
Happy reading....
Sudah jam 23.00 malam, tapi Arga masih belum pulang. Mayra merasa cemas dia bolak-balik terus menerus di dalam kamar, menunggu suaminya masuk. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang dan menampakkan batang hidungnya.
"Ya ampun! Mas Arga ke mana sih? Kenapa udah jam 23.00 kayak gini belum pulang juga? Aku kan jadi khawatir."
Saat Mayra tengah menunggu suaminya, tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan akhirnya Arga pun masuk dengan wajah yang lesu, karena dia takut jika tidur di sofa. Sebab tidak menemukan makanan yang diminta oleh sang istri.
Saat melihat Arga masuk, tiba-tiba saja Mayra langsung memeluk tubuhnya, membuat Arga terhenyak Karena dia pikir istrinya akan marah.
"Kamu ke mana aja sih, jam 2e.00 baru pulang? Jangan-jangan, kamu habis ketemu sama cewek lain ya!" tuduh Mayra dengan tatapan tajam.
Arga yang dituduh seperti itu pun tidak terima. "Kamu ini bicara apa sih? Jelas-jelas aku keluar bertemu dengan temanku, dan kamu malah meminta makanan yang begitu aneh. Aku mencarinya berkeliling, tapi tidak menemukan. Kamu pikir, aku pulang telat itu karena apa? Karena mencari makanan yang kamu mau!" ujar Arga dengan kesal.
Dia sudah lelah mencari ke sana dan ke sini makanan yang diminta oleh Mayra, namun istrinya malah marah-marah. Pria itu pun langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil menekuk wajah.
"Terus makanannya mana?" pinta Mayra dengan wajah memelas sambil menyodorkan tangannya.
"Ya ampun sayang, my honey, bunny, sweety. Aku kan sudah bilang dari tadi, sudah muter-muter mencari ke sana dan ke sini namun makanan yang kamu pinta tidak ada, sayang. Aku sudah berusaha untuk mencarinya, please! Jangan banting abang, Dek," jawab Arga sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
Wajahnya dibuat se imut mungkin, agar sang istri tidak marah. Xan itu malah membuat Mayra seketika tertawa terbahak-bahak.
"Kok kamu malah ketawa sih?" tanya Arga dengan bingung.
"Habisnya kamu lucu kayak artis sinetron aja. Bang banting Adek, Bang. Memangnya adonan dibanting-banting?" kekeh Mayra. "Ya sudah deh, kalau memang tidak ada. Besok aja amu carinya. Tapi kalau besok masih belum dapet, ya sudah aku nggak mau tidur sama kamu!" ancam Mayra.
Arga yang mendengar itu pun tentu saja sangat senang, karena istrinya tidak jadi marah. Dan besok dia akan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari makanan tersebut, karena Arga tidak mau capek-capek mencari makanan yang entah, dia pun sendiri belum pernah memakannya.
.
.
Pagi hari telah menyapa.
Saat ini Naina sedang bekutat di dapur. Entah kenapa semenjak hamil, dia suka sekali masak. Bahkan makanan tidak membuatnya mual, malah semakin membuatnya doyan makan.
Itu kenapa dalam beberapa hari ini berat badan Naina nambah 3 kilo. Tapi bagi Reno tidak masalah, sebab itu demi kesehatan janin yang berada di dalam perut Naina.
"Sayang, hari ini kita jadi cek kandungan kan ke rumah sakit?" tanya Reno yang tiba-tiba saja datang ke dapur dan memeluk tubuh Naina dari belakang.Padahal di sana ada di Arum namun Reno tidak perduli.
"Aduh Mas! Apaan sih, lepasin ada bi Arum. Malu tahu!"
"No! Aku tidak peduli. Kan kita udah halal. Mau pelukan kek, ciuman kek, mau buat adonan kek, mau ... awh!" ringis Reno saat Naina menginjak kakinya.
"Kalau ngomong disaring dulu, Mas. Jangan menyeplok aja kayak telur!" gerutu Naina sambil melepaskan pelukan pria tersebut.
__ADS_1
Reno merengut dengan kesal, sementara bi Arum terkekeh bersama dengan Bu Linda yang baru saja masuk ke ruang makan.
"Ya ampun! Mata Ibu ternoda nih. Pagi-pagi udah liat yang hangat-hangat aja," ledek Bu Linda pada putri dan juga menantunya tersebut.
"Kalau Ibu perlu yang hangat-hangat, biar Reno buatkan teh ya Bu," ujar Reno.
"Tdak usah. Lebih baik kalian siap-siap saja, nanti jam 08.00 kan mau cek kandungan ke rumah sakit," ujar Bu Linda.
.
.
Naina saat ini sudah berada di rumah sakit, dan dia baru selesai melakukan USG ditemani oleh Reno. Karena sepulang dari rumah sakit mereka juga akan mengantarkan Bu Linda ke rumah, sebab ibunya tidak mau tinggal bersama dengan Naina.
Namun saat mereka sampai di parkiran, tiba-tiba saja bertemu dengan Ivan dan juga Santi.
"Naina! Reno!" kaget Ivan.
Melihat adanya Ivan di sana, Naina sedikit melengos, karena dia masih kesal dengan pria itu yang beberapa waktu lalu masih menyatakan perasaan kepadanya. Padahal Naina sudah menjadi istri orang lain.
"Apa kabar, Kak?" tanya Naina dengan canggung, kemudian dia mencium tangan Bu Santi, "Apa kabar Bu?"
"Alhamdulillah Ibu baik," jawab Bu Santi sambil memeluk Naina. "Kamu apa kabar, sayang? Baik?" tanya Bu Santi, dan Naina langsung menganggukan kepalanya.
"Alhamdulillah, Naina baik Bu. Ibu sama Mas Reno ke sini ada apa? Siapa yang sakit?" tanya Naina.
Naina tersenyum, kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang sakit Bu, Naina sama Mas Reno baru saja cek kandungan," jawabnya.
Bu Santi dan juga Ivan tentu saja sangat kaget, saat mendengar penuturan dari Naina. Apalagi Ivan yang tidak menyangka jika saat ini Naina tengah mengandung anaknya Reno.
"Kamu sedang hamil?" tanya Ivan.
Reno segera mengapit pinggang Naina dengan agresif, karena dia melihat tatapan Ivan yang memancarkan kerinduan.
"Ya, kami sebentar lagi akan memiliki anak. Doakan saja, semoga kandungan Naina sehat. Kalau begitu kami permisi ya, soalnya masih ada keperluan." Arga mengajak Naina masuk ke dalam mobil.
Wanita itu pun pamit kepada Ivan dan juga ibunya, lalu meninggalkan Rumah Sakit. Sementara Ivan menatap lekat ke arah mobil Reno yang semakin menjauh dan keluar dari gerbang rumah sakit.
Tatapannya memancarkan kerinduan, kekecewaan, penyesalan yang begitu dalam. 'Andai saja, Ayah dari anakmu itu adalah aku, Naina.' batin Ivan.
Bu Santi memegang lengan Ivan, menyadarkan lamunan putranya. "Jangan terlalu berharap! Dia sudah bahagia dengan yang lain, kamu juga harus menerima takdirmu saat ini Nak. Mulailah hidup dan juga lembaran yang baru," ujar Bu Santi sambil mengusap bahu putranya dengan lembut.
Dia tahu jika Ivan menyesal karena telah mencampakan Naina dan meninggalkannya. Namun penyesalan hanyalah tinggal sebuah penyesalan, tidak bisa untuk diulang kembali.
.
__ADS_1
.
"Sayang, kamu yakin mau ikut aku ke kantor?" tanya Arga yang saat ini masih berada di rumah.
Mayra menganggukkan kepalanya. Dia memang berencana hari ini akan ikut Arga ke kantor, karen entah kenapa dia merasa bosan di rumah, dan ingin bertemu dengan teman-teman lamanya yang masih bekerja di kantor suaminya.
"Kenapa? Nggak boleh? Atau jangan-jangan, kamu punya selingkuhan ya di kantor? Hayo!" tunjuk Mayra dengan tatapan tajam ke arah Arga.
.endengar itu Arga memutar bola matanya dengan malas. Entah kenapa, semenjak Mayra hamil pikirannya selalu saja sensitif, menuduh Arga yang tidak-tidak. Padahal dulu sebelum Mayra hamil, wanita itu tidak pernah berkata dan menuduh apapun.
"Kamu itu bisa nggak sih, nggak usah nuduh aku yang macam-macam sayang! Buat apa aku punya selingkuhan? Jangan aneh-aneh deh. Aku cuma nggak mau kamu kecapean, tapi kalau kamu memang ngotot mau ikut, ya ayo! Aku nggak akan melarang. Silakan nanti kamu cek di kantor aku, tanyain ke semua karyawanku, apa aku selingkuh atau tidak!" kesal Arga sambil memakai jasnya.
Kemudian dia meninggalkan Mayra menuju lantai bawah. Pria itu benar-benar sangat kesal, karena terus menerus dituduh selingkuh bersama dengan wanita lain. Padahal kenyataannya Arga bekerja, dan tidak pernah bermain dengan wanita.
Mayra melihat kekesalan suaminya pun menjadi tak enak, kemudian dia menyusul Arga ke lantai bawah. "Sayang, kok kamu ninggalin aku sih!" teriak Mayra.
"Ya habisnya kamu nyebelin, nuduh aku selingkuh terus! Kamu ingat enggak, ucapan itu adalah doa. Jangan sampai ucapan kamu menjadi doa, karena ucapan istri itu pasti akan diijabah sama Allah. Jadi berkata yang baik-baik sayang, kamu lagi hamil. Aku tahu sangat sensitif, tapi untuk hal seperti itu mboknya dipikir dulu," ujar Arga menasehati sang istri.
Mayra merasa bersalah karena telah menuduh Arga yang tidak-tidak. "Iya maaf. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak tahu kenapa aku berkata seperti itu? Aku hanya takut jika kamu akan selingkuh, karena pasti badanku akan gemuk dan tidak langsing seperti dulu lagi." Mayra memanyunkan bibirnya.
Arga yang mendengar hal itu pun segera menangkup kedua pipi Mayra, agar menatap ke arah dirinya.
"Aku mencintaimu tulus, bukan karena fisik. Fisik itu memang penting, tapi lama-lama fisik juga akan menua, dan tidak akan bertahan lama. Yang penting cinta aku tulus sama kamu, itu yang perlu kamu ingat. Sudah, kita ke kantor sekarang yuk! Jangan pernah berpikiran yang tidak-tidak, oke." ajak Arga.
Mayra menganggukkan kepalanya dengan semangat, kemudian mereka berpamitan kepada kedua orang tua Arga untuk berangkat ke kantor.
Dan selama di dalam mobil, Mayra mendengarkan lagu Korea kesukaannya dari band favoritnya. Sedangkan Arga hanya diam saja, sebab dia tidak mengerti dengan lagu tersebut, karena dia memang tidak menyukai artis-artis Korea.
Sesampainya di kantor, Arga langsung masuk ke dalam ruangan, sementara Mayra menyapa teman-temannya yang berada di kantor itu, karena dia begitu merindukan mereka.
Setelah bertemu dengan teman-temannya, dan merasa puas, Mayra pun masuk ke dalam ruangan suaminya kemudian dia duduk di sofa.
"Loh! Kamu mau ke mana, sayang?" tanya Mayra saat melihat Arga bangkit dari duduknya.
"Aku ada meeting sebentar. Paling setengah jam-an. Kamu di sini dulu nggak papa kan? Oh iya, makanan yang kamu mau juga aku suruh anak buahku untuk mencarinya, semoga mereka menemukannya. Tidak apa-apa kan aku tinggal dulu?"
"Tidak apa-apa, asal jangan lama."
"Kalau kamu bosen, kamu bisa samperin aku di ruang meeting ya sayang," ucap Arga. Kemudian dia mengecup kening Mayra dengan lembut, lalu keluar dari ruangan tersebut.
Sepeninggal Arga, Mayra berjalan mengelilingi ruangan tersebut, melihat-lihat barang-barang milik suaminya. Kemudian dia duduk di kursi kebesaran yang biasa diduduki oleh Arga.
"Ternyata enak juga ya, jadi istri bos?" kekeh Mayra
Dia melihat ada kertas berwarna coklat yang menyembul dari laci di meja suaminya. "Itu berkas apaan ya?" gumam Mayra dengan heran, kemudian tangannya terulur untuk membuka laci tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....