Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Bertemu Mantan CAMER.


__ADS_3

Happy reading...


Naina saat ini tengah memasak untuk makan malam bersama ibu Linda, karena malam ini Reno akan pulang. Memang setelah kepulangan mereka dari Bulan Madu, Reno harus kembali ke Jogja, karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.


Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja makan, Naina pun membersihkan diri. Dia berencana akan ku supermarket sebentar untuk membeli buah-buahan.


"Bu, Naina pergi sebentar ya mau beli buah di supermarket. Nanti kan Mas Reno mau pulang," ucap Naina pada sang ibu.


"Iya, kamu hati-hati," jawab Bu Linda.


Naina memang meminta kepada Reno untuk tinggal bersama dengan ibunya, sebab sejak Mayra menikah, wanita itu pergi bersama dengan Arga, sedangkan Bu Linda sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi sebab hanya dia dan juga Karina lah putrinya.


Sementara Karina sudah berada di Jogja, dan dia jarang pulang ke Jakarta dan hanya Naina lah harapan Bu Linda satu-satunya. Karena Naina tidak tega meninggalkan sang Ibu di rumah sendirian.


Sesampainya di supermarket, Naina langsung memilih buah-buahan yang akan dimakannya. Setelah selesai dia pun berjalan ke arah kasir untuk membayar, namun tidak sengaja trolinya menabrak troli pembeli lainnya.


"Maaf Bu, saya tidak ..." Ucapan Naina terhenti saat melihat jika orang itu adalah Bu Santi, mantan calon mertuanya.


"Ibu Santi," ucap Naina dengan lirih.


"Naina."


Melihat itu Naina langsung tersenyum, kemudian dia berjalan ke arah Bu Santi lalu mencium tangannya. "Ibu apa kabar?" tanya Naina sambil tersenyum ramah.


Walaupun mereka gagal menjadi menantu dan mertua, tapi tidak membuat kesopanan dalam diri Naina luntur. Dan itu yang selalu disukai dan menjadi poin plus di mata Bu Santi.


"Alhamdulillah, kabar ibu baik. Kabar kamu dan juga suami gimana? Selamat ya, maaf Ibu waktu itu tidak bisa datang ke pernikahan kamu, karena lagi tidak enak badan. Padahal ibu ingin sekali menyaksikan kamu berada di pelaminan," ujar Bu Santi dengan raut wajah yang Sendu.


Di dalam hatinya dia merutuki kebodohan putranya yang telah gagal mempersunting Naina. Padahal Naina adalah menantu idamannya, gadis yang baik dan juga sangat sopan santun.


"Alhamdulillah Bu, kabar aku dan juga Mas Reno baik kok. Oh iya, kabarnya Rere sama Kak Ivan gimana Bu? Sebentar lagi pasti Rere akan melahirkan ya?" tanya Naina dengan wajah yang berbinar.


Dia sudah melupakan lukanya terhadap Ivan, melupakan semua juga kejahatan Rere, karena Naina tidak ingin menyimpan dendam kepada siapapun.

__ADS_1


"Oh iya, bagaimana? Apa kamu sudah isi?" tanya Bu Santi mengalihkan pembicaraan.


Naina yang mengerti arah pembicaraan wanita itu pun segera menggelengkan kepalanya. "Alhamdulillah belum, Bu. Mungkin nanti, lagi pula pernikahan aku dan juga Mas Reno kan baru satu bulan, belum lama. Jadi mungkin Allah masih berencana untuk memberikannya. Kami juga masih berusaha, doakan saja Bu semoga aku dan juga Mas Reno segera diberi momongan." Naina menatap ke arah Bu Santi dan terlihat kedua matanya tersirat raut wajah kesedihan.


"Aamiiin ... semoga ya."


"Ibu kenapa? Kok terlihat sedih seperti itu?" tanya Naina memberanikan diri.


"Tidak apa-apa, Ibu hanya ada masalah sedikit saja," jawab Bu Santi.


Kemudian Naina mengajak Bu Santi untuk duduk di sebuah taman di depan supermarket tersebut, dia ingin berbicara empat mata dengan wanita itu. Karena Naina tahu, Bu Santi sudah tidak memiliki suami dan pastinya tidak ada tempat curhat, sebab Ivan juga terlalu sibuk dengan kerjaannya.


"Sebenarnya ada apa, Bu? Kenapa raut wajah Ibu sangat sedih? Maaf jika Naina saat lancang, tapi---"


"Tidak apa-apa sayang, Ibu mengerti kok. Makasih ya kamu sudah perhatian sama ibu. Jujur, sebenarnya Ibu sedih, karena kamu dan juga Ivan gagal menikah. Namun semua sudah jalan takdir Allah, mungkin Ivan yang terlalu sangat bodoh telah membuang kamu dan memilih batu kerikil. Padahal kamu adalah menantu idaman ibu," jelas Bu Santi dengan raut wajah yang sendu.


Naina yang mengerti perasaan Bu Santi pun menggenggam tangan wanita itu. "Ibu jangan berkata seperti itu! Kita kan masih bisa ngobrol, lagi pula aku masih bisa menjadi anak ibu bukan? Walaupun tidak menjadi menantu, dan sekarang juga Ibu sudah mempunyai Mbak Rere dan sebentar lagi akan menimang cucu."


"Ada apa Bu? Kenapa ibu menangis?" tanya Naina.


"Ibu sedih sayang, Rere wanita pilihan Ivan tidak sebaik itu. Dia saat ini sedang berada di dalam penjara," jawab Bu Santi sambil menangis.


"Apa! D i dalam penjara? Kok bisa, Bu!" kaget Naina.


"Iya Naina, Ivan sendiri yang melaporkan istrinya dan memasukkannya ke dalam penjara," jelas Bu Santi.


Naina bertambah kaget saat mendengar jika Ivan yang melaporkan istrinya. "Tapi atas tuduhan apa, Bu? Kenapa kak Ivan melaporkan Rere? Dia kan sedang hamil anaknya Kak Ivan? Kenapa harus dijebloskan ke dalam penjara?" Naina tidak habis pikir kenapa Ivan melakukan itu.


"Awalnya Ibu juga tidak habis pikir, tidak percaya kenapa Ivan tega menjebloskan istrinya sendiri ke dalam penjara? Apalagi dalam keadaan hamil. Tapi setelah Ibu tahu kebenarannya, Ibu merasa kecewa, dan ibu merasa jika Rere pantas berada di sana."


Kemudian Bu Santi pun menceritakan kenapa Rere bisa dijebloskan ke penjara, dan kenapa Ivan melakukan semua itu. Dan Naina tentu saja sangat terkejut, satu tangannya menutup mulut dengan wajah yang begitu sangat syok.


Dia tidak menyangka jika Rere sejahat itu. Bahkan wanita itu sedang hamil, tapi Rela melakukan perselingkuhan dengan pria lain bahkan berencana untuk menghabisi Ivan.

__ADS_1


'Ya allah, kasihan sekali Kak Ivan. Dia pasti sangat tertekan, semoga Kak Ivan selalu diberi ketabahan dan ketegaran dalam menghadapi setiap ujian dalam hidupnya.' batin Naina yang merasa iba dengan kehidupan Ivan.


"Yang sabar ya Bu, Naina doakan semoga memang anak dalam kandungannya Rere itu adalah darah dagingnya Kak Ivan. Dan semoga saja perbuatan mamanya tidak berdampak kepada anaknya. Tapi jujur saja, Naina sedikit khawatir," tutur Naina.


"Khawatir kenapa, Nak?"


"Jika bayi itu lahir dan benar bukan anaknya kak Ivan, lalu akan kemana bayi itu Bu? Sudah pasti kan, Kak Ivan tidak ingin mengurusnya, karena dia bukanlah darah dagingnya. Sedangkan bayi itu sama sekali tidak bersalah." Naina menghela nafasnya dengan kasar, memikirkan bagaimana masa depan bayi tersebut.


Walaupun Naina tidak berada di posisi Ivan ataupun Rere, akan tetapi dia memikirkan kondisi bayi yang akan lahir nanti, dan Naina sangat yakin jika Ivan tidak mau mengurusnya.


"Entahlah, mungkin akan ke panti asuhan. Ibu pun tidak tahu, tapi sejujurnya Ibu juga merasa iba, tapi Ibu tidak mau merawat yang bukan cucu ibu sendiri Nak," jelas Bu Santi.


Setelah mereka berbincang cukup panjang, Bu Santi pun pamit karena hari juga sudah semakin sore, begitupun dengan Naina. Dia harus mempersiapkan dirinya sebab sebentar lagi Reno pasti akan sampai di rumah, atau mungkin dia sudah sampai.


Saat Nainaa tiba di rumah, benar saja mobil Reno sudah terparkir di teras, apalagi Jam sudah menunjukkan hampir pukul 06.00 sore.


"Assalamualaikum," ucap Naina.


"Waalaikumsalam, kamu udah pulang Nak," jawab Bu Linda.


"Iya Bu, oh iya, itu mobil Mas Reno. Dia sudah pulang ya?" tanya Naina kembali.


"Udah, tapi sepertinya dia sangat kelelahan. Itu lagi di kamar dari tadi belum keluar," jawab Bu Linda.


amendengar itu Naina merasa cemas, kemudian dia masuk ke dalam kamar dan melihat Reno sedang tidur membelakangi pintu.


"Mas, kamu mandi dulu yuk! Siap-siap untuk shalat magrib, nanti baru kita makan," ucap Naina namun tidak ada jawaban dari Reno.


Beberapa kali Naina memanggil namun Reno tidak menyahut, kemudian dia memberanikan dirinya untuk membalik tubuh Reno, dan alangkah terkejutnya Naina saat tubuh itu terbalik dan terlentang.


"Astaghfirullahaladzim! Mas Reno!" teriak Naina dengan wajah yang kaget


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2