Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Merasa Tak Memiliki Musuh


__ADS_3

Happy reading....


Hari ini adalah hari di mana Mayra dan juga Arga mengadakan acara resepsi di sebuah gedung hotel yang mewah.


Reno juga sudah pulang dari rumah sakit, dan keadaannya sudah jauh lebih baik. Dan saat ini Naina dan Reno sedang bersiap-siap untuk acara resepsi sahabatnya.


"Ibu ... udah siap belum?" tanya Naina di luar kamar memanggil ibunya.


Tqk lama Ibu Linda keluar menggunakan kebaya berwarna merah marun, lalu dia tersenyum ke arah Naina. "Ayo, ibu udah siap. Ibu udah nggak sabar ingin melihat Mayra di pelaminan," ucap Bu Linda dengan wajah binar bahagia.


amereka bertiga pun masuk ke dalam mobil menuju gedung, di mana resepsi pernikahan Arga dan Mayra dilangsungkan.


Sesampainya mobil terparkir di area gedung hotel, Reno langsung mengulurkan tangannya untuk digandeng sang istri. Kemudian mereka pun masuk beriringan ke dalam gedung mewah tersebut.


Terlihat Mayra dan juga Arga tengah berada di atas pelaminan menggunakan gaun berwarna biru muda, bahkan dekor dari gedung tersebut pun berwarna biru dan putih benar-benar kesukaan Mayra.


"Selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek. Dan setelah ini kalian harus bulan madu. Masa nggak mau kalah sama aku sih," ucap Naina saat berada di atas pelaminan.


"Tenang aja! Aku bakal sudah menyiapkan yang spesial untuk istri tercintaku ini," jawab Arga sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Mayra, membuat wanita itu mendelik tajam dengan rona pipi yang semakin memerah.


"Selamat ya sayang. Ibu berharap, Nak harga melindungi dan menyayangi kamu sepenuh hati. Dan ibu juga berharap, rumah tangga kalian langgeng. Apapun nanti ujiannya kalian harus bisa menghadapi itu semua bersama-sama, karena dalam rumah tangga kerjasama itu paling penting, jujur dan saling percaya." Bu Linda memberikan pesan kepada Mayra dan Arga.


"Iya Bu, insya Allah Arga akan selalu menjaga Mayra. Terima kasih sudah sudi mau datang ke acara pernikahan kami," jawab Arga sambil mencium tangan Bu Linda.


Setelah mengucapkan selamat mereka bertiga pun turun dan duduk di salah satu meja untuk menikmati makanan.


.


.


Selepas acara resepsi dilangsungkan, Mayra saat ini tengah berada di dalam kamar. Namun tiba-tiba saja pintunya terketuk, dan saat dia membuka ada seorang pelayan yang menyerahkan sebuah surat kepada Mayra.


Saat wanita itu membacanya, dahinya mengkerut heran dan dia menatap ke arah pelayan tersebut.


"Mari ikut saya Nyonya!" ajak pelayan itu. Mayra yang masih menggunakan gaun pun akhirnya mengangguk, kemudian dia mengikuti pelayan itu ke mana akan pergi.

__ADS_1


Saat sampai di lobby dia melihat Arga sudah siap dan masih menggunakan kemeja berwarna putih. "Mas, ini ada apa? Padahal aku baru saja mau mandi?" tanya Mayra yang memang sangat lelah karena jam juga sudah menunjukkan pukul 23.00 malam.


"Nanti juga kamu akan tahu Sayang," jawab Arga dengan lembut, kemudian dia mengajak Mayra masuk ke dalam mobil.


"Loh, ini buat apaan? Kok mata aku ditutup?" tanya Magra saat Arga tiba-tiba saja menutup matanya dengan satu helai kain.


"Namanya bukan surprise dong, kalau aku nggak tutup mata kamu," jawab Arga sambil menoel hidung Mayra.


Wanita itu tersenyum. Ternyata Arga memang ingin memberikan kejutan kepada dirinya. Akhirnya dia pun diam tidak banyak tanya, karena sebenarnya Mayra juga penasaran kejutan apa yang akan diberikan oleh Arga.


Hingga setelah beberapa lama mobil pun sampai dan Mayra dituntun oleh Arga turun dari mobil lalu seperti menaiki sebuah tangga.


"Hati-hati sayang," ucap Arga, dan Mayra hanya menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya kita ada di mana sih? Kok anginnya kenceng banget?" tanya Mayra saat merasakan angin yang begitu kencang menerpa tubuhnya.


Kemudian Arga membuka kain yang melingkar di kepala Mayra yang menutupi matanya. Dan setelah kain itu terlepas, Mayra terpukau, karena saat ini dia berada di atas kapal pesiar.


"Sayang, ini ..." Mayra menggantung ucapannya, menatap ke arah Arga dan pria itu hanya tersenyum sambil memeluk tubuh Mayra dari belakang.


"Suka sayang, makasih ya," jawab Mayra sambil mengeratkan pelukannya karena anginnya begitu kencang dan dia sedikit kedinginan.


"Ya sudah, kita masuk yuk! Aku juga sudah tidak sabar ingin membuat adonan," goda Arga sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mayra mendelik tajam saat mendengar ucapan sang suami, kemudian tanpa aba-aba Arga langsung menggendong tubuh Mayra, membuat wanita itu sedikit terjingkat kaget lalu mengalungkan tangannya di leher kekar pria tersebut.


"Tiap malam juga bikin adonan?" kekeh Mayra.


"Tapi bikin adonan di kapal pesiar pasti lebih enak sensasinya, iya kan," jawab Arga sambil mencium kening Mayra.


Pipi wanita itu seketika bersemu merah bak kepiting rebus. Dia tidak pernah menyangka jika Arga ternyata bukan hanya pria dingin saja, namun ternyata pria mesum juga. Oadahal setiap hari mereka hampir melakukan olahraga panas tersebut. Namun, sepertinya Arga tidak ada bosan-bosannya.


.


.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, Naina dan juga Reno baru saja selesai melakukan olahraga panas, sebab Reno tidak mau kalah dengan Arga.


"Oh ya Sayang, besok kita pindah dari sini ya! Aku kan sudah menyiapkan rumah untuk kamu. Masa tidak ditempatin sih?" ujar Reno sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Lalu, dengan Ibu gimana, Mas?" tanya Naina.


"Ibu tetap akan ikut dengan kita."


Namun, wajah Naina terlihat begitu sedih. "Tapi Mas, aku sangat yakin Ibu pasti tidak akan mau meninggalkan rumah ini. Karena rumah ini begitu banyak kenangan, di mana kami tinggal bersama dengan ayah," jawab Naina sambil menatap lekat ke arah suaminya.


Terlihat Reno menghela nafasnya dengan panjang. "Baiklah, kita nanti akan bicarakan dengan ibu."


Seketika Naina teringat sesuatu tentang kecelakaan yang Reno alami, lalu dia pun bertanya. "Mas, kamu belum bercerita loh kenapa kamu bisa terluka kemarin saat pulang dari Jogja?"


Reno baru ingat jika dia belum bercerita kepada Naina, dan dia baru bercerita kepada Arga tentang hal tersebut.


"Oh iya, aku lupa. Sejujurnya aku juga tidak tahu sayang. Pas aku mau ke sini, aku merasa memang mobilku tuh diikutin, makanya aku menambah kecepatan. Tapi pas udah mau sampai ke Jakarta, tiba-tiba saja mobilku tuh dihadang sama satu buah mobil yang berisikan 4 orang. Mereka menghadang aku, ya mau tidak mau aku pun melawan dong. Tapi aku tidak sadar jika salah satu dari mereka membawa senjata tajam dan langsung menusuk perutku. Setelah itu mereka pun lari," jelas Reno.


Naina yang mendengar itu pun merasa ngeri. "Mas, apa kamu mempunyai musuh?" tanya Naina.


Reno terdiam, memikirkan pakah dia mempunyai musuh atau tidak? Tapi seketika pria itu pun menggelengkan kepalanya. "Aku rasa tidak ada sayang. Aku tidak memiliki musuh sama sekali, sebab aku pun tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. Itu yang masih aku dan Arga selidiki, siapa mereka? Tapi untuk saat ini mungkin Arga lebih fokus untuk bulan madunya dulu, aku juga tidak mau untuk mengganggunya," jelas Reno.


Reno memang tidak tahu siapa orang yang sudah mencelakai dirinya, karena dia sangat yakin keempat orang itu pasti suruhan.


"Tapi kalau kamu tidak mempunyai musuh, tidak mungkin orang tersebut mencelakai kamu, Mas. Kira-kira siapa ya?" Naina berpikir tentang musuh dari Reno.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kita tidur ini sudah malam! Nanti juga akan kebongkar kok saat waktunya tiba," jawab Reno sambil mencubit hidung Naina.


Wanita itu pun mengangguk, kemudian dia menguap karena matanya memang terasa begitu berat. Padahal Naina begitu penasaran tentang siapa orang yang sudah melakukan kejahatan itu pada suaminya.


Setelah mata Naina terpejam, Reno mengusap pipi istrinya dengan lembut. Sejujurnya dia pun penasaran karena Reno merasa tidak memiliki musuh, akan tetapi ada orang yang ingin mencelakai dirinya.


'Aku pasti akan menemukan siapa orang itu.' batin Reno,nkemudian dia menutup matanya menyusul sang istri di alam mimpi.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2