Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Kebenaran


__ADS_3

Happy reading....


Jam 11.00 siang.


Mayra sudah sampai di kantor Arga, sambil membawakan makanan kesukaan suaminya. Dia memasak untuk Arga, dan wanita itu tidak merasakan mual sama sekali.


Saat lift terbuka, Mayra pun masuk ke dalam lalu mau mencet tombol untuk naik ke lantai 2, di mana ruangan suaminya berada.


Mayra membuka pintu ruangan suaminya, dan dia melihat di sana Arga sedang duduk dengan tatapan lurus ke arah laptop.


Melihat sang istri sudah datang, Arga kemudian menutup laptopnya, lalu berjalan ke arah sofa di mana saat ini Mayra sedang duduk setelah menaruh makanan di atas meja.


"Aku pikir, kamu nggak akan ke sini sayang?" ucap Arga.


"Nggak mungkin dong. 'Kan aku mau menagih janji suamiku," jawab Mayra sambil membuka rantang makanannya. "Kita makan dulu yuk! Baru nanti ngobrol, biar lebih lebih rileks," tutur Mayra.


Arga mengangguk, kemudian dia melihat makanan yang dimasak oleh Mayra. Seketika perut pria itu pun langsung keroncongan.


"Sayang, ini makanan apa?" tanya Arga sambil memegang sebuah makanan yang terbuat dari kentang.


"Oh, itu namanya perkedel kentang. Kebetulan tadi aku lagi pengen banget makan itu, jadi aku bikin deh," jawab Mayra.


Arga menganggukan kepalanya, kemudian dia mencoba makanan itu, dan ternyata sangat enak. Jujur saja, baru kali ini Arga memakan perkedel kentang. Karena biasanya di rumahnya hanya ada makanan seafood, kalau tidak sayur-sayuran hijau. Kentang juga kalau tidak, di balado atau dimasak lain, tapi tidak dibuat perkedel seperti itu.


"Waah! Ternyata enak sekali ya rasanya. Kamu bikinnya pakai kentang aja?" tanya Arga sambil mengunyah makanan itu.


"Tidak. Itu pakai kornet juga kok, dicampur. Sebab kalau kentang aja, nanti lembek. Ya sudah makan dulu yuk!"


Kemudian mereka pun makan siang bersama. Sejujurnya dada Arga sedari tadi sudah berdetak dengan kencang. Dia sangat gelisah, namun mencoba untuk menutupi rasa itu dari Mayra.


Setelah makan siang selesai, Arga meminum minuman yang ada di atas meja. Jujur saja, walaupun dia sudah makan dan minum, tetap saja jantungnya tidak bisa dikondisikan.

__ADS_1


Arga merasa seperti sedang menghadapi Presiden saja untuk membicarakan sebuah bisnis. ''Aku berharap, setelah Mayra mengetahui tentang kabar ini, tidak terjadi apa-apa dengan kandungannya. Dan dia bisa mengerti,' batin Arga.


"Kita kan sudah makan, Mas. Jadi kamu penuhi janjimu ya! Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku?" Mayra langsung menagih janji Arga, membuat pria itu sedikit tersedak minumannya. Memudian dia diam memikirkan cara dan juga kata-kata yang pas, agar tidak membuat Mayra syok.


Tapi sejujurnya sama saja sih, walaupun memilah kata-kata yang pas, pada akhirnya Mayra akan kaget juga.


"Kok malah diem sih, Mas? Jawab dong!" desak Mayra.


Arga mengangguk, kemudian dia menggeser duduknya hingga mendekat ke arah Mayra, lalu menggenggam kedua tangan wanita itu dan menatapnya dengan lekat.


"Aku akan bercerita. Tapi janji, sebelum aku menyelesaikan ceritaku, jangan pernah menyela! Jangan pernah kamu berpikiran yang tidak tidak dulu, dan tolong jangan sampai terjadi apa-apa dengan anak kita!" pinta Arga.


"Iya Mas, aku janji, aku tidak akan menyela ucapan kamu. Dan kalau untuk itu, aku tidak bisa janji. Tapi semoga saja kabar yang kamu berikan kepadaku tidak membuatku syok, ya Mas." jawab Mayra.


"Mungkin akan membuat kamu syok, tapi aku berharap kamu bisa mengontrolnya dulu."


Mayra menganggukkan kepalanya, dan terlihat Arga menarik nafas dengan dalam, sebelum dia mengatakan yang sejujur-jujurnya kepada istri tercintanya tersebut.


Sedangkan Mayra hanya diam menyimak perkataan dari suaminya tersebut, karena dia sudah berjanji tidak menyerah sedikitpun.


"Dan setelah beberapa hari, .ail mendapatkan bukti tentang rahasia yang disembunyikan oleh tante Renata dan juga Om Gunawan beserta keluarganya, tentang kamu. Awalnya aku tidak percaya, ternyata kamu ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka."


Mendengar ucapan dari suaminya, Mayra pun mengerutkan kening. "Maksudnya---" ucapannya terhenti saat Arga menaruh jari telunjuknya di bibir wanita itu.


"Jangan menyela dulu, sayang!"


Mayra mengangguk, dia lupa karena tadi begitu kaget saat mendengar ucapan Arga, yang mengatakan jika dia ada sangkut pautnya dengan keluarga tante Renata.


"Kamu pasti pernah mendengar cerita dari Tante Renata, bukan Sayang, jika dia mempunyai bayi perempuan? Dan waktu bayi diculik oleh seseorang?" tanya Arga, dan Mayra langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya, Tante Renata pernah bercerita seperti itu. Lalu?"

__ADS_1


Sejenak Arga terdiam, sambil menatap lekat ke arah istrinya. Kemudian dia pun kembali berkata, "Dan kamu tahu, bayi perempuan itu siapa?" tanya Arga kembali dan dibalas gelengan oleh Mayra.


"Bayi itu adalah ... kamu sayang." Terlihat wajah Mayra begitu sangat kaget. Dia menatap tajam ke arah Arga. Saat bibirnya akan mengucapkan sesuatu, Arga segera menaruh jari telunjuknya sambil menggelengkan kepala.


"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi dari data-data yang Mail berikan, menyatakan jika kamu adalah putri dari Tante Renata dan juga Om Gunawan yang diculik beberapa tahun yang lalu. Kamu dibuang ke panti asuhan, dijual lalu dicampakkan. Setelah itu kamu bertemu dengan orang tua angkatmu yang sudah meninggal. Jika kamu tidak percaya, aku akan memberikan data-datanya sebentar." Arga pun beranjak dari duduknya, meninggalkan Mayra menuju meja kerja dan membukanya.


Dia kembali sambil memegang amplop coklat di tangannya. Amplop yang pernah Mayra temukan saat itu, dan yang pernah ada bilang jika itu adalah file.


"Loh! Ini kan amplop ...."


Arga menganggukan kepalanya, "Ya, waktu itu aku bilang jika ini file pekerjaan kan. Tapi sebenarnya bukan. Aku hanya tidak ingin kamu mengetahuinya tanpa mendengar penjelasanku dulu, dan sekarang kamu baca sendiri!" Arga menyerahkan amplop itu dan langsung dibuka oleh Mayra.


Kedua netra wanita itu membulat kaget saat melihat kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.


Cairan bening sudah menumpuk di kedua pelupuk mata milik Mayra, dan tanpa bisa dicegah lagi Matra pun menitipkannya. Dia tak pernah terpikir sebelumnya, jika dirinya adalah bagian dari keluarga tante Renata.


"Jadi ... mereka itu ..." Mayra menggantungkan ucapannya sambil menatap ke arah Arga.


"Iya sayang, mereka adalah orang tuamu. Orang tua kandungmu. Dan rencananya besok malam kita akan ke rumahnya untuk makan malam bersama, dan setelah itu kalian harus berbicara dari hati ke hati," ujar Arga.


Mayra menggelengkan kepalanya, satu tangan menutup mulut dengan tatapan tak percaya. Air mata terus saja mengalir deras, tak bisa ia tahan. Arga yang melihat itu pun segera memeluk tubuh Mayra.


Dia tahu apa yang dia rasakan oleh istrinya.


"Tenanglah sayang. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Ini tidaklah mudah. Kenyataan ini begitu sangat mengejutkanmu, dan juga mengejutkan diriku. Jtu kenapa aku menyembunyikannya darimu, apalagi melihat keadaanmu sedang hamil seperti ini."


"Ini seperti mimpi yang begitu mengejutkan untukku, Mas. Setelah aku berusia 25 tahun, semua baru terungkap?" ucap Mayra sambil menangis dalam pelukan suaminya.


"Yah ... itulah jalan takdir Tuhan. Kita tidak pernah tahu sayang, dan kamu tidak boleh membenci mereka. Sebab ini juga bukan salahnya mereka. Kamu diculik oleh seseorang, yang tak lain adalah rekan bisnis dari Om Gunawan. Jadi kamu jangan pernah membenci mereka. Sebab mereka juga sangat merindukanmu. Waktu bayi mereka terus saja mencari, tapi tidak pernah ketemu. Sekarang kalian sudah dipertemukan, jadi jangan pernah menyimpan dendam ataupun menganggap mereka tidak ada! Bukalah hatimu! K arena walau bagaimanapun, tante Renata dan juga Om Gunawan adalah kedua orang tuamu. Tidak ada yang mau untuk dipisahkan dengan keluarganya, bukan?" jelas Arga panjang lebar. Sementara Mayra hanya diam saja sambil menangis.


"Awwwh! Perutku!" ringis Mayra yang merasakan keram di perutnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2