Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Candaan Mayra dan Arga


__ADS_3

Happy reading.....


Naina pindah ke tempat lain mencari baju yang tidak sempat dia temukan. Berurusan dengan Rere, hati dan juga pikirannya telah lelah, jika harus bertemu dengan wanita seperti itu.


Padahal Naina sudah mengikhlaskan Ivan. Bahkan dia tidak pernah memikirkan pria itu lagi. Akan tetapi, entah kenapa Rere seperti mempunyai dendam kesumat kepadanya? Seakan setiap bertemu dengan Naina, wanita itu tidak pernah menyukainya.


Naina fikir, mungkin saja Rere itu jelmaannya Nenek Lampir, yang doyan sekali mengusik kehidupan dan juga ketenangan orang lain.


Setelah selesai berbelanja, Naina mampir ke satu tempat mengisi perutnya, karena jam juga sudah menunjukkan pukul 11.30 siang.


.


.


Sedangkan di tempat lain, Mayra baru saja beristirahat dan rencananya dia akan makan siang di luar. Wanita itu pun sudah bersiap dan saat keluar dari kantor tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Eh, Pak Arga?" sapa Mayra, "Mau makan siang juga, Pak?" tanyanya.


"Iya nih, tapi belum tahu mau ke mana. Kamu sendiri mau makan siang di luar?" tanya Arga sambil melirik ke arah Mayra.


"Iya Pak, kebetulan tak jauh dari sini ada cafe yang baru saja buka. Jadi saya mau nyobain ke sana, siapa tahu ada diskonan." Mayra terkekeh kecil.


Karena menurut Mayra diskon itu sangatlah penting untuk menunjang isi dompetnya, apalagi tanggal gajian masih lumayan jauh.


"Dasar kamu. Nyari diskonan terus? Sekali-kali beli yang branded." ledek Arga sambil terkekeh kecil.


"Yah ... bukannya tidak mau Pak. Tapi memang dompet saya harus dikondisikan. Ya sudah Bapak mau ikut saya atau gimana?" tanya Mayra.


"Boleh. Saya juga mau nyobain," jawaban Arga.


Kemudian mereka berdua pun berjalan menuju mobil, lalu melaju meninggalkan kantor menuju cafe yang tak jauh dari tempat itu.


Selama di dalam mobil, Mayra tidak banyak bicara. Dia melihat ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Naina. Karena wanita itu mengirim pesan kepadanya bahwa dia akan mencari baju untuk acara lamarannya nanti.

__ADS_1


Mayra.


(Gimana Nai? Lo dah nemu belum bajunya?).


Naina.


(Udah nih, sebentar gue kirim fotonya!).


Kemudian Naina pun mengirimkan sebuah foto baju yang tadi dia beli, dan langsung dibuka oleh Mayra. Wanita itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya kecil.


Naina.


(Gimana menurut lo? Bagus nggak?)


Mayra.


(Bagus kok, cocok).


"Kamu lagi chat-an sama siapa? Pacar kamu ya, sampai senyum-senyum begitu?" ledek Arga.


Mendengar ucapan bosnya, Mayra kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Tidak Pak! Pacar dari mana? Saya ini Jomblo ngenes, nggak ada yang mau sama saya, Pak," jawab Mayra sambil terkekeh.


"Kamu kok jadi jomblo seneng sih? Biasanya kalau cewek jadi jomblo itu sedih?"


"Ya ... sejujurnya saya juga sedih Pak, cuma ya mau gimana lagi? Emang udah pada dasarnya harusnya jomblo. Tapi saya percaya kok, setiap manusia itu diciptakan berpasang-pasangan. Dan mungkin saja, jodoh saya sedang otw? Atau mungkin, yang ada di sebelah saya?" goda Mayra sambil mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu mereka berdua ketawa bersama.


"Kalau saya jadi Jodoh kamu, beruntung sekali ya?" timpal Arga sambil menjawab godaan dari Mayra.


"Oh iya, ngomong-ngomong, gimana sama Naina? Apa dia jadi menikah dengan Reno?" tanya Arga setelah mereka beberapa saat terdiam.


"Iya Pak, jadi. Gimana? Apa Bapak bisa melupakan Naina?" tanya Mayra yang sudah tahu jika Arga selama ini menyukai Naina.


Mendengar pertanyaan dari Mayra, Arga terdiam. Bohong jika dia sudah melupakan cintanya kepada Naina. Bohong jika di hatinya, wanita itu telah terhapus. Bohong jika saat ini Arga telah melupakan kenangan bersama Naina.

__ADS_1


Rasa cinta, sayang, kenangan, masih tersimpan jelas di hati dan juga pikiran Arga. Walaupun sudah susah payah dia melupakannya, akan tetapi tetap saja, tidak semudah membalikan telapak tangan.


"Belum, tapi aku lagi berusaha. Tidak mudah untuk melupakan sesuatu yang pernah berarti dalam hidup kita. Walaupun dari dulu Naina tidak pernah mencintaiku," jawab Arga dengan tatapan sendu menatap lurus ke arah depan.


Mayra yang mendengar itu pun merasa tak enak, kemudian dia menggenggam tangan Arga, membuat pria itu seketika menoleh ke arahnya.


"Hangan bersedih Pak! Saya yakin kok, Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk Bapak yang menurut kita. Baik belum tentu baik, dan yang menurut kita buruk belum tentu juga buruk," ujar Mayra sambil tersenyum manis.


"Maksudnya?"


"Maksud saya, yang menurut Bapak baik, yaitu Naina jodoh Bapak, belum tentu itu yang terbaik. Bisa saja mungkin, jika Bapak memaksakan, siapa tahu di tengah rumah tangga Bapak dan Naina kalian berpisah? Tapi yang menurut Bapak buruk, yaitu dengan berpisah dengan Naina, dan tidak diterima cintanya, belum tentu di mata Allah itu buruk. Siapa tahu itu adalah jalan yang terbaik," jelas Mayra.


"Kenapa bisa seperti itu?"


Mayra mengangkat kedua bahunya. "Saya hanya sering mendengarkan ceramah dari ustaz-ustaz. Tapi tidak lupa, saya juga menerapkan dalam kehidupan nyata. Dan memang benar, Bapak tahu nggak? Dulu saya waktu 3 tahun yang lalu ngotot banget ingin berlibur ke Pantai Anyer, yang ada di kota Jawa Barat. Dan waktu itu, tiba-tiba saja Ibu saya nelpon, bahwa beliau lagi sakit. Saya pikir itu adalah sakit biasa, saya ngotot tetap ingin ke sana. Tapi kemudian saat saya akan berangkat, tiba-tiba kakak saya menelpon lagi, mengatakan jika Ibu merindukan saya. Akhirnya mau tidak mau, saya pun pulang ke rumah. Dan Bapak tahu, besoknya saya melihat berita di TV, jika di pantai tersebut ada tsunami dan mengakibatkan beberapa banyak korban. Dari situ saya berpikir, mungkin saja yang terbaik di mata kita belum tentu yang terbaik di mata Allah. Sebaliknya pun begitu. Jadi jika kita merencanakan sesuatu, tapi tiba-tiba ada halangan, kita harus berpikir positif jangan suuzon, tapi husnudzon dengan kehendak dan juga takdir Allah!"


Mendengar penuturan Mayra, Arga terdiam. Dia meresapi kata-kata dari wanita yang berada di sampingnya. Tidak pernah Arga sangka, jika Mayra memiliki pemikiran yang dewasa. Bahkan selalu melihat sesuatu hal dari segi yang positif.


Padahal jika di kantor, Mayra terkenal pecicilan apalagi saat masih ada Naina di sana..Tapi Arga tidak menyangka jika dibalik sifat pecicilannya Mayra, ternyata wanita itu mempunyai sifat yang begitu dewasa.


"Wah, ternyata kamu begitu dewasa ya? Tidak kusangka pemikiranmu ternyata sangat luas?" puji Arga sambil menoleh ke arah Mayra.


"Bapak bisa saja. Tidak juga sih, saya hanya menerapkan apa yang saya dengar saja dari ustadz-ustaz, dan apa yang mereka jelaskan dalam Islam itu memang benar."


Mendengar penjelasan dari Mayra, hati Arga sedikit terbuka karena apa yang dikatakan Mayra memang ada benarnya. Kita manusia hanya bisa berencana tapi Allah lah yang menentukan.


Arga bertekad jika dia akan mengikhlaskan semuanya. Dia tidak akan bergantung kepada manusia begitupun dengan hatinya.


Hingga tidak terasa mobil pun telah sampai di Cafe, dan mereka langsung masuk lalu memesan makanan.


Akan tetapi, saat Mayra dan juga Arga sedang makan, tiba-tiba saja ada seseorang yang sedang menyapa Mayra, hingga membuat wanita itu tersedak makanannya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2