Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Akan Mengungkap Semuanya


__ADS_3

Happy reading.....


Saat sampai di restoran, Mayra mencari suaminya, yang ternyata sudah sampai di sana. Wanita itu berjalan mendekat ke arah meja, kemudian dia duduk di kursi di hadapan Arga.


Mayra menatap ke arah lain, sebab dia masih kesal kepada suaminya. Kemudian Arga menggeser kursinya sehingga dia duduk di samping sang istri.


"Ya ampun sayang! Tidak baik mendiamkan suami sudah 3 hari. Nggak boleh loh dalam Islam bermusuhan atau bermarah-marahan lebih dari 3 hari," ujar Arga sambil menopang dagunya dan menatap ke arah.


Tanpa menjawab ucapan Arga, wanita itu memesan minuman dan juga makanan.


"Maaf ya Mas, aku sih nggak marah cuma lebih ke kecewa aja. Sebab kamu tidak mau jujur sama aku. "Yah, apapun itu sih bagiku tidak masalah kalau kamu tidak mau mengatakannya. Toh aku juga kalau ada apa-apa nggak usah bilang sama kamu, buat apa terbuka," jawab Mayra dengan cuek.


Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung harus berbicara apa. Apalagi dengan Mayra, sebab sejak tiga hari Mayra bahkan berkata dengan nada yang dingin.


"Sayang_ bukan seperti itu. Aku--"


"Sudahlah Mas, kita ke sini untuk makan siang kan. Lagi pula aku tidak marah, kalau kamu mau minta hak kamu ya monggo saja, aku akan memberikannya. Jadi aku tidak menanggung dosa." Mayra memotong ucapan Arga.


Beberapa menit mereka pun terdiam, hingga makanan datang. Dan Mayra langsung menyantapnya tanpa menunggu Arga. Tapi dia tidak bisa menghabiskan makanan itu, sebab mulutnya terasa mual.


"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Arga.


"Tidak berselera," jawab Mayra dengan singkat.


Arga memegang kedua tangan Mayra, dia mencoba untuk membujuk sang istri. Namun Maira segera menepis tangan itu.


"Sayang, please dengarkan dulu penjelasan aku."


"Maaf Mas, kalau memang makan siang sudah selesai_ aku pamit dulu ya mau pulang. Soalnya capek banget. Kan kata dokter aku nggak boleh stress, nggak boleh kelelahan." Lagi-lagi Maira memotong ucapan Arga, kemudian dia bangkit dari duduknya.


Wanita itu pun pergi meninggalkan Arga, namun segera ditahan oleh pria tersebut. Dia tidak membiarkan Mayra untuk pulang sendiri.


"Tunggu sayang! Aku akan mengantarmu pulang!" cegah Arga sambil memegang tangan Mayra.


"anggak usah Mas. Aku pulang sama sopir saja!" tolak Mayra sambil melepaskan genggaman tangan Arga.


Namun pria itu ngotot, kemudian dia langsung mengangkat tubuh Mayra, menggendongnya dan memasukkannya ke dalam mobil. "Jangan menolak suami, dosa."


Mendengar kata-kata itu Mayra pun hanya diam, akhirnya dia pasrah diantarkan oleh Arga untuk pulang. Namun selama dalam perjalanan wanita itu terus saja terdiam. Bahkan dia tidak melirik ke arah Arga sedikitpun.


.


.


Saat ini semua tengah berkumpul di meja makan untuk makan malam, di sana Mayra juga sudah menyantap makanannya.


Dia memang masih melayani Arga mengambilkan makanan untuk pria itu, namun sekarang raut wajahnya terlihat cuek dan dingin. Dan itu sangat terasa oleh tante Evelyn dan juga Om Samsul, selaku orang tua dari Arga.

__ADS_1


"Jika kalian memang ada masalah, sebaiknya dibicarakan baik-baik. Kalian ini kan suami istri, jadi apapun masalah itu, kalian tidak boleh saling diam satu sama lain. Masalah itu dibicarakan dan cari jalan keluarnya," tutur Om Samsul menasehati pasangan suami istri tersebut.


"Maaf Mah, Pah. Mayra tidak merasa mempunyai masalah dengan Mas Arga. Jujur, Mahra hanya kecewa saja kok, karena suami Mayra sendiri tidak pernah jujur tentang apapun. Dan dia selalu menyembunyikannya dari Mayra, padahal jika memang Mas Arga takut terjadi apa-apa dengan kandungan Mailyra, ya semuanya kan bisa dibicarakan secara baik-baik, perlahan-lahan, Insyaallah May bisa kok mengerti. Ya sudah, kalau gitu Mayra pamit dulu ya, soalnya besok kan ada kelas yoga ibu hamil," ujar Mayra meninggalkan meja makan.


Arga terdiam, dia merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal besar dari sang istri. Kemudian Om Samsul dan juga tante Evelyn menatap ke arah putranya.


"Kamu sudah dengarkan nggak apa yang dibicarakan oleh istrimu? Dia hanya ingin kejujuranmu, dan dia juga pasti akan mengerti. Sebenarnya masalah apa sih yang kamu sembunyikan dari Mayra? Sampai kamu begitu takut terjadi apa-apa dengan kandungannya?" tanya Tante Evelyn yang seakan penasaran.


Dia sangat yakin jika masalah itu sangat besar, sebab tidak mungkin Andra menyembunyikannya dari Mayra, jika masalah itu bisa dibilang hal yang sepele.


Arga yang mendengar pertanyaan dari sang mama seketika menatap ke arah kedua orang tuanya, kemudian dia pun menjawab, "Sebenarnya ini ada hubungannya dengan tante Renata dan juga Om Gunawan."


"Ada apa sama mereka?" tanya Om Samsul.


Kemudian Arga pun menjelaskan dengan suara yang sedikit berbisik, karena takut Mayra mengetahuinya. Dan mendengar itu, tante Evelyn beserta Om Samsul tentu saja sangat kaget, mereka tidak menyangka jika itu adalah hal yang sangat besar. Pantas saja Arga menyembunyikan semuanya dari Mayra.


"Tapi Ga, mau sampai kapan kamu menyembunyikannya? Pada akhirnya Mayra juga akan mengetahui semuanya bukan? Dan kamu lihat sendiri sekarang, sikapnya saja seperti itu kepadamu. Kalau kamu tidak jujur, mungkin Mayra tidak akan memberikanmu jatah." jelas Om Samsul sambil meminum kopinya.


"Sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan Mayra sedikit demi sedikit, dari hati ke hati. Jangan langsung pada intinya. Buat dia senyaman mungkin dulu, baru nanti kamu bicara tentang masalah itu. Tapi sebelumnya kamu izin dulu pada tante Renata dan juga Om Gunawan, selaku orang tua Mayra," jelas tante Evelyn memberi usul.


Arga terdiam, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya. Dia rasa memang sudah waktunya Mayra mengetahui itu semua.


Kemudian pria tersebut meninggalkan meja makan menuju kamar. Dia melihat Mayra sedang membaca buku novel kesukaannya, dan saat merasakan Arga masuk ke dalam kamar, Mayra menutup buku tersebut, kemudian dia berjalan ke arah sofa dan menyalakan televisi.


"Sayang?" Panggil Arga. "Aku mau bicara sama kamu!"


"Bicara aja, Mas," jawab Mayra tanpa menoleh ke arah pria tersebut.


Mayra yang tadinya sedang merebahkan tubuh di sofa seketika bangkit duduk, kemudian Arga duduk di samping Mayra, menggenggam tangan wanita itu dengan tatapan yang begitu dalam.


"Ada apa, Mas?" tanya Mayra.


"Maaf jika selama beberapa hari ini aku membuatmu sedih. Maaf jika aku menyembunyikan sesuatu dari kamu. Tapi aku melakukan itu, karena aku takut jika terjadi apa-apa dengan anak kita. Karena aku sangat yakin, apa yang aku ucapkan nanti dan kebenaran apa yang akan kamu ketahui, pastinya akan membuat kamu sangat syok. Dan aku takut jika nanti malah berdampak buruk pada kandungan kamu saat ini," jelas Arga


Mayra yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya. Dia sudah tahu jika ada sesuatu hal yang besar, itu kenapa Arga tidak mau berbicara kepadanya.


"Tapi Mas, apapun itu Insya Allah aku bisa kok menerimanya. Memangnya apa yang kamu sembunyikan dariku? Masalah besar apa itu?"


Terlihat Arga terdiam, dia seperti ragu untuk mengungkapkan semuanya. "Aku akan memberitahumu besok, untuk sekarang kita tidur dulu ya."


Ferlihat wajah Mayra sangat kecewa saat mendengar jawaban dari Arga. Dia pikir pria itu akan mengatakannya malam ini.


"Jangan cemberut gitu dong! Besok aku akan cerita, janji!" Arga memberikan jari kelingkingnya, dan Mayra yang melihat itu pun segera menyatukan jari kelingkingnya juga.


"Janji ya!" ucap Mayra.


"Janji sayang."

__ADS_1


Kemudian mereka pun tidur malam, karena Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Mayra juga ada kelas hamil besok pagi jam 08.00.


.


.


Pagi-pagi saat Mayra sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, Arga menggunakan kesempatan itu untuk menelpon tante Renata.


Dia akan meminta izin kepada pasangan suami istri itu untuk membongkar semuanya kepada Mayra, karena Arga juga tidak mau jika Mayra terus saja marah kepada dirinya.


"Halo Tante, assalamualaikum," ucap Arga saat telepon tersambung.


"Waalaikumsalam nak Arga, tumben sekali menelpon tante pagi-pagi seperti ini?" jawab Tante Renata di seberang telepon.


Sejenak Arga terdiam, dia memilah kata yang pas untuk mengungkapkan apa yang dia katakan kepada wanita itu.


"Tante, sebenarnya Arga ingin meminta izin kepada Om juga Tante, karena Arga akan mengungkapkan semuanya kepada Mayra."


"Apa! Maksud kamu? Kamu akan membongkar semuanya kepada Mayra?" kaget tante Renata.


"Iya tante," jawab Arga. Kemudian dia pun menceritakan tentang sikap Mayra akhir-akhir ini kepada dirinya, dan Arga tidak bisa melihat Mayra bersikap dingin seperti itu.


Tante Renata terdiam di seberang telepon, hingga beberapa menit.


"Halo Tante, jadi bagaimana? Apa boleh?" tanya Arga kembali.


"Ya, kalau Tante sih mengijinkan saja. Cuma apa kamu yakin, tidak akan berdampak buruk pada kandungan Mayra? Seperti yang kita tahu kan dari awal, kalau Mayra kan sedang hamil, jadi jika sampai dia nanti syok saat mendengar kenyataan itu dan dia membenci tante dan juga Om Gunawan, bagaimana?" jelas tante Renata dengan nada yang begitu cemas.


"Tidak akan tante. Insya Allah Mayra bisa kok menerimanya. Aku akan bicara dengan Mayra dari hati ke hati, dan sedikit demi sedikit. Agar Mayra juga bisa memahami situasinya. Tante tenang saja, setelah aku berbicara dengan Mayra nanti, kita akan melakukan acara makan malam bersama," tutur Arga.


Akhirnya tante Renata pun menyetujui. Dia juga akan bilang kepada suaminya, setelah itu telepon pun terputus, karena Arga melihat Mayra sudah selesai dengan ritual mandinya.


"Kamu baru menelpon siapa, Mas?" tanya Mayra dengan tatapan menyipit.


"Oh ini, rekan bisnisku. Biasa buat meeting nanti siang," bohong Arga.


Mayra hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia berjalan ke arah cermin dan menyisir rambutnya yang basah. Karena semalam mereka baru saja melakukan olahraga yang panas.


Arga yang melihat itu pun memeluk tubuh Mailyra dari belakang. "Sayang, nanti siang aku akan mengungkapkan semuanya. Nanti kamu ke kantor ya!" pinta Arga.


Maimyra menganggukkan kepalanya, rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera mendengar rahasia apa yang suaminya sembunyikan.


"Apa tidak bisa sekarang saja, Mas?" tawar Mayra


"Tidak bisa sayang. Aku sebentar lagi ada meeting. Ya sudah, kita turun yuk ke bawah sarapan!" ajak Arga.


Mayra mengangguk, kemudian mereka menuruni tangga untuk ke lantai bawah menuju meja makan, di mana Tante Evelyn dan juga Om Samsul sudah menunggu.

__ADS_1


'Duh, kenapa aku deg-degan gini ya mendengar kalau Mas Arga akan mengungkapkan semuanya nanti siang.' batin Mayra.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2