Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Happy reading....


Naina nampak ragu, apakah dia harus mengatakan semuanya kepada Karina atau tidak. Tapi saat ini memang wanita itu butuh teman untuk bicara.


"Yeee ... malah diam. Ayo jawab! Ada apa dengan mereka?" desak Karina.


Sejenak Naina terdiam, memikirkan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan semuanya. Lalu dia pun berkata, "Mas Reno bersikap dingin kepadaku, karena dia merasa cemburu dengan kak Arga. Sedangkan Mayra mempunyai rahasia yang besar, dan kak Arga yang mengetahui tentang rahasianya."


Mendengar penjelasan dari sang adik, Karina mengerutkan dahinya merasa heran, karena dia pun bingung sebab kata-kata Naina terasa begitu ambigu dan tidak bisa ya pahami.


"Kamu ini bicara apa sih, Dek? Yang bener, Kakak nggak paham apa yang kamu katakan. Rahasia? Rahasia apaan? Terus kenapa Reno cemburu sama Arga? Memangnya kamu ngapain?"


Naina memutar bola matanya, kemudian dia meminum teh yang disediakan oleh Karina lalu menyandarkan tubuhnya kembali di sofa. Menatap lurus ke arah televisi yang sedang menayangkan kartun Upin dan Ipin si kembar botak.


"Jadi, kemarin itu aku makan siang bersama dengan Mayra dan juga Arga. Kebetulan kami tidak sengaja bertemu dengan tante Renata, lalu tante Renata ke toilet, tak lama kak Arga menyusul. Aku juga menyusul, sebab tau sendiri lah semakin kehamilan besar semakin ingin sekali buang air kecil. Dan saat sampai di sana, aku kaget Kak, aku memergoki mereka sedang berbicara, tapi Kakak tahu tidak apa yang mereka bicarakan?"


Karina mengangkat kedua bahunya. "Ya mana Kakak tahu. Kakak kan nggak ada di sana, emang kamu pikir Kakak ini cenayang?"


Mendengar hal itu Naina merasa kesal, tidak Karina dan tidak Reno sama saja, ditanya seperti itu malah bertanya balik.


"Aku mendengar mereka mengatakan sesuatu rahasia yang bersangkutan dengan Mayra, dan Kakak tahu! Ternyata Mayra adalah anak kandung dari Tante Renata dan juga suaminya."


"Apa! Tunggu! Tunggu! Anak kandung? Bagaimana bisa? Bukannya kedua orang tua Mayra sudah meninggal?" kaget Karina.


Raut wajah dari Karina tidak jauh berbeda dengan Reno saat mengetahui hal itu, namun Naina pun sama kagetnya, karena dia masih tidak menyangka jika ternyata Mayra mempunyai orang tua.


"Apa kau yakin?" tanya Karina memastikan.


"Iya, aku yakin, dan aku juga menanyakan kepada Kak Arga dan tante Renata. Tapi kondisinya tidak memungkinkan, maka kenapa aku ingin menemui kak Arga dan berbicara empat mata mengenai hal tersebut. Apakah memang benar. Tapi mas Reno malah cemburu dan melarang, dan sekarang dia malah bersikap dingin kepadaku," keluh Naina.


Karina mendukung keputusan Naina yang akan menanyakan tentang kebenaran itu. Dan dia menyuruh adiknya untuk menemui Arga, namun untuk sekarang waktunya belum tepat.


"Lalu, kapan menurut kakak, waktu yang pas untuk berbicara dengan Kak Arga?"


"Kalau menurut Kakak sih, sebaiknya kamu bicara dengan Arga didampingi oleh Reno. Biar suamimu itu tidak cemburu lagi," jawab Karina.


Setelah melepaskan rindu dengan kakak dan juga ibunya, Naina pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


.


.


Tepat jam 17.30 sore, Reno sudah sampai di rumah. Dia langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri, sementara Naina menyiapkan perlengkapan suaminya.

__ADS_1


Setelah selesai, Reno pun keluar dan tanpa menyapa sang istri pria itu masih menampakan wajah dinginnya, dan itu membuat Naina menghela nafas saat melihat sikap suaminya yang begitu sensitif.


"Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Naina sambil duduk di samping ranjang dan menatap ke arah suaminya.


"Tidak." jawab Reno dengan cepat.


Kemudian Naina menarik tangan Reno, hingga pria itu pun terduduk di sampingnya. "Kamu itu kenapa sih, sensitif sekali? Yang hamil siapa, tapi yang punya sifat sensitif siapa? Aku kan hanya usul saja untuk menemui kak Arga, tapi ada baiknya kamu juga ikut, agar kamu juga mengetahui tentang semuanya. Sebab jujur saja Mas, aku merasa penasaran. Aku ingin mendengar secara langsung. Bagaimana nanti kalau aku keceplosan dan malah membuat Mayra mengetahui semuanya," jelas Naina.


Reno terdiam mencerna semua ucapan dari sang istri, kemudian dia pun mengangguk, "Oke, kita akan temui Arga besok. Kalau gitu aku hubungi dia dulu untuk mengajaknya ketemu, jangan kamu!" larang Reno.


"Siap bos!" Naina mengangkat tangannya dan menempelkannya di kening.,


"Ya sudah, kalau gitu kita makan malam yuk! Aku udah lapar banget nih!" pinta Naina dengan wajah memelas, kemudian mereka keluar dari kamar menuju lantai bawah, di mana bi Arum sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.


.


.


Arga sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengecek pekerjaan lewat laptop, dan seketika hp-nya berdenting, menandakan sebuah pesan masuk, dan saat dilihat ternyata itu dari Reno.


"Tumbenan nih orang ngechat gue? Ada apaan?" gumam Arga dengan heran, kemudian dia membaca pesan tersebut.


'Dia mengajak gue ketemu bersama dengan Naina? Atau ini ada hubungannya dengan Mayra? Sepertinya sih Iya.' batin Arga merasa yakin jika Reno mengajaknya ketemu sebab ada hubungannya dengan Mayra


.


.


Jam menunjukkan pukul 12.30 siang, saat ini Reno dan juga Naina sedang berada di sebuah restoran, dia menunggu kedatangan tante Renata beserta suaminya dengan Arga, karena mereka sudah perjanjian untuk ketemu.


Tak lama ketiga orang yang ditunggu pun telah tiba, dan mereka langsung duduk setelah menyelami Reno dan juga Naina.


"Nak Reno, Nak Naina, ada apa ya? Kok manggil tante sama Om ke sini?" tanya Tante Renata sambil menatap ke arah 2 orang yang berada di hadapannya dengan heran.


Naina menyenggol lengan Reno, agar pria itu yang menjawab pertanyaan dari Tante Renata.


"Iya Tante, Om, maaf ya kalau dadakan. Sebenarnya Reno mengajak Om dan Tante makan siang, sebab ada yang ingin dibicarakan, dan ini hal yang penting," jawab Reno.


"Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Istriku?" Timpal Arga sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap lekat ke arah Naina dan juga Reno.


Reno menganggukkan kepalanya, sementara tante Renata dan juga Om Gunawan melirik satu sama lain. Dan tak lama minuman mereka datang beserta beberapa cemilan dan juga makanan.


"Sebaiknya kita makan siang dulu! Tidak enak kan, masa berbicara sebelum makan dimulai," ujar Reno dan langsung disetujui oleh ketiga orang yang berada di hadapannya.

__ADS_1


Tidak ada pembicaraan selama makan siang itu berlangsung, hingga setelah makanan habis, Reno mengelap mulutnya. Kemudian dia berdeham kecil untuk menetralkan suasana yang terasa begitu canggung.


"Seperti apa yang dikatakan oleh Arga jika ini ada sangkut pautnya dengan Mayra. Karena Naina sudah menceritakan semuanya kepada saya, dan di sini saya selaku suaminya hanya ingin menguatkan kebenaran itu. Apakah memang benar jika Mayra itu adalah putri dari Om dan juga Tante?" tanya Reno memastikan sambil menatap ke arah tante Renata dan juga Om Gunawan bergantian.


Suami istri itu terdiam, mereka nampak ragu untuk membicarakan perihal tersebut. Tapi, karena Naina sudah mengetahui semuanya, jadi mau tidak mau tidak ada pilihan lain, selain membuka kebenaran tersebut.


"Iya, Mayra memang putri kami yang hilang," jawab Om Gunawan.


"Bagaimana bisa, Om? Maksudku, orang tuanya Mayra kan sudah meninggal? Lalu kenapa kalian berpisah?" tanya Naina yang mulai penasaran


Sejenak tante Renata dan juga Om Gunawan terdiam, mereka menyusun kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.


Kemudian Om Gunawan pun mengangkat bicara dan dia menjawab pertanyaan Naina, lalu menjelaskan bagaimana kronologi dari hilangnya Mayra sewaktu bayi.


Setelah menjelaskan semuanya, tentu saja Naina merasa sangat syok. Dia tidak menyangka jika sahabatnya berpisah dari keluarga kandungnya sedari bayi, dan dia tidak pernah menyangka jika Mayra melewati hari-harinya yang begitu sulit.


"Sebenarnya aku tahu siapa yang menculik Mayra sewaktu bayi," timpal Arga setelah beberapa saat keheningan melanda mereka berlima.


Semua mata memandang ke arah Arga dengan tatapan penuh tabda tanya. "Kamu mengetahui semuanya Nak Arga? Memangnya siapa yang menculik Mayra?" tanya Pak Gunawan yang sudah penasaran.


"Sejujurnya saya sudah menyelidiki semuanya, saat kami diundang makan malam ke rumah tante Renata dan Om Gunawan malam itu. Dan saya merasa ada sesuatu yang kalian sembunyikan, itu kenapa saya menyewa detektif untuk mencari tahu kebenarannya. Dan ternyata memang benar, ada sesuatu yang begitu besar di antara kalian." sejenak Arga menghentikan ucapannya.


Membuat semua orang yang ada di sana menjadi penasaran akan kelanjutan cerita dari pria tersebut.


"Saya juga meminta detektif untuk menyelidiki kenapa Mayra bisa diculik. Dan setelah mendapatkan sebuah fakta yang begitu mengejutkan, saya paham bahwa sebenarnya Mayra diculik itu pelakunya tak lain adalah rekan bisnis dari Om Gunawan sendiri. Tapi untuk lebih jelasnya, nanti biar saya yang kasih data-datanya saja sama Om Gunawan," jelas Arga.


Naina menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dia tidak menyangka ternyata Mayra mempunyai kejadian yang begitu sangat mengejutkan.


Entah bagaimana reaksi Mayra jika mengetahui semuanya. Dan yang lebih membuat Naina merasa terkejut adalah, ternyata Arga sudah mengetahui semuanya. Dia tidak menyangka jika pria itu sangat cepat bertindak.


'Aku bangga, karena Mayra berada pada orang yang tepat. Setidaknya Kak Arga melindungi Mayra. Jadi apapun yang terjadi padanya, ada kak Arga yang selalu menemaninya.' batin Naina merasa bersyukur.


"Jadi kapan kalian akan mengungkapkan semuanya kepada, Mayra?" tanya Naina sambil menatap ke arah Om Gunawan dan juga tante Renata.


"Entahlah, kami pun tidak tahu Nak Naina. Kami ingin mencari waktu yang tepat, agar bisa mengungkapkan semuanya. Karena pastinya tidak akan mudah bagi Mayra untuk menerima kenyataan yang tidak pernah ua sangka," jawab Tante Renata dengan tatapan sendu.


Naina paham jika pasti wanita itu menyimpan kerinduan yang begitu dalam kepada Mayra. Bagaimana tidak? Seorang ibu mungkin terlihat kuat di luar, namun siapa yang menyangka jika hatinya rapuh. Karena Naina pun seorang perempuan, jadi dia mengerti dengan perasaan tante Renata saat ini.


"Sabar ya Tante. Naina yakin kok, Mayra pasti akan menerima kalian sebagai keluarga. Tapi mungkin memang akan terluka, dan tentunya pasti akan sangat syok seperti Naina yang baru mengetahui semuanya. Tapi seiring berjalannya waktu, Mayra pasti bisa menerima semuanya. Dia mengerti keadaannya, karena walau bagaimanapun Naina sudah paham dan juga hafal wataknya Mayra seperti apa," ujar Naina sambil mengusap pundak tante Renata.


"Terima kasih ya sayang," jawab Tante Renata sambil tersenyum ke arah Naina.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2