Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Bonus Bab > Gadis Culun


__ADS_3

Happy reading.....


11 Tahun kemudian.


"Kak Daviiin!" teriak seorang gadis cantik yang baru saja selesai memakai seragam sekolah biru tua dan juga putih.


Dengan rasa kesal, gadis tersebut berjalan menuju sebuah kamar, yang tak lain adalah kamar sang kakak. Kemudian tanpa mengetuknya gadis itu langsung membukanya dengan paksa, menampilkan wajah yang garang dan tatapan yang begitu.


"Kak Davin! Balikin nggak, laptop aku!" pinta gadis tersebut dengan wajah kesalnya.


Pria yang saat ini tengah memejamkan matanya sedikit terusik, kemudian dia menarik selimut menutupi tubuh kekarnya.


"Kak Daviiin!" teriak gadis itu lagi.


"Apa sih? Berisik banget deh. Kakak ngantuk. Lagi pula, laptopnya ketinggalan di rumahnya Rehan," jawab seorang pria tampan di bawa selimut dengan enteng, yang tak lain adalah Davin.


"Apa! Ketinggalan?" kaget Vania.


"Hhhmm." Pria itu hanya bergumam saja, membuat gadis cantik tersebut merasa kesal. Kemudian dia menarik selimut yang menutupi tubuh sang Kakak, kemudian menarik tangannya dengan paksa.


"Pokoknya aku nggak mau tahu ya. Kakak ambil sekarang laptopnya! Aku tuh mau ke sekolah Kak. Sebentar lagi ada tugas ,Kakak gimana sih? Pokoknya aku nggak mau tahu, Kakak ambil sekarang laptopnya!" kesal Vania.


"Tapi Kakak masih ngantuk, Vani. Nanti aja ya."


"Tidak ada nanti-nanti. Ayo, cepetan! Nanti aku laporin mama sama papa, baru tahu kamu!" ancam Vania.


"Ntar aja deh, Kakak masih ngantuk." tolak Davin lalu dia kembali melanjutkan tidurnya.


Melihat kelakuan sang Kakak, Vania pun merasa kesal. Dia menghentakkan kakinya ke lantai, kemudian gadis tersebut keluar dari kamar dan berteriak memanggil papa dan mamanya.


"Papaaah! Mamaaa!" teriak Vania sambil menuruni tangga.


Davin terperanjat kaget saat mendengar teriakan sang adik. "Gawat!" ucap Davin, kemudian dia langsung beranjak dari tidurnya dengan langkah tergesa, sampai tersandung kursi belajar yang ada di hadapannya, sehingga pria itu pun meringis kesakitan.


"Aawwh! Kakiku!" ringis Davin, namun ia tidak peduli.


Pria tersebut langsung berlari keluar menyusul sang adik dengan sedikit tertatih, karena dia takut jika Vani mengadu kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ada apa sih, Vania? Kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak?" tanya Naina saat sedang menyiapkan sarapan pagi bersama dengan Bi Arum.


"Ini Mah, Kak Davin. Dia ngambil laptop aku, nggak bilang-bilang. Terus sekarang ... eeumph!" Ucapan Vania terhenti saat tiba-tiba saja Davin datang dan langsung membekap mulutnya.


"Hehhe ... nggak ada apa-apa kok Mah. Cuma salah paham aja. Lagian Vania, jangan didengar Mah," ujar Davin.


Naina hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat kedua tingkah dari Putra dan putrinya itu, kemudian dia melanjutkan menata sarapan di atas meja.


Dengan rasa kesal, Vania menginjak kaki Davin dengan sepatunya, sehingga membuat pria itu berteriak meringis kesakitan. Setelahnya dia menggigit tangan Davin sehingga membuat sakit itu terasa double.


"Aaaghh!"


"Syukurin! Emang enak. Lagian sukanya ngebekap mulut orang!" kesal Vania sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi meja makan dan melipat tangannya di atas meja dengan wajah ditekuk.


Tiba-tiba Reno datang, karena dia akan berangkat bekerja. Melihat Putra dan juga putrinya berantem, pria itu hanya menghela nafasnya saja, karena setiap hari pemandangannya selalu seperti itu. Kedua anaknya itu tidak pernah akur seperti Tom and Jerry.


Akan tetapi, walaupun begitu mereka saling menyayangi satu sama lain. Ya ... walau terkadang sering berantem dan membuat kegaduhan di rumah, tapi tanpa adanya pertengkaran kedua anaknya, rumah itu terasa sepi.


"Ada apa sih, Davin, Vania? Kalian ini bisa tidak sih, satu hari saja tidak bertengkar! Pusing tau nggak sih Papa sama Mama dengarnya. Kalian ini kan adik kakak, seharusnya akur. Kamu juga Davin, ngalah dong sama adikmu! Kan kamu di sini kakak, jadi kamu harus banyak mengalah. Dia masih kecil," ujar Reno memberi pengertian kepada kedua anaknya.


"Tuh Kak, dengar kata Papa, mengalah." Timpal Vania dengan tatapan meledek ke arah Davin, dan pria itu hanya merengut dengan kesal.


Melihat itu Davin merasa gemas, kemudian dia mengacak rambut Vania, sehingga gadis tersebut malah semakin kesal kepadanya. Kemudian dia mencubit pinggang Davin, sehingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Aduh! Aduh dek, sakit! Kamu ngapain sih cubit-cubit? Sakit tau nggak. Lepasin!" Vania pun melepaskan cubitannya.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, ambil sekarang atau aku bakal mogok bicara sama Kakak!" ancam Vania.


"Nggak! Kakak nggak mau. Ini masih pagi, Kakak males naik motor."


"Davin!" Reno menatap ke arah putranya dengan kata menekan, membuat Davin seketika menghela nafas.


Setelah meminum susu, pria itu pun langsung pergi mengambil kunci motor menuju rumah Rehan untuk mengambil laptop adiknya. Kebetulan rumah Rehan memang tidak jauh, hanya berjarak 15 menit saja dari rumahnya jika di tempuh pakai motor.


.


.

__ADS_1


"Nih laptopnya." Davin menyerahkan laptop yang sudah ia ambil dari rumah Rehan.


"Terima kasih Abang ku sayang. Jangan lagi-lagi ya ngambil laptopku tanpa izin. Punya laptop sendiri juga, beli 10 kalau mau! Jangan ambil punya orang." Vania berkata dengan nada yang ketus, sementara Davin hanya acuh saja.


Setelah itu Vania pun berpamitan kepada kedua orang tuanya, sementara Davin memang masuk siang jadi dia agak santai.


.


.


Siang ini Davin, Rehan dan juga Gibran tengah berada di kantin, mereka sedang nongkrong sambil menunggu pelajaran yang 30 menit lagi akan dimulai.


Namun, saat keduanya sedang minum, tiba-tiba saja dari kejauhan ada seorang gadis yang tengah dibully oleh geng yang berada di kampus tersebut.


"Sebenarnya gue kasihan tahu sama itu cewek culun, tiap hari kerjanya di bully terus sama geng The Sister," ucap Gibran sambil meminum jusnya.


Rehan hanya diam saja bersama dengan Davin, tidak mau menanggapi karena mereka juga tidak mau tahu.


"Bentar ya, gue ke toilet dulu," ucap Davin berpamitan. Kemudian dia beranjak dari duduknya, berjalan melewati kerumunan geng the sister yang sedang membully seorang gadis culun.


Namun, saat Davin lewat, tiba-tiba saja salah satu geng the sister tidak sengaja mendorong gadis culun itu ke arah Davin, sehingga membuat jus yang berada di tangan wanita itu tumpah mengenai lengan kemeja milik pria tampan tersebut.


Davin menganga dengan tatapan melongo ke arah wanita itu, namun terkesan tajam. Sementara gadis tersebut hanya menundukkan kepalanya dengan tangan sedikit bergetar karena ketakutan.


"OMG! My prince, baju kamu kotor sama si culun," ucap Melani dengan wajah yang dibuat syok.


"Ma-afkan sa-ya Kak. S-aya tidak se-ngaja," ucap gadis culun itu dengan sedikit bergetar.


Davin menatap ke arah gadis culun tersebut dengan kesal, sebab kemejanya kotor. Dia paling tidak suka dengan gadis yang ceroboh.


Sementara itu Melani beserta gengnya hanya tersenyum sinis, mereka yakin jika Davin akan memberi pelajaran kepada gadis culun tersebut.


'Rasain lo gadis culun.' batin Melani Sambil tertawa menyeringai.


HAP!


Davin menarik tangan gadis culun tersebut keluar dari kantin dan sedikit menyeretnya, sehingga membuat gadis itu sangat ketakutan. Sebab Ia takut jika Davin akan melakukan hal yang tidak tidak.

__ADS_1


END!


RENCANANYA CERITA INI AKAN AUTHOR SAMBUNG DI SEASON 2. JADI, PANTENGIN TERUS YA SAMPAI NOVELNYA LOUNCHINGšŸ¤—


__ADS_2