Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Berbohong


__ADS_3

Happy reading...


Setelah Reno melewati masa kritisnya, dia pun dipindahkan ke ruang rawat inap, dan saat ini Mayra beserta dengan Arga masih stand by menemani Naina. Sementara itu Ibu Linda sudah pulang diantarkan oleh Arga.


"Kalian tunggu di sini dulu ya! Aku cari makan malam dulu. Pasti belum pada makan malam kan," ujar Arga, kemudian dia keluar dari ruangan itu untuk membeli makanan.


Naina terus aja menggenggam tangan Reno. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan suaminya yang tiba-tiba terluka tanpa tahu sebabnya kenapa.


"Mas bangunlah! Cepatlah sadar! Aku merindukanmu," ucap Naina dengan Isak tangisnya.


Mayra yang melihat kesedihan sahabatnya pun hanya bisa mengusap bahu Naina dengan lembut, dia mengerti keadaan dan perasaan wanita itu saat ini.


Tidak akan mudah menerima kenyataan dan melihat suami sendiri sedang terluka dan terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


"Sabar Nai, kita berdoa saja, semoga Reno cepat sadar. Aku juga penasaran kenapa dia bisa terluka? Apa mungkin sepulangnya dari Jogja, dia kena begal?" bingung Mayra sambil menatap ke arah Reno yang masih terpejam.


Naina mengusap air matanya, kemudian dia menatap ke arah Mayra. "Aku juga tidak tahu, kenapa Mas Reno bisa terluka? Apa mungkin memang iya dia kena begal saat akan pulang ke sini," jawab Naina dengan lirih.


Mayra mengangkat kedua bahunya setelah itu keduanya sama-sama terdiam.


'Aku berharap kamu cepat sadar, Mas, dan menceritakan semuanya. Siapapun orang yang sudah melukai kamu, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkannya! Melihat dirimu seperti ini, membuatku sangat sakit. Tolong bangun lah sayang!' batin Naina yang terus aja memohon agar Reno cepat sadar.


Sementara di dalam hati dia terus saja berdoa untuk kesungguhan Reno, dan agar pria itu cepat sadar dari tidur lelapnya.


Tak lama pintu ruangan terbuka dan masuklah Arga sambil menenteng dua buah plastik yang berisi makanan.


"Kalian makan malam dulu yuk!" ajak Arga sambil menaruh makanan tersebut di atas meja.


"Kamu sama Mayra duluan saja! Aku belum lapar," jawab Naina sambil terus menggenggam tangan Reno.


Arga dan juga Mayra bertatapan satu sama lain, kemudian Arga memberikan kode lewat matanya kepada istri tercintanya tersebut, agar membujuk Naina untuk makan malam.

__ADS_1


Mayra yang mengerti pun segera mendekat ke arah Naina, kemudian dia memegang bahu wanita itu. "Nai, gue tahu lo itu lagi sedih dengan keadaan Reno sekarang. Tapi lo juga harus makan! Kalau sampai lo sakit bagaimana? Otomatis Reno juga akan sedih kan, saat dia sadar nanti? Saat ini kan Reno masih di bawah pengaruh obat bius, jadi mungkin dia memang belum sadar. Sebaiknya kita makan dulu yuk, biar lo juga ada tenaga! Gue yakin kok, Reno pasti akan cepat sadar," bujuk Mayra.


Naina terdiam, dia membenarkan apa yang Mayra ucapkan. Kemudian wanita itu pun mengangguk dan mulai berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut, lalu mereka mulai menyantap makanan, walaupun sebenarnya Naina sama sekali tidak mood.


Selera makannya sudah hilang. Bagaimana bisa seorang istri akan merasakan nikmat dalam makannya, saat melihat suaminya sendiri tengah terbaring sakit.


.


.


Sementara di tempat lain, Ibu Sumarni terlihat begitu gelisah. Entah kenapa perasaannya sedari pagi tidak enak.


Dia merasa terjadi sesuatu, tapi entah apa itu, Bu Sumarni pun tidak tahu? Dia mencoba beberapa kali untuk menelpon Reno, tapi Nomornya tidak aktif.


"Astagfirullah, Ya Allah! Kenapa dengan perasaanku dari pagi rasanya aku merasa tak enak? Seperti telah terjadi sesuatu? Lindungilah Putraku di manapun dia berada, ya Allah," gumam Bu Sumarni dengan perasaan yang terus saja berdebar.


Kemudian dia pun menelpon Naina, tapi sudah dua kali teleponnya tidak diangkat, dan itu semakin membuat buk Sumarni menjadi resah dan juga gelisah.


.


.


"Aduh! Apa aku harus mengangkat telepon dari ibu ya? Tapi aku takut. Apa aku harus mengatakan keadaannya Mas Reno sekarang?" tanya Naina pada Mayra dengan tatapan khawatir.


"Tenangkan dulu diri kamu, setelah itu telepon balik. Bukan aku ingin mengajarimu untuk berbohong, tapi ada baiknya jangan bilang keadaan Reno sekarang sama Bu Sumarni! Pasti beliau sangat syok berat mendengar anak satu-satunya tengah terluka. Nanti saja setelah keadaan Reno lebih baik, kita beritahukan. Kalau untuk sekarang takutnya Bu Sumarni nanti malah panik," jelas Mayra.


Naina mengangguk, kemudian dia menarik nafasnya dengan dalam, lalu mulai menelpon balik nomor ibu mertuanya. Dan tak lama telepon itu pun langsung diangkat.


"Halo Assalamualaikum, Bu," ucap Naina saat telepon tersambung, padahal saat ini dadanya sedang berdetak dengan kencang karena dia takut jika nada bicaranya terlihat menyembunyikan sesuatu.


"Waalaikumsalam nak, kamu ke mana saja? Ibu telepon dari tadi kenapa tidak diangkat? Kamu sama Reno baik-baik aja kan?" tanya Bu Sumarni di balik telepon dengan nada yang panik.

__ADS_1


Naina menatap ke arah Arga dan Mayra bergantian, dan kedua orang itu mengangguk, membuat Naina menarik nafasnya dengan dalam.


"Alhamdulillah bu, kabar Naina sama Mas Reno baik-baik saja. Ibu kenapa kok terdengar panik seperti itu?"


"Begini Naina. Entah kenapa perasaan Ibu dari pagi tidak enak? Rasanya resah gelisah, seperti telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ibu ingin bertanya, apakah Reno baik-baik saja keadaannya? Soalnya Ibu telepon dia Nomornya tidak aktif?" Terdengar helaan nafas yang cukup berat di seberang telepon dengan nada yang begitu khawatir.


Mendengar kekhawatiran dari sang ibu mertua, air mata Naina kembali menetes. Dia tahu batin seorang ibu dan anak itu sangat kuat, terikat satu sama lain. Jika terjadi apa-apa antara keduanya, pasti salah satunya akan merasakan itu.


'Maafkan Naina Bu, jika Naina harus berbohong kali ini. Semua demi kebaikan ibu, karena Naina tidak ingin Ibu merasakan panik seperti apa yang Naina rasakan. Walaupun sebenarnya ikatan kalian sangat kuat,' batin Naina.


"Alhamdulillah, Mas Reno baik-baik aja kok Bu. Dia sedang istirahat, tadi kecapean pas pulang. Ponselnya mungkin sedang dicas, jadi tidak aktif, kehabisan baterai mungkin Bu," jawab Naina dengan sedikit gemetar.


"Oh begitu, ya sudah, lega Ibu mendengarnya. Nanti kalau Reno sudah bangun suruh dia menelepon ibu ya! Ibu sangat merindukannya!" titah Bu Sumarni.


"Iya Bu, nanti kalau Mas Reno sudah bangun Naina akan meminta Mas Reno untuk menelpon Ibu segera. Ya sudah kalau gitu Naina mau keluar dulu ya Bu, ada yang harus dibeli," bohong Naina.


"Iya nak, kamu sehat-sehat ya di sana. Kalau gitu Ibu tutup dulu teleponnya, dan sering-seringlah ke Jogja Ibu sangat merindukan kalian! Assalamualaikum."


"Iya Bu, nanti Naina akan sering main ke Jogja ya, waalaikumsalam," jawab Naina kemudian telepon pun terputus.


Wanita itu terduduk di sofa dengan kedua tangan menutup wajah. Naina menangis tersedu-sedu, membuat Mayra segera memeluk tubuh wanita itu.


"Aku tidak sanggup mendengar kegelisahan dan juga keresahan seorang ibu pada putranya. Aku yakin May, jika ibu pasti sangat mengkhawatirkan Mas Reno," ucap Naina di sela-sela tangisnya.


"Aku tahu perasaanmu, Nai. Sudahlah, ini semua demi kebaikan kita semua, dan juga kebaikannya Bu Sumarni," jawab Mayra sambil mengusap punggung Naina dengan lembut.


Dia tahu sahabatnya tidak biasa berbohong, tapi itu semua harus dilakukan agar Bu Sumarni tidak merasa panik. Walaupun tadi dia juga mendengarnya sendiri, bagaimana keresahan seorang ibu saat anaknya tidak ada kabar dan saat anaknya terluka.


Jauh di dalam lubuk hati Mayra, dia juga ingin merasakan hal seperti itu, ikatan batin antara ibu dan anak. Akan tetapi sayang, Mayra sudah tidak mempunyai orang tua, keduanya sudah meninggal saat Mayra duduk di kelas SMP.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2