Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Bertemu Mail


__ADS_3

Happy reading.....


Jam 05.00 sore Mayra dan juga Arga pulang ke rumah, setelah melewati drama yang cukup panjang tentang permintaan ketiga ibu hamil. Di mana Arga, Dewa dan juga Reno harus keluar rumah untuk mencari keinginan para istri-istrinya.


Pria itu merebahkan diri di atas kasur, sedangkan Mayra sedang membersihkan diri di kamar mandi.


Matanya menatap ke arah langit-langit kamar, menghela nafas dengan berat.


"Ternyata menemani dan juga menuruti keinginan ibu hamil itu sangat berat. Semoga saja tidak ada permintaan yang aneh-aneh lagi dari istriku," gumam Arga.


Baru saja dia akan memejamkan matanya, tiba-tiba ada teriakan dari kamar mandi, dan itu membuatnya seketika bangkit dari tidur lalu langsung berjalan ke arah pintu kamar mandi dan mengetuknya.


"Sayang, kamu kenapa!" teriak Arga, namun tak ada jawaban. Dan tanpa aba-aba dia langsung membuka pintu kamar mandi tersebut yang tak terkunci, karena takut terjadi apa-apa dengan Mayra.


Namun, saat pintu terbuka, dia melihat sang istri sedang bercermin di kamar mandi. Dan seketika Arga menatapnya dengan heran.


"Kamu nggak papa kan? Apa ada yang luka?" tanya Arga dengan panik


"Kamu itu apaan sih, Mas. Masuk ke kamar mandi nggak ketuk pintu dulu, main nyerobot aja. Kalau aku nggak pakai pakaian, gimana?" jawab Maira dengan nada yang sedikit ketus.


"Ya, karena aku mendengar kamu tadi teriak," jawab Arga. Kemudian dia menatap istrinya dari rambut sampai ke kaki. "Ada yang luka nggak? Kenapa tadi kamu teriak?" tanya Arga masih dengan wajah yang cemas.


Mayra pun menunjukkan ponselnya, yang sedang memutar film drakor kesukaannya bersama dengan Naina.


"Tadi aku teriak, karena si ceweknya hampir ketabrak, tapi si cowoknya malah slow motion!" kesal Mayra sambil cemberut.


Arga yang mendengar itu pun langsung menepuk jidatnya. Wajahnya terlihat lesu saat mendengar jawaban dari sang istri, kemudian dia pun keluar dari kamar mandi. Sementara Mayra bercermin sambil melihat drakor yang ada di hadapannya.


"Ya ampun! Aku kira dia kenapa, ternyata hanya karena drama Korea. Lagi pula, apa sih istimewanya para opa-opa itu? Udah kayak kakek-kakek aja. Di mana-mana tuh namanya kakak, om, bukan Opa. Opa itu yang ada kakek, udah tua!" gerutu Arga karena merasa kesal sebab istrinya sangat mengidolakan artis Korea.


Selesai dengan ritualnya, Mayra keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian. Dia duduk di ranjang sambil bersender, namun tangannya masih memegang ponsel yang sedang memutar film drakor kesukaannya.


Sementara Arga merasa kesal, karena dicampakkan dan tidak dipedulikan oleh Mayra.


"Eekhm!" Arga berdehem kecil untuk menarik perhatian sang istri. Namun, nyatanya Mayra tidak menengok. Dia masih fokus dengan film yang sedang berlangsung.


"Sayang, apa tampannya sih orang-orang Korea itu? Matanya juga sipit-sipit, gantengan juga aku. Lihat! Bahkan ototku besar, perutku juga banyak roti sobeknya!" kesal Arga sambil memanyunkan bibirnya.


"Iya, kamu memang lebih tampan daripada mereka, tapi aku suka aja sama mereka. Memangnya tidak boleh ya? Walau begitu, kamu tetap kok cowok nomor satu di hatiku," jelas Mayra.


Namun Arga yang kadung kesal kemudian bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah balkon, membawa kekesalannya menatap langit Jingga yang mulai meredup bergantikan kegelapan.


Mayra yang merasa suaminya sedang kesal, kemudian menyusul ke balkon, lalu dia memeluk tubuh Arga dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung kekar pria itu.

__ADS_1


"Kamu marah ya? Jangan ngambek dong! Aku memang sangat mengidolakan mereka dari waktu masih gadis. Tapi karena kamu suami aku, kamu tetap nomor satu kok. Mengidolakan bukan berarti aku ingin memiliki mereka bukan? Hanya sekedar suka saja dengan lagu-lagunya, dan dengan akting mereka di perfilman. Hanya itu saja sayang, tidak lebih," jelas Mayra mencoba menenangkan kekesalan sang suami.


Arga tidak menjawab, hanya terdengar helaan nafas saja. Dia merasa heran, kenapa sih 80% wanita sangat mengidolakan Korea? Arga tidak habis pikir, apa yang menarik dari pria sipit seperti mereka semua?


"Ya, hanya aneh saja. Kenapa kalian begitu mengidolakan pria bermata sipit itu? Padahal artis-artis yang lebih tampan pun banyak yang nge-dance nya lebih bagus juga banyak, bahkan yang lebih unggul dari mereka banyak."


Saat Mayra akan menjawab ucapan Arga, tiba-tiba saja ponsel pria itu berdering. Dan dia langsung merogohnya di saku celana, ternyata yang menelponnya adalah Mail.


"Sebentar ya, aku angkat telepon dari Mail dulu," ucap Arga kemudian dia menggeser tombol hijau.


"Iya, kenapa?" tanya Arga sambil terus mengusap kepala Mayra yang saat ini berada di dalam dekapannya.


"Oh begitu. Ya sudah aku akan ke sana," jawab Arga sebelum telepon terputus.


Mayra menengadahkan wajahnya, menatap ke arah Arga. "Mas, itu dari temannya Upin Ipin? Memangnya mereka itu nyata ya? Setahuku mereka itu--"


Arga menyentil jidat Mayra, membuat wanita itu merengut dengan kesal. "Dia bukan Mail temannya Upin Ipin. Dia adalah temanku, jangan aneh-aneh deh. Oh iya, nanti habis maghrib aku mau keluar ya sebentar, bertemu dengannya, ada kerjaan yang harus dibahas," tutur Arga.


"Apa tidak bisa besok aja?" pinta Mayra. Namun Arga menggelengkan kepalanya, akhirnya Mayra pun hanya bisa pasrah.


.


.


Saat ini Mail sedang duduk menunggu kedatangan dari temannya, yaitu Arga. Dia ingin mengabarkan sesuatu hal yang penting, itu kenapa pria tersebut mengajak Arga ketemuan.


Setelah menunggu cukup lama, pria tersebut pun datang dan langsung duduk di hadapan Mail.


"Ada apa? Langsung aja to the point! Jstri gue nggak mau ditinggal lama-lama, lagi mode bayi," ucap Arga.


"Yaelah, pengantin baru masih anget-angetnya?" ledek Mail. "Gue ke sini ngajak lo ketemuan, karena ada yang mau dibicarain soal kedua orang tua Mayra," ujar Mail.


"Apa itu?" tanya Arga yang sudah penasaran.


Kemudian Mail menyerahkan sebuah berkas kepada Arga, lalu pria tersebut langsung menerima dan membacanya dengan seksama.


"Jadi mereka menemukan Mayra di Panti Asuhan?" tanya Arga, namun Mail segera menggeleng.


"Baca lagi ke bawahnya!" pinta Mail.


Arga mengkerutkan keningnya, kemudian dia membaca ke bawah. Dan alangkah terkejutnya saat dia menemukan kenyataan yang begitu pahit.


Di mana di kertas itu menjelaskan, jika Mayra diculik, kemudian dijual kepada pasangan suami istri yang sedang menginginkan seorang anak. Namun, saat umur Mayra 3 tahun, ia dibuang karena istri dari orang yang mengadopsi nya waktu kecil tidak menginginkan kehadiran Mayra, sebab suaminya selalu memanjakan Mayra dan tidak peduli kepadanya. Hingga pada akhirnya Mayra ditemukan oleh orang tuanya, lebih tepatnya orang tua angkat.

__ADS_1


Arga tidak menyangka jika kehidupan istrinya sedari kecil sungguh menderita. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan Mayra dari bayi, sudah dilempar ke sana dan ke sini seperti sebuah barang yang dijual belikan.


"Tapi aku belum menyelidikinya secara dalam. Kni hanya sebagian informasi saja. Aku merasa ada sesuatu hal yang masih mengganjal," jelas Mail.


Arga melihat Mail dengan tatapan menyipit. "Hal yang mengganjal? Apa itu?" tanya Arga dengan heran.


"Entahlah. .ungkin ini hanya perkiraanku saja, tapi aku merasa orang yang menculik Mayra sewaktu bayi itu adalah musuh dari orang tua kandungnya. Tapi ini hanya perkiraan saja, aku belum menyelidikinya secara dalam."


Arga mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia kembali memasukkan berkas tersebut lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam jaket.


"Selidikilah, baru aku akan transfer. Dan aku tunggu kabarnya! Terima kasih untuk laporannya, aku pulang dulu_ soalnya ada yang harus aku beli juga," ujar Arga sambil menepuk pundak.


"Apa yang mau kau beli?" tanya Mail sambil meminum kopinya.


Terlihat wajah Arga sedikit murung, lebih tepatnya raut wajah kebingungan. Bagaimana tidak? Tadi sebelum dia berangkat untuk menemui Mail, Mayra berpesan jika saat Arga pulang, pria itu harus membelikannya makanan.


"Memangnya makanan apa yang diminta oleh istrimu?" tanya Mail.


"Dia menginginkan kue cucur dan juga kue serabi. Jujur aku saja baru mendengarnya. Memangnya ada ya di dunia ini nama makanan seperti itu?" tanya Arga sambil memijit pelipisnya.


Mail terdiam, mencoba memikirkan hingga setelah 2 menit lamanya tidak ada jawaban dari pria itu. Kemudian Arga pun kembali bertanya, "Kau tahu tidak makanan seperti itu?" tanya Arga dengan kesal.


"Tidak. Kau kan tahu, sedari kecil lingkunganku bukan di Indonesia, tapi di Eropa. Jadi aku mana tahu makanan itu. Kalau kau mau tahu tinggal tanya saja sama Mbahmu saja," jelas Mail dengan nada yang cuek.


Arga yang mendengar itu pun tentu saja sangat kesal. "Kalau kau tidak tahu, seharusnya bilang dari tadi. Tidak usah membuang-buang waktuku!" kesal Arga, kemudian dia beranjak meninggalkan meja tersebut.


Namun baru beberapa langkah pria itu pun kembali berbalik. "Kau bilang tadi mbahku? Memangnya siapa?) Aku tidak mempunyai Mbah?" tanya Arga


"Bukan Mbahmu. Tapi Mbah semua di dunia, yaitu Google," kekeh Mail.


Arga semakin dibuat kesal, kemudian dia meninggalkan Mail yang menertawakan kekesalannya.


Lalu Arga pun masuk ke dalam mobil dan melajukan meninggalkan kafe untuk mencari makanan pesanan sang istri. Dia merasa bingung kemana harus mencari makanan aneh seperti itu.


Akhirnya mau tidak mau Arga pun membuka Google, dan mencari bagaimana gambaran dari makanan yang disebutkan dan diminta oleh sang istri.


"Ya ampun! Jadi ternyata bentuknya seperti ini. Kenapa permintaan istriku aneh sekali sih? Kenapa tidak minta burger, kebab atau steak yang lebih mewah, lebih sehat dan juga lebih gampang untuk dicari. Makanan tradisional seperti ini aku mencari di mana ?" Arga menepuk kepalanya yang terasa pusing.


Dia benar-benar tidak tahu harus mencari makanan itu di mana. Apalagi tertulis jika makanan tersebut adalah makanan khas tradisional, dan sudah pasti jarang sekali orang menjualnya, apalagi sudah malam seperti itu.


Kalau Arga tidak membawa pulang makanan yang diminta oleh Mayra, malam ini alamat dia tidur di sofa.


"Astaga! Demi lubang belut dan demi biji kecambah yang berada di perut istriku, maka aku harus mencari kemanapun makanan ini berada. Tuhan, tolong berikanlah keajaibanMu kepadaku. Apa Kau tidak kasihan melihat penderitaanku seperti ini?" gumam Arga sambil mengangkat kedua tangannya meminta keajaiban dari Sang Pencipta.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2