
Happy reading.....
Reno mengikuti langkah orang tersebut, hingga mereka duduk di salah satu meja yang ada di pojok, kemudian Reno menatap ke arahnya.
"Ada apa? Apa yang perlu kau bicarakan denganku?" tanya Reno dengan nada dingin.
"Ini soal Naina," ucap pria yang ada di hadapan Reno.
Mendengar nama Naina, Reno tersenyum tipis. "Kenapa? Ada apa dengan calon istriku? Apa kau masih belum jelas dengan pengakuan kami semalam? Apa masih belum diterima oleh hatimu?" ujar Reno kembali.
Mendengar penuturan Reno, pria tersebut menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia adalah Arga. Tadi Arga tidak sengaja bertemu dengan Reno, karena dia habis mengisi perutnya di cafe tersebut.
"Aku hanya ingin berpesan kepadamu, jagalah Naina! Jangan pernah menyakitinya, seperti apa yang mantannya lakukan! Karena jika kau berani menyakiti Naina satu kali saja, maka aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu secara paksa!" ancam Arga dengan tatapan tajam ke arah Reno.
Pria itu malah terkekeh saat mendengar ucapan Arga, kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke arah pria tersebut.
"Kau tidak usah takut. Aku mencintai Naina tulus apa adanya, bukan karena dia cantik ataupun karena tubuhnya. Bukan karena dari fisiknya, tapi hatinya. Itu yang membuatku jatuh cinta kepada Naina. Dan aku tidak akan pernah menyakitinya! Karena aku tahu rasanya disakiti, diselingkuhi itu seperti apa? Jadi kau tidak usah khawatir!" jelas Reno sambil menunjuk dada Arga.
"Aku senang, Naina mendapatkan pria sepertimu. Setidaknya dia bisa bahagia, tapi Naina tidak akan pernah bisa kulupakan sampai kapanpun. Walaupun mungkin nanti aku sudah memiliki istri, atau berlabuh pada wanita lain, tapi Naina tetaplah menjadi orang yang spesial di dalam hatiku," jelas Arga, kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Semoga kalian bahagia. Aku berdoa, semoga Naina selalu bahagia hidup bersamamu. Dan kau harus selalu membahagiakannya!" Setelah mengatakan itu, Arga menepuk pundak Reno lalu dia pergi meninggalkan cafe tersebut dengan hati yang hancur.
Arga tidak ingin egois, memaksakan kehendak nafsu dan juga egonya untuk memiliki Naina. Dia tidak ingin wanita yang dicintainya menderita, hanya karena ego semata.
Ada pepatah yang mengatakan, Mencintai tidak harus memiliki, dan itu yang dilakukan oleh Arga. Dia mencintai Naina, namun tidak bisa memilikinya. Karena hati Naina telah berlabuh kepada pria lain, dan mau tidak mau, Arga harus merelakan Naina.
__ADS_1
.
.
Sesuai dengan ucapan Reno, dia akan mengajak Naina untuk makan siang, dan saat ini pria itu sudah berada di cafe menjemput Naina. Dia langsung berjalan ke arah ruangan calon istrinya, lalu mereka pun pergi menggunakan mobil.
Nabila yang melihat itu pun merasa geram, tangannya terkepal dengan sorot mata yang tak suka menatap kebahagiaan antara dua insan tersebut.
'Lihat saja! Aku akan merebut Mas Reno darimu. Dan aku akan membuat Mas Reno takluk kepadaku!' batin Nabila.
"Eh Nabila, kamu lagi ngapain? Terus kenapa kamu melihat ke arah Mas Reno sama Mbak Naina? Kamu cemburu ya sama mereka?" tebak Maharani yang sejak tadi melihat Nabila seperti menatap kepada bosnya tersebut dengan tatapan tak suka.
"Jangan ikut campur kamu!" ketus Nabila kemudian dia pergi dari sana.
"Dih, gak jelas banget sih jadi orang. Aku nanya kok malah dijawabnya ketus? Tapi kok dia tadi seperti tidak suka banget melihat kebahagiaannya Mbak Naina sama Mas Reno ya?" gumam Maharani sambil menatap kepergian Nabila.
Sesampainya Reno dan juga Naina di sebuah restoran, mereka langsung memesan beberapa makanan. Akan tetapi, tiba-tiba saja wajah Naina cemberut.
"Kenapa sayang? Apa makanannya kamu tidak suka?" tanya Reno dengan lembut.
Naina yang mendengar kata sayang seketika tersipu malu, nama itu tidak pernah diucapkan Ivan kepadanya.
"Bukan seperti itu Mas. Hanya saja, ini kalori semua. Nanti kalau aku gendut lagi, gimana? Ini aja masih proses penurunan berat badan," ujar Naina dengan ada yang lesu.
Mendengar itu Reno terkekeh, kemudian dia menarik pinggang Naina, membuat wanita itu mendekat ke arahnya. Dan Naina menyandarkan kepalanya di kepalanya di pundak Reno.
__ADS_1
"Dengar ya cantik, calon istriku. Mas tidak pernah melihat kamu secara fisik, tidak peduli mau kamu gendut ataupun kamu langsing. Karena bagi Mas, kecantikan fisik itu tidak ada artinya. Toh setelah kita meninggal, tidak akan ada gunanya. Semua sama di mata Allah. Jika manusia melihat secara fisik, itu adalah tatapan manusia. Kita tidak akan pernah sempurna di mata mereka," jelas Reno sambil mengacak rambut Naina.
Wajah wanita itu mendongkak ke atas, menatap kedua manik tegas milik Reno. Dia tersenyum, jantungnya berdetak kencang saat mendengar penuturan calon suaminya.
Naina benar-benar sangat beruntung, karena memiliki Reno. Sebab pria itu bukan hanya dewasa, tetapi juga bijak, dan akhirnya berharap jika mereka sampai ke jenjang pernikahan. Dan mengarungi bahtera rumah tangga. Maka harapan Naina adalah, Reno bisa menjadi imam yang baik bagi keluarganya, dan bisa menuntun istri serta anak-anaknya di jalan Allah.
"Aku tidak menyangka, ternyata Mas punya pemikiran yang bijak. Padahal jika dilihat dari luar, Mas sama sekali tidak terlihat seperti orang yang bijak," ujar Naina sambil tersenyum manis.
"Seperti yang Mas bilang, sayang. Kita tidak akan pernah sempurna di mata orang lain, di mata manusia. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Lagi pula, untuk apa kita berlomba-lomba memperlihatkan kelebihan yang kita punya? Karena di mata orang yang tidak menyukai kita, tetap saja kita akan hina, akan jelek dan tidak berguna," jelas Reno.
"Mas benar, walaupun kita mempunyai kelebihan, tetap saja di mata mereka kita akan kurang."
"Itu kenapa, sekarang jangan memikirkan pandangan manusia. Tapi pikirkanlah kebahagiaan sendiri. Pikirkanlah kebahagiaan orang-orang yang menyayangimu dengan tulus, jangan kamu ambil hati ucapan dari orang-orang yang tidak pernah menyukaimu. Karena itu hanya akan menjadi penyakit dan membuang-buang waktu kita saja," tutur Reno kembali.
Naina mengangguk, kemudian dia memeluk tubuh Reno dari samping. Pria yang kini menjadi calon suaminya tersebut, pria yang begitu dewasa, dan Naina membutuhkan itu. Karena dirinya terkadang suka plin-plan dalam mengambil keputusan.
Tak lama makanan pun datang, dengan telaten Reno menyuapi Naina dengan romantis. Bahkan dia mengelap bibir Naina dengan jempolnya sendiri, saat melihat noda saus di sudut bibir calon istrinya.
"Oh ya sayang, Ibu sudah merestui, Kak Karina dan Kak Dewa juga sudah merestui. Sekarang kita atur waktu untuk ke Jakarta bertemu dengan ibu kamu, karena aku ingin meminta restu secara langsung dari beliau," ucap Reno.
"Iya Mas, kapanpun itu. Tapi tunggu ... sepertinya ibu dan juga Mayra akan ke sini deh. Soalnya Ibu ingin sekali pergi ke Jogja, kemungkinan lusa sudah sampai," jawab Naina.
"Wah, bagus dong Sayang! Nanti aku akan minta restu secara langsung kepada Ibu. Setelah itu kita akan mengadakan acara makan malam keluarga, bagaimana? Aku dan juga keluarga kamu," usul Reno dengan wajah antusias.
"Iya Mas, boleh. Nanti aku telepon Ibu ya, kapan beliau akan ke Jogja bersama dengan Mayra."
__ADS_1
bersambung