
Happy reading....
Seperti apa yang diucapkan Reno, hari ini dia dan juga Naina pindahan ke rumah baru mereka. Bu Linda juga turut ikut, sebab dia ingin melihat kediaman putrinya.
Terlihat rumah yang begitu minimalis, namun sangat elegan dan ternyata dalamnya juga lumayan luas cukup untuk beberapa orang, karena di sana juga ada kamar 5 kamar.
"Wah ... rumahnya bagus sekali," ucap Bu Linda sambil memandangi setiap sudut rumah tersebut.
"Iya Bu, Naina juga suka. Ibu ikut tinggal di sini ya!" pinta Naina sekali lagi.
"Ibu ingin sayang, tapi tidak bisa," jawab Bu Linda sambil mengacak rambut putrinya.
Di sana juga sudah ada asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Reno, dan baru saja masuk kemarin sore. Dia mengambilnya dari Yayasan, dan ternyata ibu tersebut bernama Bu Arum.
"Ini minumnya Bu, Pak," ucap Bi Arum sambil meletakkan tiga cangkir gelas di atas meja.
"Terima kasih Bi," jawab Naina. "Oh ya, nama saya Naina, nama Bibi siapam?"
"Nama saya Arum, Bu. Ibu bisa memanggil saya Bibi atau di Arum."
Naina menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun pamit ke belakang untuk memasak makan siang.
.
.
Saat ini Karina baru saja selesai membuat bubur kacang hijau, dan dia berencana untuk membaginya bersama dengan Bu Sumarni, mertua dari adiknya tersebut.
"Semoga Bu Sumarni suka deh dengan bubur kacang hijau buatanku," gumam Karina.
Kemudian dia mulai mengantarkan bubur itu ke rumah Bu Sumarni, namun setelah beberapa kali diketuk pintunya bahkan tidak ada yang buka. Bahkan beberapa kali juga Karina memanggil, namun Bu Sumarni seperti tidak ada di rumah.
"Apa Bu Sumarni keluar ya?" gumam Karina dengan lirih, kemudian dia memegang knop pintu dan ternyata tidak dikunci.
"Loh, tapi kenapa pintunya tidak dikunci kalau pergi?" Perasaan Karina tiba-tiba saja tidak enak. "Atau mungkin Bu Sumarni sedang di kamar dan sedang mandi? Sebaiknya aku masuk aja deh dan menaruhnya di meja makan. Assalamualaikum," ucap Karina saat dia masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Namun terlihat sepi tidak ada orang sama sekali, bahkan lampu luar pun masih menyala. Karina berjalan masuk ke ruang makan, dan lampu di sana juga masih menyala tidak dimatikan.
"Aneh. Ini kan sudah siang, tapi kenapa lampu-lampu masih menyala ya? Apa Bu Sumarni belum bangun? Kamarnya yang mana sih? Coba deh aku ketuk satu-satu deh." Kemudian Karina pun berjalan mengetuk pintu kamar satu persatu lalu membukanya namun kosong.
Terlihat ada kamar di bagian tengah, dan dia pun mengetuknya, lalu membukanya. "Bu Sumarni ... sudah bangun bel--" Ucapan Karina terhenti saat melihat seorang wanita terkapar di lantai dan tak sadarkan diri.
"Astaghfirullahaladzim! Bu Sumarni!" teriak Karina dengan panik saat melihat Bu Sumarni yang berada di atas lantai.
"Bu. Ibu kenapa? Ibu sadar. Bu Sumarni!" Karina menggoyangkan lengan wanita itu, namun Bu Sumarni masih saja belum sadar. Kemudian dia lari keluar rumah untuk mencari pertolongan.
"Pak, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit sekarang!" pinta Karina saat ada 4 orang bapak-bapak yang sedang membawa tubuh Bu Sumarni masuk ke dalam taksi.
Tak lupa Karina juga mengambil tas dan juga handphone nya, lalu dia menghubungi suaminya dan mengabarkan tentang keadaan bu Sumarni.
Dewa yang mendengar penjelasan dari sang istri pun segera bergegas untuk pulang, dia meminta izin kepada bosnya karena ada kejadian yang genting. Sebab yang Dewa khawatirkan bukanlah Bu Sumarni, akan tetapi Karina. Karena wanita itu setengah mengandung.
Terlihat wajah Karina begitu panik, sampai mobil berhenti di rumah sakit dan Bu Sumarni langsung dibawa ke ruang UGD oleh beberapa perawat.
Wanita itu terus saja mondar-mandir, dia begitu cemas dengan keadaan bu Sumarni. Dan tak lama Dewa datang. "Sayang_ bagaimana keadaannya? Dia baik-baik aja kan? Lalu kamu nggak papa kan?" tanya Dewa dengan wajah yang khawatir.
"Sudah, kamu jangan khawatir gitu ya," ujar Dewa mengajak istri untuk duduk di ruang tunggu.
Kemudian dokter pun keluar dan Karina yang melihat itu segera memberondong sang dokter dengan pertanyaan. "Bagaimana keadaan bu Sumarni, Dok? Beliau baik-baik saja kan? Tidak terjadi apa-apa dengannya kan, Dok?"
"Tensi darah Bu Sumarni lumayan tinggi, dan sepertinya beliau terlalu kelelahan dan banyak pikiran. Sepertinya asam lambung beliau juga sedang naik," jelas dokter tersebut.
"Lalu, apakah beliau harus dirawat?" tanya Dewa.
"Ya, untuk beberapa hari ini Ibu Sumarni harus dirawat sampai kondisinya lebih baik. Setelah itu baru boleh dibawa pulang," jawab dokter tersebut.
Setelah keadaan bu Sumarni dipastikan baik dia pun dipindahkan ke perawat ruang inap, dan di sana Karina menjaganya.
Karina terdiam, kemudian dia melirik ke arah suaminya. "Mas, apa sebaiknya kita bilang kepada Reno tentang keadaan ibunya?" tanya Karina pada sang suami.
"Ya, sebaiknya kamu memang bilang. Telepon saja Naina, tidak baik juga menyembunyikan keadaan bu Sumarni yang seperti ini. Karena walau bagaimanapun Reno adalah anaknya," jelas Dewa.
__ADS_1
Karina mengangguk, kemudian dia mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Naina. Akan tetapi sudah tiga kali panggilan tidak terjawab.
"Tidak diangkat Mas, mungkin mereka lagi sibuk. Karena kan hari ini Reno dan juga Naina sedang pindahan rumah. Mungkin mereka memang lagi sibuk," ujar Karina.
"Ya sudah, nanti lagi aja kamu teleponnya. Oh iya, Mas keluar dulu ya mau cari makanan," ucap Dewa kemudian dia keluar dari ruangan itu untuk mencari makan siang.
.
.
Sementara di tempat lain Reno sedang terduduk di samping rumahnya di tepi kolam. Entah kenapa perasaan Reno sedari pagi tidak enak. Dia terus aja kepikiran dengan ibunya, namun saat ditelepon sama ibunya pun tidak aktif.
'Semoga ibu baik-baik saja.' batin Reno.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu telepon dari orang suruhan Reno yang diminta untuk menyelidiki tentang kejadian malam itu, di mana Reno ditusuk oleh segerombolan orang-orang.
"Iya Halo," ucap Reno saat telepon tersambung.
Dia mendengarkan dengan seksama saat orang itu menjelaskan jika sudah mendapatkan buktinya. Reno yang mendengar itu pun berbinar bahagia, karena sebentar lagi dia akan mendapatkan nama orang yang telah membuatnya terluka.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang." ujar Reno kemudian telepon pun terputus.
Dia masuk ke ruang makan, di mana saat ini Naina, bi Arum dan juga Bu Linda tengah memasak makanan untuk makan siang.
"Sayang, aku keluar sebentar ya ada urusan. Nanti aku kembali lagi buat makan siang," ucap Reno sambil mengecup kening Naina.
"Loh, kamu mau ke mana Mas?" tanya Naina dengan heran.
"Ada urusan pekerjaan sebentar," jawab Reno, kemudian dia pun pamit keluar rumah.
Namun Naina dapat melihat ketegangan di wajah pria itu. Akan tetapi Naina tidak ingin banyak tanya, dia pun kembali untuk melanjutkan masaknya walaupun sebenarnya rasa penasaran begitu tinggi.
'Sebenarnya ke mana Mas Reno? Kenapa wajahnya tadi terlihat begitu tegang ya?' batin Naina.
BERSAMBUNG....
__ADS_1