Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
3 Twin Boys


__ADS_3

Happy reading.....


"Ya ampun! Congratulation ya. Akhirnya lo bisa berkumpul kembali dengan keluarga kandung lo," ucap Naina saat sampai di restoran dan langsung memeluk tubuh Mayra.


"Iya Nai, makasih ya. Gue juga senang banget. Ya ... walaupun memang ini tidak mudah, tapi di sini kan kedua orang tua gue nggak salah. Jadi gue nggak ada alasan untuk membenci mereka," jawab Mayra sambil mengangkat kedua alisnya.


"Yuup! Bener banget." Naina mengacungkan kedua jempol ke arah Mayra, dan membuat wanita itu terkekeh.


.


.


Ivan sedang duduk di sebuah kursi tunggu sambil menggendong Embun, dan tak lama Rere datang dikawal oleh seorang polisi wanita.


Melihat kedatangan suami dan juga anaknya, Rere sangat bahagia, senyumnya mengembang di wajah cantiknya yang mulai kusam. Kemudian dia mendekat ke arah Ivan.


"Apa aku boleh menggendongnya, Mas?" tanya Rere, dan tentu saja Ivan mengangguk. Kemudian dia mulai menyerahkan Embun ke tangan wanita itu.


Rere mengecup kening bayi tersebut dengan penuh kelembutan. Dia mengusap pipinya, "Mama sangat merindukanmu, Nak. Bagaimana kamu tinggal sama Papa? Baik-baik aja kan? Papa menyayangi kamu kan, Nak?"


Mendengar itu Ivan pun berkata, "Dia baik-baik saja tinggal bersamaku. Aku tidak menyiksanya kok, tenang saja!"


"Oh ya, Mas, namanya siapa? Apa kamu sudah memberi nama untuk anak kita?" tanya Rere sambil menatap ke arah Ivan.


"Iya, namanya Embun Saraswati."


"Nama yang sangat cantik." Rere kembali mengecup pipi Embun, membuat bayi itu menggeliat dengan lucu.


"Oh iya Rere, ini tes DNA dari dokter. Dan di situ tertulis dan menyatakan, jika Embun bukanlah putriku," tutur Ivan sambil menatap ke arah istrinya.


Mendengar itu Rere menampilkan wajah yang sedih. Dia sudah tahu jika Embun bukanlah putri dari Ivan, satu tangan wanita itu mengusap pipi lembut bayi mungil tersebut.


"Jika kamu sudah mengetahui jika Embun bukanlah putrimu, apa yang akan kamu lakukan Mas?" Rere menatap kembali ke arah Ivan. "Jika kamu memang mau menceraikanku, maka ceraikan saja Mas, talak aku sekarang! Tapi aku mohon titipkan Embun ke panti asuhan ya, karena setelah aku keluar dari penjara, aku akan mengambilnya." Rere langsung memeluk tubuh embun sambil menangis.


Melihat wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu menitikan air mata, Ivan pun menjadi tak tega. Dia dapat melihat jika Rere benar-benar sudah berubah.


"Memangnya kau siap jika aku menceraikanmu? Apakah kau sanggup hidup tanpa ku?" tanya Ivan sambil mengangkat satu alisnya dengan tatapan menyipit ke arah Rere.


Rere menghapus air matanya, kemudian dia menatap ke arah Ivan sejenak dengan tatapan yang sendu. Sejujurnya ia tidak bisa hidup tanpa Ivan, karena sekarang Rere mulai mencintainya.


Dia menyadari jika selama ini sudah jahat kepada Ivan. Kemudian Rere pun menjawab, "Insya Allah aku siap, Mas. Jika kamu terus berada di sisiku, kamu akan tersakiti. Aku sudah jahat kepadamu, jadi untuk apa aku masih bertahan di sisimu, Mas? Lagi pula, aku ini wanita yang kotor. Kamu adalah pria yang baik, tidak pantas bersanding denganku. Aku hanya meminta kamu untuk membawa Embun ke panti asuhan, karena hanya dialah hartaku satu-satunya. Dan kamu tidak usah khawatir, aku bisa kok hidup tanpa kamu, karena Allah pasti akan memberikan rezeki sekecil apapun itu, dan dari manapun itu Mas," terang Rere sambil kembali memeluk tubuh Embun.


Mendengar jawaban dari istrinya, membuat Ivan tersentil. Kemudian dia memeluk tubuh Rere, membuat wanita itu terpaku.


"Aku memang marah kepadamu, tapi seperti apa yang Naina katakan, semua manusia itu punya kesalahan, punya kekurangan dan kelebihan. Bukan hanya kamu, tapi aku juga mempunyai kekurangan. Akupun orang yang jahat, karena telah menghianati Naina dulu, memandangnya secara fisik. Aku tidak akan meninggalkanmu Rere, aku akan merawat Embun. Walaupun dia bukan putriku, tapi aku sangat menyayanginya. Dan kami akan menunggu kamu keluar dari sini, dan kita akan hidup bersama," tutur Ivan.


Mendengar penuturan dari suaminya, Rere benar-benar tidak percaya jika ternyata Ivan memberikan kesempatan kedua kepadanya, dan itu benar-benar membuatnya sangat bahagia.


.


.

__ADS_1


Saat ini adalah hari ulang tahun Ibu Sumarni, dan dia diundang ke Jakarta oleh Reno, pria itu juga menjemputnya kemarin sore.


Reno sengaja mengundang semua keluarganya dari Naina, begitupun dengan Mayra dan Arga dengan keluarga mereka.


"Assalamualaikum, selamat malam. Jadi aku sengaja mengundang kalian semua ke sini, sebab malam ini adalah bertambahnya umur ibuku yang sekarang sudah berusia 50 Tahun," ucap Reno sambil mengusap kepala sang ibu


"Tidak ada kue perayaan ulang tahun, kami hanya merayakannya dengan makan malam saja. Dan saya juga meminta doa dari kalian semua untuk kebaikan ibu saya, tentunya doa-doa yang baik," kekeh Reno.


Kemudian mereka pun mulai menyantap makan malam, di mana saat ini semua makanan tersaji di sana. Ada orang tua Arga dan juga orang tua kandung Mayra beserta dengan Sahrul dan anak istrinya.


"Oh iya Nak Dewa, kapan Karina melahirkan? Sepertinya sudah bulannya ya?" tanya Tante Monica kepada Dewa.


"Iya Tante, dari tanggalnya sih seharusnya 5 hari lagi," jawab Dewa sambil mengusap perut istrinya.


"Lalu, Naina, Mayra, kalian lahirannya kapan?" tanya Bu Sumarni.


"Kalau aku dua minggu lagi," jawab Mayra.


"Kalau aku 10 hari lagi," Timpal Naina.


"Waah! Sepertinya jarak antara lahiran kalian deket-deket sekali ya?" kekeh tante Renata.


Semua orang tertawa sambil sesekali bercengkrama dan bertukar pikiran tentang masalah bayi, memberikan pengertian kepada tiga wanita hamil itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam dan mereka memutuskan untuk pulang. Namun tiba-tiba saja, Karina merasakan perutnya begitu sangat sakit. Memang sedari pagi dia sudah merasa pegal di bagian pinggangnya, tapi tadinya Karina fikir itu hanya kontraksi biasa saja.


"Aawwh! Sssh! Perutku Mas. Ya Allah perutku sakit!" ringis Karina sambil menggenggam erat tangan Dewa.


"Ya sudah, kalau begitu kita bawa Karina ke rumah sakit yuk!" ajak Bu Sumarni.


Semua yang ada di sana pun menjadi panik, begitu pula dengan Mayra dan juga Naina. Dan mereka bangkit dari duduknya untuk membawa Karina ke rumah sakit.


Namun saat mereka baru saja akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba tiba-tiba saja Naina juga merasa sakit di bagian perutnya. "Aduh! Aduh Mas! Perutku juga sakit, Mas," ucap Naina sambil meringis kesakitan.


Reno yang melihat itu tentu saja sangat panik. "Sayang, kamu kenapa? Apa kamu juga mau lahiran?" tanya Reno dengan wajah yang cemas.


"Aku tidak tahu, Mas. Aawwh! Perutku sakit. Aduh!" ringis Naina sambil menjambak rambut Reno.


"Aduh sayang, jangan jampak rambut aku! Aku juga sakit!" ringis Reno.


Semua orang yang ada di sana tentu saja sangat panik, saat dua orang wanita hamil tengah meringis kesakitan. Kemudian mereka langsung berjalan ke arah parkiran dan membawa Naina beserta dengan Karina.


Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Mayra juga merasakan keram di bagian perutnya. "Aawh! Perutku sakit. Aduh ... sepertinya aku juga akan melahirkan!" ringis Mayra sambil mencengkram lengan Arga.


Melihat itu semua orang yang ada di sana saling menatap satu sama lain, kemudian mereka menepuk jidat serempak, saat melihat ketiga wanita itu akan melahiran di saat yang bersamaan.


"Aduh! Aawwh!" ringis ketiga wanita tersebut.


"Sebaiknya kita cepat bawa mereka ke rumah sakit!" timpal Om Gunawan memberikan masukan.


Lalu mereka langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukannya menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di sana, mereka langsung di bawa ke ruang bersalin, ditemani dengan para suami masing-masing. Sementara yang lain menunggu di luar dengan harap-harap cemas.


"Ya ampun! Mereka itu lahiran bisa secara bersamaan begitu?" heran tante Renata sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya bener-bener sangat unik," timpal Sahrul yang masih sangat syok melihat ketiga wanita hamil itu bisa kontraksi secara bersamaan.


Setelah menunggu selama 4 jam lebih, dan Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, terdengar tangisan bayi dari dalam.


Semua yang ada di sana pun nampak begitu bahagia, dan setelah dokter keluar mereka diizinkan untuk masuk dan melihat keadaan ketiga wanita yang sekarang sudah menjadi Ibu tersebut.


"Masya Allah! Ibu benar-benar tidak menyangka, kalian bisa lahiran bersamaan seperti ini. Hamilnya juga sama-sama, lahiran pun sama-sama. Padahal hanya berjarak beberapa hari dan minggu saja?" heran Bu Sumarni namun nampak wajahnya bahagia.


Namun tatapan semua orang terperangah kaget saat melihat keadaan ketiga suami yang menemani istrinya melahirkan.


Di mana, terlihat Reno, Arga dan Dewa dari rambut sama baju sudah tak karuan. Apalagi di tubuh Dewa dan Arga ada luka cakar.


"Jangan ketawa Mah!" ucap Arga pada sang mama yang sedang mentertawakannya.


Kemudian bu Sumarni berjalan ke arah Reno dan Naina, dan langsung menggendong cucu pertamanya. Sedangkan tante Renata dan juga Om Gunawan serta kedua orang tua Arga berjalan ke arah Mayra, untuk melihat cucu mereka. Begitupun dengan bu Linda, dia juga berjalan ke arah Karina.


"Kalian akan memberi nama anak kalian siapa? Mana semuanya sama lagi, laki-laki. Ini kalau besar, bisa jadi Twin Boys." timpal Om Gunawan sambil terkekeh kecil.


"Kalau aku akan menamakan Putraku, dengan nama Rehan, " jawab Dewa.


"Kalau aku, Davin," ucap Reno.


"Kalau aku, akan menamakan Putraku dengan Gibran," jawab Arga.


"Wah! Nama anak kalian bagus-bagus sekali. Semoga bisa menjadi orang yang berguna dan penuh kasih sayang ya," ucap tante Renata.


.


.


Setelah beberapa hari mereka dirawat, keduanya pun dibawa pulang ke rumah. Dan rencananya saat acara pemberian nama setelah 40 hari, mereka akan mengadakan acara di tempat yang sama dan juga bersamaan.


Mereka semua mengikuti adat dari kedua orang tuanya, dan rencananya Naina akan mengundang beberapa anak yatim.


Saat ini Naina beserta dengan Karina masih berada di rumah Bu Linda, begitupun dengan Bu Sumarni. Mereka akan tinggal di sana sampai 40 hari nanti.


Dan rencananya acara 40 hari nanti akan dilangsungkan di sebuah hotel yang sudah disewa oleh om Gunawan.


Saat Naina sudah selesai memakaikan baju putranya, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk. Dan ternyata itu adalah ibu Sumarni yang mengabarkan, jika di depan ada tamu yang ingin melihat Naina dan juga bayinya.


"Siapa ya, Mas?" tanya Naina kepada Reno.


"Mungkin saja tetangga sayang. Ya udah yuk, kita keluar," jawab Reno sambil menggendong Davin, dan mengecup pipi putranya dengan gemas.


"Lihat, dia benar-benar sepertiku kan, tampan," ucap Reno tak mau kalah. Sedangkan Naina hanya memutar bola matanya saja dengan malas.


Setiap hari Reno selalu mengatakan hal tersebut, dan Naina selalu menjawabnya dengan iya. Karena dia sudah lelah menjawab pertanyaan yang sama.

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2