Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Bersikap Dingin


__ADS_3

Happy reading...


Naina menatap heran ke arah suaminya. "Kenapa kamu malah tertawa, Mas? Emangnya perkataanku ada yang lucu?" Ketus Naina.


"Enggak sayang. Maaf, bukan seperti itu maksudku. Hanya saja lucu, bukannya kedua orang tua Mayra sudah meninggal ya? Lalu bagaimana bisa ceritanya tante Renata dan juga suaminya itu adalah orang tua kandung Mayra? Menurutku itu tidak masuk akal," jawab Reno sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mayra menghembuskan nafasnya, kemudian dia bangkit dari duduk lalu berjalan beberapa langkah di hadapan Reno, dan menatap ke arah suaminya dengan serius.


"Awalnya aku juga tidak percaya Mas, tapi itulah kenyataannya."


"Memangnya kamu sudah tahu alasannya? Bagaimana bisa mereka terpisah?" tanya Reno yang mulai serius.


Naina menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya, "I don't know. Sebab saat aku akan meminta penjelasan, waktunya juga tidak cukup. Mungkin nanti aku akan meminta penjelasan dari Kak Arga, kenapa bisa itu terjadi," jelas Naina.


"Apa! Kau akan bertemu dengan Arga? Tidak! Aku tidak mengizinkan!" Reno melarang dengan keras.


Naina mengerutkan dahinya saat mendengar penolakan dari suaminya. "Kenapa kamu tidak mengizinkan ku bertemu dengan kak Arga?" tanya Naina dengan heran.


Reno melengos, kemudian dia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai dada. "Tidak. Pokoknya sekali tetap tidak, ya tidak! Kalau kau berani menemuinya, aku tidak akan pulang!" ancaman Reno.


Naina tersenyum miring, kemudian dia mendekat ke arah suaminya dan duduk di tepi ranjang. Namun pria itu malah membelakanginya.


"Ciiiee ... ternyata ada yang cemburu nih?" ledek Naina sambil menoel punggung Reno. Namun pria itu malah menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, dan itu makin membuat Naina terkekeh.


Setiap melihat Reno cemburu, wajah pria itu terlihat begitu lucu. Dia tak menyangka sebegitu besar cintanya kepada dirinya. Sebab Reno bahkan tidak mengizinkan dia bertemu dengan Arga.


"Ayo ngaku! Pasti cemburu kan?" ledek Naina.


"Tidak. Siapa juga yang cemburu," jawab Reno di balik selimut.


Naina semakin tersenyum, kemudian dia berjalan mengitari ranjang dan mulai membaringkan tubuhnya di sisi Reno. "Oh, begitu. Jadi kamu nggak cemburu nih kalau aku nemuin ke Arga? Ya udah, kalau kamu memang nggak cemburu, aku bakal menemui dia besok," ujar Naina.


Kemudian dia membelakangi Reno dan itu membuat pria tersebut merasa kesal, lalu dia membuka selimutnya.


"Kan aku sudah bilang jangan menemuinya!"


Namun Naina tidak perduli, dia memejamkan matanya sambil tersenyum saat mendengar nada tak suka dari suami tercintanya.

__ADS_1


.


.


Naina bangun dengan wajah yang cerah. Semenjak kehamilannya menginjak 5 bulan, dia mulai bisa tidur nyenyak. Padahal pas awal-awal hamil, dirinya tidak bisa tertidur dengan nyenyak, ada saja yang menjadi kendala


Wanita itu menyediakan kopi dan juga sarapan untuk suaminya, karena keperluan Reno selalu diutamakan oleh Naina. Walaupun dia sedang hamil, karena wanita tersebut tidak mengalami mual-mual, jadi dia bisa beradaptasi dengan bau makanan.


"Mas, makan dulu yuk!" ajak Naina saat Reno masuk ke ruang makan


"Tidak. Aku makan di kantor saja," Jawab Reno dengan wajah yang datar.


Naina mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari suaminya tersebut, kemudian dia mengalungkan tangannya di leher Reno.


"Kamu masih marah kepadaku?" tanya Naina sambil mengadipkan sebelah matanya.


"Tidak. Aku hanya lagi banyak urusan saja. Ya sudah, kalau gitu aku berangkat ke kantor ya," ucap Reno. Kemudian dia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan.


Naina terdiam, sejujurnya dia sedih melihat sikap Reno yang dingin kepadanya. Tapi dia tahu Reno masih marah karena ucapannya semalam.


"Seharusnya bukannya aku yang sensitif ya? Kok ini malah kebalikannya, Mas Reno yang sensitif? Macam ibu hamil, ada-ada aja," gumam Naina sambil menggelengkan kepalanya, kemudian dia duduk di kursi dan mulai menyantap sarapannya


"Ini Bu, susunya."


"Terima kasih Bi," jawab Naina.


Bi Arum menganggukkan kepalanya. "Tidak usah khawatir dengan sikap bapak, terkadang wanita yang hamil, tapi pria yang ngidam," tutur bi Arum.


.


.


Naina memutuskan untuk pergi berjalan-jalan, karena dia merasa jengah terus berada di rumah. Wanita itu akan membeli buah-buahan untuk ibunya, kemudian dia mengunjungi Bu Linda dan juga Karina.


"Bi, aku pergi dulu ya," ucap Naina pada Bi Arum.


"Iya Bu, hati-hati di jalan. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut," kata bi Arum sambil mencuci piring.

__ADS_1


Naina keluar dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Dia menikmati jalanan yang mulai padat, karena hari juga sudah mulai siang. Wanita itu pergi ke supermarket untuk membeli buah-buahan.


Saat Naina keluar dari supermarket, dia lagi-lagi bertemu dengan Ivan. Wanita itu memutar bola matanya dengan malas. Entah kenapa Tuhan selalu saja mempertemukan mereka saat Naina habis berbelanja atau berjalan-jalan.


"Nai?" sapa Ivan.


"Hai Kak," jawab Naina sambil tersenyum canggung, kemudian dia berjalan ke arah mobilnya.


"Tunggu!" cegah Ivan


Pintu mobil yang tadinya terbuka kembali tertutup, "Iya Kak, kenapa?" tanya Naina.


"Apa kamu bahagia menikah dengan Reno?" Tanya Ivan to the point.


Naina yang mendengar itu pun merasa bingung, "Kenapa Kakak bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia. Sudahlah Kak, kalau Kakak ingin berbicara tentang masa lalu, aku tidak bisa. Coba untuk buka lembaran baru, atau coba untuk memaafkan Mbak Rere. Kalau begitu aku pamit ya," ujar Naina. Kemudian dia membuka pintu mobil namun, saat hendak masuk wanita itu pun kembali menyampaikan sesuatu kepada Ivan.


"Satu lagi, Kak. Jangan mengganggu kehidupan Rumah tanggaku bersama dengan mas Reno! Karena kami sudah bahagia, dan sebentar lagi kami akan dikaruniai anak. Kakak carilah kebahagiaan sendiri, karena cinta akan kembali masuk saat Kakak membuka hati untuk wanita lain. Dan cobalan untuk berdamailah dengan rasa sakit, walaupun itu tidak mudah." Setelah mengatakan itu Naina masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan meninggalkan tempat tersebut di mana Ivan masih Berdiri menatap kepergiannya.


Kata-kata Naina begitu pas menusuk hati Ivan, namun tidak semudah apa yang dikatakan oleh Naina, di mana ia bisa untuk membuka hatinya kembali dan berdamai dengan rasa sakit.


Walaupun Ivan sudah mencobanya untuk berdamai, tapi tetap saja tidak bisa. Dia sadar jika dulu luka yang ditorehkan kepada Naina begitu besar, hingga ia pun bisa merasakannya berdamai dengan rasa sakit itu tidaklah mudah.


'Sekarang aku paham, kenapa Naina bersikap dingin kepadaku. Ternyata aku sudah sangat keterlaluan, dan aku baru menyadarinya sekarang. Dan untuk berdamai dengan rasa sakit itu, dan membuka hatiku lagi, rasanya sangat susah. Bahkan aku tidak mampu.' batin Ivan


Di dalam mobil Naina terus aja mengingat tentang pertemuannya beberapa kali dengan Ivan, dan jujur saja dia merasa semua kenangannya bersama Ivan benar-benar kembali di kepala.


"Kdnapa kamu masih belum bisa untuk move on, kak? Kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu menyakitiku dan kamu bahkan tidak menerimaku saat fisikku jelek, saat aku dijauhi semua orang. Aku pikir, kamu adalah pria yang sempurna. Namun nyatanya, kamulah yang menyakitiku dengan sangat dalam," gumam Naina sambil menatap lurus ke arah depan.


\


Setelah sampai di rumah ibunya, dia pun turun dan langsung disambut oleh Karina. Karena wanita itu tahu jika Naina akan ke rumah.


"Kenapa wajah kamu kusut begitu sih?" tanya Karina saat mereka duduk di ruang.


"Aku bingung Kak, beberapa hari ini ada kejadian yang membuatku sedikit kaget tentang Mayra, tentang sikapnya Mas Reno dan tentang pertemuanku dengan Kak Ivan," jawab Naina sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ada apa dengan mereka bertiga?" tanya Karina dengan heran.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2