Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Ingin Juga


__ADS_3

Happy reading....


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rere oleh mertuanya sendiri. Bu Santi begitu amat sangat kecewa saat mengetahui jika Rere berencana untuk membunuh putranya.


Ibu mana yang tidak marah saat mengetahui jika anaknya akan dihabisi oleh orang lain, apalagi itu istrinya sendiri. Dia berjuang melahirkan putranya, membesarkannya dan memberikan kebahagiaan kepadanya, tapi orang lain dengan seenak jidat berencana ingin menghabisi nyawanya.


"Ibu benar-benar kecewa sama kamu, Rere. Kamu memang pantas berada di dalam penjara, dan Ivan tidak pantas memiliki istri seperti dirimu. Membusuklah kamu di sini! Semoga kamu mendapatkan karmanya atas semua kejahatan yang pernah kamu lakukan!" geram Bu Santi dengan sorot mata yang tajam.


Kemudian dia berbalik ke arah Ivan, lalu menarik tangannya untuk keluar dari sana.


"Bu, Mas Ivan salah paham. Ibu ... dengarkan Rere dulu!" teriak Rere, akan tetapi Bu Santi tidak perduli karena rasa kecewanya begitu sangat besar kepada Rere.


.


.


Dua minggu telah berlalu, Naina saat ini juga sudah berada kembali di Indonesia bersama dengan Reno. Mereka habis melakukan perjalanan yang cukup panjang setelah berbulan madu.


Raut kedua wajah pengantin baru tersebut terlihat begitu sangat bahagia, karena selama di Turki mereka benar-benar menghabiskan waktu hanya berdua tanpa pengganggu.


Dan saat ini Naina tengah berada di sebuah cafe untuk menunggu sahabatnya, Mayra. Karena mereka sudah janjian untuk bertemu makan siang.


"Hei, sorry ya nunggu lama," ucap Mayra saat datang dan duduk di hadapan Naina.


"Nggak apa-apa, santai aja. Oh iya, nih oleh-oleh gue dari Turki," ujar Naina sambil menyerahkan paper bag kepada Mayra.


"Wah! Gue kira lo bakalan lupa sama gue? Hehehe ... oh iya, gimana lancar kan bulan madunya?" tanya Mayra sambil membuka paper bag tersebut dan isinya adalah gelang.


"Alhamdulillah lancar kok. Lo sama Pak Arga kapan nyusul? Kalian kan juga sudah menikah, udah pasti harusnya bulan madu dong?" goda Naina sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Mayra.

__ADS_1


"Iya nanti, kalau untuk sekarang mas Arga masih lumayan sibuk ngurus pekerjaan. Kami juga kan harus melangsungkan resepsi dulu, baru nanti pergi bulan madu," jelas Mayra.


Lalu mereka pun bercerita tentang rumah tangganya masing-masing. Mayra juga bertanya perihal Turki kepada Naina, karena ia sangat penasaran sebab Mayra juga ingin sekali ke sana.


"Oh ya, ngomong-ngomong ... gimana soal pernikahan lo dengan Pak Arga? Bahagia nggak? Terus orang tuanya Pak Arga gimana?" tanya Naina.


"Alhamdulillah gue bener-bener bahagia banget bisa nikah sama Mas Arga. Gue nggak nyangka, ternyata dia pria yang harmonis," jawa Mayra dengan wajah tersipu malu saat mengingat bagaimana perilaku Arga yang begitu hangat dan juga romantis kepada dirinya.


Mayra menceritakan jika Arga sama sekali tidak pernah berkata kasar ataupun berperilaku yang menyakitinya. Bahkan kedua orang tua Arga juga menerima Mayra dengan lapang dada, dan saat ini wanita itu tidak bekerja.


Arga melarang Mayra untuk masuk ke kantor, karena dia ingin mereka fokus pada resepsi yang akan di laksanakan beberapa minggu lagi. Ditambah Arga juga tidak mau melihat Mayra kecapean, sebab saat ini wanita itu sudah menjadi istrinya dan Arga tidak ingin jika Mayra ikut bekerja.


"Enggak gue sangka ya, ternyata pak Arga itu tipekal sosok romantis juga? Dia sampai nggak ngebiarin lo untuk kerja, benar-benar idaman semua para wanita," ujar Naina sambil mengunyah makanannya.


Mayra mengangguk, "Tapi kok gue serasa makan gaji buta ya? Tapi yang gue rasain sekarang ini, gue berasa seperti nyonya, memiliki suami kaya raya dan hanya ongkang-ongking kaki saja di rumah tapi mendapatkan apa yang gue mau." Namun terlihat wajah Mayra seperti sangat sedih.


"Itu kenapa wajah lo sedih? Harusnya senang dong udah menjadi nyonya, bukannya bahagia?" heran Naina sambil menggelengkan kepalanya.


Naina mengerti perasaan Mayra, memang wanita itu pekerja keras, dia tidak pernah mengeluh dalam pekerjaannya dan itu membuat selama ini Naina merasa kagum kepada Mayra.


.


.


Selesai makan siang bersama dengan Naina, Mayra pun memutuskan untuk membelikan makanan dan dia pergi ke kantor suaminya. Sudah lama juga semenjak pernikahan, Mayra tidak pergi ke kantor.


"Hei, Mas Arga ada di dalam kan?" tanya Mayra pada salah satu teman kantornya dulu.


"Oh, ada, dari tadi dia belum keluar-keluar tuh laki lo buat makan siang, kasihan. Terus ini lo bawa apaan?" tanya Meli saat melihat Mayra menenteng sebuah kotak makanan.


"Ya makan siang lah buat laki gue. Masa buat lo? Ya udah ya, gue masuk dulu, kasihan dia." Setelah mengatakan itu Mayra masuk ke dalam ruangan Arga dan dia melihat jika suaminya sedang berkutat dengan laptop.

__ADS_1


Wanita itu pun menggelengkan kepalanya. Dia merasa heran kenapa Arga sering sekali telat makan siang jika pekerjaan sedang menumpuk, padahal makan itu sangat penting.


"Sayang, kok kamu ke sini nggak ngasih tahu aku sih?" kaget Arga saat melihat Mayra masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa memangnya? Aku nggak boleh ya datang ke kantor suamiku sendiri?" rajuy Maira sambil menekuk wajahnya.


Arga tersenyum mendengar itu, kemudian dia menarik pinggang Mayra hingga membuat wanita itu terduduk di pangkuannya.


Satu tangannya mengelus pipi Mayra dengan lembut lalu mengecupnya. "Siapa yang bilang tidak boleh? Masa istriku ke sini aku larang? Cuma kaget aja, soalnya kamu ke sini kan nggak ngabarin aku," jawab Arga sambil memeluk tubuh Mayra dari belakang dan menyandarkan wajahnya di pundak wanita itu.


"Aku tadi habis bertemu sama Naina, terus aku ingat kalau kamu itu sering sekali lupa makan siang kalau kerjaan lagi numpuk. Jadi aku ke sini bawain makan siang buat kamu, pasti belum makan kan?" tanya Mayra sambil menengok ke arah samping.


Arga menggelengkan kepalanya dengan pelan, kemudian Mayra bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu, lalu meminta Arga untuk membuka mulut dan dia menyuapi suaminya.


Namun dahi Arga mengkerut heran saat melihat sebuah gelang yang melingkar di tangan istrinya. "Sayang, itu gelang dari mana?" tanya Arga sambil memegang tangan Mayra.


"Oh, ini gelang dari Naina Mas, oleh-oleh dari Turki. Dia kayaknya bahagia banget bisa liburan ke san,"a jawab Mayra sambil tersenyum manis.


Namun Arga dapat melihat jika istrinya juga ingin sekali berlibur, dia pun tersenyum tipis. "Kamu juga ingin ya bulan madu?" tebak Arga.


"Ya iyalah Mas, masa nggak mau."


Mendengar itu Arga segera memeluk tubuh istrinya dari samping, kemudian dia mengecup keningnya dengan lembut. "Tenang aja ya sayang, setelah acara resepsi kita dilaksanakan, aku sudah menyiapkan hadiah yang sangat spesial buat kamu, bahkan lebih romantis dan lebih indah dari yang Reno lakukan pada Naina."


Mendengar ucapan Arga seketika Mayra menengok ke arah samping. "Benarkah Sayang? Apa itu?" tanya Mayra dengan wajah berbinar.


"Rahasia dong. Kan namanya bukan kejutan kalau udah diucapkan dari awal," jawab Arga sambil menjawil hidung Mayra dengan gemas. "Ayo suapin aku lagi! Aku masih lapar nih," pinta Arga dan Mayra menganggukan kepalanya.


Dia sudah tidak sabar dengan hadiah yang akan diberikan oleh Arga, karena Mayra sangat yakin pasti itu sangat spesial.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2