
Happy reading.....
Sesampainya Nina di Jogja, dia langsung masuk ke dalam kontrakan dan beristirahat, karena jam juga sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.
Harusnya mereka sampai tadi sore,akan tetapi, jalanan terlalu macet ditambah ada kecelakaan di tol. Jadi mengakibatkan perjalanan mereka terhambat, karena yang tadinya harus lurus malah di belokan oleh pak Polisi.
Tapi sebelum Naina memejamkan matanya, dia mengirimkan pesan kepada Reno bahwa dirinya sudah sampai.
TING!
Sebuah pesan masuk, akan tetapi Naina sudah terlelap dalam tidurnya.
"Apa Naina sudah tidur ya?" gumam Reno yang berada di sebelah kontrakan Karina. "Mungkin saja memang dia sudah tertidur. Padahal baru 1 menit yang lalu dia mengirimkan pesan kepadaku," ujar Reno sambil menggelengkan kepalanya.
.
.
Pagi telah menyongsong, matahari juga sudah terbit. Kali ini Naina tidak joging sebab tubuhnya masih terasa lelah. Dia mencuci muka dan menggosok gigi, kemudian memakai jaket sebab sangat dingin karena langit juga sedang mendung dan mulai memasuki musim hujan.
"Sayang?" panggil Reno yang baru saja keluar dari kontrakannya.
"Mas Reno."
"Kamu mau ke mana?" tanya Reno.
"Ini Mas, aku mau nyari bubur ayam buat Mbak Karina, sekalian buat aku juga," jawab Naina sambil tersenyum manis ke arah calon suaminya.
"Ya udah, kalau gitu bareng yuk! Aku juga mau cari sarapan nih," ajak Reno. Kemudian dia menutup pintu kontrakannya lalu mereka pun berjalan untuk mencari sarapan, di mana para pedagang kaki lima berada yang tak jauh dari kontrakan mereka.
"Oh iya, semalam kamu sudah tidur ya? Padahal baru 1 menit yang lalu kamu mengirimkan pesan, tapi sepertinya sudah tepar?" kekeh Reno.
__ADS_1
"Hehehe ... maaf Mas, soalnya semalam lelah banget. Jalanan lumayan panjang, jadinya aku langsung tidur deh," jawab Naina.
"Iya nggak papa, Mas ngerti kok." kata Reno sambil mengusap kepala Naina dengan lembut.
Kemudian mereka berjalan dan tidak ada obrolan lagi. Hingga ponsel Naina berdenting dan saat dilihat lagi-lagi pesan misterius dengan bunyi ancaman.
Melihat itu Naina menghela nafasnya dengan kasar. Padahal dia sudah memblok nomor tersebut, akan tetapi ada lagi nomor baru, baru dan baru lagi, yang terus bermunculan.
Reno melihat kecemasan di wajah calon istrinya, kemudian dia pun bertanya, "Ada apa sayang? Kenapa wajah kamu menjadi tegang seperti itu?"
Naina menggeleng, "Tidak apa-apa, Mas," bohong Naina. Kemudian memasukkan ponselnya kembali ke dalam jaket.
Dia tidak ingin bercerita kepada Reno, karena menurut Naina ancaman itu tidak penting, ditambah dia juga tidak mau membuat Reno cemas.
Setelah sampai di gerobak tukang bubur ayam, Naina segera memesan dua bungkus. Namun lagi-lagi ponselnya berbunyi, dan saat dilihat ternyata dari peneror itu lagi.
Reno terdiam saat melihat kekhawatiran dari wajah calon istrinya.
Mendengar pertanyaan dari calon suaminya, Naina menggeleng. "Nggak apa-apa kok Mas," bohong Naina, akan tetapi Reno tidak percaya.
Dia segera merebut ponselnya Naina, lalu mengecek pesan itu. Seketika matanya terbelalak kaget, lalu kembali mengecek nomor yang lain di mana ada 4 Nomor baru yang mengirimkan ancaman, bahkan mengirimkan beberapa foto yang terbilang sangat menjijikan.
"Kamu diancam? Kenapa selama ini tidak pernah bercerita kepadaku!" kaget Reno sambil menatap ke arah Naina butuh penjelasan
"Maaf Mas, bukannya aku tidak mau cerita. Hanya saja, aku tidak ingin membuatmu khawatir. Lagi pula, itu hanyalah sebuah ancaman, dan aku yakin kok dia tidak berani melakukannya," jawab Naina sambil tersenyum.
Reno yang mendengar itu pun menepuk jidatnya. "Astaga sayang! Kamu jangan pernah menyepelekan ancaman seperti ini! Kalau sampai dia nekat berbuat yang tidak-tidak bagaimana? Lagi pula, dia sudah berani mengancam kamu seperti ini, sudah pasti dia akan mencelakaimu? Jadi jangan pernah anggap sepele hal macam ini, oke!" jelas Reno, kemudian dia menyalin dan juga men-screenshot pesan tersebut lalu mengirim ke ponsel miliknya.
"Kamu tahu siapa oeneror itu?" tanya Reno sambil menatap ke arah Naina dengan tatapan menyipit.
Naina mengangkat kedua bahunya, sejujurnya dia tidak tahu siapa peneror itu. Hanya saja, perkiraan Naina jika peneror itu adalah Nabila. Sebab sebelum wanita itu pergi dari rumah Naina yang berada di Jakarta, Nabila pernah mengancam jika tidak akan pernah membiarkan mereka berdua bahagia.
__ADS_1
"Entahlah Mas, aku pun tidak tahu. Tapi perkiraanku peneror itu adalah Nabila. Sebab aku tidak pernah mempunyai musuh, dan sntah kenapa memang pikiranku ke sana," jawab Naina sambil menghela nafasnya dengan berat.
Reno menggenggam tangan Naina, membuat wanita itu menoleh ke arahnya. "Kamu tenang aja ya Sayang, aku akan mengurus masalah ini. Dan kupastikan tidak akan terjadi apa-apa sama kamu. Aku juga akan menyelidiki tentang dia. Jadi tidak usah khawatir," ujar Reno.
Naina mengangguk, dia begitu beruntung memiliki calon suami seperti Reno yang mau melindunginya dan mencintainya dengan tulus.
Setelah pesanan mereka siap, Reno dan Naina pun pulang. Tapi hari ini mereka tidak berangkat ke cafe, lebih tepatnya Naina yang tidak berangkat, sebab Reno tidak mengizinkan calon istrinya kelelahan. Dia tahu perjalanan kemarin membuat Naina kecapean.
.
.
Sedangkan di tempat lain Arga tengah mengendarai mobilnya untuk berangkat ke kantor, namun di tengah jalan dia melihat seseorang yang sedang berjongkok di depan motornya, dan dia sangat yakin jika itu adalah Mayra.
Kemudian Arga menepikan mobilnya, lalu dia turun dan menghampiri Mayra.
"Mayra, motor kamu kenapa?" tanya Arga saat sudah berada di samping wanita itu.
"Pak Arga!" kaget Mayra, "Ini Pak, motor saya mogok. Nggak tahu kenapa? Padahal beberapa minggu yang lalu baru diservis." Maira mamayunkan bibirnya. "Sepertinya memang saya harus naik taksi. Ini udah menghubungi bengkel sih, tapi nggak diangkat-angkat."
"Ya sudah, kalau gitu kamu bareng saya aja! Motornya biar diambil sama orang bengkel saya, gimana? Daripada kamu telat ke kantor?" ajak Arga.
Mayra terdiam sejenak, kemudian dia pun mengangguk menyetujui ucapan Reno, karena Mahra tidak ingin jika dia sampai terlambat masuk ke kantor.
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil melaju meninggalkan tempat tersebut, tidak lupa Arga juga menelpon orang-orang bengkelnya untuk membawa motor Mayra.
"Makasih ya Pak, atas tumpangannya," ucap Mayra saat mereka sampai di kantor.
"Sama-sama, enggak usah sungkan lagi. Yuk masuk!" ajak Arga.
Semua mata karyawan memandang ke arah Mayra dan juga Arga. Mereka merasa heran, kenapa bisa Mayra turun dari mobil Bosnya? Apalagi terlihat jika mereka sangat dekat. Kemudian terjadi kasak kusuk dari para karyawan, jika Mayra dan Arga sudah jadian.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....