitupun sebaliknya.
'Tidak kusangka, ternyata Mayra sangat dewasa dan sangat bijak dalam pemikiran?' batin Arga penuh kagum.
.
.
Naina sudah sampai di rumah, kemudian dia langsung membersihkan diri lalu tidur siang sampai menunggu adzan Ashar berkumandang, karena Naina benar-benar sangat lelah.
Setelah jam 15.30 sore, Ibu Linda membangunkan Naina. Setelah melaksanakan shalat wajib, Naina ke dapur membantu sang ibu untuk masak makan malam.
Namun, saat dia sampai di dapur, Karina duduk di meja makan dengan wajah yang lesu. "Kakak kenapa?" tanya Naina.
"Kakak ingin es kelapa, tapi mas Dewa dari tadi dibangunin nggak mau bangun-bangun. Kasihan dari siang dia habis nyari mangga muda buat Mbak," jawab Karina.
"Es kelapa muda? Ya udah, kalau gitu Naina pergi cari ya, mumpung ini masih sore juga."
"Kamu serius?" tanya Karina dengan wajah antusias.
"Ya serius lah, Kakak mau pakai apa? Gula putih? Gula aren atau sirup?"
"Pakai sirup saja, terus nanti beliin kelapa mudanya juga ya! Jangan pakai es, beli dua yang masih original. Karena katanya kalau orang hamil harus minum kelapa muda, biar rambut bayi yang ada di dalam kandungannya itu lebat dan hitam," jelas Karina
"Iya kah? Aku baru tahu itu," ujar Naina.
"Iya, apa yang dikatakan ke kamu itu benar. Air kelapa itu bisa melebatkan rambut si cabang bayi. Ya sudah, kalau gitu kamu pergi sekarang gih! Nanti keburu magriban," ujar Bu Linda kepada Naina.
Gadis itu mengangguk, kemudian dia mencium tangan sang Ibu lalu pergi dari rumah untuk mencari es kelapa yang tidak jauh dari tempat mereka tinggal.
Dan setelah sampai, Naina langsung memesan pesanan dari Karina, dan dia menunggu di salah satu kursi sambil memainkan.
Tiba-tiba saja nomor yang mengirimkan foto mesranya bersama dengan Reno pun menelpon, dan dia sangat yakin jika itu nomor Nabila. Akan tetapi Naina heran, untuk apa wanita itu menelponnya? Dan tanpa pikir panjang, Naina pun langsung mengangkatnya.
__ADS_1
Bersambung....