
Happy reading....
dahi Mayra mengkerut dengan heran saat melihat sebuah amplop coklat. Dia menarik laci tersebut dan hendak mengambil amplop yang berada di hadapannya.
Sementara itu Arga baru saja akan masuk ke dalam ruang meeting, tiba-tiba matanya membulat kaget saat mengingat sesuatu, jika dia masih menyimpan berkas tentang sebuah kebenaran istrinya.
'Astaga! Amplop itu kan ada di ruanganku.' batin Arga dengan panik.
Dengan secepat kilat pria itu pun berbalik dan berlari dengan cepat menuju ruangannya, dan saat dia membuka pintu tersebut, Mayra sedang memegang amplop coklat di tangannya.
Jantungnya berdetak dengan kencang saat melihat sang istri tengah memegang sebuah barang bukti yang begitu besar. Dengan cepat dia berjalan ke arah Mayra dan merampas amplop tersebut.
"Mas! Kamu ini apa-apaan?" kaget Mayra saat melihat reaksi Arga.
Dia menatap ke arah suaminya, dan Mayra merasa heran sebab wajah Arga menunjukkan sebuah ketakutan dan juga kegugupan.
"Maaf sayang, ini salah satu berkas untuk meeting. Aku tadi buru-buru, soalnya meeting udah mau dimulai," jawab Arga dengan gugup. Namun nafasnya terengah-engah.
"Oh ... berkas meeting," jawab Mayra, namun dia merasa ragu dengan jawaban dari suaminya.
"Kamu udah baca dalamnya?" tanya Arga memastikan.
Mayra menggelengkan kepalanya, "Belum, baru aku mau baca udah dirampas sama kamu. Memang isinya berkas apaan sih, sampai sebegitu pentingnya? Terus wajah kamu juga kenapa ketakutan seperti itu, Mas? Ada yang kamu sembunyiin ya dari aku?" tuduh Mayra.
Gluk!
Arga meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat Mayra menatapnya dengan aura yang mengintimidasi. Dia menggelengkan kepalanya dengan kegugupan yang saat ini melanda.
Pria tersebut mencoba untuk menetralkan degug jantungnya, dan dia mencoba untuk tidak bersikap gugup di hadapan Mayra, karena takut jika istrinya akan curiga.
"Hanya berkas untuk kerjasama saja. Kalau begitu aku ke ruang meeting dulu ya. Kamu kalau capek istirahat aja di sofa, aku tinggal sebentar." Arga segera meninggalkan ruangannya.
Dan sesampainya di luar, pria itu menyandarkan tubuhnya di tembok sambil mengusap dada. 'Syukurlah! Ternyata Mayra belum membuka berkas ini. Entah bagaimana reaksinya jika sampai dia mengetahui apa dalam isi amplop ini.' batin Arga yang sedikit lega.
__ADS_1
Namun dia tahu, pada akhirnya Mayra juga akan mengetahui semuanya. Tapi, untuk sekarang Arga masih belum bisa untuk memberitahunya.
Sementara itu Mayra merasa heran dengan sikap suaminya yang aneh. Dia mengenal Arga sudah cukup lama, jadi sedikit banyaknya Mayra mengetahui saat suaminya sedang gugup atau tidak.
"Entah kenapa, aku merasa ada yang disembunyikan oleh Mas Arga? Tapi apa itu? Kenapa reaksinya seperti orang ketakutan, saat aku memegang berkas tadi? Memangnya, apa isinya ya?" gumam Mayra sambil mengetuk jari telunjuknya di dagu.
Wanita hamil itu pun memutuskan untuk pergi ke kantin, kemudian dia beranjak dari duduknya. Namun tatapan Mayra menatap ke arah lantai saat dia melihat ada selembar foto.
Wanita itu pun mengambilnya, dan saat dibalik dia melihat sebuah panti asuhan. Wanita tersebut merasa heran, kenapa bisa ada sebuah foto Panti Asuhan. Dan ternyata foto tersebut jatuh dari amplop yang berwarna coklat saat tadi Arga merampasnya secara paksa.
"Panti Asuhan Mutiara kasih? Kenapa Mas Arga menyimpan foto Panti Asuhan ini?" ucap Mayra dengan lirih.
Dia mengangkat kedua bahunya, kemudian menaruh foto tersebut di atas meja, lalu kembali melanjutkan langkahnya ke arah kantin.
Mayra berpikir, mungkin saja suaminya akan melakukan donasi di Panti tersebut, dan Mayra tidak mau ambil pusing.
.
.
"Tapi Pah, apa tidak sebaiknya kita dekati Mayra dulu? Kalau sampai nanti dia mengetahui kebenarannya secara langsung, sudah pasti wanita itu akan syok," timpal Sahrul.
"Yes, I know. Tapi, mau gimana lagi. Pada akhirnya juga Mayra akan mengetahui semuanya. Jadi lebih cepat, lebih baik bukan? Toh maupun sekarang ataupun nanti akan sama, Mayra tetap kecewa dan dia butuh waktu. Jadi lebih baik kita ungkapkan semuanya secepatnya," jelas Pak Gunawan.
"Jika itu keputusan Papa, Mama setuju. Rasanya Mama sudah tidak sabar ingin segera memeluk lepas Mayra, dan mengungkapkan jika dia adalah Putri kita," ujar tante Renata dengan tatapan yang sendu.
Pak Gunawan merangkul pundak istrinya. Dia tahu apa yang dirasakan oleh tante Renata, juga dirasakan olehnya. Karena dia juga sangat merindukan Mayra sedari bayi.
"Mama yang sabar ya, kita pasti akan berkumpul kembali," ujar Pak Gunawan.
.
.
__ADS_1
Setelah Mayra makan siang dengan makanan yang dipesannya kemarin malam kepada Arga, dia pun tertidur di sofa. Kebetulan memang di ruangannya Arga tidak ada ruangan pribadi, jadi pria itu hanya menidurkan istrinya di sofa.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, dan masuklah seseorang yang tak lain adalah Mail.
"Ups! Ternyata ada istri lo di sini," ucap Mail sambil menatap ke arah Mayra yang tengah tertidur pulas.
Arga menatap ke arah sahabatnya, kemudian dia duduk di kursi kebesarannya. "Ada apa?" tanya Arga.
Mail nampak ragu untuk mengungkapkan maksud kedatangannya, karena di sana ada Mayra, takut jika perbincangan mereka akan didengar oleh wanita itu. Sebab Arga berpesan untuk tidak memberitahu Mayra terlebih dulu.
"Kita sebaiknya jangan bicara di sini! Bicara di luar aja yuk, di balkon! Ada sesuatu hal yang penting yang ingin aku sampaikan," jelas Mail.
Arga yang mendengar itu pun mengangguk, kemudian dia beranjak dari duduknya keluar dari ruangan bersama dengan Mail, berjalan menyusuri lorong menuju balkon.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Arga.
Mail mengeluarkan sebuah foto yang berada di jasnya, dan Arga menerimanya. Namun dahi pria tersebut mengkerut heran saat melihat seorang pria yang begitu gagah dalam foto tersebut.
"Ini siapa?" tanya Arga sambil menatap ke arah Mail.
"Dia adalah Pak Leo, pemilik dari PT Leonardo SN. Dan aku menemukan sebuah fakta yang begitu penting tentang istrimu," ujar Mail.
"Apa itu? Apa ada hubungannya dengan Pak Leo, ini?" tanya Arga, dan Mail langsung menganggukkan kepalanya.
Memang sedari pertemuannya semalam, Mail mendapatkan kabar dari anak buahnya, karena dia tidak hanya bekerja sendiri. Pria itu memiliki orang suruhan jadi cepat untuk mendapatkan informasi.
Dan dari informasi yang didapat oleh anak buahnya Mail, jika Pak Leonardo itu ada sangkut pautnya dengan penculikan Maira sewaktu bayi.
"Iya, sebenarnya dia adalah orang yang turut andil dalam kasus itu. Maksudku kasus penculikan yang--'
"Kasus penculikan siapa yang kalian maksud?" tanya seseorang di balik punggung Mail dan juga Arga.
BERSAMBUNG....
__ADS_1