
Happy reading....
Mayra terdiam, melirik ke arah suaminya dengan bingung. Dia heran kenapa tante Renata bertanya seperti itu.
Tante Renata yang seakan tahu pikiran Mayra pun merasa tak enak.
"Sayang, jangan salah paham dulu! Tante minta maaf jika pertanyaan tante membuat kamu tak enak. Tante hanya mau tahu saja," jelas tante Renata.
Mayra pun menganggukan kepalanya, "Iya Tante, tidak apa-apa. Mayra paham kok," jawab Mayra. "Orang tua Mayra sudah tidak ada Tante, mereka sudah meninggal saat Mayra masih SMP."
Mendengar itu tante Renata dan juga suaminya melirik satu sama lain. Ternyata memang benar, Mayra mempunyai orang tua, tapi Tante Renata masih pesimis bahwa Mayra adalah putrinya.
"Maaf ya, jika ucapan tante membuat kamu sedih." Tante Renata merasa tak enak saat mendengar jika kedua orang tua Mayra telah meninggal.
"Tidak apa-apa kok, Tante," jawab Mayra sambil tersenyum. Kemudian mereka pun melanjutkan makannya sambil mengobrol tentang bisnis.
Tante Renata terus saja menatap ke arah Mayra, dan dia sangat yakin jika Mahra adalah putrinya. Sebab wajahnya begitu sangat mirip dengannya waktu muda.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, setelah mengobrol tentang bisnis, dan Arga serta Om Gunawan sudah sepakat untuk bekerja sama. Mereka pun pamit kepada pasangan suami istri itu untuk pulang.
"Kalian bawa mobil tidak? Kalau tidak, bareng kami saja!" tawar tante Renata.
"Tidak usah Tante! Kebetulan aku dan juga Mas Arga bawa mobil kok. Kalau begitu kami pamit duluan ya, Tante. Soalnya harus ke rumah mama untuk menginap di sana," jawab Mayra sambil mencium tangan tante Renata dan juga Om Gunawan.
Ada perasaan hangat yang menjalar ke hati om Gunawan saat Mayra mencium tangannya, dan dia tidak tahu perasaan apa itu.
"Hati-hati di jalan ya," ucap Om Gunawan sambil
mengelus rambut Mayra dengan lembut.
Perlakuan itu membuat Mayra dan juga Arga seketika terdiam. Dan Om Gunawan yang melihat keterpakuan wanita tersebut segera meminta maaf, jika dia reflek melakukan itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok Om," ujar Mayra. Kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil meninggalkan pasangan suami istri tersebut.
Melihat mobil Mayra dan Arga sudah menjauh, Om Gunawan menatap ke arah istrinya dengan tatapan yang begitu lekat.
"Kita bicarakan di mobil Mah!" ucap Om Gunawan mengajak sang istri.
Setelah di dalam mobil.
"Mama benar! Jika wajahnya memang benar-benar mirip Mama sewaktu muda. Papa semakin ingin menyelidikinya, apakah memang benar dia itu Putri kita Angelica, atau bukan? Tapi mendengar dari penuturannya tadi, dia mempunyai orang tua," ujar Om Gunawan saat mereka berada di dalam mobil.
Tante Renata menatap ke arah suaminya, kemudian dia pun berkata, "Pah,orang tua itu kan bisa orang tua angkat. Mungkin saja mereka tidak memberitahukan, atau mungkin memang Mayra tidak mengetahui. Kita belum bisa menyimpulkan sebelum bukti-buktinya terkumpul Pah, dan sebaiknya Papa segera selidiki tentang Mayra! Sebab Mama sangat yakin, bahwa Mayra itu adalah Putri kita!" pinta tante Renata.
Kemudian mereka pun meninggalkan gedung tersebut untuk pulang ke rumah, dan tentunya Om Gunawan segera menghubungi orang suruhannya untuk mencari tahu tentang Mayra.
Dia benar-benar penasaran dengan gadis itu, karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Om Gunawan juga yakin jika Mayra adalah putrinya. Karena melihat dari wajahnya dan juga perasaan hangat yang menjalar saat wanita itu mencium tangannya.
.
.
Sejujurnya Mayra ingin menanyakan kenapa sampai tante Renata terus saja menatapnya. Tapi dia merasa tak enak, takut jika dirinya kepedean.
"Sayang, kamu kenapa sih dari tadi ngelamun terus? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Arga sambil menggenggam tangan sang istri.
Mayra menggelengkan kepalanya, "Nggak papa kok Mas. Cuma heran aja sama tante Renata," jawab Mayra.
"Heran? Heran kenapa?" tanya Arga sambil menatap ke arah istrinya dengan tatapan menyipit, lalu dia kembali menatap lurus ke arah depan karena saat ini Arga sedang mengemudi.
"Ya heran aja. Entah kenapa ya, dari pertama kita bertemu dengan tante Renata dan juga suaminya, aku merasa tante Renata itu terus saja memperhatikan diriku. Entah, aku pun tidak tahu kenapa? Tapi rasanya ada sesuatu yang menarik dalam diri ini sampai membuat tante Renata terus saja menatap dengan lekat? Aku ingin menanyakan itu, tapi rasanya tidak enak." Mayra mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia menopang dagunya dengan tangan.
Arga yang mendengar itu pun terkekeh kecil, "Itu mungkin hanya perasaan kamu saja sayang."
__ADS_1
"Iya, mungkin memang iya Mas. Semoga begitu," jawab Mayra yang tidak puas dengan perkataan suaminya.
Kemudian dia mencoba untuk memejamkan matanya, walaupun Mayra tidak bisa tertidur sampai mobil pun terparkir di halaman rumah kediaman orang tua dari Arga.
Mereka langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah tersebut. "Assalamualaikum Mah, Pah," ucap Arga dan Mayra bersamaan.
Namun dia dan juga Mayra tidak melihat kehadiran Tante Monica ataupun Papanya. Arga pikir mungkin kedua orang tuanya sudah tertidur.
Dia dan juga Mayra pun langsung menuju lantai atas, di mana kamarnya berada. Kemudian mereka langsung membersihkan diri mengganti baju dengan piyama.
"Kamu mau ke mana, sayang?" tanya Arga saat melihat Mayra ingin keluar dari kamar.
"Aku mau buat jus. Haus banget Mas," jawab Mayra, kemudian dia keluar dari kamar menuju lantai bawah di mana dapur berada.
Sesampainya di sana, masih ada pelayan yang sedang membereskan dapur. Kemudian Mayra mengambil beberapa buah untuk membuat jus.
"Nona muda, Anda perlu sesuatu? Biar saya saja yang membuatkan," ucap pelayan saat melihat Mayra menyiapkan buah dan juga blender.
"Tidak usah Bi. Tidak apa-apa , biar saya saja. Oh iya, Mama dan Papa sudah tidur ya? Dari tadi tidak kelihatan?" tanya Mayra kepada pelayan tersebut.
Terlihat beberapa pelayan saling melirik satu sama lain. Mereka seakan ragu untuk menjawab pertanyaan dari nona mudanya itu.
Mayra merasa ada hal yang janggal, kemudian dia pun bertanya kembali, "Ada apa, Bi? Mama dan papa baik-baik aja kan? Atau ada yang kalian sembunyikan?" Mayra menatap ke empat pelayan yang berada di sana dengan tatapan menyipit.
"Itu Nona, anu ... sebenarnya ... Nyonya dan juga Tuan besar ...." Pelayan tersebut menggantungkan ucapannya, membuat Mayra seketika merasakan perasaan yang tak enak tentang kedua mertuanya.
Dia pun menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengupas jeruk. "Ada apa, Bi? Tolong katakan! Mama dan Papa tidak apa-apa kan? Mereka sudah tertidur kan?" tanya Mayra yang seakan tidak ingin mendengar kabar yang tak baik.
"Sebenarnya, beberapa jam yang lalu jantung tuan besar anfal. Dan nyonya saat ini sedang mengantar tuan besar ke rumah sakit. Dan mereka belum pulang, sepertinya Tuan besar dan juga Nyonya akan menginap," jelas pelayan tersebut.
"Apa! Anfal?!" kaget Mayra sambil menjatuhkan pisau yang ada di tangannya, hingga membuat bunyi yang begitu nyaring.
__ADS_1
PRANG!
BERSAMBUNG...