
Happy reading...
Malam yang ditunggu pun telah tiba.
Saat ini Reno, Naina, Ibu Linda, Ibu Sumarni, Karina dan juga Dewa sedang berada di jalan untuk menuju sebuah restoran yang sudah di booking oleh Reno.
Mereka menggunakan dua mobil, karena tidak mungkin semua dalam satu mobil sebab tidak cukup.
Di dalam mobil Ibu Linda terus saja menanyakan kepada Reno, begitupun dengan Bu Sumarni. m
Mereka begitu penasaran ada acara apa, sehingga Reno mengundang mereka untuk makan malam, bahkan jauh-jauh mendatangkan Bu Sumarni dari Jogjakarta.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Reno hanya ingin kita kita berkumpul saja, dan lagi Reno mempunyai hadiah yang begitu spesial untuk kalian semua," ujar Reno.
"Hadiah apa itu, Nak?" tanya Bu Sumarni dengan penasaran.
"Nanti Ibu juga akan tahu. Namanya bukan surprise dong, kalau diucapkan dari awal," jawab Reno sambil tersenyum dan menatap kedua ibu yang berada di belakang.
Sesampainya di restoran,mereka langsung masuk dan menuju meja yang sudah dibooking oleh Reno. Dan setelah mereka duduk para pelayan membawakan minuman serta makanan yang sudah dipesan.
"Wah! Makanannya enak-enak sekali. Ini pasti mahal. Kamu ada acara apa sih, Nak? Sampai harus memesan makanan sebanyak ini, dan semewah ini?" tanya Bu Linda yang masih penasaran dengan tujuan Reno.
"Kita makan dulu yuk! Baru nanti surprise-nya di belakang," jawab Reno.
Bu Linda dan juga Bu Sumarni pun hanya menghela nafas, walaupun mereka sangat penasaran dengan apa yang akan Reno hadiahkan, namun mereka harus menahannya dulu untuk beberapa saat.
"Asli sih, bukan hanya Ibu aja yang penasaran. Aku dan Karina juga penasaran. Kali ini kau sukses membuat kami ingin tahu. Untung saja kami tidak mati berdiri."
Kemudian mereka pun bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Naina melihat ke semua keluarganya, rasanya begitu hangat saat melihat senyuman yang terpantri di wajah mereka.
Kebahagiaan yang lengkap adalah saat semua keluarga berkumpul, bercerita, berbagi rasa dan tersenyum. Itu adalah kebahagiaan yang tiada tara, karena rasa bahagia itu mengalahkan dari apapun.
'Terima kasih ya Allah. Engkau sudah memberikanku keluarga yang sehat walafiat, semoga kami masih terus bisa berkumpul seperti ini. Jagalah ibu dan juga ibu mertuaku! Lindungilah selalu mereka di bawah perlindunganMu!' batin Naina.
Setelah makan malam selesai, Bu Linda pun berkata, "Reno, Naina, mana hadiahnya? Katanya kalian akan memberikan surprise kepada kami?" tagih Bu Linda.
"Setuju! Mana Dek?" Timpal Karina.
Reno yang mendengar itu pun tersenyum, kemudian dia melirik ke arah istrinya, lalu Naina mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang ukurannya segenggaman tangan, kemudian dia menaruhnya di tengah meja.
"Ini hadiah yang aku dan juga Mas Reno akan berikan kepada kalian. Dan aku berharap, kalian akan menyukainya," ujar Naina sambil tersenyum dan menatap penuh cinta ke arah Reno.
Semua orang yang ada di sana melirik satu sama lain. Mereka begitu penasaran dengan hadiah yang Naina berikan, kemudian Bu Linda mengambil kotak tersebut, dan secara perlahan dia mulai membukanya. Namun, sebelum itu dia melirik ke arah Dewa karena dan juga Bu Sumarni.
"Ayo Bu, dibuka! Karina sudah tidak sabar, hadiah apa yang diberikan oleh Naina dan juga Reno. Tapi kenapa kotaknya kecil sekali? Atau jangan-jangan, isinya kunci mobil?" kekeh Karina.
__ADS_1
"Iya Kak, benar kunci mobil. Mobil-mobilan," jawab Naina sambil tertawa kecil disusul oleh tawa kelima orang yang ada di sana.
"Bismillah," ucap Bu Linda saat akan membuka kotak tersebut.
Dengan gerakan perlahan dan dada yang berdebar, Bu Linda mengambil kotak itu. Dan di sana terdapat sebuah kain, dan di dalamnya ada sebuah benda yang dililit oleh kain tersebut.
Kemudian Bu Linda mengambil kain itu, lalu membukanya secara perlahan. Seketika empat pasang mata yang berada di sana terkejut, syok, membulat dengan tatapan berbinar, saat melihat benda yang berada di tangan Bu Linda.
Kemudian mereka menatap ke arah Naina dan juga Reno yang kini tengah tersenyum bahagia.
"Dek! Kamu hamil?" tanya Karina dengan senang.
Naina menganggukkan kepalanya, "Iya Kak, aku baru tespek tadi pagi. Maaf ya! Aku sengaja tidak memberitahu Kakak ataupun Ibu, karena aku ingin memberikan surprise kepada kalian semua. Itu kenapa Ibu Sumarni datang ke sini," jawab Naina sambil menyandarkan kepalanya di bahu Reno.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kamu hamil juga Nak," ujar Bu Sumarni dengan raut wajah yang begitu senang dan juga terharu.
Kemudian dia berjalan ke arah Naina, lalu memeluk tubuh sang menantu. "Terima kasih ya Nak, ibu sangat senang sekali akhirnya kamu dan juga Reno akan memiliki keturunan. Dan sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Doa ibu selalu menyertai kamu, semoga kamu dan juga kandunganmu selalu dilimpahkan kesehatan dan keberkahan."
"Aamiiin! Terima kasih Bu, doanya."
Bu Linda menggenggam tangan Naina, "Selamat ya sayang! Ibu sangat bahagia sekali, walaupun kalian membohongi ibu, tapi nggak papa ibu senang banget. Akhirnya sebentar lagi Ibu dan juga Bu Sumarni akan menimang cucu dari kalian, begitu pula dari Karina. Jadi kami akan memiliki dua cucu." Bu Linda melirik ke arah Bu Sumarni Kemudian mereka pun berpelukan.
Naina begitu sangat bahagia melihat bagaimana keakraban antara ibunya dan juga Ibu mertuanya. Biasanya kedua besan akan saling berselisih, tapi keluarga Naina alhamdulillahnya tidak pernah ada kesalahpahaman.
.
.
Saat ini Mayra sedang membolak-balik badannya, guling kanan guling kiri, seperti tidak enak dalam tidur, dan itu membuat harga sedikit terganggu.
"Sayang, kamu kenapa sih? Ini sudah jam 02.00, kenapa belum tidur?" tanya Reno sambil bangkit dan menyederkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Kemudian Mayra menyalakan lampu di kamarnya. "Aku tidak tahu Mas, rasanya aku tidak bisa tidur. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menginginkan es krim!" pinta Mayra.
"Hah! Es krim? Sayang, Ini sudah malam, jangan makan es krim nanti kamu pilek loh!" ujar Arga sambil menggelengkan kepalanya, karena merasa heran dengan permintaan sang istri.
Di tengah pagi buta seperti itu, tiba-tiba saja Mayra meminta es krim. Dan dia tidak bisa tidur hanya karena tidak memakan es krim, benar-benar konyol pikir Arga.
"Aku serius sayang. Aku tidak bisa tidur. Aku juga tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja aku menginginkan es krim. Temenin aku yuk ke bawah! Aku pengen makan es krim!" pinta Mayra dengan sedikit merengek.
Mau tidak mau Arga pun bangkit dari tidurnya, kemudian dia berjalan menemani sang istri dengan langkah yang gontai menuju lantai bawah, di mana dapur berada.
Sampai di sana Arga langsung duduk di kursi meja makan, dan langsung kembali menyandarkan kepalanya di meja, karena dia masih sangat mengantuk berat.
Mayra langsung membuka kulkas, namun seketika raut wajahnya menjadi sedih saat mendapatkan tidak ada es krim di freezer.
__ADS_1
Kemudian dia berjalan ke arah Arga dan duduk dengan wajah yang sedih. Arga yang melihat istrinya termenung pun merasa heran.
"Kenapa sayang? Apa es krimnya ada? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Arga dengan tatapan mengantuk, bahkan bibirnya menguap beberapa kali.
"Nggak ada, habis," jawab Mayra yang sudah mau menangis. "Kita cari keluar yuk, Mas! Aku mau es krim!" pinta Mayra.
Seketika Arga melongo, dia menatap sang istri dengan tatapan yang terkejut. "Jam segini? Di pagi buta!" kaget Arga, kemudian tubuhnya lemas kembali di atas meja.
"Kamu nggak mau ya beliin aku es krim?" Mayra mulai meneteskan air matanya, dan Arga yang melihat itu pun menjadi kelimpungan.
"Honey, come on! Ini masih jam 02.00 dini hari. Kenapa kamu minta es krim? Ayolah sayang! Apa tidak ada yang lain? Kenapa harus es krim?" tanya Arga yang sedikit protes karena sudah pasti di luar sangat dingin dan dia pun sangat malas.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau membelikanku es krim. Aku mau beli sendiri." Kemudian Mayra berjalan mengambil kunci motor, dan Arga yang melihat itu pun segera mengambil kunci tersebut di tangan sang istri.
"Oke! Oke. Kita akan beli es krim sekarang! Tunggu, aku ambil kunci mobil dulu," ujar Arga, kemudian dia mengambil kunci mobil di lemari, lalu mereka berjalan ke arah teras masuk ke dalam mobil.
Mayra terlihat begitu senang, dia seperti anak kecil yang baru saja dibujuk untuk membeli sebuah mainan yang ia suka. Dan Arga yang melihat itu pun merasa heran.
'Ada apa dengan istriku? Kenapa dia terlihat aneh sekali? Masa dibelikan es krim saja senangnya sudah kayak dikasih duit ratusan juta?' batin Arga.
Selama di perjalanan, Mayra terlihat begitu senang. Dia menengok kanan dan kiri mencari supermarket yang buka 24 jam, namun setelah setengah jam mereka berkeliling tidak menemukan adanya supermarket yang buka di dini hari seperti itu.
"Sayang, kita sudah muter-muter selama setengah jam. Tapi tidak ada supermarket yang buka, kita pulang saja ya!" ucap Arga saat memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Nggak mau! Pokoknya aku mau es krim. Kalau kamu nggak mau nyariin aku es krim, ya udah, aku bisa cari sendiri." Mayra merajuk, membuat Arga seketika mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Sang istri, permintaannya begitu aneh bagi Arga, karena tidak biasanya Mayra meminta hal seperti itu di pagi buta.
"Sayang, tapi ini sudah hampir jam 03.00 pagi?" Arga mencoba untuk membujuk sang istri.
Namun Mayra tetep kekeh, kalau dia menginginkan es krim. Dan mau tidak mau Arga pun melajukan mobilnya kembali mencari supermarket yang bukan 24 jam.
Setelah berkeliling, akhirnya Arga menemukan supermarket yang buka, kemudian dia dan juga Mayra langsung masuk ke dalam. Dan di sana Mayra memborong beberapa merek es krim untuk dia stok di freezer.
"Sekarang kamu sudah senang?" tanya Arga saat berada di dalam mobil.
"Senang dong! Makasih ya sayang, kamu mau?" Mayra menyodorkan es krimnya ke arah mulut Arga, namun pria itu langsung menggeleng.
"No! Ini masih pagi, aku bisa pilek. Sudah kita pulang sekarang ya!" ujar Arga dan Mayra langsung menganggukan kepalanya dengan semangat.
Arga menghela nafas dengan kasar benar-benar merasa heran dengan sikap sang istri yang begitu aneh hari ini.
'Apa istriku kesambet ya? Atau dia ketempelan? Kenapa tingkahnya aneh sekali, seperti anak kecil saja?' batin Arga.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1