Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Acara Makan Malam


__ADS_3

Happy reading....


Saat berada di meja makan, Naina dan juga Reno terus saja melirik satu sama lain. Mereka terus tersenyum dan itu membuat Bu Linda merasa heran.


Sebab tidak biasanya pasangan tersebut tersenyum tanpa alasan, apalagi Bu Linda dapat melihat binar bahagia di wajah putrinya.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu terlihat bahagia sekali?" tanya Bu Linda pada Naina.


"Tidak apa-apa Bu," jawab Naina sambil tersenyum. "Ya sudah, kita lanjutkan lagi yuk makannya!"


Saat mereka baru saja selesai makan, tiba-tiba bel pintu rumah itu berbunyi, lalu bi Arum berjalan untuk membuka pintu tersebut. Dan mengabarkan jika Dewa dan juga Karina datang.


Naina dan juga Reno pun menyambut baik kedatang kakaknya, sebab Naina tahu jika Karina datang untuk menengok keadaan ibunya.


"Bagaimana keadaan Ibu? Apa masih ada yang sakit? Maafkan Karina ya! Karena tidak bisa tinggal bersama dengan ibu. Tapi Karina sudah berbicara kok sama Mas Dewa, kalau kita akan kembali tinggal di rumah ibu. Dan mungkin nanti mas Dewa satu minggu sekali akan pulang ke Jakarta," ujar Karina.


"Tidak apa-apa Nak, ibu tinggal sendiri pun tak apa. Lagi pula, kemarin memang Ibu sedikit letih saja, tensi darah ibu kan juga rendah," jawab Bu Linda sambil mengusap tangan Karina dengan lembut.


"Tidak. Pokoknya Karina akan tetap tinggal bersama dengan ibu. Iya kan Mas Dewa?" tanya Karina sambil melirik ke arah suaminya.


Dewa menganggukkan kepala, "Benar Bu. Saya dan juga Karina memutuskan agar kami tinggal bersama dengan ibu. Karena kan daripada kami mengontrak, jadi lebih baik kami tinggal dan menemani Ibu saja. Terlebih juga Naina sudah tinggal bersama dengan Reno, dan kami tidak ingin terjadi apa-apa dengan ibu," jelas Dewa.


Bu Linda tersenyum, dia benar-benar beruntung memiliki putri dan juga menantu seperti mereka berempat.


"Oh iya, karena keadaan ibu juga sudah lebih baik, nanti malam kita akan makan malam di luar," ujar Reno.


Bu Linda, Karina dan juga Dewa menatap Reno dengan heran saat mendengar ucapan pria tersebut.


"Ada acara apa? Tumben?" tanya Karina.


"Tidak ada. Cuma kan karena kita lagi berkumpul aja Kak, tidak ada salahnya kan?" jawab Reno. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi bekerja dulu ya. Soalnya masih ada kerjaan yang belum selesai kemarin."


Lalu Reno pun beranjak dari duduknya, bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Dan Naina mengikuti langkah suaminya ke kamar, setelah beberapa menit mereka pun keluar dan Naina mengantarkan Reno sampai ke teras.


.


.


Di kediaman Arga.


Saat ini Mayra sedang duduk melamun di balkon. Dia baru saja bangun karena terlalu kelelahan, sebab semalam Arga menggempurnya terus-menerus.


Namun yang membuat Mayra melamun bukan hal itu, karena membuat adonan bersama dengan suaminya sudah hal biasa bagi Mayra. Jadi walaupun dia belum terbiasa mengimbangi permainan dari Arga, tapi tubuhnya sudah bisa menyesuaikan.


Tiba-tiba tangan melingkar di pinggangnya, membuat Mayra sedikit terlonjak kaget dan ternyata itu adalah Arga.


"Kamu kenapa sih, pagi-pagi sudah melamun aja? i


Ini masih pagi loh, Sayang. Jangan dibiasakan untuk melamun! Apa kamu marah dengan permainanku semalam?" tanya Arga sambil menaruh dagunya di pundak Mayra

__ADS_1


Terdengar helaan nafas yang begitu dalam dari istri cantiknya tersebut. Dan itu membuat Arga merasa bingung, kemudian dia membalik tubuh Mayra, memegang kedua bahunya dan satu tangan mengangkat dagu agar Mayra menatapnya.


"Ada apa, sayang? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Arga.


Mayra kembali menatap ke arah depan. Suasana pagi yang begitu sejuk, namun entah kenapa tidak bisa menyejukkan hatinya, karena saat ini perasaan Mayra tengah dilanda kegelisahan.


"Aku bermimpi semalam Mas, tapi ..." Mayra menggantung ucapannya.


"Tapi kenapa, sayang? Apa kamu mimpi buruk?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Bisa dibilang bukan mimpi buruk, tapi entah kenapa aku terus saja merasa gelisah dan bertanya-tanya perihal mimpi itu," jawab Mayra sambil menundukkan kepalanya.


Arga menjadi penasaran, mimpi apa yang dimaksud oleh istrinya. "Memangnya semalam kamu mimpi apa, sayang?" tanya Arga.


Beberapa detik Mayra terdiam sambil menatap lurus ke arah depan, di mana langit biru yang cerah membentang luas dengan sinar matahari yang mulai meninggi.


"Aku semalam bermimpi tante Renata, Om Gunawan serta Putra pertamanya memelukku dan mereka menangis. Tapi yang membuatku heran bukan hanya itu, Mas. Aku bermimpi, kami tengah main di sebuah taman yang indah sekali, dan kami tersenyum bahagia. Rasanya di mimpi itu terlihat sekali jika aku begitu sangat bahagia, bisa berkumpul dengan mereka. Entah, aku pun tidak mengerti Mas," jelas Mayra.


Arga terdiam saat mendengar penjelasan dari sang istri, dia mencoba mengartikan mimpi tersebut.


"Sudahlah. Itu hanya mimpi saja sayang. Mungkin memang karena kita terlalu memikirkan ucapan tante Renata semalam, jadi sampai ke bawa mimpi," ujar Arga.


"Iya Mas, semoga."


Kemudian mereka pun bersiap-siap, karena harus turun ke bawah untuk sarapan. Arga juga mau pergi ke kantornya, karena ada urusan penting dan dia harus bertemu dengan seseorang.


.


.


Saat ini pria itu tengah duduk menunggu seseorang yang dia telepon untuk segera datang ke kantornya.


Setelah beberapa lama menunggu, pintu ruangannya terbuka, dan seorang pria tampan masuk ke dalam lalu langsung duduk di sofa.


"Ada apa lo manggil gue? Butuh bantuan?" tanya seseorang yang bernama Mail.


"Ya, kalau gue nggak butuh bantuan, ngapain manggil lo ke sini? Dasar temennya Upin Ipin," ucap Arga sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan panggil gue seperti itu deh, kebiasaan banget sih!" Mail terlihat begitu kesal.


Sementara Arga terkekeh, karena memang dia suka memanggil temannya dengan sebutan seperti itu. Sebab nama Mail memang sangat familiar sebagai temannya Upin Ipin.


Jadi Arga pun ikut-ikutan..Sedangkan Mail hanya merengut dengan kesal, dia juga tidak tahu kenapa orang tuanya bisa memberikan nama Mail? Padahal nama yang keren banyak.


Kemudian Arga berjalan ke arah sofa dan duduk di samping Mail, lalu dia pun mengutarakan maksudnya memanggil pria tersebut yang berprofesi sebagai detektif.


"Begini, gue tuh curiga sama satu keluarga. Dia beberapa kali bertemu dengan istri gue secara kebetulan, dan menurut gue ya, kalau kebetulan itu kan hanya satu atau dua kali saja, tapi ini beberapa kali. Nah! Semalam itu gue diundang makan malam sama keluarga mereka, dan yang membuat gue penasaran adalah, saat tante Renata yang selalu bertemu dengan istri gue secara kebetulan itu mengatakan sesuatu yang begitu ambigu. Tapi saat dia akan mengatakan hal tersebut, tiba-tiba suaminya menyela, seakan ada sesuatu hal yang ditutupi dan tidak boleh Mayra tahu. Dan jujur aja gue penasaran, karena gue merasa ada kebohongan," jelas Arga sambil memijat alisnya.


Mail terdiam, dia mendengarkan dengan seksama ucapan dari Arga, dan pria itu tidak menyerah sedikitpun.

__ADS_1


Kemudian Arga melanjutkan ceritanya kembali, "Dan gue mau lo menyelidiki rahasia apa yang mereka simpan! Karena entah kenapa, Gue merasa ada hubungannya dengan istri gue," ujar Arga.


"Jadi maksud lo, gue harus memata-matai keluarga mereka, begitu?"


Arga mengganggukan kepalanya. "Yap. Dan tanpa gue minta juga pastinya lo tahulah tugas lo itu apa. Gue minta secepatnya ya! Kalau bisa dalam 2 hari ini!"


Setelah Mail menyepakati tugasnya dari Arga, pria itu pun akhirnya keluar dari ruangan Arga karena dia akan langsung menjalankan tugasnya.


Kebetulan Mail adalah teman semasa SMA Arga, dan mereka bahkan bekerja sama sebab Mail juga mempunyai kantor.


"Aku berharap, Mail bisa menemukan bukti secepatnya. Agar aku juga bisa cepat mengetahui apa dari ucapan ambigu tante Renata," gumam Arga sambil duduk kembali di kursi kebesarannya.


.


.


Saat ini Naina tengah duduk bersama dengan Karina dan juga Bu Linda di taman samping rumah, kebetulan Nakina juga meminta bi Arum untuk membelikan rujak yang biasanya lewat di depan rumah.


"Nai, tumben-tumbenan sih kamu makan rujak? Atau jangan-jangan .. kamu lagi--"


"Lagi pengen aja, Kak." potong Naina. "Nggak usah berpikir yang macem-macem deh!"


Bu Linda menatap ke arah putrinya dengan heran, namun dia juga tidak bisa berasumsi apa-apa. Walaupun terkadang orang hamil berkaitan dengan rujak dan juga makanan yang asem-asem, tapi belum tentu apa yang Naina rasakan saat ini memang dia sedang hamil.


"Nak, kemarin kan kamu beli tespek. Apa sudah dipakai?" tanya Bu Linda pada putrinya.


Karina yang mendengar ucapan sang Ibu seketika menatap ke arah Naina. "Tespek!" kaget Karina. "Maksudnya gimana? Jadi bener kalau kamu itu lagi hamil?"


Naina terdiam, rasanya ingin sekali dia mengatakan jika memang dirinya tengah mengandung saat ini. Namun, akhirnya harus menahan diri, sebab nanti malam semua pasti akan terungkap.


"Belum Bu. Naina masih ragu," bohong Naina.


"Kenapa ragu-ragu sih, Dek? Orang tinggal dicelup aja, nanti juga kan hasilnya kelihatan. Kalau masalah kecewa itu sudah hal biasa. Kehidupan kan memang seperti itu, kadang bikin kita bahagia, kadang bikin kita kecewa. Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu kita gapai dan belum tentu kita dapatkan," jelaskan.


Naina menganggukan kepalanya. Dia beruntung karena memiliki Kakak seperti Karina, yang selalu berpikiran bijak walaupun terkadang wanita itu sering dilanda masalah.


Memang dibandingkan dirinya, Karina bisa berpikir dengan jernih walaupun terkadang cobaan Tuhan begitu berat baginya. Namun, Karina mampu untuk melewati semua cobaan tersebut dengan bijak dan kepala dingin.


"Iya Kak, aku tahu kok. Makanya nanti aja kalau aku udah mantep, baru aku tespek. Tapi kalau untuk sekarang aku masih sedikit ragu."


Naina merasa berdosa, karena dia sudah berbohong kepada ibu dan juga kakaknya.


Tak lama pelayan datang mengabarkan jika Ibu Sumarni datang. Naina yang mendengar itu pun segera bangkit dan menyambut kedatangan Ibu mertuanya.


"Selamat datang Bu. Ayo duduk dulu! Bi Arum, tolong buatkan minum ya," ucap Naina mengajak Bu Sumarni untuk duduk.


"Baik Bu," jawab bi Arum.


"Naina, sebenarnya ada apa sih? Kenapa Reno tiba-tiba saja menyuruh ibu untuk datang ke sini, dan tiba-tiba saja dia mengirimkan tiket pesawat?" Bu Sumarni menatap ke arah Naina dengan bingung.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bu. Nanti malam itu mas Reno mau mengadakan makan malam. Entah, Naina pun tidak tahu ada acara apa? Makanya dia meminta ibu untuk datang," jelas Naina.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2