
Happy reading.....
Mayra mengajak Naina untuk perawatan sebelum Pernikahan nya, dari mulai luluran, meni pedi, creambath dan juga yang lainnya. Karena Mayra ingin di hari pernikahannya Naina terlihat begitu sangat cantik dan memukau.
Namun yang Mayra merasa heran adalah, beberapa hari ini wajah Naina terlihat begitu murung. Entah dia pun tidak tahu kenapa setiap ditanya Naina selalu menggelengkan kepalanya dan bilang jika semua tidak ada apa-apa dan baik-baik saja.
Akan tetapi, bukan Mayra namanya jika percaya begitu saja dengan ucapan Naina. Wanita itu sudah mengenal sahabatnya sejak lama, jadi Mayra sudah tahu dalamnya Naina seperti apa.
"Eh, lo kenapa sih, dari tadi muka ditekuk terus? Bahkan beberapa hari ini gue perhatikan lo itu murung? Seharusnya calon pengantin itu bahagia, wajahnya berseri tapi ini malah sebaliknya, muram Durja? Ada apa sih?" tanya Mayra saat berada di dalam kamar sambil membawakan susu untuk sahabatnya.
"Aduh, bisa gak sih, lo semalam aja nggak kasih gue susu. Lo pikir gue ini anak TK?" tolak Naina sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menolak gelas yang disodorkan oleh Mayra.
"Kan biar tidur lo itu nyenyak. Calon pengantin itu nggak boleh kurang tidur, nanti matanya kayak panda, terus nggak memukau deh di saat acara Ijab nanti."
Selalu kata-kata itu yang Mayra ucapkan, dan mau tidak mau Naina pun meneguk susu itu. Namun kali ini dia tidak menghabiskannya, karena Naina bosen setiap hari harus meminum susu saat akan tertidur seperti anak bayi saja.
.
.
Sementara itu di tempat lain, Rere sedang bolak-balik di ruang tamu menunggu kepulangan Ivan. Entah kenapa dia merasa heran dengan suaminya karena sudah beberapa hari ini Ivan jarang pulang bahkan terkesan menghindarinya.
Tak lama terdengar suara klakson mobil, dan Rere sangat yakin jika itu adalah Ivan. Kemudian dia berdiri di depan ruang tengah menyambut kepulangan suaminya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Rere sambil mengapit lengan Ivan dengan manja.
__ADS_1
Pria itu mengerutkan dahinya, merasa heran dengan sikap Rere yang tiba-tiba saja berubah menjadi hangat. Akan tetapi rasa pada wanita itu sudah hambar, Ivan kemudian menepis kasar tangannya.
"Aku lelah, mau tidur," jawab Ivan dengan nada yang dingin dan datar.
Kemudian dia meninggalkan Rere di ruang tengah, masuk ke dalam kamarnya karena Ivan sangat malas sekali jika harus berdebat dengan wanita itu. Semenjak mengetahui tentang perselingkuhan Rere, perasaan itu seketika lenyap begitu saja.
Rere yang melihat tingkah Ivan pun merasa kesal, dia mengepalkan tangannya kemudian wanita itu menyusul Ivan ke kamar.
"Mas, kamu itu kenapa sih akhir-akhir ini jarang pulang? Sekalinya pulang, istri malah dicuekin. Kamu itu punya istri di rumah, ngerti nggak sih! Seharusnya kamu tuh jangan--"
"Cukup ya! Mau aku pulang kek, mau tidak kek, itu bukan urusan kamu! Lagi pula, walaupun aku pulang juga tidak ada artinya buat kamu? Toh nafkah batin sudah kamu dapatkan dari selingkuhanmu itu bukan? Jadi untuk apa lagi aku berada di rumah? Lebih baik aku di luar, senang-senang dengan wanita lain," jawab Ivan sambil membuka kemejanya.
Rere yang mendengar itu pun merasa kesal, kemudian dia mendekat ke arah Ivan lalu melayangkan tamparan di wajahnya, membuat Ivan seketika menoleh ke arah Rere dengan tajam.
Kemudian dia mencengkram rahang Rere dengan kuat, hingga membuat wanita itu meringis. "Aduh ... sakit Mas! lepaskan!" pinta Rere.
Kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Ivan bahkan tidak peduli dengan tangisan buaya Rere. Karena hati pria itu sudah kebal tidak lagi bisa ditipu.
"Jahat kamu Mas, sama aku! Aku ini lagi mengandung anak kamu, Mas!" teriak Rere.
Ivan yang akan masuk ke dalam kamar mandi seketika menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah wanita itu. Dia pun berkata, "Anak aku yakin kalau itu darah dagingku? Aku sendiri bahkan tidak yakin. Kamu sudah tidur dengan banyak pria, dan mungkin saja anak itu salah satu dari mereka.
Sudahlah, jangan pernah berharap! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakuinya. Dan asal kamu tahu, aku tidak akan pernah memberikan satu peser hartaku kepadamu atau kepada anak itu, paham!" ancam Ivan dengan nada yang datar, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi dan sedikit membanting pintunya.
BRAK!
__ADS_1
Rere terduduk di tepi ranjang, meremas sprei dengan dada memburu menahan amarah. Dia tidak menyangka jika perselingkuhannya dengan Damar akan diketahui secepat itu, dan Refe tidak menyangka jika Ivan bisa berkata kasar bahkan bertindak di luar dugaannya.
Tadinya Rere pikir Ivan sangat mencintainya, sehingga dia mampu untuk membodohi pria itu. Tapi ternyata Ivan tidak mudah diperdaya dengan atas nama cinta.
"Sial! Aku tidak mungkin membiarkan Mas Ivan meninggalkanku tanpa sepeser harta pun. Aku harus mengelabui pria itu, agar dapat memiliki hartanya dan menguasainya. Bagaimana caranya ya?" gumam Rere sambil mengetuk ngetuk ranjang dengan jari telunjuknya, memikirkan cara agar dia bisa menguasai harta Ivan dan pergi bersama Damar.
Seketika matanya berbinar saat dia mempunyai satu ide, kemudian wanita itu mengambil ponselnya lalu berjalan keluar kamar untuk menelpon Damar, karena Rere tidak mau jika nanti Ivan mengetahui tentang pembicaraan mereka.
"Halo sayang," ucap Rere saat telepon tersambung dengan nada yang sedikit berbisik.
"Iya kenapa?" tanya Damar di seberang telepon.
"Aku punya rencana agar kita bisa menguasai hartanya Ivan," ujar Rere masih dengan nada yang berbisik, karena takut terdengar oleh suaminya.
"Apa itu?"
Kemudian Rere pun menjelaskan tentang rencananya kepada Damar, dan setelah beberapa saat dia menjelaskan Rere pun bertanya, "Bagaimana? Kamu setuju nggak sayang? Ide aku Cemerlang kan?"
"Wah ... ternyata pacarku ini bukan hanya cantik, tapi sangat cerdas. Aku yakin, setelah ini harta Ivan akan jatuh ke tangan kita. Dan dia akan bangkrut. Setelah itu kamu tinggalkan dia dan pergi bersama-sama menikmati kebahagiaan kita berdua," jelas Damar.
"Iya sayang, rasanya aku sudah tidak sabar sekali ingin segera bersama dengan kamu selamanya." Rere berkata dengan binar yang bahagia di wajahnya.
Mereka tidak sadar, jika Ivan sedang menguping di balik dinding. Tadi dia ingin mengambil handuknya karena lupa membawanya ke dalam kamar mandi, akan tetapi dia melihat Rere keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap, dan itu membuatnya sangat curiga.
'Ck! Kalian pikir bisa untuk mengelabuiku? Apa kalian pikir, bisa untuk menguras hartaku? Tidak akan kubiarkan itu terjadi!' batin Ivan sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
MAAF YA OTHOR UP CUMA 1 BAB AJA DRI KEMARIN🙏🏻🙏🏻OTHOR LAGI SAKIT. DOAKAN OTHOR CEPAT SEMBUH YA🤲🏻🤲🏻